
Sudah selesai menangani Azzuri di ruang perawatan, kini Azzuri sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Aulia sedang duduk di sebelah ranjang. Tatapannya terus mengarah pada Azzuri sudah terbangun dari masa kritisnya akibat kehilangan banyak darah.
“Aulia, kenapa kamu di sini?” tanya Azzuri masih dalam kondisi lemah.
“Aku sudah menunggu kamu lebih dari 2 jam 30 menit. Sekarang saat kamu sudah terbangun, tapi kamu malah bertanya kenapa aku di sini! Sekarang aku yang bertanya sama kamu, sejak kapan kamu menikahi ku?” tanya Aulia datar.
Azzuri memandang tuan Agung, Venus, dan juga Marsya. Lalu berakhir pada Aulia, dengan susah payah Azzuri duduk, dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Azzuri pun menceritakan kejadian 1 bulan yang lalu.
.
💫Flashback On💫
Azzuri sedang duduk di ruang tunggu Bandara untuk menunggu pesawat menuju ke Negara Belanda. Benda pipih di dalam genggamannya tiba-tiba berdering, terlihat nama panggilan, ‘Tuan Agung’. Azzuri dengan cepat mengangkat panggilan telepon tuan Agung.
📞[ “Halo, ada apa Anda menelpon ku, tuan?” ] tanya Azzuri lembut.
📞[ “Aulia hamil, dan kini dia masuk rumah sakit. Apakah kamu sudah berangkat ke Belanda?” ] tanya tuan Agung terburu-buru, seperti sedang mengendari mobil.
📞[ “Apa! Aulia beneran hamil?! Aku belum berangkat. Kalau gitu aku harus segera ke rumah sakit. Tolong kirimkan Alamat rumah sakitnya, tuan.” ]
📞[ “Tidak perlu. Karena jarak kita berdua tidak jauh dari Bandara, dan ini adalah hal yang private, sebaiknya kita bertemu di Hotel di dekat Bandara sekarang juga. Ada hal yang harus kita bicarakan.” ]
📞[ “Baik, aku akan segera ke Hotel terdekat. Nanti akan aku kirimkan Alamatnya kepada tuan.” ]
📞[ “Hati-hati di jalan. Aku tutup dulu teleponnya.” ] ucap tuan Agung mematikan teleponnya.
Azzuri menyimpan ponselnya ke dalam saku kemeja. Tangannya memegang gagang koper, “Jack, sepertinya kita batalkan dulu untuk penerbangan ke Belanda. Karena aku ingin bertemu dengan tuan Agung untuk membahas kehamilan Aulia,” perintah Azzuri terlihat senang saat mengingat Aulia hamil anaknya.
“No-nona muda ha-hamil?” tanya Jack bingung.
“Iya. Sekarang mari kita menuju Hotel terdekat,” ajak Azzuri.
Azzuri dan Jack keluar dari Bandara. Karena mereka tidak membawa mobil pribadi, Azzuri memutuskan untuk naik taksi online saja. 10 menit setelah memesan taksi online, mobil taksi online pun akhirnya datang. Tidak sabar untuk segera menerima berita tentang Aulia dari mulut tuan Agung. Azzuri menyuruh supir untuk mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa sampai terlebih dahulu.
“Pak, cepat ke Hotel terdekat ya,” pinta Azzuri sopan.
“Siap, tuan.”
Mobil melesat kencang meninggalkan parkiran Bandara. Baru separuh berjalan menuju Hotel, Azzuri mendapat notifikasi pesan dari tuan Agung. Karena tuan Agung sudah sampai terlebih dahulu di Hotel, dan sudah mengirimkan Alamat Hotel. Azzuri menyuruh supir untuk menuju Alamat Hotel dari tuan Agung. 20 menit kemudian mobil taksi online Azzuri sampai di parkiran Hotel, terlihat tuan Agung, dan Marsya sedang berdiri di teras Hotel.
__ADS_1
“Pak, terimakasih,” ucap Azzuri kepada supir mobil taksi online setelah melakukan pembayaran.
Azzuri, dan Jack berjalan ke arah tuan Agung, dan Marsya. Dan berhenti di depan tuan Agung dan Marsya.
“Mari kita ke kamar, ada yang ingin aku sampaikan di dalam kamar nanti,” ajak tuan Agung, tangannya mengarah ke pintu masuk.
“Baik,” sahut Azzuri.
Azzuri, Jack, Marsya, dan tuan Agung berjalan masuk ke dalam Hotel. Karena tuan Agung sudah memesan kamar melalui Aplikasi online, tuan Agung hanya datang untuk mengambil kunci di meja resepsionis. Salah satu karyawan datang, menuntun tuan Agung, Azzuri, Jack, dan Marsya ke kamar sudah di pesan tuan Agung.
“Tuan, kenapa kita harus memesan Hotel segala?” tanya Azzuri sopan, langkah kakinya menyeimbangi langkah kaki tuan Agung.
“Nanti juga kamu akan tahu,” sahut tuan Agung datar.
“Apakah Anda ingin menghukum ku karena Aulia mengandung anakku?” tanya Azzuri mulai panik.
Percakapan tuan Agung, dan Azzuri terhenti saat langkah kaki karyawan Hotel terhenti di depan pintu kamar paling ujung.
“Tuan, ini kamar pesanan Anda,” ucap karyawan menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar 203.
“Iya, terimakasih,” sahut tuan Agung.
Tuan Agung membuka pintu kamar, “Mari masuk,” ajak tuan Agung.
Azzuri, Jack, dan Marsya berjalan masuk ke dalam. Lalu tuan Agung masuk, dan mengunci pintu kamar.
“Azzuri, silahkan duduk di sini,” ajak tuan Agung menunjuk sofa berada di depannya.
“Baik,” sahut Azzuri patuh. Azzuri pun duduk di sofa pilihan tuan Agung.
“Istri, kamu duduk di sebelahku,” pinta tuan Agung sopan, tangannya menepuk sofa sebelah kiri. Bola mata tuan Agung beralih pada Jack sedang berdiri di belakang sofa Azzuri, “Dan kamu, Jack. Silahkan duduk di sebelah Azzuri,” sambung tuan Agung memberi perintah kepada Jack.
“Baik, tuan,” sahut Jack patuh.
“Tuan, ada apa ini?” tanya Azzuri bingung.
Sejenak tuan Agung menarik nafas panjang, kemudian menatap wajah Azzuri serius, “Apakah kamu beneran ingin menikah dengan putri ku?” tanya tuan Agung datar.
“Jika Aulia tidak menginginkan aku, maka aku tidak akan memaksakannya. Kenapa tuan bertanya itu kepada ku?” tanya Azzuri kembali.
__ADS_1
“Sekarang tidak penting dengan keputusan Aulia. Sekarang yang terpenting adalah saat ini Aulia sedang mengandung anak kamu. Sebagai seorang muslim aku tidak ingin cucuku terlahir dengan keadaan anak haram. Jadi aku minta, kamu sekarang harus menikahi Aulia. Dan aku secara pribadi yang akan menikahkan kamu dengan anakku!” jelas tuan Agung tak ingin anak di kandungan Aulia menjadi anak haram.
“Baiklah, aku akan menikahi Aulia. Aku juga akan memberikan mahar berupa Vila di Bali, dan Perusahaan utama ku buat Aulia,” sahut Azzuri. Tangannya mengulur ke depan.
Tuan Agung menjabat tangan Azzuri, tatapannya serius membalas pandangan Azzuri.
“Saya nikah, dan kawinkan, anak saya, Laksmana Aulia, binti Agung Laksmana dengan kamu, Azzuri Mahendra, mahar berupa Vila di Bali, dan Perusahaan utama secara nyata!” ucap tuan Agung menghentak tangannya sekali.
“Saya terima nikah dan kawinnya Laksmana Aulia, binti Agung Laksmana, dengan mahar berupa Vila di Bali, dan Perusahaan utama secara nyata!” sahut Azzuri mengulang kalimat tuan Agung.
“Sah..?!”
Tuan Agung menatap Marsya, lalu Jack.
“Sah..sah?!” sahut Marsya, dan Jack serentak.
“Alhamdulillah,” ucap syukur Marsya, kedua tangannya meraup wajahnya.
Tuan Agung menarik nafas panjang, tangannya memukul pelan bahu Azzuri, “Alhamdulillah, sekarang kamu sudah resmi menjadi Suami, Aulia. Mulai sekarang tanggung jawab kamu bertambah, menjaga Aulia, dan juga calon bayi yang ada di dalam kandungan Aulia,” jelas tuan Agung mengingat Aulia sedang mengandung anak Azzuri.
“Tapi tuan, Aulia sangat membenciku. Bagaimana aku bisa menjaga dia dan anakku?” tanya Azzuri bingung.
“Kamu tenang saja, untuk sementara ini kamu bisa memantaunya dari kejauhan. Selagi aku masih ada di Negara ini, dan selalu ada di samping Aulia. Kamu tidak perlu kuatir. Tentang kebencian Aulia kepada kamu, aku akan mencoba terus membujuk Aulia untuk segera menerima kamu,” ucap tuan Agung tak ingin membuat hati Azzuri terluka.
“Baiklah. Kalau gitu aku akan memantau Aulia dari jarak jauh,” sahut Azzuri sedikit lebih tenang karena tuan Agung sudah berjanji akan menyakinkan Aulia untuk menerima Azzuri.
“Oh, ya. Katanya kamu ingin melihat Perusahaan kamu yang ada di Belanda. Kalau gitu, kamu boleh pergi. Setelah selesai langsung pulang ke sini, karena Aulia pasti membutuhkan kamu.”
“Tapi tuan…”
“Tidak perlu tapi-tapian. Kamu harus segera pergi, agar semua urusan kamu cepat selesai, dan kamu bisa berjumpa dengan Aulia, dan melindungi Aulia di sini. Soalnya tentang keadaan Aulia, dan bayi di dalam kandungannya. Aku akan terus memberikan kabar itu ke kamu,” sela tuan Agung untuk menyakinkan Azzuri tidak kuatir tentang keselamatan Aulia, dan bayinya.
“Baiklah, aku titip bayi, dan Istriku.”
.
.
#FLASHBACK OFF
__ADS_1