Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 86. Transfer 50 Triliun


__ADS_3

Setelah pertempuran hebat di siang hari demi mendapatkan momongan. Sorenya Aulia dan Andra sudah berada di dalam kafe. Andra terlihat duduk dengan wajah lesu dan lemah di kursi kasir. Sedangkan Aulia terlihat begitu bersemangat membantu menyusun tisu-tisu di atas meja.


9 karyawan saling melihat satu-sama lain.


“Bos kenapa?” tanya Joko.


“Begadang kali,” sahut Didin.


Melihat Andra berwajah lesu dan lemah, Willy dengan gagahnya berjalan mendekati Andra. 8 karyawan lainnya termasuk Aulia menatap kepergian Willy menuju meja Andra.


“Kenapa dia mendekati suami ku?” tanya Aulia penasaran.


“Sepertinya nona memiliki saingan aneh di sini,” sahut Joko dengan santainya.


“Saingan. Apa maksud kamu?” tanya Aulia penasaran.


“Nanti nona lihat saja,” sambung Didin.


Aulia pun melihat perbuatan Willy kini sedang berdiri di depan meja kasir. Willy memegang dagu Andra, membuat Andra menengadah.


Bola mata Aulia langsung membulat sempurna, “Idih…ancaman besar. Aku harus segera menyingkirkan para musuh!” gumam Aulia pelan, kedua kaki langsung melangkah dengan cepat mendekati meja Andra.


Willy mendekatkan wajahnya, “Apa Anda butuh…”


Bam!


Sentuhan halus dari kotak tisu mendarat.


“Auw!” keluh Willy memegang kepala bagian belakangnya.


Aulia langsung berkacak pinggang, “Mau aku goreng?!” tanya Aulia menurunkan bola matanya ke resleting celana Willy.


Willy langsung menutup resleting miliknya dengan kedua tangan, “Ti-tidak!”


Aulia kembali menggertak Willy dengan kotak tisu, “Berani sekali lagi kamu…” Aulia menggantung ucapannya, mengambil garpu dan membengkokkannya di depan Willy, “Aku pastikan punya kamu akan menjadi seperti ini!”


Glek!


Andra, Willy, dan 8 karyawan lainnya langsung menelan saliva. Wajah berubah menjadi pucat dengan keringat dingin mengalir di wajah mereka.


Wajah lesu dan lemah Andra mendadak berubah semangat.


Willy langsung berbalik badan, kedua kaki gemetar ia bawa melangkah menuju ke belakang. Sedangkan 8 karyawan lainnya berjalan dengan masing-masing memegang resleting dengan rasa ngilu dan denyut saat mengingat garpu bengkok.


“Wajah cantik, tapi kelakukan lebih kejam dari Iblis. Bukannya itu gagang garpu sangat tebal dan kuat. Aduh…duh..ngilu rasanya saat melihat kekuatan wanita keluar dari dalam tubuhnya,” gumam Willy masih merasa ngilu.


Aulia langsung meletakkan garpu bengkok di atas meja kasir Andra. Aulia juga menatap suram wajah Andra, “Awas kamu! jangan sampai macam-macam jika aku tidak ada!” ancam Aulia.


Andra hanya mengangguk patuh.


Di tengah-tengah kepanikan di dalam kafe, benda pipih milik Aulia berdering.

__ADS_1


Drrtt!dtrtt!!


Aulia melirik ke Andra, dan menunjukkan layar ponsel berdering dengan nama panggilan dari Venus.


“Angkat saja,” sahut Andra memberi izin.


Aulia mengangkat panggilan telpon dari Venus.


.


📞📞


[ “Ada apa?” ]


[ “Nona muda, gawat!” ]


[ “Gawat kenapa?” ]


[ “Ini saya sudah hampir sampai di kafe. Saya tutup panggilan telponnya dulu.” ] Venus pun segera menutup telponnya.


"Ada apa ya?" tanya Aulia sendiri.


Melihat Aulia panik, Andra mendekati Aulia dan mengelus kedua lengannya, “Kamu harus tarik nafas, kemudian lepaskan agar rasa panik memenuhi hati dan pikiran kamu bisa hilang. Ayo buat sekarang,” ucap Andra.


Aulia pun menuruti ucapan Andra. Saat Aulia sudah merasa cukup tenang terdengar suara rem mobil milik Venus terparkir di depan kafe. Aulia dan Andra menoleh dari dalam, melihat kedatangan Venus keluar dari mobil dengan terburu-buru.


Kling!


“Ada apa Venus?” tanya Aulia ikutan panik.


Venus mengelurkan tab miliknya dan melihat saldo pribadi milik Aulia, “Lihat, ada seseorang yang mengirim uang sebanyak ini ke ATM pribadi milik nona muda!”


“Si-siapa yang mengirimkan ini? ju-jumlah uang ini tidak sedikit loh!” ucap Aulia gemetar saat melihat ada transferan sebesar 50 triliun.


“Iya, makanya itu. Aku sudah mencoba cari tahu nama pengirimnya, tapi tetap saja aku tidak bisa menemukannya,”


Drrtt!! Drtt!!


Di saat kepanikan melanda Aulia dan Venus. Benda pipih Aulia berdering.


Aulia menunjukkan benda pipih ke Venus, “Lihat nomor dari Negera lain. Apa kamu tahu ini nomor siapa?”


“Tidak tahu. Tapi, izinkan saya mengangkat panggilan telponnya,” pinta Venus mengulurkan tangannya.


Aulia memberikan benda pipih tersebut, “Ini, hidupkan speaker nya,” ucap Aulia memberi perintah.


Venus mengangguk, jempol menekan tombol hijau dan menghidupkan speakernya.


.


📞📞📞

__ADS_1


[ “Halo selamat siang,.” ] sapa seorang pria dari sebrang sana.


[ “Selamat siang, ini siapa?” ]


[ “Saya adalah pria tadi pagi, Natan. Terimakasih atas kebaikan nona muda sudah memberikan saya berlian cukup indah. Dan terimakasih karena nona muda, saya tidak terlambat untuk penerbangan pertama menuju ke Jepang demi membatalkan pertuangan kekasih saya. Kini saya sudah bersama dengan kekasih saya, dan saya juga sudah memberi tanda ucapan terimakasih buat nona muda Aulia. Ucapan terimakasih itu adalah uang. Uang itu juga sebagai tanda kado pernikahan sekaligus ulang tahun nona muda Aulia. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, dan saya mohon jangan di tanya kenapa saya bisa memiliki uang sebanyak itu padahal saya hanya orang miskin dan tidak memiliki uang ini dan itu. Saya mohon sekali lagi berhentilah mencari Identitas saya karena saya adalah orang baik, dan uang itu beneran adalah tanda ucapan terimakasih saya. Terimakasih, saya tutup panggilan telponnya dahulu.” ]


Tutt!!tutt!!!


Pangglilan telpon pun akhirnya berakhir tanpa memberikan kesempatan Venus atau Aulia berbicara.


Venus dan Aulia saling menatap satu-sama lain.


Aulia melirik ke Andra, “Apa kamu baru saja mendengar ada orang bodoh memberikan kita uang sebersar 50 triliun?” tanya Aulia untuk menyakinkan dirinya jika ucapan pria tadi hanya omong kosong.


Andra membelai puncak kepala Aulia, “Iya, pria itu bodoh. Tapi lebih bodoh lagi jika kita memikirkan perbuatannya. Daripada kamu pusing seperti ini, lebih baik kamu biarkan saja sampai suatu hari kamu bertemu dengannya dan mengembalikan uangnya,” ucap Andra memberi saran agar Aulia tenang.


“Kamu benar juga,” sahut Aulia menarik nafas lega.


“Jadi bagaimana dengan uang ini nona muda?” tanya Venus.


“Buat ATM baru untuk uang tersebut agar tidak terpakai oleh ku. Suatu saat kalau aku bertemu dengannya aku akan mengembalikan uang tersebut sesuai dengan saran Andra.”


“Baik nona muda,” sahut Venus patuh.


“Oh ya, bagaimana dengan keadaan perusahaan?” tanya Aulia.


“Baik-baik saja nona muda. Anda tidak perlu kuatir karena kita belum ada janji rapat dengan orang lain,” sahut Venus.


“Apa kamu ingin balik ke kantor?”


“Iya nona muda, karena saya masih ada pekerjaan memindahkan Dokumen lagi. Dan saya juga sedang mempersiapkan untuk pementasan launching perhiasan model baru kita di akhir tahun nanti.”


“Boleh aku ikut dengan kamu. Aku ingin melihat rancangan apa yang sedang dilakukan oleh tim kita buat pementasan akhir tahun nanti,” pinta Aulia.


“Tentu saja boleh nona muda,” sahut Venus semangat.


Aulia berbalik badan, ujung kaki ia jinjit dan memberi ciuman manis di dahi Andra.


Venus langsung membuang wajahnya, “Saya tidak lihat nona muda melakukan itu,” gumam Venus tanpa di tanya.


“Lihat juga tidak masalah. Biar kamu tahu rasanya menikah itu seperti apa!” ucap Aulia mulai menjahili Venus.


“Maaf, saya masih berfokus dengan nona muda jadi saya tidak kepikiran untuk menikah!” sahut Venus.


“Kamu jangan berbicara jahat seperti itu kepada Venus, gitu-gitu dia baik sama kamu, Aulia,” sambung Andra membela Venus.


“Benar, nona muda kenapa melupakan kebaikan saya?”


Aulia tidak menghiraukan ucapan Andra dan pertanyaan Venus. Aulia malah menarik tangan Venus dan membawanya keluar dari dalam kafe dengan mulut berkata, “Suamiku, tunggu aku pulang!”


Andra tidak menjawab teriakan Aulia, bibir Andra hanya mengulas senyum tipis di balik wajah tampannya.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2