Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 78. Kehebohan Marsya dan Ningrum


__ADS_3

Matahari pagi menyapa dari balik kain gorden dengan burung berkicau sangat merdu di bawah jendela kamar. Andra segera bangun karena hari ini dia ingin mengecek kafe kecil baru miliknya. Namun, sebelum ia beranjak dari ranjang, kedua matanya menyempatkan menatap wajah Aulia dari dekat. Wajah polos dan cantik dulu hanya bisa di pandang dari jauh dan hanya bisa bertemu dalam satu tahun hanya 3 bulan. Tapi kini wajah cantik itu selalu menghiasi hari-harinya.


Setelah merasa puas memandang wajah Istri kecilnya, Andra beranjak turun dari ranjang. Kedua kakinya melangkah menuju kamar mandi.


Mendengar pintu kamar mandi di tutup. Aulia langsung duduk, tangan kanan mengelus dadanya, “Malunya aku dilihati seperti itu,” gumam Aulia ternyata dirinya sudah bangun cuman karena Andra terus memandang dirinya, Aulia hanya bisa berpura-pura tidur.


Tidak ingin ketika Andra keluar dari kamar mandi akan singgah memandang wajahnya kembali. Aulia segera membawa kedua kakinya turun dari ranjang. Aulia juga mengambil beberapa perlengkapan baju bersih buat Andra dan meletakkannya di atas ranjang. Setelah semua perlengkapan baju buat Andra tersedia di atas ranjang. Aulia berdiri, kedua tangan berkacak pinggang dengan senyum lebar terukir di wajahnya.


“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri melihat ranjang?” tanya Andra baru saja keluar dari kamar mandi.


Aulia mengarahkan tangannya ke tumpukan baju milik Andra di atas ranjang, “Lihat, aku sudah mengambilkan kamu baju,” ucap Aulia bangga.


Andra meraup wajahnya saat melihat stelan baju pilihan Aulia ada terselip tengtop dan dalaman milik Aulia.


“Kenapa?” tanya Aulia bingung.


Andra membelai puncak kepala Aulia, “Tidak ada, tapi lain kali biarkan aku saja yang mengambil baju-baju ini. Kamu tidak perlu mengambilnya,” Andra memutar badan Aulia dan membawanya menuju kamar mandi, “Sekarang kamu harus mandi, agar kamu bisa temani aku pergi bersama Papa dan Om.”


“Pagi ini sangat dingin, entar saja mandinya ya?!”


“Di dalam bisa pakai air hangat, air rendaman juga sudah aku sediakan dengan suhu air yang sangat baik buat kamu. Jadi jangan beralasan untuk tidak mandi. Ayo cepat mandi. Kalau tidak aku yang akan mandiin kamu, mau?”


“Mandiin saja kalau kamu berani,” ucap Aulia menjahili Andra.


“Benar?”


“Iya, masuk saja kalau berani,” sahut Aulia kembali menantang Andra, sembari membawa kedua kakinya berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.


“Baiklah kalau kamu memaksa aku akan masuk ke dalam,” ucap Andra beneran ikut masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


“Eh, kok di kunci?” tanya Aulia terkejut saat Andra masuk dan mengunci pintu dari dalam.


“Karena kamu sudah memancingku di pagi hari, maka kamu akan mendapatkan hukuman manis dariku,” ucap Andra membawa kedua kakinya mendekati Aulia.


Aulia mengarahkan jarinya ke bagian bawah, “Lah kok handuknya di buka?” tanya Aulia mulai panik.

__ADS_1


“Aku akan membantu kamu mandi,” sahut Andra menggenggam tangan Aulia dan membawanya masuk ke dalam bathub.


Byur!


Andra menjatuhkan tubuh Aulia ke dalam bathub berisi air rendaman susu.


“‘Kan bajunya jadi basah,” rengek Aulia manja menatap Andra berdiri di samping bathub.


“Kamu ‘kan memang akan mandi, jadi tidak masalah bajunya basah,” ucap Andra membawa kedua kakinya ikutan masuk ke dalam, dan duduk di belakang Aulia.


“Eh, kok kamu masuk?” tanya Aulia memutar badannya.


Andra menarik tubuh Aulia, dan membuatnya duduk di atas pangkuannya. Andra memegang dagu Aulia, kedua sorot mata saling menatap sangat dekat hingga hembusan nafas saling menyapa.


“Aulia,” panggil Andra lembut.


Aulia memtar bola mata malu ke bawah, “Iya,” sahut Aulia sedikit gugup.


“Aku ingin katakan jika aku sangat mencintai kamu. Tidak ada satu orang pun yang bisa memiliki kamu kecuali, aku.”


“Boleh aku meminta hal itu lagi sekarang?” tanya Andra lembut.


Aulia mengangguk.


“Terimakasih,” ucap Andra.


Andra akhirnya memulai pemanasannya dengan lembut. Setelah pemanasan merasa cukup. Andra perlahan menyatukan dirinya dengan Aulia. Setelah pertempuran cukup sengit di dalam bathub, Andra menggendong Aulia menuju kucuran shower untuk menyucikan diri.


Setelah badan cukup bersih dan suci, Andra melingkarkan handuk di tubuh Aulia. Andra juga menggendong Aulia keluar dari dalam kamar dan meletakkannya di atas kursi meja rias.


“Kamu tunggu aku di sini dulu. Ingat jangan bergerak,” ucap Andra memberi perintah kepada Aulia agar Aulia tidak berjalan ke sana kemari dengan kondisi masih lelah habis pertempuran sengit.


Aulia mengangguk.


Tok!tok!

__ADS_1


“Aulia, Andra,” panggil Ningrum dari luar pintu.


Aulia spontan berjalan menuju pintu kamar dan melupakan janjinya kepada Andra untuk tetap diam di tempat. Tangan kanan Aulia menarik hadle pintu dan menyapa Ningrum, “Pagi tante. Ada apa ya?”


Ningrum senyum-senyum sendiri saat melihat rambut basah serta ada beberapa jejak merah terlihat di bagian depan Aulia.


Aulia melambai, “Tan…tante kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Aulia polos.


Pikiran itu langsung buyar, tangan kanan mengarah ke belakang, “Anu…sarapan sudah siap, kalian cepat turun biar kita bisa makan bersama,” ucap Ningrum.


“Baik tante,” sahut Aulia.


“Kalau gitu tante turun duluan ya,” ucap Ningrum berbalik badan dengan kedua kaki melangkah cepat menuruni anak tangga.


Ningrum terus membawa kedua kakinya melangkah menuju Marsya masih sibuk menyajikan makanan di atas meja. Karena sudah tidak sabar membicarakan kedua anak mereka, Ningrum semakin mempercepat langkah kakinya menuju ruang makan.


“Kamu kenapa?” tanya Marsya bingung melihat Ningrum berlari kecil dengan bibir tersenyum penuh makna.


“Eh…eh, anak kita,” ucap Ningrum sedikit berbisik.


“Kenapa dengan anak kita. Apa mereka sedang berantem?” tanya Marsya penasaran.


Ningrum mengarahkan jari telunjuknya ke bagian dada tengah, “Di sini….tadi di sini Aulia ada merah-merah. Dan…” Ningrum mengalihkan tangannya ke sekitar jenjang leher, “Di sini juga ada. Ya ampun, aku pikir selama ini Andra tidak selera dengan wanita karena dia selalu sendiri dan menjomblo. Ternyata semuanya di tahan hanya karena untuk Aulia,” sambung Ningrum senang.


“Sama, aku juga dulu sempat berpikir seperti itu dengan Aulia. Apa kamu tidak ingat saat Aulia SMP, ada banyak anak orang-orang kaya mengunjungi ke rumah membeli ini dan itu. Tapi Aulia dengan kasar menolaknya dan lebih memilih pergi bermain dengan Andra.”


“Tahu aku kalau itu. Bukannya saat itu aku juga ada di sana, melihat Aulia memarahi semua teman pria sekelasnya. Lucu ya saat itu,” sambung Ningrum mengingat masa kecil Aulia dan Andra.


“Dan kamu apa tidak ingat saat melihat Andra cemburu?”


“Ingat. Wajahnya sangat memerah, terus mengambil di sekitar dan melampiaskannya agar semua teman-teman Aulia pergi dari Aulia.”


“Kalau mengingat sekilas tentang cinta terpendam diam-diam mereka berdua dari kecil itu sangat lucu ya?” sambung Marsya.


“Iya, kita baru menyadari jika mereka sebenarnya saling suka saat Aulia harus berangkat ke Paris untuk menggantikan kamu. Di situ aku melihat Andra selalu gelisah. Setelah Aulia memberi kabar barulah Andra bersemangat dan sedikit merubah dirinya menjadi pria dewasa agar setara sama Aulia,” ucap Ningrum mengenang sedikit perjuangan Andra ketika menjalin hubungan jarak jauh dari Aulia.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2