
Venus menatap kepergian tuan Agung, dahinya mengernyit saat mengingat kejadian buruk menimpa dirinya. Venus menatap telapak tangan kanan di tutup perban, “Sebenarnya bukan geng yang membuat saya terluka. Hal ini terjadi karena tadi ada seseorang yang berpikir jika saya ini adalah mendiang tuan Andra. Entah siapa wanita asing itu,” gumam Venus mengingat wanita asing memakai masker. Venus merebahkan tubuhnya, “Akh! Sebaiknya aku tidur dulu. Karena besok pagi-pagi sekali akan diadakan rapat,” sambung Venus. Kedua matanya pun terpejam.
.
💫Di kamar tuan Agung dan Marsya💫
Tuan Agung berdiri di depa lemari pakaian, tangannya membuka satu-persatu kancing baju kemejanya. Dahinya mengerut mengingat bekas luka sayatan di telapak tangan Venus.
“Papa kenapa diam saja?” tanya Marsya membantu tuan Agung melepaskan baju kemejanya.
Tuan Agung berdiri menghadap Marsya, “Ma..sebenarnya tadi Papa mengobati luka Venus…”
“Apa! Venus terluka?!” tanya Marsya histeris, tangannya membantu tuan Agung memakai baju piyama.
Tuan Agung mengangguk, “Iya. Papa juga tadi menjahit lukanya,” sahut tuan Agung, menandakan jika luka di dapan Venus cukup dalam.
“Ja-jahit, Pa!” ucap Marsya histeris.
Tuan Agung menggenggam tangan Marsya, “Sepertinya masih ada yang tidak beres di sini. Melihat dari luka yang di dapat Venus, sepertinya Venus berbohong,” jelas tuan Agung mengingat luka di telapak tangan Venus, dan bukan itu saja. Tuan Agung juga tadi sempat melihat ada beberapa memar di lengan Venus.
Tuan Agung, dan Marsya kini merebahkan tubuhnya di ranjang. Marsya menyandarkan kepalanya di bidang dada kekar tuan Agung, kepala menengadah ke atas, “Maksud Papa apa?” tanya Marsya masih bingung.
Tuan Agung menundukkan pandangannya, menatap lekat wajah awet muda Marsya, “Tidak ada, lupakan saja,” putus tuan Agung. Tangannya menarik dagu Marsya, dan mencium bibirnya, “Main kuda-kudaan yuk Ma,” rayu tuan Agung.
Marsya langsung berbalik badan, tangannya menarik guling, dan memeluk erat, “Capek, ah!” tolak Marsya manja.
Tuan Agung ikutan berbalik badan, tangannya menarik perut Marsya, membuat tubuh Marsya menempel di tubuhnya, “Kalau Papa tidak capek. Semenjak di sini, Papa tidak pernah mendapatkan asupan tenaga dari Mama. Ayo lah..Ma,” bujuk tuan Agung.
Tangan tuan Agung menjalar di paha Marsya, lalu diam-diam masuk ke dalam baju piyama Marsya. Marsya spontan menahan tangan tuan Agung, lalu berbalik dan menyerang tuan Agung dengan buas.
Tuan Agung menahan bibir Marsya, “Ma…katanya capek, kok tiba-tiba semangat seperti ini?” tanya tuan Agung menggoda Marsya.
__ADS_1
“Memang seperti itu Pa. Mari kita lanjut,” Marsya menarik selimut menutup tubuh mereka.
Tuan Agung dan Marsya pun bercumbu di balik selimut hingga pagi menjelang.
.
.
Matahari pagi menyapa dengan indahnya, ditemani suara mual Aulia menggemparkan rumah besar miliknya.
“Aduh…kenapa bisa seperti ini sih. Kenapa harus ada mual yang berlebihan di pagi hari,” keluh Aulia.
Tidak nyaman dengan bau di dalam kamarnya, Aulia belum mandi keluar kamar. Kakinya terus berjalan menuruni anak tangga menuju kamar tuan Agung dan Marsya. Baru sampai di tengah jalan, Aulia melihat Venus jalan melintasi dirinya tanpa melihatnya.
“Venus kenapa? Dan tangannya…ya ampun!” gumam Aulia terputus saat melihat telapak tangan kanan Venus di balut perban. Aulia menahan tangan kanan Venus, membuat Venus menghentikan langkahnya, “Kenapa tangan kamu?” tanya Aulia datar.
Venus berbalik, kepala sedikit tertunduk, “Maaf sudah membuat nona muda kuatir,” Venus menyimpan tangannya di belakang tubuhnya.
“Hanya insiden kecil. Nona muda tenang saja, ya!” sahut Venus tenang agar Aulia tidak cemas.
“Kamu mau pergi rapat hari ini ‘kan?” tanya Aulia.
Venus mengangguk, “Iya, nona muda.”
“Kamu tunggu di sini. Aku akan ikut pergi bersama kamu, dan biarkan aku menjaga kamu!” perintah Aulia. Tanpa memberi jawaban, Aulia langsung berlari kembali menuju kamarnya.
“Nona muda…Anda…” teriakan Venus terhenti saat melihat Aulia sudah sampai di lantai dua.
“Kenapa teriak?” tanya tuan Agung baru saja tiba.
“Saat melihat tangan saya di perban. Nona muda menjadi sangat marah. Nona muda juga berkata jika dia akan menjaga saya,” Venus menggeleng, “Kenapa saya di buat seperti anak kecil dengan nono muda, ya?” gumam Venus bertanya sendiri.
__ADS_1
Tuan Agung menepuk bahu Venus, “Kamu yang sabar ya. Sikap Aulia memang seperti itu semenjak ia hamil. Aku sebagai Papanya saja bingung melihat sikapnya. Tapi, aku minta kamu tetap sabar bersama Aulia, ya,” pesan tuan Agung berharap Venus tidak bosan melihat tingkah aneh putrinya selama masa kehamilan.
“Aku sudah siap,” teriak Aulia berlari menuruni anak tangga, membuat tuan Agung dan Venus cemas.
“Nona muda…..Aulia…” teriak tuan Agung dan Venus serentak. Kedua kaki mereka juga serentak berlari menuju anak tangga. Namun, Aulia sudah lebih dulu melompat turun di bawah anak tangga.
“Ada apa?” tanya Aulia merasa tidak bersalah.
Tuan Agung, dan Venus mengelus dada mereka, “Syukurlah!” gumam tuan Agung dan Venus serentak merasa lega karena tidak ada kejadian buruk menimpa Aulia.
“Ada apa ini, pagi-pagi sudah berisik?” tanya Marsya baru saja tiba, berdiri di samping tuan Agung dan Venus.
Tuan Agung memutar posisi berdiri, jari telunjuk bergetar mengarah ke Aulia, “Anak-Mu..Ma. Semenjak hamil tingkahnya aneh-aneh. Jiwa tua ku jadi meronta-ronta, dan seluruh tubuh ku menjadi lemah melihat tingkahnya.”
Marsya mendekati Aulia, tangannya mengelus kedua lengan Aulia, “Nak. Mama tahu kamu sedang hamil. Tapi kamu tetap harus ingat jika kamu sedang hamil muda, dan Mama juga tahu jika semua sikap perubahan kamu ini adalah faktor kehamilan kamu. Tapi sekali lagi Mama pesankan, jangan bertindak dan bertingkah di luar batas kemampuan kamu. Jangan buat Mama dan Papa khawatir,” pesan Marsya.
CUP!!
Aulia mengecup kedua pipi Marsya, lalu mengambil tangan kanan Marsya dan mencium punggung tangan Marsya, “Aku pergi dulu, Ma!” pamit Aulia, bola mata melirik ke Venus, “Ayo kita pergi,” ajak Aulia.
“Nona muda, sebaiknya nona….” Ucapan Venus terhenti saat Aulia menggenggam pergelangan tangan Venus, dan membawanya keluar rumah. Sesampainya di samping mobil, Venus membuka pintu penumpang.
“Silahkan masuk, nona muda,” ucap Venus menahan pintu mobil.
Aulia pun masuk, “Venus. Hari ini kita akan mengadakan rapat dimana?” tanya Aulia menatap Venus.
“Karena nggak sempat mencari tempat, jadi rapatnya di Perusahaan saja, nona muda,” sahut Venus.
“Oh…kalau gitu kita berangkat sekarang,” perintah Aulia.
Venus pun menutup pintu mobil, lalu berlari masuk ke dalam. Venus menghidupkan mesin mobil, dan melajukan nya perlahan keluar dari dalam gerbang. Baru berapa meter keluar dari lingkungan kediaman rumahnya. Saat Aulia memalingkan pandangannya ke luar jendela, kedua mata Aulia tidak sengaja melihat seorang pria mirip Azzuri duduk di belakang bangku penumpang dengan mobil lewat berlawanan arah.
__ADS_1
...Bersambung...