Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 118. Mood berubah


__ADS_3

“Siapa itu Pa?” tanya Marsya mengagetkan tuan Agung.


Tuan Agung segera menghapus panggilan telpon asing dari kontak panggilan dan chat miliknya, lalu menyimpan kembali benda pipih ke dalam saku kemejanya.


“Ti-tidak ada Ma. Hanya ada seseorang saja yang menelpon Papa. Ma-Mama sejak kapan berdiri di belakang Papa?” tanya tuan Agung berbohong.


Siapa yang menelpon tuan Agung, dan kenapa tuan terlihat sangat gugup. Seperti seorang suami sedang ketahuan selingkuh oleh istrinya. Tidak ingin berpikir hal buruk tentang tuan Agung, Marsya mencoba menetralkan pikiran buruknya untuk mempercayai jika tuan Agung tidak mungkin menyelingkuhi dirinya.


“Hei, di sini kalian rupanya,” sapa tuan muda Alexdian, jalan bergandengan tangan dengan Aulia, dan diikuti oleh Venus.


Tuan Agung mendekati Aulia, melepaskan gandengan tangan tuan muda Alexdian dari tangan putri kesayangannya. Lalu merangkul Aulia, dan menjauhkan Aulia dari Azzuri.


“Kenapa Pa?” tanya Aulia bingung melihat sikap aneh tuan Agung.


“Papa tidak suka jika tangan kamu di gandeng oleh pria ini!” sahut tuan Agung.


“Kenapa tidak suka Pa? bukannya tuan muda Alexdian ini baik kepada kita. Di sini pengganti Papa dan Mama yang selalu memperhatikan Aulia adalah tuan muda Alexdian,” jelas Aulia polos.


Wajah tuan Agung berubah menjadi suram saat mengetahui peran pentingnya di rebut oleh tuan muda Alexdian.


Melihat tuan Agung, dan tuan muda Alexdian kembali bertengkar seperti anak kecil. Marsya mendekati Aulia, menggenggam pergelangan tangan Aulia, dan membawanya pergi dari pertikaian para pria tak pernah usai.


Kini kedua langkah kaki Marsya dan Aulia mulai menuruni anak tangga. Meski mereka sudah hampir sampai ke bawah, kedua telinga Aulia, dan Marsya masih mendengar pertikaian tuan Agung, dan tuan muda Alexdian.


“Ma, ternyata Papa cemburuan juga orang nya?” tanya Aulia.


“Iya, Papa kamu memang seperti itu. Dulu juga sama mendiang istri pertamanya seperti itu. Cintanya kelewatan dalam, sampai beberapa kali di selingkuhi Papa kamu diam saja. Sampai Mama menikah dengan Papa kamu, barulah Papa kamu sadar jika wanita di dunia ini ada yang lebih baik dari mendiang istri pertamanya,” sahut Marsya, tangan merangkul Aulia, dan pergi menuju teras rumah dan duduk di kursi teras.


Meow!meow!


Grey berlari memutari rumah, lalu duduk di hadapan Aulia, mengibas ekor panjang dengan bulu lebat, dan mulut menganga seperti sedang kepanasan efek berlari memutari rumah.


“Grey!” Aulia menggendong Grey, menjunjung tinggi Grey ke atas.


Meow!meow!


Sahut Grey seolah mengerti perkataan Aulia.


“Nak, kamu ‘kan sedang hamil muda. Mama boleh kasih saran tidak?”

__ADS_1


Aulia meletakkan Grey di atas pangkuannya, “Saran apa itu Ma?” tanya Aulia.


“Kamu jangan sering-sering menggendong Grey, karena jika bulunya terhirup akan berbahaya untuk bayi di dalam kandungan kamu. Jika kamu ingin melihat Grey, cukup lihat saja. Tapi, jangan di sentuh,” saran Marsya mengkuatirkan kehamilan muda Aulia.


Meow-meow!


Seperti mengetahui ucapan Marsya, Grey merubah wajah senangnya menjadi cemberut.


Aulia mengelus kepala Grey, “Kamu jangan bersedih ya, meski aku tidak menyentuh dan menggendong kamu. Tapi aku akan tetap bermain bersama kamu dari kejauhan,” ucap Aulia berbicara kepada kucing kesayangan Andra.


“Eh, calon anak masa depan ku. Dan calon janda ku, ada di depan teras,” sapa tuan muda Alexdian berjalan mendekati Aulia, dan Marsya.


“Anda mau ke mana?” tanya Marsya.


“Aku di usir oleh Suami kamu, jadi lebih baik aku pulang saja. Lagian aku capek berdebat dengan dirinya. Masa sudah tua tidak mau mengalah dengan ku. Padahal aku sudah katakan jika aku mampu memberikan semua kebutuhan kamu dan Aulia. Aku juga cukup….”


“Cukup apa?!” tanya tuan Agung keluar dari dalam rumah, kedua bola mata menatap tajam tuan muda Alexdian.


Tuan muda Alexdian melambai, “Tidak…tidak ada. A-aku haus jadi kepingin beli es krim!”


“Apa tuan muda Alexdian ingin berjalan-jalan?” tanya Aulia.


Tuan muda Alexdian memutar arah berdiri, lalu mengangguk.


Bola mata tuan muda Alexdian melirik takut ke tuan Agung, “Bukannya aku tidak ingin mengajak kamu. Tapi…”


“Kamu mau kemana Nak?” sela tuan Agung.


“Pa, apa Papa ingat kalau di dalam Mall pasti ada permainan di dalamnya?”


“Tahu, kenapa Nak?” tanya tuan Agung.


“Nah, rasanya aku ingin pergi ke sana,” sahut Aulia kepingin bermain permainan anak-anak seperti di dalam Mall tanah air.


“Kalau gitu sama Papa saja,” ajak tuan Agung.


“Nggak mau. Aku ingin pergi bersama dengan tuan muda Alexdian,” tolak Aulia sopan.


“Tapi, Nak. Papa juga kepingin jalan-jalan bersama kamu, jarang-jarang kita berdua jalan-jalan bersama," ucap tuan Agung sedikit kecewa setelah mendengar penolakan putrinya.

__ADS_1


“Papa jalan-jalan sama Mama saja,” Aulia berdiri, mendekati tuan muda Alexdian, dan berdiri di sampingnya, “Ayo temani aku jalan tuan muda,” ajak Aulia.


“Eh! Papa sakit hati loh Nak. Masa Papa dan Mama dikacangi seperti ini, dan kamu lebih memilih pergi dengan saingan Papa,” lirih tuan Agung.


Melihat suaminya cemburu karena putri kesayangannya lebih memilih jalan dengan tuan muda Alexdian. Marsya mendekati tuan Agung, tangan kanan menyelinap masuk ke lengan kiri, “Gimana kalau kita ikuti saja mereka,” bisik Marsya memberi saran.


“Tapi Papa nggak sudi melihat Aulia satu mobil di dalam mobil pria itu,” sahut tuan Agung berbisik manja.


“Suamiku. Kamu itu tidak perlu cemburu berlebihan seperti ini. Lagian aku, tuan muda Alexdian, dan kamu, sudah tua loh! Apalagi yang harus kita pikirkan kalau tidak mengurus kebahagian Aulia, dan cucu kembar kita,” rayu Marsya untuk menenangkan dan meredakan kecemburuan tuan Agung.


“Ma, apa izinkan Aulia pergi jalan-jalan ke Mall dengan tuan muda Alexdian ya?” Aulia meminta kepada Marsya.


“Mama juga mau ikut boleh?” tanya Marsya.


“Tentu saja boleh, kenapa kamu….”


Tuan muda Alexdian menghentikan ucapannya saat melihat kedua bola mata tuan Agung memandang suram ke arahnya.


“Apa yang ingin Anda katakan?” tanya Marsya ingin memperjelas ucapan tuan muda Alexdian.


Tuan muda Alexdian melambai, “Tidak jadi,” jelas tuan muda Alexdian takut di marahi oleh tuan Agung.


“Oh ya, aku baru ingat. Di sini ‘kan tidak ada permainan seperti di tanah air,” Aulia berbalik badan, “Kalau gitu aku lebih bagus tidur saja,” Aulia melangkahkan kedua kakinya, meninggalkan tuan Agung, Marsya, daan tuan muda Alexdian di teras rumah.


Tuan muda Alexdian, tuan Agung, Marsya, dan Venus baru saja keluar dari dalam rumah menatap kepergian Aulia.


“Lah kenapa tidak jadi?” tanya tuan muda Alexdian.


“Kenapa dengan putri kita, Ma?” tanya tuan Agung.


“Sepertinya faktor kehamilan jadi moodnya berubah-ubah,” sahut Marsya sudah berpengalaman dalam hal seperti ini.


“Tuan, dan nona besar. Saya pamit pergi ke Kafe dulu,” pamit Venus.


“Aku ikut Venus. Karena aku ada di sini, biar aku yang membantu kamu mengurus kafe, dan perusahaan milik Aulia,” sambung tuan Agung merasa bosan jika di rumah saja.


“Baik tuan. Kalau gitu mari kita segera pergi,” ajak Venus.


Tuan Agung mendekati Marsya, “Papa pergi dulu,” pamit tuan Agung mencium kening Marsya.

__ADS_1


“Duh…aku jadi iri,” sambung tuan muda Alexdian merasa iri melihat kemesraan Aulia dan tuan Agung.


...Bersambung...


__ADS_2