Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 91. Hei, itu Istriku!


__ADS_3

Malam ini Andra dan Aulia sudah berada di kafe. Tidak seperti biasanya, malam ini kafe sama sekali tidak ada pengunjungnya. Membuat 9 karyawan termasuk Andra dan Aulia sedang berkumpul di meja. Mereka saling menatap satu-sama lain seakan bertanya kenapa hari ini tidak seperti biasanya.


Di tengah-tengah kebingungan mereka semua, terdengar suara mobil berhenti di depan parkiran kafe. 9 karyawan, Andra dan Aulia segera berdiri. Melihat pria memakai jaket hitam dan topi hitam turun dari mobil dan berjalan menuju kafe, Joko segera memasang badan untuk menyambut pelanggan pertama.


“Biar saya saja yang melayani pelanggan pertama,” ucap Joko.


“Aku juga ikut,” sambung Didin.


Joko dan Didin segera melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu masuk untuk menyambut pelanggan pertama. Namun, baru saja hendak menyambut pria pelanggan pertama, pria tersebut sudah masuk ke dalam toko.


“Selamat malam,” sapa pria tersebut.


“Selamat malam,” sapa Andra, Aulia, dan 9 karyawan lainnya dengan serentak.


Ingin memberikan pelayanan terbaik, Andra mendekati pria tersebut, tangan kanannya mengarah ke meja kedua, “Silahkan duduk,” ucap Andra sopan.


“Maaf, saya ke sini bukan untuk berbasa-basi. Saya dengar Anda bukan warga Negara sini. Dan apakah Anda sudah memiliki surat izin untuk membuka usaha di sini?” tanya pria tersebut.


“Sudah. Dan semua itu sudah di urus sama mertua ku. Tuan Agung Laksmana. Apa perlu aku tunjukkan suratnya kepada Anda?”


Pria tersebut mengulurkan tangannya, “Mana, saya ingin mengeceknya,” sahut pria tersebut datar.


Andra berjalan mendekati kasir, mengambil amplop berisi surat izin.


“Ini suratnya, dan kalau Anda tidak percaya aku akan menelpon tuan Agung,” ucap Andra.


"Baik, saya cek dulu," sahut pria tersebut.


Merasa curiga dengan pria tersebut. Aulia diam-diam berjalan ke dapur, ia juga segera menghubungi tuan Agung.


Tutt!!tutt


“Ayo dong, angkat Ma..Pa,” gumam Aulia cemas.


Panggilan telpon akhirnya masuk.


📞[ “Halo, assalamu’alaikum sayang, kenapa kamu menelpon malam-malam seperti ini?” ] tanya Marsya dari sebrang.


📞[ “Wa’alaikumsalam. Ma, iPapa mana?” ]


📞[ “Ini ada di samping Mama. Kenapa sayang?” ]


📞[ “Ada seorang pria mencurigakan datang ke kafe. Pria itu bertanya apakah kafe ini memiliki surat izin untuk membuka usaha di sini. Lalu Andra menunjukkan surat izin tersebut. Gimana itu Ma. Aku sangat cemas.” ]

__ADS_1


📞[ “Kamu tenang saja, surat izin itu sudah sah di sana. Jika pria itu berani macam-macam nanti Papa akan suruh seseorang untuk menangani pria tersebut. Sekarang kamu jangan cemas ya?” ]


📞[ “Baik Pa. Kalau gitu aku tutup dulu telponnya.” ]


📞[ “Ya sudah, assalamu’alaikum.” ]


📞[ “Wa’alaikumsalam. Ma…Pa.” ]


Aulia mengakhiri panggilan telponnya, dan menyimpan kembali benda pipih miliknya. Setelah itu Aulia mengulurkan kepalanya mengintip dari dapur apakah pria tersebut sudah pergi. Melihat semuanya sudah tenang dan pria tersebut sudah tidak ada. Aulia segera keluar dari dapur.


“Apa pria itu sudah kembali?” tanya Aulia.


“Sudah. Kamu pasti mencemaskan hal tadi ‘kan?” tanya Andra kembali.


Aulia mengangguk.


“Kamu tenang saja, masalahnya sudah selesai kok. Dan hanya ada kesalahpahaman saja tadi, katanya ada orang lain yang mengadu jika kita tidak memiliki surat izin membuka usaha di sini. Jadi pengawas langsung mengeceknya ke sini. Setelah melihat tanda tangan tuan Agung, dan menelpon seseorang yang bertanggung jawab di dalam surat izin barulah pria itu kembali pergi,” ucap Andra.


“Pantes saja kafe ini sunyi. Rupanya ada orang yang syirik dengan kita,” sambung Willy.


“Aku pikir di Indonesia saja ada orang yang syirik, iri dan dengki. Ternyata di sini juga ada.


Kasihan kali aku melihat orang yang mengadukan tentang bisnis Bos kita,” ucap Joko.


Andra melihat jam berada di pergelangan tangan kirinya, “Sudah jangan di bahas lagi. Karena sudah malam, gimana kalau kita segera menutup toko ini. Kita jalan-jalan sejenak dan melakukan kerja keras untuk memikat pelanggan besok lagi. Apa kalian setuju?!”


“Setuju!” sahut 9 karyawan serentak.


“Kalau kamu, apakah kamu setuju kita berkeliling sejenak?” tanya Andra ke Aulia.


Aulia mengangguk.


“Kalau gitu mari kita segera pergi ke sana,” ucap Joko semangat.


“Tapi kita mau ke mana?” tanya Dodo.


“Gimana kalau kita jalan-jalan ke menara Eiffel!” sambung Didin.


“Benar kamu, biasanya kita hanya bisa melihat menara Eiffel dari gantungan kunci. Tapi kini mari kita lihat secara nyata. Aku ingin foto di sana dan kirim ke Mbok ku yang ada di kampung,” ucap Joko semangat.


“Kalau menurut kamu gimana?” tanya Andra ke Aulia.


“Aku ikut-ikut saja,” sahut Aulia.

__ADS_1


Karena Aulia sudah menyetujuinya. Andra segera menggenggam erat tangan Aulia, kedua bola matanya mengarah ke 9 karyawan.


“Kalau gitu mari kita pergi,” ajak Andra.


“Mari!”


Aulia, Andra, dan 9 karyawannya segera menutup kafe mereka. Joko, Didin, dan Dodo satu mobil dengan Andra dan Aulia. Sedangkan Willy, Danies, Bimo, Daniel, dan Jack berhimpitan satu mobil dengan Carles.


Setelah semua sudah masuk ke dalam mobil. Mobil mereka pun segera melaju menuju menara Eiffel. Saat mobil Andra dan Carles pergi ada sebuah mobil hitam baru saja tiba, dari dalam mobil seorang pria sedang menatap kepergian mereka lalu mengikuti mereka dari belakang.


Karena kafe dengan Menara Eiffel tidak terlalu jauh, dan hanya memakan waktu 20 menit. Kini mobil milik Andra, dan Carles sudah terparkir.


“Ini namanya menara Eiffel?” tanya Joko.


“Iya,” sahut Aulia berdiri di samping Joko.


Sangking tidak menyangka dan bersyukurnya bisa melihat Menara Eiffel. Joko, Didin, Dodo, dan Bimo langsung bersujud syukur. Perbuatan mereka membuat semua pengunjung melihat ke meraka. Dan ada beberapa pengunjug diam-diam mengambil kelakukan unik mereka karena terlihat sangat lucu.


Joko mengeluarkan benda pipih miliknya dari dalam saku celana. Joko juga menggenggam tangan Aulia, dan membawa Aulia mendekati menara Eiffel.


“Eh, kenapa kamu menarik aku?” tanya Aulia bingung.


“Hei, mau kemana kamu bawa Istriku!” teriak Andra.


“Pinjam sebentar Bos. Aku mau kirim foto ke Mbok di kampong. Biar Mbok bisa pamer ke semua tetangga kalau anaknya sukses di kota orang,” sahut Joko sedikit meninggikan nada suaranya karena dirinya sudah berada jauh dengan Andra.


8 karyawan mengelilingi Andra, kedua tangan menyatu dengan kedua mata berbinar penuh pengharapan menatap wajah Andra.


“Bos. Kami juga boleh pinjam Istri Bos untuk numpang foto. Dan pamer ke orang-orang?!”


“Eh…kenapa jadi Aulia yang kalian libatkan. A-aku tidak setuju!”


“Soalnya nona Aulia seperti artis, dia juga cantik dan lain sebagainya. Jika foto bersamanya, pasti banyak yang ngelike postingan kami. Please Bos!”


Andra meraup wajahnya, “Baiklah, kali ini saja. Lain kali kalian tidak boleh memanfaatkan Aulia dalam kesenangan kalian semua,” sahut Andra malas.


Setelah mendengar ucapan Andra, 8 karyawannya berlari menuju Menara Eiffel.


“Terimakasih Bos!”


Andra menggeleng, “Dasar.”


“Kalau aku jadi kamu, pasti aku tidak akan melakukannya,” ucap seorang pria.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2