
Setelah selesai mengantarkan peti jenazah Andra. Aulia, Marsya, Ningrum, Tarjok, dan Venus kini sudah berada di kediaman rumah tuan Agung. Mereka semua berkumpul di ruang tamu kecuali, Aulia.
Aulia kini sedang berada di kamar, ia duduk di depan jendela kamar meratapi kenapa Andra sangat cepat meninggalkan dirinya. Padahal banyak janji, dan banyak hal belum mereka lalui bersama. Air matanya perlahan menetes saat mengingat semua kenangan Andra dan Aulia saat masih kecil.
.
.
💫#KENANGAN MASA KECIL💫
Waktu itu umur Aulia masih 10 tahun, dan Andra berumur 15 tahun. Hari itu Aulia baru saja pulang dari mengambil rapot kenaikan kelas. Karena dirinya masuk daftar rangking 15 besar di dalam kelas dari 30 siswa. Aulia tidak sabar ingin menunjukkannya kepada Andra.
“Ma…Mama temani aku pergi ke rumah tante Ningrum ya. A-aku ingin menunjukkan kepada Andra kalau aku pintar dan sudah masuk rangking 15 di sekolah,” pinta Aulia.
Marsya menundukkan sedikit tubuhnya, tangan kanan membelai puncak kepala putri kecilnya itu. Ingin rasanya ia tertawa saat mendengar Aulia terlihat bangga dengan memasuki daftar rangking 15. Tapi dirinya tidak bisa karena Marsya tak ingin membuat hati putri kecilnya kecewa.
“Apa kamu yakin ingin menunjukkan kepada Andra jika kamu masuk rangking 15?” tanya Marsya memastikan.
Aulia mengangguk.
“Kalau gitu mari kita pergi ke rumahnya,” ajak Marsya.
Marsya pun menggenggam erat pergelangan tangan Aulia. Saat kedua kaki mereka ingin melangkah pergi. Terdengar suara pria kecil dan seorang wanita dewasa menyapa dari depan pintu rumah.
“Assalamua’aikum.”
“Aulia,” panggil pria berusia 15 tahun.
Kedua mata Aulia langsung berbinar terang saat melihat pria tersebut datang dan menyapa dirinya.
“Andra!”
Aulia langsung melepaskan gandengan tangan Marsya, kedua kakinya dengan cepat berlari mendekati pria tersebut dengan tangan membawa raport SD. Langkah kaki kecil itu pun terhenti tepat di depan Andra. Aulia segera membuka buku rapot dan menunjukkannya kepada Andra.
“Coba lihat. Aku tadi mendapat rangking 15 dari 30 siswa di dalam kelas,” ucap Aulia semangat.
Andra langsung mengambil buku rapot, senyum tipis tersirat sekilas di raut wajah tampannya. Lalu Andra membelai puncak kepala Aulia.
“Kerja yang bagus. Lain kali kamu harus mendapatkan rangking satu, dan kamu juga harus lebih pintar dariku,” puji Andra.
“Benarkah?!”
“Tentu. Jika kamu bisa mendapatkan rangking satu sampai kamu tamat sekolah. Maka aku akan memberikan kamu hadiah,” ucap Andra.
“Hadiah! A-aku mau hadiah. Apakah hadiah yang akan kamu berikan sama seperti Papa dan Mama berikan kepadaku?” tanya Aulia semangat.
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Hadiah aku spesial buat kamu. Dan kamu boleh memilih hadiah apa saja buat kamu,” ucap Andra.
“Benarkah?!”
Andra mengangguk.
Dengan polosnya Aulia berkata, “Kalau gitu aku ingin menjadi Istri kamu. Aku ingin kita bisa bersama seperti Papa dan Mama, seperti Om Tarjok dan tante Ningrum juga. Apa boleh?!”
Wajah Andra langsung berubah menjadi merah padam. Marsya dan Ningrum hanya bisa tertawa ringan saat melihat kepolosan Aulia.
Melihat Andra berwajah merah seperti buah tomat. Aulia berpikir jika Andra mendadak demam. Aulia mendekatkan wajahnya, kedua ujung kaki ia jinjit agar bisa melihat jelas wajah Andra.
“Apa kamu sedang sakit?”
Melihat Aulia sangat agresif. Andra langsung berbalik badan, dan langsung bersembunyi di balik tubuh Ningrum.
Melihat Andra berlari seperti ketakutan, Aulia juga langsung berbalik badan, menarik rok gaun Marsya.
“Mama..apakah permintaan hadiahku itu salah?” tanya Aulia bingung.
Marsya menundukkan sedikit tubuhnya, “Hadiah yang kamu minta tidak salah. Hanya saja kenapa kamu bisa memikirkan hal seperti itu. Siapa yang mengajari kamu berbicara seperti itu sayang?”
“Karena…karena aku menyukai Andra. Bukannya kalau kita saling menyukai harus hidup bersama agar kita saling berbagi kebahagian seperti yang Papa bicarakan kepada ku.”
Mendengar kejujuran Aulia. Andra langsung keluar dari balik tubuh Ningrum, dan mendekati Aulia.
Aulia mengangguk.
Andra menunjukkan jari kelingking nya, "Berikan aku janji kelingking kamu."
Aulia memberikan janji kelingkingnya, dan mereka membuat sebuah janji.
.
Di mulai dari sebuah perjanjian. Aulia dan Andra semakin sering belajar bersama. Hingga tak terasa 2 tahun sudah berlalu. Waktu terus berlalu begitu cepat hingga akhirnya Aulia lulus SD dengan peringkat paling tinggi dari siswa lainnya. Tanpa menunda untuk bertemu Andra. Aulia meminta Marsya untuk langsung ke rumah Andra.
Mobil Marsya pun kini sudah terparkir di depan halaman rumah Ningrum dan Tarjok. Aulia langsung membuka seatbelt, membuka pintu dan langsung berlari masuk ke dalam rumah Ningrum.
Terlihat Andra dan Ningrum menyambut kehadiran Marsya dan Aulia.
Aulia kini berdiri di hadapan Andra.
“Lihat-lihat. Aku mendapatkan piala dan aku juga sudah lulus dengan nilai yang baik. Bukan itu saja, aku juga sudah berumur 12 tahun, dan kamu sudah berumur 17 tahun. Jadi mari kita menikah,” ucap Aulia polos.
Andra meraup wajahnya, “Bodohnya aku!” gumam Andra pelan.
__ADS_1
Melihat putrinya terlihat sangat agresif. Marsya menjadi malu, ia pun mendekati Aulia.
“Sayang. Kamu ini masih kecil, kenapa kamu terus berkata ingin menikah dengan Andra?” tanya Marsya lembut.
“Karena aku sangat menyukai Andra. Dan aku ingin terus bersama dengannya, baik belajar atau hal lainnya,” sahut Aulia polos.
“Gimana kalau kita melupakan hal itu dan fokus kepada sekolah dan masa depan dulu,” sambung Andra.
“Masa depanku itu adalah kamu!” sahut Aulia serius.
Andra membuang wajahnya ke sisi kanan dengan wajah malu, ‘Dari mana sih, bocah kecil ini bisa mengetahui kata-kata orang dewasa,’ batin Andra.
Tidak ingin mematahkan perasaan dan hati Aulia. Ningrum selaku Mama Andra berjongkok di hadapan Aulia. Tangannya membelai lembut salah satu pipi Aulia.
“Sayang. Maksud Andra, gimana kalau kalian berdua fokus kepada pelajaran saja. Kebetulan Andra dapat biaya siswa dari salah Universitas. Jadi setelah tamat sekolah SMA ini, Andra sudah akan pergi ke Luar Negeri untuk menjalani studi ke jenjang lebih tinggi selama beberapa tahun. Dan kamu di sini juga harus fokus untuk bersekolah. Tentang cinta di undur dulu ya, sayang,” ucap Ningrum menjelaskan lembut.
Mendengar Andra akan pergi meninggalkan dirinya selama beberapa tahun. Aulia langsung menundukkan wajah sedihnya, “Baik tante,” sahut Aulia pelan.
Melihat Aulia berwajah murung Andra langsung mendekati Aulia, membelai puncak kepala Aulia agar hatinya bisa tenang dan tidak patah semangat.
“Kamu jangan bersedih seperti ini. Walaupun aku pergi jauh, tapi aku akan tetap memberi kabar kepada kamu. Kamu tenang saja. Jadi jangan bersedih, di sini kamu juga harus semangat dalam belajar. Kamu juga harus berjanji kepadaku untuk menjadi lebih hebat dari diriku. Bagaimana?”
“Setelah itu kamu mau memberikan aku hadiah apa?” tanya Aulia semangat.
“Soal hadiah belakangan. Yang terpenting janji dulu yang harus kamu tepati,” sahut Andra.
“Baik. Aku akan menepati janji itu,” ucap Aulia semangat.
.
#KENANGAN BERAKHIR
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Isak-tangis Aulia pecah, tangan kanan memegang puncak kepalanya, dan tubuhnya sedikit membungkuk.
“Hiks! Hiks! Andra. Kenapa kamu tega meninggalkan aku. Siapa lagi yang akan membelai puncak kepalaku jika kamu kini sudah tidak ada di dunia ini, lebih baik aku juga.”
Kenangan itu membuat Aulia mulai sedikit depresi, Aulia membuka lebar-lebar daun jendela kamarnya. Aulia segera bangkit dari kursi, kedua kaki segera melangkah mendekati jendela kamar, dan berdiri di pinggiran jendela kamar.
“Pa..sepertinya aku memang tidak sanggup jika Andra sudah tidak ada lagi di kehidupanku. Pa..aku tidak takut dengan Neraka Jahannam. Lebih baik aku mengakhiri hidupku, meski kami tidak bertemu di tempat yang sama. Tapi setidaknya aku bisa bertemu dengan Andra di akhirat.”
Saat Aulia ingin melompat, terdengar suara anak kucing dari bawah jendela.
Meow! Meow!
__ADS_1
“Hai wanita depresi! Apakah kamu ingin melakukan percobaan bunuh diri? Jika kamu ingin melakukannya maka cepatlah melompat agar aku melihat da-rah kamu keluar dari hidung dan mulut!”
...Bersambung...