
Setelah melihat dan mendengar suara seorang pria sangat ia benci. Aulia langsung mengurungkan niatnya untuk melakukan percobaan bunuh diri. Kedua kakinya langsung turun dari jendela, dan menutup jendela dengan rapat.
“Ke-kenapa dia ada di rumahku! Dan..bukannya itu tadi Grey. Kenapa Grey bisa bersamanya, bukankah aku menitipkan Grey di rumah bersama dengan Pak satpam,” gumam Aulia sendiri.
Masih merasa penasaran akan kedatangan pria tersebut, Aulia kembali mengintip dari balik kain gorden. Namun, pria tersebut dan Grey sudah tidak ada lagi di bawah jendelanya. Kesedihan dan niat ingin mengakhiri hidup kini menghilang dan terganti dengan rasa penasaran.
Aulia pun membawa kedua kakinya berlari keluar dari dalam kamar.
“Jika memang itu Grey. Aku harus segera mengambil Grey dari pria itu!” gumam Aulia.
Kedua kaki Aulia terus berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Aulia juga melewati ruang tamu, dimana tuan Agung, Marsya, Tarjok, Venus, dan Ningrum sedang menatap heran kearahnya.
“Aulia kenapa ya?” tanya Ningrum heran.
“Hiks! Saya sangat kasihan melihat nona muda seperti seorang wanita yang sudah tidak waras. Tadi mengurung diri di dalam kamar, dan kini berlari sangat cepat keluar rumah. Atau jangan-jangan…eh…gawat! Jangan-jangan nona muda ingin berlari ke tengah jalan,” ucap Venus dengan pikirannya sendiri.
Mendengar ucapan Venus. Tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok segera beranjak dari sofa. Kedua kaki mereka ikut berlari mengejar Aulia. Tidak ingin terjadi hal buruk kepada Aulia. Tuan Agung, Tarjok, Ningrum, dan Marsya langsung berteriak.
“Aulia jangan lakukan hal bodoh itu nak!” teriak tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok serentak.
Langkah kaki dan rasa cemas itu langsung terhenti saat melihat Aulia duduk santai di atas rerumputan bersama dengan seekor kucing, dan seorang pria sedang berdiri di sampingnya.
“Azzuri Mahendra!” gumam tuan Agung dan Tarjok serentak.
Tuan Agung, Marsya, Tarjok, dan Ningrum terkejut saat melihat Azzuri datang ke tanah air. Mereka juga saling menatap satu-sama lain, seolah bertanya kenapa Azzuri ke sini dan mau apa dirinya.
Tidak ingin terjadi hal buruk kepada Aulia. Venus selaku penjaga sekaligus tangan kanan Aulia, langsung sigap. Venus membawa kedua kakinya dengan cepat mendekati Azzuri.
Venus kini berdiri di hadapan Azzuri, dan saling menatap satu-sama lain.
“Mau apa Anda ke sini?” tanya Venus datar.
Azzuri sedikit membungkukkan tubuhnya, tangan kanan diletakkan di depan dada, “Sebelumnya aku minta maaf karena sudah datang tanpa di minta. Mungkin kalian tidak suka melihatku di sini. Tapi sebagai sesama manusia, aku datang ke sini karena ingin mengucapkan bela-sungkawa atas meninggalnya sainganku. Dan tidak ada maksud lainnya lagi,” ucap Azzuri tenang.
Azzuri kembali menegakkan tubuhnya. Mengetahui jika tuan Agung, Marsya, Tarjok, dan Ningrum berdiri di belakangnya. Azzuri membawa kedua kakinya mendekati tuan Agung, dan berdiri di hadapannya.
“Aku tahu, kehadiranku tidak di terima di sini. Tapi aku ke sini karena aku ingin berbela sungkawa. Aku juga datang ke sini untuk membawa kucing kesayangan Andra untuk menemani Aulia di sini. Dan satu lagi, aku minta tolong kepada kalian untuk selalu mengawasi Aulia, karena aku tadi melihat Aulia ingin melompat dari jendela kamarnya. Karena aku sudah tidak memiliki keperluan lagi di sini, aku permisi pulang,” ucap Azzuri.
__ADS_1
"Terimakasih," sahut tuan Agung datar.
Mendengar kata Aulia akan melompat. Marsya dan Ningrum segera berlari dan memeluk Aulia. Sedangkan tuan Agung dan Tarjok masih berhadapan dengan Azzuri.
Karena sudah tidak memiliki pembahasan lain. Azzuri segera berbalik badan, kedua kaki melangkah pergi.
Tuan Agung, dan Tarjok menatap kepergian Azzuri.
“Sepertinya dia banyak mengetahui tentang Aulia dan juga Andra. Apa mungkin Azzuri selalu mengawasi Aulia dan Andra?” tanya Tarjok.
“Aku rasa seperti itu. Tapi kenapa kali ini dia tampak tenang. Tidak seperti Azzuri Mahendra yang aku kenal,” sahut tuan Agung.
“Entah kenapa rasanya saya takut untuk membiarkan Aulia kembali ke Negeri orang sekarang,” ucap Tarjok sedikit merindukan putra kesayangannya.
Tuan Agung menepuk bahu Tarjok, “Kamu tenang saja. Aulia itu adalah gadis yang kuat dan tangguh. Dia juga tidak sendiri di sana, ada Venus selalu menemani langkahnya,” sahut tuan Agung tenang padahal dalam hatinya rapuh.
Percakapan tuan Agung dan Tarjok terhenti saat melihat Aulia berlari ke arah mereka sambil membawa Grey.
“Papa…Om. Coba lihat, bukankah kucing ini sangat lucu dan imut?” tanya Aulia menunjukkan Grey.
Tuan Agung langsung melompat, dan bersembunyi di balik tubuh Tarjok saat melihat Aulia semakin dekat dengan Grey.
Melihat tuan Agung ketakutan. Marsya dan Ningrum segera mendekati Aulia.
“Mama kok baru tahu kalau Papa takut sama kucing?”
“ ‘Kan sebelumnya kita tidak pernah memiliaranya. Dan..dan kenapa wajah Mama tampak seram saat melihat ke arah Papa. Apa yang sedang Mama pikirkan?!”
Marsya mengambil Grey dari gendongan Aulia. Marsya juga mulai membuat rencana konyol untuk menghibur Aulia dan Ningrum dengan cara menjahili tuan Agung. Kedua kaki Marsya langsung bergegas mendekati tuan Agung sambil mendekati tubuh Grey.
“Papa harus melakukan sentuhan halus dengan bulu ini. Ayo Pa!”
“Ti-tidak Ma…tidak!” teriak tuan Agung.
Merasa takut melihat Grey, tuan Agung kini berlari masuk ke dalam rumah dengan cepat.
Tarjok, Ningrum, Venus, dan Aulia tertawa ria saat melihat tuan Agung berlari tunggang-langgang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Ha ha ha”
Meow! Meow!
Merasa dipermainkan oleh Marsya. Grey langsung mengeong keras, dengan tubuh menggeliat berharap di turunkan oleh Marsya.
“Eh, kamu bisa marah juga?” tanya Marsya.
Meooooww!
Seolah mengerti pertanyaan Marsya. Grey mengeong cukup panjang dengan tatapan tidak suka.
“Baiklah aku akan mengembalikan kamu kepada putri kecil ku,” ucap Marsya.
Marsya pun memberikan Grey kembali kepada Aulia.
Karena hari mulai sore, dan pemakaman tentang Andra juga sudah selesai. Tarjok dan Ningrum memutuskan untuk pamit pulang kepada Aulia, dan Marsya. Merasa sedih mengingat Aulia sekarang hanya mantan menantu. Ningrum mendekati Aulia, dan memeluknya sangat erat.
“Meski kamu sekarang sudah tidak lagi menjadi menantu tante dan juga Om Tarjok. Tapi kamu tetap akan tante anggap sebagai putri tante. Putri kesangan kami berdua. Meski Andra sudah tidak ada di rumah kami, dan di muka bumi ini. Tapi tante harap sering-seringlah mengunjungi wanita tua ini. Agar tante bisa berpikir jika tante masih memiliki seorang anak, dan seorang putri yang harus di jaga dan dikuatirkan.”
Air mata Aulia kembali menetes saat mendengar ucapan Ningrum. Bibirnya tidak bisa bergerak seolah rasa sesak di dalam dada sudah membungkam mulutnya. Aulia hanya bisa mengangguk, sambil mengeratkan pelukannya.
Tidak ingin melihat Ningrum bersedih, Marsya menghampiri Ningrum, dan mengelus punggungnya.
“Karena kita sudah tidak menjadi besan, kita akan menjadi saudara. Putriku juga sudah menjadi putri kamu. Mendiang Andra juga sudah aku anggap menjadi anakku. Dan kini Aulia menjadi milik kita bersama.”
Ucapan Marsya sangat menyentuh hati sehingga Ningrum tiba-tiba menangis dengan terisak sambil memeluk erat Aulia.
Tidak ingin membuat suasana bertambah duka. Tarjok mengelus kedua lengan Ningrum.
“Sayang, sudah kamu jangan menangis lagi. Jika kamu masih menangis seperti ini, maka Andra akan merasa sangat sedih di alam sana. Sekarang mari kita pulang untuk beristirahat dan biarkan Aulia juga beristirahat,” bujuk Tarjok.
Ningrum pun melepaskan pelukannya.
“Kalau gitu tante pulang dulu ya sayang,” ucap Ningrum berpamitan kepada Aulia.
“Hati-hatinya,” sambung Marsya.
__ADS_1
“Iya,” sahut Ningrum.
...Bersambung ...