Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 40. Kebutaan Sementara


__ADS_3

Saat Venus hendak memberi pelajaran kembali kepada Azzuri ada seseorang memanggil namanya.


“Venus!”


Venus segera melepaskan Azzuri. Venus, dan Jack berdiri tegak, tubuh sedikit menunduk ketika pria memakai stelan jas berwarna biru tua berjalan ke arah mereka. Dan satu wanita cantik, dan seorang pria berjalan bersamanya. Mereka adalah tuan Agung, Marsya dan juga Andra.


“Selamat datang tuan Agung, dan nona besar Marsya Aulia,” sambut Jack dan juga Venus sopan.


“Selamat datang tuan Agung,” ucap Azzuri menyapa tuan Agung.


“Terimakasih,” sahut tuan Agung buat Azzuri.


Kecemasan Andra tidak bisa di bendung lagi. Andra langsung mendekati Venus, tatapan cemas dan serius menjadi satu terlihat di raut wajah Andra saat menatap wajah Venus, “Bagaimana keadaan Aulia sekarang?”


Venus menarik nafas, kedua bola mata melirik ke pintu ruang ICU, “Sampai sekarang Dokter belum juga keluar,” sahut Venus cemas, karena belum ada tanda-tanda kabar baik dari Dokter.


Tuan Agung memegang bahu kiri Andra, “Andra, kamu tidak perlu terlalu kuatir. Om tahu Aulia adalah wanita yang tangguh. Dan Om yakin dia pasti akan segera sadar,” ucap tuan Agung berusaha menenangkan Andra, di dalam kegelisahan hatinya.


Azzuri mengerutkan dahinya, tatapan tajam mengarah pada Andra. ‘Andra! Apa pria ini yang tadi namanya di sebut-sebut oleh Aulia. Tapi kenapa Aulia menyembunyikan hal ini dariku. Siapa sebenarnya pria ini?’


Tuan Agung mengarahkan pandangannya ke Azzuri, “Karena kami semua sudah datang, sebaiknya tuan muda pulang saja. Saya tidak ingin membuat Anda kelelahan karena menunggu putri saya,” tuan Agung membungkukkan sedikit tubuhnya, tangan kanan diletakkan di depan dada, “Terimakasih atas pertolongannya,” ucap tuan Agung berterimakasih kepada Azzuri karena sudah langsung menghubunginya di saat Venus sedang sibuk membawa Aulia ke rumah sakit.


“Sebagai seorang pria memang sudah selayaknya bertindak cepat,” sahut Azzuri santai, kedua mata melirik ke Andra.


Tuan Agung mengangguk, “Anda benar.”


.


.


✨✨Pov tuan Agung✨✨

__ADS_1


Saat tuan Agung sedang menikmati santap makan siang bersama dengan Marsya. Benda pipih di samping tangan kirinya terus berdering. Sejenak tuan Agung mengabaikan nomor panggilan luar tersebut. Karena nomor luar Negeri terus memanggil, membuat makan siang Marsya dan tuan Agung menjadi terganggu.


Marsya mengulurkan tangan kanannya, “Angkat saja Pa, siapa tahu penting,” ucap Marsya mempersilahkan tuan Agung untuk mengangkat panggilan telponnya.


Tuan Agung langsung mengangkat panggilan telpon dari luar Negeri. Baru saja benda pipih itu di tempelkan di daun telinga kiri, kedua mata tuan Agung langsung membesar. Tuan Agung masih duduk santai di kursi makan, kini segera berdiri sambil berkata, “Jangan main-main kamu!”


“Pa…ada apa?” tanya Marsya terlihat panik.


Tuan Agung langsung mematikan panggilan telponnya. Tangan kanan mengulur, “Mama sebaiknya kita harus bersiap-siap. Kita akan terbang ke Paris!” ucap tuan Agung tergesa-gesa. Tuan Agung berbalik badan, kedua kaki melangkah cepat sambil menelpon pilot pribadi untuk menyiapkan jet pribadi miliknya.


“Ada apa ini tuan?” tanya Andra baru saja tiba di ruang makan, tangan kanan membawa rantang.


Setelah selesai menelpon pilot jet pribadi miliknya, tuan Agung menghadap Andra. Sejenak tuan Agung melirik Marsya, lalu kembali menatap wajah Andra, “Ada seseorang yang memukul Aulia. Sekarang keadaan Aulia sedang kritis. Oh ya, jangan panggil tuan. Panggil saja Om!” tegas tuan Agung ke Andra.


“Aku ikut ke sana Om!" ucap Andra serius.


“Bagaimana dengan jualan kamu?” tanya tuan Agung mencemaskan kerugian Andra puluhan juta rupiah jika satu hari tidak membuka warung bebek.


“Tapi sebelum ke sana Om mau memberitahu kamu. Kalau kamu nanti bertemu dengan pria bernama Azzuri Mahendra. Apa pun yang dikatakan pria tersebut kamu tidak boleh percaya. Kamu cukup percaya kepada saya. Apa kamu mengerti?”


“Ini bukan saatnya membahas pria lain. Tujuan aku ke sana hanya untuk melihat kondisi Aulia,” ucap Andra tegas.


“Baiklah. Kalau gitu mari kita berangkat. Saya harap kita bisa sampai dengan cepat, dan Aulia akan baik-baik saja.”


“Baik.”


Andra, Marsya dan tuan Agung segera melangkah meninggalkan rumah. Tidak lupa tuan Agung mengabari Tarjok, dan menyuruh Tarjok untuk mengatasi semua pekerjaan di kantor selama dirinya berada di Paris.


.


✨POV END✨

__ADS_1


.


Pintu ruang ICU terbuka, terlihat Dokter dan dua orang perawat keluar dari dalam ruangan. Sebut saja Dokter Robin.


Dokter Robin berjalan mendekati tuan Agung dan Marsya. Sejenak Dokter Robin menghela nafas berat, kemudian menatap kembali tuan Agung dan juga Marsya, “Nona muda sudah siuman. Tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya….”


“Kenapa dengan putri saya?” tanya Marsya menyela ucapan Dokter Robin.


“Karena mengalami benturan yang cukup keras di bagian rongga kepala, dan rusaknya serabut saraf secara langsung, berkurangnya suplai aliran darah di persarafan tersebut. Penglihatan menjadi terganggu. Jadi.. Nona muda mengalami kebutaan sementara,” sambung Dokter Robin memberitahu tuan Agung dan juga Marsya.


Kedua kaki Marsya menjadi lemas, tubuhnya goyah. Air mata perlahan membasahi kedua pipinya, “Ti-tidak mungkin Aulia mengalami kebutaan!” Marsya menatap lekat wajah tuan Agung, kedua tangan menggoyangkan tubuh tuan Agung, “Tidak mungkin kan Pa? Marsya tidak akan mungkin mengalami kebutaan seperti ini!” Marsya mengepal kedua tangannya dan memukul kuat bidang dada tuan Agung.


“Nona besar tenang dulu. Nona..” panggil Dokter Robin berusaha menenangkan Marsya.


“Jika ada yang ingin Dokter sampaikan, sampaikan saja,” sela tuan Agung masih tetap berusaha tenang di saat hatinya hancur mendengar kabar putrinya.


“Kebutaan ini tidak bersifat permanen. Selama masa perawatan di sini, saya akan memberikan obat golongan steroid melalui injeksi ke pembuluh darah, tapi kalau tidak berhasil kita akan mengambil langkah operasi. Tindakan operasi yang dilakukan di sini bukan operasi donor mata, melainkan operasi untuk mengurangi tekanan pada serabut saraf dan pembuluh darah yang menyuplai saraf pengelihatan dengan mengurangi pembengkakan,” Dokter Robi menarik nafas lega, “Tapi saya berharap kebutaan ini tidak akan berujung pada pengobatan tindak operasi!” tangan kanan memukul bahu kiri tuan Agung, “Silahkan masuk ke dalam. Jangan tunjukkan jika suara kalian sedang bersedih. Buatlah kalian menjadi penyemangat hidupnya, dan tetap damping nona muda sampai dia bisa kembali melihat dengan baik.”


Tuan Agung menundukkan kepalanya, “Terimakasih Dokter,” ucap tuan Agung berterimakasih kepada Dokter Robin.


“Sama-sama. Saya permisi dulu,” sahut Dokter Robin berjalan pergi meninggalkan tuan Agung, Marsya dan lainnya.


Hati Marsya merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari Dokter Robin. Kini Marsya menarik nafas dalam-dalam, berusaha menetralkan pikiran dan hatinya.


Tuan Agung berbalik badan, kedua mata menatap suram wajah Azzuri, “Siapa yang melakukan ini kepada Aulia?” tanya tuan Agung dingin.


“Saya juga masih mencari keberadaannya. Tapi saya sudah mengantongi identitasnya. Tuan tenang saja. Saya pastikan mereka akan mendapatkan balasannya,” sahut Azzuri dengan nada suara sedikit menekan. Kedua tatapan bola mata di penuhi dengan kebencian.


“Aku ikut,” sela Andra tegas. Tatapan diselimuti amarah dan kebencian membara di kedua mata Andra, “Aku akan ikut untuk mencari dalang ini semua.”


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2