Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
Bab 07. Puas?


__ADS_3

Matahari pagi menyelinap masuk dari kain jendela ruang kerjanya, Aulia membuka kedua matanya, tangan kanan memegang selimut hangat menutupi tubuhnya.


“Akh. Lagi-lagi aku ketiduran di sini,” Aulia merenggangkan otot leher terasa kaku. Saat ia menolehkan ke samping, Aulia menatap seorang pria sedang tidur di atas meja kerja nya. Tidak yakin jika pria itu adalah pria sangat ia cintai, Aulia mengucek kedua matanya untuk memperjelas apakah benar itu Andra, “Tidak mungkin!”


Ingin memastikan lebih jelas lagi jika itu Andra, Aulia langsung melangkah mendekati meja kerja, tangan kanan mencolek sedikit punggung Andra masih tertidur lelap. Tidak ingin kehilangan momen penting, Aulia meletakkan kedua siku di atas meja, dagu menopang di kedua telapak tangan. Aulia terus menatap Andra dengan bibirnya merah terus tersenyum.


“Tampan sekali!” gumam Aulia pelan. Jari tangan menyentuh sedikit pipi mulus Andra, “Lembut nya?!"


Baru saja ingin menikmati pemandangan indah. Kedua kelopak mata Andra bergerak. Aulia langsung panik, hingga tulang kering kaki kanan menyenggol sudut meja.


“Auw” keluh Aulia menutup mulutnya.


Aulia ingin berteriak sekuat-kuatnya, tapi ia tidak bisa karena takut Andra mengetahui dirinya sudah duluan bangun. Sambil menahan denyut, Aulia memutuskan untuk tidur kembali dengan tulang kering mulai membiru.


Andra merenggangkan tubuhnya, “Aaa.. sepertinya aku ketiduran," bola mata Andra melirik ke selimut Aulia sudah jatuh ke bawah. Andra segera mendekat, “Perasaan tadi malam selimut ini ada di atas tubuhnya, tapi kenapa sekarang ada di atas lantai?”


Saat Andra ingin menyelimuti Aulia. Kedua bola mata Andra tiba-tiba tertuju pada tulang kering Aulia terlihat membiru. Wajah Andra spontan berubah suram, “Sepertinya luka ini masih baru. Apa jangan-jangan...” Andra menggantung ucapannya, untuk mengetahui kapan luka itu di dapat Andra menekan jari telunjuk ke lebam Aulia.


Aulia spontan duduk, “Auw. Sakit!” teriak Aulia sekuat-kuatnya. Kedua tangan langsung mengelus lebam tersebut, “Kenapa kamu kasar sekali?”


“Kapan kamu mendapat luka itu. Sepertinya masih baru.”


“Tadi sebenarnya aku sudah bangun. Aku juga tadi hendak membangunkan kamu, tapi aku malah terpesona melihat wajah kamu. Saat kedua kelopak mata kamu bergerak aku langsung berlari dan terjadilah hal ini,” ucap Aulia polos.


Ternyata teriakan Aulia terdengar cukup kuat sampai, sehingga Marsya segera memeriksanya ke ruangan kerja Aulia. Tanpa mengetuk pintu Marsya langsung masuk.


“Andra ada apa ini?” tanya Marsya cemas.


“Anak tante ceroboh. Sudah besar masih suka melukai diri sendiri!" ketus Andra.


“Ti-tidak seperti itu Ma. Aku tadi hanya ingin buru-buru kembali tidur, tapi aku tidak nampak jika ada meja di sini!" ucap Aulia panik menunjuk ke meja besar.


Mendengar alasan konyol dari mulut sang putri. Marsya duduk di samping Aulia, “Aulia, apa kamu sudah rabun akut? meja sebesar ini masa kamu tidak nampak."


Aulia hanya menunduk malu.


“Karena kalian berdua sudah bangun, Mama akan tunggu kalian di ruang makan. Cepat datang ya," ucap Marsya memberitahu Andra dan Aulia untuk segera ke ruang makan.


"Baik Ma."


"Baik tante," ucap Andra.

__ADS_1


"Kalau gitu cepat ya," Marsya membawa kedua kakinya pergi meninggalkan ruang kerja Aulia.


Tidak ingin terlalu lama berdua dengan Andra di dalam ruangan. Aulia segera berdiri, tangan kanan mengarah ke pintu ruang kerja, “Ma-mari kita ikut keluar,” ajak Aulia kikuk.


Andra membawa Aulia kembali duduk kembali, "Jangan bergerak sebelum diobati," ucap Andra lembut. Andra meraih sapu tangan di dalam saku celananya, dan ia berjongkok di depan Aulia.


"Ka-kamu mau ngapain?" tanya Aulia panik.


"Ini tidak akan sakit," ucap Andra memberi nafas hangat pada sapu tangan kemudian menekan ke bagian lebam kaki Aulia.


“Auw..sakit. Kenapa kamu menekan luka lebam itu lagi?” rengek Aulia sembari menutup mulut hendak berteriak kuat.


Andra mendongakkan wajahnya, kedua mata suram menatap wajah merah Aulia, “Jika tidak ingin sakit! maka berhati-hatilah. Aku tidak selalu di dekat kamu, jadi kamu harus memperhatikan diri kamu sendiri. Tapi kalau kamu ingin segera berakhir di dunia lain, maka buat saja terus seperti ini!" ucap Andra pelan. Namun menusuk hati.


Aulia memalingkan wajah ke sisi kanan, “Aku suka sama kamu!" ucap Aulia mengalihkan pembicaraan.


Tanpa rasa ragu Aulia mengutarakan cintanya, di saat waktu tidak tepat. Suasana pun mendadak hening, dan kaku.


"Kamu tadi bilang apa?" tanya Andra untuk memperjelas ucapan Aulia.


Karena malu dan takut akan cintanya di tolak, Aulia segera berdiri, tangan kanan melambai, “Oh..tadi hanya bercanda. Aku juga lupa kalau tadi aku bilang apa sama kamu!"


Aulia mengarahkan tangannya ke pintu, "A-ayo kita keluar," ajak Aulia.


“Aku pasti salah dengar,” gumam Andra pelan.


Andra dan Aulia berjalan menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan terlihat banyak menu makanan tersaji di atas meja.


"Kenapa kalian lama sekali," Marsya melambai, "Cepat ke sini."


"Baik Ma," sahut Aulia segera berlari dan duduk di samping Marsya.


"Tante, Om ke mana?" tanya Andra tidak melihat tuan Agung.


"Sudah pergi, kalian saja yang lama keluarnya," sahut Marsya menciduk makanan dan memberikannya ke piring Aulia dan Andra.


"Oh"


"Sudah cepat makan," ucap Marsya memutus percakapan.


" Makan tante," ucap Andra menawarkan makanan.

__ADS_1


"Iya, tante sudah makan tadi. Kalian makanlah," sahut Marsya lembut.


Melihat Aulia sangat lahap makan, Marsya mulai bertanya, “Enak sayang?"


Aulia mengangguk, “Enak Ma. Aku pikir Mama tidak bisa masak. Ternyata masakan Mama lebih enak dari masakan Bibi.”


“Hehe” Marsya hanya menjawab dengan tertawa. Bola mata Marsya melirik ke Andra, “Andra. Tadi tante dengar kamu akan berjualan hari ini. Apa luka kamu sudah sembuh?” tanya Marsya serius.


“Tante tahu dari mana kalau aku akan berjualan sore ini. Pasti Mama Ningrum yang memberitahu tante!"


Marsya menggeleng, “Tidak.”


“Jadi dari siapa tante tahu jika aku akan berjualan nanti sore?” tanya Andra penasaran.


“Dari Maya. Tadi pagi waktu tante lari pagi, tante jumpa Maya di jalan. Dia bilang sama tante kalau dirinya akan menemani kamu berjualan setelah mengantar bebek pesanan kamu!” ucap Marsya di luar mulut. Padahal di dalam hati Marsya, ‘Aku kepingin lihat bagaimana jika ada wanita lain selain Aulia menemani Andra berjualan. Aku mau lihat apakah putriku menyukai pria yang aku sukai untuk menjadi calon suaminya. Jika dia menyukai Andra, aku tak perlu repot-repot mencari pria baik dan bertanggung jawab seperti Andra.’


“Aku 'kan ada! kenapa harus wanita itu. Dan..tangan kamu 'kan masih sakit. Jadi biar aku bantu kamu berjualan dan menggoreng bebek, ya?!" sambung Aulia semangat.


Aku harus ikut karena aku tak ingin membiarkan cinta pertamaku berdua dan bermesraan dengan wanita lain nantinya.


Marsya terlihat senang saat ekspresi wajah Aulia sesuai dengan keinginannya.


Andra melambaikan tangan kanannya, “Tidak perlu. Kamu tidak bisa masak, kamu akan membuat aku repot saja di warung nanti.”


“Tapi aku ingin belajar membantu kamu,” sahut Aulia pelan.


“Tidak. Kamu saja tidak bisa menjaga diri sendiri, bisa-bisa aku yang menjaga kamu di warung nanti," ketus Andra.


Di sela-sela perdebatan Aulia dan Andra. Terdengar suara Ningrum.


“Andra. Kamu kenapa berkata seperti itu. Mumpung Aulia ada di sini kamu harus sering-sering menemani dirinya dan mengajak dirinya bersama kamu. Nanti kalau….” ucapan Ningrum terputus.


“Stop! Mama Ningrum tiba-tiba datang sudah membahas hal itu. Iya-ia. Aku akan mengajak Aulia bersamaku!" sela Andra memutus ucapan Ningrum.


“Benarkah?!” ucap Aulia senang.


“Puas?!” tanya Andra kesal.


“Puas!" Aulia mengangguk.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2