Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 117. Berdebat


__ADS_3

Hari ini Aulia sudah kembali pulang ke kediaman rumahnya. Untuk acara pementasan launching perhiasan keluaran terbaru kemarin sukses besar, dan kini sudah ada 10 wanita memesan cincin, gelang tangan, dan kalung edisi terbatas keluaran dari perusahaan Aulia.


Di kamar Aulia sudah berkumpul tuan Agung, Marsya, Venus, dan tuan muda Alexdian.


“Setelah mendengar kabar bahwa kamu sakit kemarin, aku sangat cemas Aulia. Tapi setelah melihat wajah kamu terlihat segar, aku sekarang sudah tidak cemas lagi. Calon anak masa depanku. Kata Venus kamu sedang mengandung ya?” tanya tuan muda Alexdian.


‘Gawat! Pakek jujur segala lagi,’ batin Venus.


Tidak ingin di marahi Aulia, tuan Agung, dan Marsya. Venus memutar posisi berdirinya membelakangi mereka semua.


“Benar,” sahut Aulia, kedua tangan memegang perut sedikit membuncit bagian bawah, lalu berkata, “Ternyata di dalam perut ku ada dua bayi.”


“Dua bayi! Berarti aku akan mempunyai cucu sekaligus du…”


“Ehem!” dehem tuan Agung menghentikan khayalan tuan muda Alexdian.


Tuan muda Alexdian menggaruk rambut tak gatal, “He he he. Maaf-maaf,” ucap tuan muda Alexdian kikuk.


Tuan Agung mendekati tuan muda Alexdian, dan berdiri tepat di sampingnya, “Tadi aku dengar Anda menyebut putri ku ‘calon anak masa depanku’. Katakan, apa maksud dari ucapan itu?” tanya tuan Agung dingin.


“Maksud ku baik kok. Kalau Anda suatu saat nanti sudah meninggal dunia, maka aku akan menjadi pengganti Suami Marsya. Itu saja!” jelas tuan muda Alexdian santai.


Emosi tuan Agung memuncak, wajahnya kini terlihat memerah saat mendengar tuan muda Alexdian sepertinya mendoakan tuan Agung cepat-cepat meninggal dunia. Tuan Agung mendekat, “Sampai aku mati pun, kamu tidak bisa mendapatkan Marsya. Marsya akan aku bawa mati bersama ku! Apa kau puas?!”


“Aku juga akan ikut mati bersama kalian berdua. Biar kita bertiga sama-sama tenang di akhirat,” bola mata tuan muda Alexdian beralih ke Marsya, lalu menyambung ucapannya kembali, “Bukan begitu calon janda ku?”


“Berani sekali kamu bilang Istriku sebagai calon janda. Kamu tidak lihat kalau aku sekarang sangat segar bugar. Apa kedua mata kamu itu tidak bisa melihat, haa!!”


“Tentu saja aku bisa melihat jika Anda sekarang sudah mulai tua. Coba hitung umur Anda sekarang? Pasti umur Anda sudah mendekati angka kematian. Sedangkan aku, dan Marsya masih jauh lebih muda dari Anda. Sudahlah, jangan egois. Relakan saja Marsya bersamaku,” ucap tuan muda Alexdian tenang.


Melihat perkelahian tuan Agung, dan tuan muda Alexdian. Aulia dan Marsya hanya bisa tertawa geli. Bukannya semakin tua semakin dewasa, tuan muda Alexdian, dan tuan Agung malah bersikap seperti anak kecil sedang memperebutkan mainannya.

__ADS_1


“Sudah-sudah, jangan berantem seperti ini. Apa kalian tidak kasihan dengan kedua cucu ku yang sedang di dalam kandungan Aulia?” sela Marsya menghentikan pertikaian tuan muda Alexdian, dan tuan Agung.


Tuan muda Alexdian, dan tuan Agung langsung berhenti. Mereka merapihkan jas dan kemeja sempat berantakan akibat perkelahian kecil tersebut.


“Oh ya, jika aku boleh tahu. Apakah bayi kamu milik Azzuri Mahendra?” tanya tuan muda Alexdian.


Mendengar pertanyaan tuan muda Alexdian. Aulia langsung membuang wajahnya ke arah jendela kamar. Suasana pun seketika jadi hening.


Marsya menarik nafas, lalu mendekati tuan muda Alexdian.


“Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Marsya.


“Tentu saja bisa, apalagi kalau cintaku ingin membahas soal pernikahan kita,” sahut tuan muda Alexdian semangat.


“Mama!” panggil tuan Agung dingin.


“Papa…apa Papa cemburu. Kalau Papa cemburu, mari kita pergi keluar bersama,” ajak Marsya mengerti dengan nada panggilan tuan Agung.


Tuan Agung, membelai puncak kepala Aulia, “Nak, kamu tunggu di sini. Jangan terlalu banyak berjalan, cukup tenang dan diam saja di tempat tidur. Papa dan Mama akan mengantarkan tuan muda Alexdian pulang.”


“Jangan pulang dulu. Biarkan aku menjelaskannya kepada tuan muda Alexdian,” pinta Aulia.


Tuan muda Alexdian langsung duduk di tepi ranjang, “Benarkah kamu ingin menceritakan semuanya kepadaku?” tanya tuan muda Alexdian.


Aulia mengangguk.


Wajah tuan muda Alexdian berubah menjadi serius menatap wajah sedih Aulia.


“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya tuan muda Alexdian dingin.


Aulia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralkan pikirannya. Setelah merasa cukup tenang. Aulia menatap wajah Marsya, lalu tuan Agung, dan berakhir pada tuan muda Alexdian.

__ADS_1


“Aku tidak bisa mengingat jelas kejadian itu. Aku hanya mengingat saat aku di culik oleh buronan yang tuan muda Alexdian, dan Azzuri katakan hari itu. Setelah aku di bawa olehnya ke sebuah rumah besar tidak berpenghuni, dan diletakkan di dalam kamar. Aku di paksa meminum pil, lalu setelah itu tubuhku terasa panas. Dan kemudian aku tidak tahu lagi kelanjutannya,” jelas Aulia mengingat sedikit kejadian waktu itu.


“Jadi bayi yang kamu kandung adalah anak Azzuri?” tanya tuan muda Alexdian sekali lagi.


Aulia mengangguk.


Tuan muda Alexdian mengepal kedua tangannya, wajahnya berbuah menjadi suram saat mengingat saat ini Aulia mengandung anak Azzuri. Tapi Azzuri malah pergi jauh ke Belanda. Benar-benar pria tidak bertanggung jawab!


“Azzuri pernah mengajak aku nikah setelah melakukan hubungan ini. Tapi aku menolak keras, karena aku masih mencintai Andra,” sambung Aulia.


“Tapi kedua anak kamu butuh sosok seorang Papa di sampingnya. Apa kamu tega melihat anak kembar kamu terlahir tanpa seorang Papa?” tanya tuan muda Alexdian.


Aulia menundukkan wajahnya, kedua tangan mengusap lembut perutnya, “Aku tidak butuh sosok pria di sampingku. Aku yakin, aku akan bisa membesarkan, dan merawat mereka berdua sampai besar tanpa di damping seorang Suami,” sahut Aulia.


Mendengar ucapan Aulia, tuan muda Alexdian tidak bisa berkata apa pun. Tuan muda Alexdian memalingkan wajahnya ke tuan Agung, lalu Marsya.


Di tengah-tengah kesedihan dan ketegangan. Ponsel milik tuan Agung berdering.


Drrtt!!drtt!!!


Tuan Agung mengambil ponsel miliknya dari dalam saku kemeja. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat nomor panggilan asing tersebut.


“Siapa Pa?” tanya Marsya.


“Ma, Papa angkat di luar dulu,” ucap tuan Agung meminta izin. Kedua kaki tuan Agung pun melangkah, keluar dari dalam kamar Aulia. Tuan Agung terus berjalan, dan berjalan sampai langkah kakinya terhenti di depan tangga.


📞[ “Halo, ada apa?” ] tanya tuan Agung dingin.


📞[ “Gimana keadaan Aulia?” ] tanya seorang pria.


📞[ “Baik-baik saja. Apa kamu sudah menerima foto yang aku kirim?” ]

__ADS_1


📞[ “Tentu saja. Aku sangat senang saat melihat itu. Karena aku masih ada pekerjaan, maka aku harus menutup panggilan telpon ini.” ]


📞[ “Baiklah.”] ucap tuan Agung menutup panggilan telponnya.


__ADS_2