Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 112. Aku ingin menikahi Mu


__ADS_3

Aulia akhirnya tersadar setelah melewati hari panjang, dan mendebarkan. Aulia mengedipkan kelopak matanya, lalu kedua bola mata menatap sekeliling ruang kamar.


“Dimana aku?” tanya Aulia sendiri.


“Akhirnya kamu tersadar juga,” ucap Azzuri menolehkan wajahnya.


Azzuri tadi sedang berdiri di depan jendela kamar, menatap langit malam bertabur bintang, kini berjalan mendekati ranjang, dan duduk di pinggir ranjang.


“Kenapa aku bisa bersama kamu?” tanya Aulia mulai panik.


Aulia segera duduk, kedua tangan meraba tubuhnya berharap tidak ada satu kulit pun terluka.


“Apa kamu lupa bahwa tadi siang kamu di culik. Dan apa kamu lupa tentang semuanya?” tanya Azzuri sedikit memperjelas ingatan Aulia.


Aulia menunduk sedih, kedua tangannya menggenggam erat pinggiran selimut.


“Pasti mereka semua sudah melakukan hal itu kepadaku. Ingatan terakhir ku saat seorang pria memberiku beberapa pil, lalu tubuh ku merasa panas, dan akhirnya aku….aku….” ucapan Aulia terhenti, air mata berlinang memikirkan kejadian buruk menimpa dirinya. Merasa dirinya sudah kotor, Aulia memukul dirinya sendiri, “Kenapa??! Kenapa ini semua bisa terjadi kepadaku! bagaimana aku menceritakan ini semua kepada Papa, Mama, Om Tarjok, dan tante Ningrum. Bagaimana…hiks..hiks!”


Tidak ingin membuat Aulia bersedih, dan terus menyalahkan diri sendiri. Azzuri memeluk Aulia, mengelus rambut bagian belakang, dan berkata, “Tidak ada yang bisa menyentuh kamu. Aku lah yang memberikan penawar itu kepada kamu. Jadi aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku. Kamu jangan bersedih ya!”


Aulia melepaskan pelukan Azzuri, “A-apa kamu yang merencanakan ini semua?” tuduh Aulia, kedua bola mata menatap lekat wajah Azzuri.


“Tidak. Pria itu yang melakukannya kepada kamu, pria itu juga sudah di tangani oleh Venus,” Azzuri meletakkan tangan kanannya di depan dada, “Percayalah kepadaku!” pinta Azzuri tulus.


Tidak percaya dengan ucapan Azzuri. Aulia menyingkap selimut, ia ingin bertemu dan bertanya kepada Venus secara langsung. Namun, saat kedua kaki hendak melangkah, Aulia merasakan perih di bagian sela kedua kakinya. Aulia langsung menatap tajam Azzuri.


“Apa yang kamu lakukan kepadaku?!” tanya Aulia sinis.


“Aku ‘kan sudah bilang, aku yang memberikan penawar nya kepada kamu. Dan kamu juga yang memulainya, sampai-sampai kamu tidak membiarkan aku berhenti. Apa kamu lupa!”


Sejenak Aulia terdiam, otak kecilnya tiba-tiba memunculkan kenangan saat Aulia menarik tubuh Azzuri, dan menciumnya. Mengingat hal itu wajah Aulia langsung memerah, merasa malu jika dirinya terlihat sangat agresif.


“Bodoh!” umpat Aulia meninggikan nada suaranya.


Merasa malu dengan perbuatannya, Aulia terpaksa berjalan meninggalkan kamar Azzuri.


“Kenapa aku di bilang bodoh,” gumam Azzuri.


Melihat Aulia sudah keluar dari kamarnya, Azzuri memutuskan untuk mengikuti Aulia.


“Aulia,” panggil Azzuri menatap punggung Aulia.


Aulia menghentikan langkah kakinya, “Ada apa?” tanya Aulia sinis.

__ADS_1


“Karena ini sudah larut malam, sebaiknya aku antar kamu. Aku tidak enak jika terjadi hal buruk lainnya menimpa kamu di jalan. Apakah kamu setuju dengan tawaranku?”


Aulia mengangguk.


Azzuri pun mendekati Aulia, menggenggam tangannya, dan menggandengnya berjalan menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah tangga, Jack menghampiri Azzuri.


“Tuan muda, saya sudah memesan tiket untuk penerbangan besok. Dan saya juga sudah menyusun semua barang-barang untuk melamar nona muda,” ucap Jack.


Aulia menatap heran Jack dan Azzuri.


“Lamaran apa?” tanya Aulia bingung.


“Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku. Jadi aku sudah menelpon tuan Agung, dan aku juga memutuskan untuk melamar kamu. Tentang kejadian yang menimpa kamu siang tadi, sebenarnya Venus sudah memberitahu kepada tuan Agung. Untuk masalah ini, izinkan aku bertanggung jawab atas perbuatan ku,” sahut Azzuri menjelaskan sedikit kepada Aulia.


“Tidak! Sampai kapan pun aku tidak ingin menikah dengan kamu. Satu-satunya Suami, dan pria yang aku cintai itu adalah Andra, bukan kamu!” tolak Aulia.


“Tapi..aku sudah melakukan perbuatan itu kepada kamu. Gimana jika suatu saat kamu mengandung anakku. Aku tidak ingin merepotkan kamu, Aulia, dan aku tidak ingin membuat kamu malu suatu saat nanti. Jadi izinkan aku bertanggung jawab,” pinta Azzuri tulus.


“Aku bilang tidak! Ya tidak! Meski pun suatu saat aku mengandung anak kamu. Aku akan tetap mengurusnya sendiri!” tolak Aulia.


Aulia berbalik badan, kedua kakinya kembali melangkah.


“Tuan muda, gimana ini?” tanya Jack bingung.


“Baik tuan muda,” sahut Jack.


Azzuri pun melangkahkan kedua kakinya mengejar kembali Aulia. Kini langkah kaki Azzuri terhenti di teras rumah, Azzuri meraup wajahnya saat melihat Aulia sedang berkelahi dengan kedua penjaga pintu gerbang.


“Kenapa wanita yang satu ini sangat keras kepala,” gumam Azzuri.


Azzuri pun mendekati Aulia.


“Aulia, sebaiknya kamu tidak usah pulang. Aku juga tadi sudah minta izin kepada Venus, dan besok pagi kita akan berangkat ke tanah air. Gimana kalau kamu tidur saja di rumahku,” tawar Azzuri.


Karena tidak diberi jalan untuk keluar oleh kedua penjaga pintu gerbang, dan kedua kaki di gigit nyamuk malam. Aulia memutuskan untuk kembali masuk ke rumah Azzuri. Aulia terus berjalan tanpa menghiraukan ucapan Azzuri.


“Kenapa aku merasa sedang berhadapan dengan gadis kecil,” gumam Azzuri, tangan memijat pelipisnya.


“ Walaupun sikap nona muda seperti anak kecil, tapi nona muda tetap terlihat imut dan….”


Ucapan kedua penjaga rumah terhenti saat melihat Azzuri menatap suram, dengan kedua bola mata di penuhi api cemburu.


“Kalian barusan bilang apa?” tanya Azzuri dingin.

__ADS_1


Plak!plak!


Kedua penjaga mengalihkan perhatian menepuk angin.


“Ti-tidak ada Bos. Di sini banyak nyamuk rupanya,” ucap penjaga satu.


“Sebaiknya Bos masuk, dan lihat nona muda. Takutnya nona muda kabur dari jalan lain,” sambung penjaga kedua.


“Sial! Kalian berdua ada benarnya juga,” sahut Azzuri.


Azzuri pun berlari kembali masuk ke dalam rumah.


“Tuan muda kenapa berlari seperti ini?” tanya Jack.


Azzuri berhenti, kedua bola mata menatap sekeliling ruang tamu, dan lantai dua tapi tidak melihat Aulia.


“Dimana Aulia?” tanya Azzuri.


“Tentu saja sudah kembali ke dalam kamar tuan muda,” sahut Jack.


“Kalau gitu terimakasih,” ucap Azzuri.


Azzuri kembali melangkah menuju kamar miliknya. Langkah kaki Azzuri kini terhenti di depan pintu kamar.


Tok!tok!


“Apakah aku boleh masuk?” tanya Azzuri meminta izin.


“Tidak!” ketus Aulia.


“Kalau gitu aku pergi,” ucap Azzuri.


Aulia tidak menjawab. Azzuri pun terpaksa kembali melangkahkan kedua kakinya. Dengan wajah lesuh Azzuri turun tangga. Sikap tak biasa Azzuri membuat pelayan, anak buah, dan Jack menatap heran.


“Sepertinya tuan muda jatuh cinta dengan nona muda Aulia,” bisik pelayan satu.


“Kamu benar,” sahut pelayan dua.


“Aku berharap tuan muda bisa menjadi pengganti mendiang suami nona muda yang baru saja meninggal dunia. Jika memang itu terjadi, rumah ini pasti penuh warna, dan tidak selalu tegang dan dingin sesuai dengan sikap dan sifat tuan muda,” sambung pelayan ketiga.


“Kalau gitu mari kita kembali membereskan sisa pekerjaan kita, lalu kita tidur,” ajak pelayan satu membubarkan percakapan.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2