Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 57. Cincin pertunangan


__ADS_3

Acara sudah selesai dengan sangat mulus. Aulia, Azzuri, tuan Agung dan Marsya sedang berdiri di teras gedung.


"Anda memang sangat hebat nona muda. Bukan hanya menciptakan inovasi bentuk cincin buat pernikahan, pertunangan dan hal lainnya. Tapi Anda juga mampu membawa diri di dalam bidang seperti ini," puji seorang pria berwajah Turki mendekati Aulia.


Aulia menundukkan sedikit tubuhnya, "Dengan besar hati saya ucapkan terimakasih kepada tuan Ronde," ucap Aulia sopan.


"Mohon maaf perbincangan kita harus terputus sampai di sini. Jika tuan Azzuri mengizinkan, 1 bulan lagi saya akan menemui Anda, tuan Azzuri. Saya ingin memesan baju ini buat kekasih saya," ucap Ronde kepada Azzuri.


"Tentu saja. Seperti yang aku katakan kalau model baju rancangan milikku yang dipakai oleh nona Aulia adalah rancangan khusus untuk orang yang spesial. Jika itu memang buat orang yang spesial maka aku akan membuatkannya," sahut Azzuri dengan senang hati.


"Terimakasih. Karena sudah tidak ada pembahasan lagi, saya langsung pamit pergi," ucap Ronde mengulurkan tangan kanannya ke tuan Agung, Marsya, Aulia dan juga Azzuri. Setelah mengucap dan memberi salam perpisahan, Ronde dan anak buahnya pergi meninggalkan gedung.


"Ayo kita pulang," ajak tuan Agung.


"Ayo Pa!" sahut Aulia semangat. Tangan kanan langsung merangkul lengan kiri tuan Agung.


"Tunggu dulu," ucap Azzuri menahan pergelangan tangan kiri Aulia.


"Ada apa? bukannya semua permintaan kamu sudah aku turuti!" sahut Aulia kesal.


Azzuri menundukkan sedikit tubuhnya, "Kontrak kita memang sudah selesai. Tapi aku mau kita tetap saling berhubungan," ucap Azzuri lembut.


Aulia menepis tangan Azzuri, "Nggak...sudi!" Aulia merangkul masing-masing lengan Marsya dan tuan Agung, "Ayo Pa...Ma kita pulang. Aulia sangat lapar dan ingin memakan sesuatu," sambung Aulia mengajak tuan Agung dan Marsya lembut. Kedua kakinya juga melangkah pergi meninggalkan gedung.


"Kami permisi pamit pulang," ucap Marsya melambaikan tangan kanannya, senyum tipis Marsya berikan buat Azzuri masih terus berdiri di belakang.


Lagi dan lagi, bukannya marah dengan sikap kasar Aulia. Azzuri malah tersenyum manis mengingat wajah masam Aulia terlihat begitu manis.


"Anda kenapa?" tanya Jack baru saja tiba.


"Aku masih tidak habis pikir dengan Aulia. Kenapa saat dirinya marah dan memasang wajah masam, aku malah bertambah jatuh cinta. Eh...maksudnya aku malah semakin ingin melahapnya. Eh...bukan maksudnya aku ingin terus bersama nya," sangking gugup dan paniknya Azzuri terus berkata aneh.


Di tengah kepanikan Azzuri, Jack malah berbicara santai, "Saya paham maksud dan niat Anda."


Azzuri langsung berbalik badan, "Cepat kita kembali!" ketus Azzuri dalam kondisi gugup.

__ADS_1


"Baik tua," Jack pun patuh, kini Azzuri dan Jack melangkah meninggalkan gedung tersebut.


.


.


✨ Di sisi lain ✨


πŸ’« APARTEMEN AULIA πŸ’«


Tuan Agung, dan Aulia sedang duduk di ruang Tv keluarga. Sedangkan Marsya sedang menyiapkan masakan untuk makan malam. Tuan Agung terus melirik tajam ke Aulia. Lirikan tajam seperti penuh pertanyaan.


"Papa kenapa?" tanya Aulia bingung.


"Kenapa kamu bisa menjadi modelnya?" tanya tuan Agung datar.


"Itu..." Aulia menundukkan pandangannya. Bibir dan hatinya ingin berbohong, tapi Aulia teringat dengan ucapan Marsya, 'Seberat apa pun kebenaran yang kamu pendam di dalam hati. Maka jangan coba-coba kamu membohongi seluruh orang. Termasuk, diri kamu sendiri. Kamu juga harus ingat! Kebohongan itu adalah sikap tercela dan terburuk yang selalu orang lain berikan kepada Umatnya. Kita memang tidak bisa jauh dari sifat kebohongan tersebut, tapi..kita masih bisa menjauhkan sikap kebohongan dari dasar hati kita.'


"Sayang," panggil Marsya memegang bahu kiri Aulia.


"Ha ha ha" tuan Agung tertawa renyah.


"Lah, Papa kok malah tertawa. Apa yang lucu?" tanya Aulia sekilas melirik Marsya.


Tuan Agung memukul pelan pundak bahu kiri Aulia, "Kalau di Negera orang dan kita datang ke pesta, ada yang menawarkan kita minum bersamanya. Itu tidak masalah putriku. Asal minumnya tidak berlebihan. Karena sebagai Pengusaha terkadang kita harus saling menghargai perjamuan tersebut. Tapi tetap balik ke intinya, tidak boleh terlalu berlebihan," ucap tuan Agung memberi pesan kepada Aulia.


"Jadi lain kali aku boleh minum Pa?" tanya Aulia polos.


Cuit!!!


Tuan Agung mencubit kedua pipi Aulia, "Justru tidak boleh. Cukup kali ini saja. Lain kali kalau Papa dengar kamu minum, maka Papa akan segera menarik semua fasilitas dan juga usaha yang kamu pegang," ucap gemas tuan Agung.


Ding dong!!!


Bel pintu rumah berbunyi.

__ADS_1


"Biar Papa lihat," ucap tuan Agung segera menuju pintu.


"Oh ya, Venus ke mana ya Ma. Perasaan dari tadi aku tidak melihatnya," ucap Aulia melirik ke sekeliling ruangan.


"Nggak tahu Mama. Mungkin dia ada urusan lain."


"Aulia! coba lihat siapa yang datang," panggil tuan Agung sedikit berteriak.


"Siapa Ma?" tanya Aulia ke Marsya.


"Mari kita lihat saja," ajak Marsya membawa Aulia menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu Aulia membulatkan kedua bola matanya saat melihat Andra memakai setelan jas rapih, buket bunga mawar merah terselip di lengan kanan, dan 1 kotak cincin di genggaman tangan kiri. Di belakang Andra ada Venus sedang berdiri memegang beberapa macam kotak hadiah.


"Aulia," panggil Andra dengan kedua kaki mendekati Aulia.


"I-ini ada apa ya?" tanya Aulia bingung.


Andra menghentikan langkah kaki nya tepat di depan Aulia, "Terimalah bunga ini," ucap Andra memberikan bunga.


"Bunga yang sangat indah," puji Aulia menerima bunga dan mencium bunga mawar tersebut.


Andra berlutut, "Maukah kau menjadi calon Istriku?" tanya Andra mengulurkan kotak cincin pertunangan.


"Pa...Ma...a-apa ini?" tanya Aulia memutar bola matanya ke tuan Agung dan juga Marsya.


"Karena Andra sudah berhasil mencapai tujuannya. Maka Papa dan Mama sudah memberikan restu kembali buat kalian berdua. Hari ini Andra datang ke sini ingin melamar kamu sebagai calon pengantin nya. Apa kamu masih ingin menikah dan menjadi Istri Andra?" tanya tuan Agung sedikit tegas.


Aulia mengangguk, "Tentu aku sangat mau!" Aulia memberikan jari manisnya.


Andra memasang cincin di jari manis Aulia. Damn berkata, "Aku melamar kamu, karena aku tidak ingin ada orang lain yang bisa merebut atau mendekati kamu. Meski aku hanya bisa membuka cabang di seluruh Negeri kita. Dan aku juga sudah membuka beberapa ternak bebek, ikan lele, dan juga beberapa ladang sayur di beberapa pedesaan. Tapi aku sangat yakin bisa memberikan kebahagiaan bersama kamu."


Setelah cincin berlian terpasang di jari manis. Aulia melompat kegirangan, "Lihat...lihat aku punya cincin pertunangan," ucap Aulia girang.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2