
Seminggu sudah berlalu Aulia kembali ke Paris. Seperti janji Aulia kepada Andra, kemanapun ia pergi Aulia harus memberi laporan agar Andra tidak kuatir. Aulia menuruti janjinya karena tidak ingin menambah beban pikiran Andra selama proses berjuang demi masa depan mereka berdua.
3 hari Aulia kembali ke Paris, ada perusahaan cukup terkenal membuka anak cabang dengan bisnis baru. Bisnis yaitu usaha batu batu permata. Semua pengusaha di bidang perhiasaan di undang oleh pemilik bernisial MA. Untuk menghargai undangan MA, Aulia kini segera meluncur menuju kediaman MA.
Sesampainya di depan pintu masuk kediaman MA, Aulia dihadang oleh kedua penjaga pintu masuk. Kedua penjaga tersebut berkata, “Mohon berikan kartu undangan Anda.”
Aulia mencari kartu undangan di dalam dompet bulu mini berwarna biru muda miliknya. Aulia membulatkan kedua bola matanya saat tidak mendapatkan satu benda apa pun di dalam isi dompet miliknya. Aulia membalik dompet mini, “Haa, kenapa tidak ada satupun benda yang nyantol di dalam dompet mini ini!” Yuka menepuk dahinya, “Dompet saja yang mahal, tapi isinya tidak ada,” keluh Aulia.
Salah satu penjaga mengarahkan tangan kanan ke belakang, “Silahkan keluar jika Anda tidak memiliki kartu undangan,” tegas penjaga.
Aulia berbalik badan, dengan langkah lemas menuju mobil miliknya. Aulia menyadarkan dahi di pintu mobil, “Kebanyakan milih baju jadinya aku melupakan segalanya,” keluh Aulia mengingat dirinya lupa membawa ponsel dan kartu undangan terletak di atas meja ruang tamu.
“Nona muda pusing?” tanya Venus.
Aulia menggeleng.
“Jadi nona muda kenapa membuat wajah pusing seperti itu?”
Aulia berdiri tegak, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke wajah Venus, “Ini semua gara-gara kamu!”
“Loh, kok saya?” tanya Venus menunjuk dirinya sendiri.
Aulia berjongkok, kedua tangan memegang rambut panjangnya, “Aih, sedihnya hidupku tanpa kamu!”
“Wanita cantik tidak pantas jongkok seperti itu,” ucap seorang pria mengulurkan tangan kanan ke Aulia.
...Ilustrasi wajah tuan muda Alexdian...
.......
.......
Aulia menatap dari mulai sepatu pansus hitam kilat, stelan jas berwarna biru tua, sampai ke wajah pria tampan. Pria tersebut ternyata adalah tuan muda Alexdian, seorang pengusaha terkaya sempat mengejar dan ingin merebut Marsya sewaktu muda dulu.
__ADS_1
Jika kalian bingung tentang siapa tuan muda Alexdian, silahkan mampir ke season 1 judul “GARIS DUA BUAT PRESDIR”, mungkin tulisannya masih belum sempat direvisi, tapi saya harap kalian bisa mengetahuinya di sana. Terimakasih.
.
“Jangan mendekat dengan nona muda kami!” ucap Venus menghadang tuan muda Alexdian.
“Ha ha ha” tuan muda Alexdian menepuk bahu kanan Venus, “Kamu adalah anak buah yang lucu,” tuan muda Alexdian mengulurkan tangan kanan ke arah Aulia, “Perkenalkan aku adalah MA, singkatan dari tuan muda Alexdian.”
Aulia segera menunduk, “Maafkan kecurigaan ku,” Aulia membuat kedua tangan seperti permohonan maaf, “Aku tidak bisa masuk karena aku meninggalkan kartu undangan di rumah.”
“Tidak masalah. Aku adalah pemilik tuan rumah di sini, jadi aku berhak menerima siapa saja untuk masuk ke dalam pesta undangan ku,” sahut tuan muda Alexdian sopan.
“Terimakasih. Kalau begitu aku akan ikut dengan Anda,” ucap Aulia menerima jabat tangan tuan muda Alexdian.
Sambil melenggang 'kan badannya Aulia berjalan masuk sambil tersenyum manis kepada kedua penjaga. Senyum manis seperti sedang mengejek jika dirinya bisa masuk tanpa kartu undangan.
Tuan muda Alexdian terus menuntun Aulia berjalan masuk menuju ruang pesta. Sesampainya di dalam ruangan pesta, kedua mata Aulia membulat sempurna melihat beberapa koleksi barang perhiasan kuno. Tuan muda Alexdian berhenti di depan pajangan kaca berisi berisi Mahkota memiliki ukiran berupa karangan bunga myrtle atau kemunting khas Yunani dari masa 300 tahun SM.
.......
.......
Aulia merasa takjub melihat Mahkota tersebut, ia menempelkan wajahnya di kaca, “Indahnya,” ucap Aulia terpanah.
“Melihatmu mengingatkan aku dengan wanita 19 tahun silam yang sempat membuat hatiku goyah dan ingin merebutnya dari suaminya.”
Aulia berdiri tegak, wajah serius mengarah ke tuan muda Alexdian. Aulia mendekatkan wajahnya, menatap lekat wajah tuan muda Alexdian, “Wah, aku tidak menyangkan pria berwajah penuh karisma seperti Anda seorang pria perusak rumah tangga orang lain.”
“Habisnya wanita muda itu sangat menggemaskan dan juga pemberani,” tuan muda Alexdian melambai, “Lupakan saja, kejadian itu sudah lama sekali dan dia juga sudah memiliki anak yang cukup cantik. Rumah tangganya juga cukup bahagia sekarang.”
“Sangat beruntung wanita itu sempat di sukai oleh Anda tuan,” sahut Aulia memberi senyum manis.
“Anda juga sangat beruntung, masa muda sudah memiliki usaha yang cukup sukses dengan umur yang masih sangat muda,” puji tuan muda Alexdian.
__ADS_1
Aulia melambai, “Itu bukan bisnis aku sendiri tuan. Aku hanya meneruskan usaha Mama saja.”
“Wah, pasti kedua orang tua kamu sangat kaya raya sehingga memiliki usaha sampai di Paris.”
“Tentu!” Aulia memelintir rambut panjangnya, “Semua pengusaha juga mengenal siap Mama dan Papa ‘ku!” sahut Aulia bangga.
Tuan muda Alexdian menunjuk Aulia, “Jangan bilang kamu adalah anak dari tuan Agung Laksmana!”
Aulia mengangguk, “Anda benar.”
“Berarti kamu adalah anak dari wanita yang aku sukai dulu!” ucap tuan muda Alexdian keceplosan.
“Haaa!” Aulia mundur satu langkah ke belakang, “Ternyata kamu adalah pria yang ingin merusak rumah tangga Papa dan Mama dulu. Aku tidak akan membiarkan kamu muncul kembali ke kehidupan Mama dan Papa!” Aulia berbalik badan, “Terimakasih atas jamuan nya. Sebaiknya aku pergi daripada berdiri di tengah pesta dari pria perusak rumah tangga orang,” tegas Aulia melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan acara.
“Nona muda Aulia,” panggil tuan Agung mengikut langkah kaki Aulia, tangan kanannya berusaha meraih bahu kanan belakang, “Dengarkan penjelasan aku dulu. Sekarang aku tidak seperti itu, aku sudah bertaubat.”
“Kamu pikir aku percaya!” sahut Aulia ketus, kedua kaki masih terus melangkah pergi.
Saat Aulia terus melangkah cepat ke depan dirinya tidak sengaja menabrak bidang dada seorang pria berwajah dingin.
Bug!
“Auw!”
“Nona muda Aulia, apakah Anda baik-baik saja?” tanya tuan muda Alexdian cemas, tangan kanan berusaha memegang dahi tapi di tepis oleh Aulia.
“Siapa yang berani meletakkan tiang di depanku?” perlahan Aulia menaikkan pandangannya, kedua matanya membesar saat melihat pria muda berwajah dingin menatap suram wajah Aulia. Aulia memalingkan wajahnya ke sisi kanan, “Mampus!” Aulia menundukkan kepalanya, “Ha ha. Aku tidak jadi marah. Lebih baik aku pergi saja,” ucap Aulia melangkahkan kaki kanannya.
“Kamu bilang aku tiang?” tanya pria berwajah dingin, menahan kerah baju gaun malam Aulia bagian belakang , “Jangan pergi sebelum aku melihat wajah marah kamu!”
“Tuan muda Azzuri, aku mohon lepaskan nona muda Aulia,” tegas tuan muda Alexdian.
Azzuri menarik Aulia, memutar badan Aulia hingga jatuh ke dalam pelukannya. Kedua mata saling menatap lekat satu sama lain, tangan kiri Azzuri perlahan turun ke pinggul Aulia, “Ternyata kamu adalah wanita yang selalu dibicarakan.”
...Bersambung ...
__ADS_1