
Cus!!
Sreng-sreng!!
Karena Marsya, dan Ningrum sudah kembali ke tanah air. Pagi harinya Andra sudah bangun terlebih dahulu. Sebelum Aulia berangkat kerja, Andra menyempatkan diri untuk masak makan pagi buat mereka bertiga. Venus, Aulia, dan juga Andra.
Kedua bola mata dan telinga Andra masing terus memunculkan ucapan serta raut wajah Azzuri kemarin sore saat mengatakan apakah dirinya sudah menyadarkan diri sebelum menikah dengan Aulia. Ucapan Azzuri seolah-olah seperti menyudutkan Andra akan derajat tidak pantas untuk bersanding dengannya.
Sejenak Andra terdiam di depan wajan berisi telur mata sapi. Namun lamunan itu terhenti saat Aulia datang memeluk dari belakang.
“Pagi suami ku!”
Andra tersentak langsung mematikan kompor.
Aulia melepaskan pelukannya, memutar tubuhnya ke samping, “Eh, kenapa kamu melamun?” tanya Aulia sembari menatap wajah Andra.
“Aulia…”
“Iya,” sahut Aulia mendekatkan wajahnya.
Sejenak Andra tertunduk, tangan kiri mengepal di sisi kiri. Andra menarik nafas diam-diam, lalu menatap wajah Aulia, dan berkata, “Apakah kamu tidak menyesal menikah denganku?”
“Eh, pertanyaan apa itu!”
“Aku serius?!”
“Iya, aku menyesal,” sahut Aulia singkat.
Degser!!
Aliran darah Andra mengalir begitu cepat, kedua bola matanya langsung membesar, dan nafasnya tiba-tiba terhenti begitu saja saat mendengar jawaban singkat Aulia.
“Iya, aku menyesal kenapa kita tidak dari dulu saja menikah. Waktu kita masih kecil. Bukankah menikah itu sangat menyenangkan seperti ini. Bisa melakukan segala hal yang sebelumnya tidak boleh dilakukan. Bisa ketawa bareng, tidur berpelukkan. Aku mencium kamu setiap hari. Aku bisa cemburu yang jelas, kamu juga bisa memarahiku seperti Mama dan Pap…”
Sangking senangnya menjawab semua pertanyaan Andra. Aulia sampai tidak sadar jika Andra sedang tertunduk dengan derai air mata membasahi kedua pipinya. Melihat Andra menangis Aulia langsung menghentikan ucapannya. Aulia langsung memeluk Andra, dan membenamkan wajah tampannya di dadanya.
“Cup…cup..cup. Kenapa kamu menangis. Hal apa yang membuat kamu bisa sesedih ini. Apa ada orang lain yang mengatakan jika kita tidak pantas bersama. Siapa orangnya, katakan padaku!” tegas Aulia.
Andra menarik wajahnya dari pelukan Aulia, kedua tangannya menyeka kasar air mata. Andra menggeleng, “Tidak ada. Aku hanya berpikir apakah aku sebagai seorang Suami akan membuat kamu malu karena aku hanya seorang pengusaha warung bebek dan pengusaha kecil lainnya. Itu saja,” sahut Andra berbohong.
Cup!
Aulia memberi ciuman manis di bibir.
“Kenapa kamu mencium ku?” tanya Andra.
“Ciuman sebagai tanda penyemangat. Dan berhentilah memikirkan hal yang tidak penting. Lebih bagus aku memiliki suami yang memiliki pekerjaan halal dan di mulai dari ketulusan. Daripada aku memiliki suami yang bekerja dan memiliki usaha dari uang haram. Walau banyak duitnya buat apa,” Aulia melambaikan tangannya, “Aku tidak ingin memberi makan anak-anakku dari uang haram tersebut!” sambung Aulia.
__ADS_1
“Apa kamu yakin dengan ucapan kamu?” tanya Andra untuk menyakinkan dirinya.
Aulia mengangguk.
Andra menarik nafas lega.
“Apa hati kamu sudah lega sekarang?” tanya Aulia memastikan.
Andra mengangguk, “Tentu.”
“Kalau gitu aku sudah boleh makan ‘kan?”
Andra menarik kursi kedua, “Tentu saja boleh. Silahkan duduk Istriku,” ucap Andra mempersilahkan Aulia duduk.
Aulia pun duduk di kursi pilihan Andra. Kedua tangannya langsung mengambil sendok dan garpu.
“Ini buat kamu,” ucap Andra memberikan piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi.
Aulia memutar bola matanya menatap sekeliling ruang makan, “Venus kenapa belum ikut sarapan bersama. Apa dirinya sudah pergi ke kantor?” tanya Aulia.
“Tadi katanya dia sedang pergi berlari. Dan sebentar lagi pasti dia akan datang,” sahut Andra mengingat pesan Venus berkata, ‘Tuan Andra. Karena umurku bertambah dan aku pun merasa semakin tua. Aku izin untuk lari sejenak keliling disekitaran rumah ini.’
Baru saja di bicarakan kini sudah terdengar suara Venus berteriak panik dari ruang tamu sampai ke ruang makan.
“Nona muda….tuan…nona muda!”
“Ada apa?” tanya Aulia ikutan panik.
“Coba lihat apa isi dalam kotak ini,” tunjuk Venus mengarahkan kotaknya mendekati Aulia.
“Ap…” kedua bola mata Aulia mendadak bulat sempurna saat melihat ada seorang bayi kucing berwarna abu-abu sedang tertidur di dalam kardus. Aulia menutup mulutnya, “Imut…ih…gemes..pingin aku tekan-tekan,” ucap Aulia gemes.
Melihat kedua mata Aulia seperti hendak menerkam buruannya, Venus langsung menarik kardus tersebut menjauh dari Aulia. Kedua bola mata Venus mendadak dingin saat menatap Aulia, “Jauhkan pandangan buruk nona muda dari kucing imut seperti ini!” ucap Venus dingin.
Aulia menggerakkan jarinya mendekati kardus, “Aku pingin cubit.”
Ctak!
Andra langsung menepis tangan Aulia.
“Aduh! Kenapa di tepis kuat seperti ini,” keluh Aulia merasa sakit.
“Kamu dapat di mana anak kucing ini?” tanya Andra.
Venus mengarahkan tangannya ke pintu, “Aku dapat tak jauh dari rumah ini. Sepertinya bayi ini baru saja di buang oleh pemiliknya, karena terlihat bayi kucing ini masih tertidur pulas dengan bulu disekitar mulut masih basah seperti habis meminum susu,” sahut Venus mengingat saat dirinya menemukan anak kucing tersebut.
“Hiks! Hiks!” hanya mendengar ucapan dari Venus, Aulia langsung menangis. Hatinya sedih saat mendengar ada orang begitu tega membuang bayi kucing tanpa ada perlindungan dari orang dewasa atau induknya.
__ADS_1
“Apa kamu suka kucing?” tanya Andra.
“Aku tidak pernah memelihara kucing. Tapi aku yakin aku bisa membuat kucing ini merasa nyaman tinggal di rumah ini,” sahut Aulia dengan suara serak.
“Kalau gitu kita akan mengasuhnya,” ucap Andra.
“Benarkah?!” ucap Aulia dan Venus serius.
Andra mengangguk.
“Kalau gitu mari kita berbelanja untuk kebutuhan bayi kucing ini,” ajak Aulia semangat.
“Sebelum pergi kita makan dulu,” ucap Andra.
“Baik,” sahut Aulia semangat.
Andra dan Aulia berbalik badan, baru saja kedua kaki hendak melangkah kembali ke ruang makan. Mereka mendengar suara bayi kucing tersebut.
Meauw-meauw!
...ILUSTRASI...
Aulia langsung berbalik badan, kedua kakinya dengan cepat mendekati Venus.
“Bayi kucing ini imut sekali, nona muda,” ucap Venus.
“Hem” sahut Aulia mengangguk.
“Daripada kalian berdua berdiri sambil melihat bayi kucing. Lebih baik kalian bawa kardus berisi bayi kucing ke ruang makan. Sambil makan, sambil melihat kucing,” perintah Andra.
“Baik,” sahut Aulia dan Venus serentak.
Andra, Venus, dan Andra berjalan menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan Venus meletakkan bayi kucing di lantai. Sedangkan Andra mengambil mangku dan mengisi mangkuk tersebut dengan susu low sugar.
Saat Andra meletakkan susu di bawah terdengar bayi kucing mengeong, dan memutari kedua kaki Andra.
Meouw meouw!
“Kamu pasti haus ‘kan?”
Meouw !
Kucing tersebut langsung meminum susu pemberian Andra.
Andra, Aulia, dan Venus langsung terkesima saat melihat bayi kucing meminum dengan lahapnya dan susu mengotori semua bulu di sekitaran wajah kucing.
__ADS_1
...Bersambung...