
Dekorasi serba putih di campur merah muda menghiasi rumah kediaman tuan Agung dan Marsya. Rumah berbentuk Istana itu kini dipenuhi dengan dekorasi pernikahan. Harum bunga mawar merah tercium di seluruh ruangan.
Mengingat Wardhani masih belum ketemu. Puluhan pengawal dan beberapa pihak berwajib berjaga di seluruh lingkungan rumah. Semua itu dilakukan agar acara pernikahan Aulia dan Andra berjalan dengan mulus.
Pintu masuk di hiasi foto prewedding Aulia dan Andra. Terlihat senyum manis dari Andra dan juga Aulia di dalam foto ala Korea.
...ILUSTRASI ...
Tuan Agung, Marsya, Ningrum dan Tarjok berdiri di depan pintu menyambut para tamu undangan.
"Pa...kok Mama deg-degan ya?" tanya Marsya sedikit berbisik.
"Bukan Mama saja. Papa juga. Ini kali pertamanya Papa akan menikahkan putri sendiri," sahut tuan Agung berbisik.
"Mama sudah tidak sabar untuk menimang cucu," ucap Marsya mulai memikirkan hal lain.
"Jangan mikir yang macam-macam. Doain saja biar acara pernikahan Aulia berjalan lancar," sahut tuan Agung berbisik.
"Tuan, Andra sudah turun dan duduk di kursi mempelai pria. Dan Pak penghulu sudah sampai. Apa acaranya akan segera di mulai?" tanya Venus baru saja tiba.
"Kalau gitu kita mulai saja. Kamu tolong berjaga di depan pintu. Jika ada yang masuk minta mereka menunjukkan kartu undangannya," tegas tuan Agung memberi perintah kepada Venus.
"Baik tuan," sahut Venus patuh.
Tuan Agung mengulurkan tangannya ke arah Tarjok, "Mari besan, kita nikahkan kedua anak kita yang sudah tidak sabar itu," ucap tuan Agung mengajak Tarjok menuju meja pernikahan.
"Anak kita yang nggak sabar, atau kita ya?" sahut Tarjok sembari memberi tawa renyah.
Marsya, Ningrum dan Tarjok sudah mengambil posisi duduk mereka di tempat yang sudah ditentukan. Kecuali, tuan Agung yang akan menikah kan Aulia sendiri sudah duduk bersebelahan Pak penghulu.
"Melihat semua tamu dan calon sudah hadir di sini. Sepertinya ijab kabul sudah bisa kita mulai. Kalau kita masih menundanya, takutnya 4 calon mempelai yang sudah menunggu saya akan berdemo nantinya," ucap Pak penghulu sedikit bergurau.
"Mencak-mencak jadinya ya Pak!" sahut tuan Agung sedikit tertawa.
"Iya. Maklum saja masih baru, pasti ingin cepat-cepat selesai dan kelar," ucap Pak penghulu kembali bercanda.
__ADS_1
"Kalau gitu mari kita mulai Pak," sahut tuan Agung mengulurkan tangan kanannya ke arah Andra.
Andra pun segera menerima jabat tangan tuan Agung.
"Apa kamu sudah siap. Dan apa kamu sudah mengingat nama calon pengantin wanita kamu? jangan pula nanti kamu mengucap nama mantan kamu di sini," ucap Pak penghulu di kembali bercanda.
"Aku tidak punya mantan. Kehidupan ku hanya diisi dengan hari-hari ku bersama dengan Aulia," sahut Andra sedikit tegang.
"Kalau gitu mari kita mulai," ucap Pak penghulu.
Tuan Agung mengeratkan tangannya, menarik nafas panjang. Dan berkata, "Saya nikahkan dan kawinkan anak saya bernama Laksmana Aulia bin Agung Laksmana dengan mas kawin 30 cabang warung bebek, uang jajan senilai 100 juta rupiah, rumah baru, dan 100 kilogram emas murni di bayar tunai," tuan Agung menghentakkan genggaman tangannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Laksmana Aulia binti Agung Laksmana dengan mas kawin 30 cabang warung bebek, uang jajan senilai 100 juta rupiah, rumah baru, dan 100 kilogram emas murni di bayar tunai," sahut Andra ikut menghentakkan genggaman tangan.
"Bagaimana para saksi. Sah?" tanya Pak penghulu ke para tamu undangan dan beberapa saksi.
"SAH!!"
"Alhamdulillah," ucap serentak para tamu dan saksi yang hadir.
Prok-prok !!
Suara tepuk tangan meriah diberikan para tamu dan keluarga untuk Aulia dan juga Andra.
Andra menundukkan wajahnya, air mata kebahagiaan dan rasa tidak percaya jika hari ini dia sudah sah menjadi Suami Aulia perlahan menetes membasahi pipi mulusnya.
"Kamu menangis?" tanya tuan Agung melirik ke Andra.
Andra segera menyeka air matanya, "Terharu, dan mengapa Aulia terlihat seperti bidadari hari ini," sahut Andra sedikit malu.
"Kalau orang yang baru saja menikah memang seperti itu. Melihat wanita seperti bidadari jatuh dari surga. Coba kamu sudah menikah dan bertahan selama puluhan tahun. Uh....apa nggak tambah cinta kamu nantinya. Tapi itu bagi pria yang bersyukur, dan setia saja," sambung tuan Agung membicarakan dirinya yang selalu setia kepada Marsya.
Andra mengangguk, "Aku tipe cowok setia kok Om," sahut Andra mendadak polos.
"Sudah jangan pasang muka sedih lagi. Cepat kamu sambut Aulia, dan bantu ia duduk," ucap tuan Agung saat melihat Aulia sudah berada di depan mata.
Andra segera berdiri, tangan kanan menarik kursi buat Aulia, "Silahkan duduk," ucap Andra mempersilahkan Aulia duduk.
__ADS_1
"Terimakasih," sahut Aulia segera duduk di samping Andra.
"Karena calon pengantin wanita sudah datang , saya izin pamit dulu," Pak penghulu berdiri, "Assalamualaikum," sambung Pak penghulu membawa kedua kakinya melangkah pergi meninggalkan pesta pernikahan Aulia dan juga Andra.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka semua serentak.
Tuan Agung berdiri, "Mari kita menuju pentas pelaminan," ajak tuan Agung mengarahkan tangan ke sisi kanan.
"Yuk," ajak Andra memberi setengah lengannya kosong untuk dirangkul Aulia.
"Mari kita berjalan bersama," sambung Aulia memasukkan lengannya.
Andra dan Aulia pun berjalan bersama menuju pentas pelaminan. Senyum mereka dari sepasang Suami-istri terus terpancar buat para tamu undangan.
"Setelah menikah apa yang harus kita lakukan?" tanya Aulia sedikit berbisik.
"Makan, tidur, dan bekerja aku rasa. Seperti yang kita lakukan pada umumnya," sahut Andra ikutan berbisik.
"Iya juga ya. Oh ya, apa ranjang yang di kamar kamu sudah di ganti dengan ranjang besar?" tanya Aulia mengingat ranjang di dalam kamar Andra berukuran empat kaki.
"Aku rasa sudah lah. Kan tidak mungkin kita selamanya memakai ranjang anak kecil itu."
Sedangkan di sisi lain. Marsya dan Ningrum saling berbisik aneh. Bisikan halus bikin buku kuduk merinding.
"Dulu kita yang mengalami malam pertama, tapi sekarang anak kita juga akan merasakannya," ucap Marsya sedikit berbisik.
"Benar, saat itu berusaha menembus ke dalam. Rasanya jantungku mau lepas."
"Tapi setelah masuk dan plong rasanya pingin nambah terus, 'kan?" sambung Marsya bertanya tanpa pikir panjang.
Mendengar bisikan halus para Istri, para Pak Suami hanya bisa melirik dengan wajah malu bercampur suram.
Di tengah-tengah meriahnya pesta ada tamu tak di undang berjalan masuk melewati para tamu. Tamu itu juga melewati tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok.
Aulia dan Andra membulatkan kedua bola matanya saat melihat tamu undangan tidak di undang berjalan masuk dengan santainya.
...Bersambung ...
__ADS_1