Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 123. Pilihan yang aneh


__ADS_3

Pesanan taksi online tuan Agung sudah tiba di depan gerbang rumah. Sementara Aulia dan Marsya naik taksi online, tuan Agung sudah bersiap dengan mobilnya. Dan memutuskan untuk naik mobil pribadi untuk antisipasi kalau terjadi hal buruk di jalan.


Supir taksin online keluar, membuka pintu penumpang, “Silahkan masuk,” ucap supir online mempersilahkan masuk ke dalam.


“Aku tidak ingin duduk di belakang,” tolak Aulia.


“Jadi nona mau duduk di mana?” tanya supir bingung.


“Ya jelas di depanlah,” jelas Aulia.


“Tapi nona….”


“Mau membantah kamu! Kalau gitu aku tidak jadi naik,” Aulia berbalik, “Mood ku sudah hilang gara-gara kamu menolak ku,” Aulia melangkahkan kedua kakinya menuju mobil tuan Agung. Aulia pun naik, dan duduk di bangku belakang, “Pa..Aulia naik mobil ini saja,” ucap Aulia.


Supir taksi online, dan Marsya hanya bisa diam sambil geleng-geleng kepala.


“Kenapa ngidamnya agak lain,” gumam Marsya melihat perubahan sikap Aulia.


“Nona, gimana ini? jika kalian membatalkan aku akan mendapat teguran dari pihak sana,” keluh supir taksi online bingung.


“Aku akan naik bersama kamu. Tapi sebelum itu aku minta izin dulu kepada Suami ku,” sahut Marsya.


Marsya melangkahkan kakinya mendekati mobil. Marsya pun meminta izin kepada tuan Agung untuk naik taksi online karena merasa kasihan melihat supir taksi tersebut.


Setelah mendapat izin dari tuan Agung. Marsya kembali melangkahkan kedua kakinya mendekati supir taksi, “Mari jalan,” ajak Marsya, Marsya masuk di bangku penumpang.


“Terimakasih nona,” ucap supir taksi online gembira karena Marsya tidak jadi membatalkan nya.


Mobil taksi online kini melaju, di ikuti mobil tuan Agung dari belakang.


Tuan Agung terus melirik Aulia sedang duduk di belakang dan sibuk dengan ponsel miliknya, dari kaca spion tengah, ‘Aulia, Papa berharap kamu dan dua bayi di dalam kandungan kamu selalu sehat sampai mereka terlahir di dunia ini. Aulia, kamu jangan takut untuk membesarkan bayi kembar kamu di dunia ini. Aulia, Papa harap kamu bisa membuka pintu hati kamu untuk Azzuri. Dan kamu juga harus menyadari seorang anak akan sangat membutuhkan sosok Ayah biologis nya. Papa harap kamu akan mengerti,’ batin tuan Agung.


“Pa,” panggil Aulia mengejutkan tuan Agung.


“Eh…i-iya Nak?” tanya tuan Agung, wajahnya menoleh ke belakang.


“Apakah aku hamil anak haram?” tanya Aulia membuat jantung tuan Agung hampir copot dari tempatnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?” tanya tuan Agung.


“Nggak apa-apa. Lupakan saja Pa,” putus Aulia mengakhiri percakapannya.


“Setelah kita nanti selesai berkeliling. Apa kamu ingin jalan-jalan?” tanya tuan Agung.


“Keliling ke tempat biasa saja Pa. Tapi sebelum kita berkeliling, kita bisa makan sepuasnya kan Pa?” tanya Aulia memikirkan banyak jenis kuliner enak di Negara ini.


“Tentu saja, apa pun yang kamu inginkan. Akan Papa turuti, asal putri kesayangan Papa bahagia,” ucap tuan Agung semangat.


Karena keasikan mengobrol, tak terasa mobil taksi online Marsya berhenti di depan pertokoan brand ternama. Mulai dari tas, sepatu, sampai barang lainnya. Sementara itu, tuan Agung memarkirkan mobilnya di tempat parkir.


“Kamu turun duluan, nanti Papa akan menyusul kamu,” ucap tuan Agung menyuruh Aulia turun terlebih dahulu.


“Baik Pa,” sahut Aulia patuh.


Aulia pun turun, kedua kakinya dengan cepat berjalan menjumpai Marsya sedang berdiri di depan toko tas dengan brand ternama.


“Mama mau beli tas?” tanya Aulia.


Aulia mengerutkan dahinya, ‘ ‘Sayang kalau lemari tas Mama ada yang kosong. Sudah lama Mama juga tidak membeli tas baru!’, bukannya Papa sangat rajin membelanjakan Mama kalau sudah mendengar atas barang brand dengan edisi terbatas baru keluar. Aku rasa Papa juga sudah memiliki nomor semu pemilik pertokoan ini, untuk memudahkan Papa membelikan Mama. Kenapa wanita selalu berpikir seperti itu ya? bingung aku!’ batin Aulia bingung sendiri.


“Kenapa kalian tidak masuk?” tanya tuan Agung membuyarkan lamunan Aulia.


“Papa tidak ikut masuk?” tanya Aulia.


“Iya, Papa ikut masuk. Mari,” ajak tuan Agung mengulurkan tangannya ke pintu masuk toko.


Aulia, Marsya, dan tuan Agung pun masuk ke dalam toko. Kedua mata Marsya berbinar terang saat di suguhkan dengan pemandangan tas dari berbagai macam warna.


“Nak, mari ke sana,” ajak Marsya menarik tangan Aulia ke sisi kiri.


“Hati-hati, jangan berlarian seperti anak kecil,” pesan tuan Agung sedikit meninggikan nada suaranya saat melihat Marsya dan Aulia sudah berada di sisi kiri.


“Tenang saja Pa,” sahut Marsya sedikit meninggikan nada suaranya karena jarak berdiri mereka jauh.


Pergi dari siang, pulang sampai malam. Mobil tuan Agung juga sudah penuh dengan barang belanjaan milik Marsya dan Aulia. Sebelum berangkat menuju restauran, tuan Agung berulang kali menarik nafas panjang

__ADS_1


.


“Kenapa hanya aku yang tidak dibelikan barang,”gurau tuan Agung sedih.


Aulia mengambil bungkusan kecil, tangannya mengulur ke depan, “Ada ini Pa. Aulia membeli tali pinggang, dan dompet senilai 1 miliar,” jelas Aulia.


Wajah tuan Agung mendadak berubah saat mendengar Aulia menghabiskan uangnya hanya membeli benda kecil dengan harga fantastis.


“Kenapa wajah Papa seperti itu? apa Papa tidak mau menerima pemberian ku?” tanya Aulia sedikit bersedih saat melihat wajah tuan Agung terlihat bengong.


“Ti-tidak,” tuan Agung mengambil bungkusan belanjaan. Tuan Agung mengeluarkan tali pinggang, dan dompet dari dalam bungkusan belanjaan. Kedua bola mata tuan Agung membulat sempurna saat melihat dompetnya berwarna ungu, dan tali pinggangnya berwarna coklat gelap dengan masing-masing bahan terbuat dari kulit buaya, dan ular. Tuan Agung melirik ke Marsya.


Marsya mengangguk, senyum manis segaris terlintas di bibir merah mudanya.


“Suka, Pa?” tanya Aulia penuh semangat.


Tuan Agung mengangguk, “Sangat indah,” puji tuan Agung terpaksa.


“Aulia juga sudah membelikan Venus perlengkapan untuk stelan pekerjaannya,” ucap Aulia menunjukkan dasi, tali pinggang, dan kaca mata. Semua pilihan Aulia terlihat campur, motif wanita, dan pria.


“Pilihan kamu memang sangat bagus. Tapi yang terpenting sekarang kita makan dulu. Kasihan bayi kembar kamu yang kelaparan di dalam perut, “ ajak tuan Agung, karena sekarang perutnya sangat lapar.


“Iya, mari kita makan di tempat biasa. Habis itu kita jalan-jalan sebentar mengelilingi kota Pari ya, Pa…Ma?!”


“Iya,” sahut Marsya, dan tuan Agung serentak.


Mobil pun kini melaju menuju restauran biasa, tempat mereka sering mengunjunginya. Karena jarak tempat belanja mereka tidak jauh dari Restauran tersebut, mobil mereka pun sudah sampai di tempat parkiran mobil.


“Pa…Ma, sepertinya ini mobil tuan muda Alexdian,” tunjuk Aulia ke mobil terparkir di sebelah mobil mereka.


“Sebaiknya kita cari….”


Ucapan tuan Agung terhenti saat melihat wajah Aulia cemberut, menatap dirinya.


“Baik-baik, mari kita masuk,” ajak tuan Agung.


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2