Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 114. BOLA Tahu Gosong


__ADS_3

Setelah meluapkan amarahnya dengan mendinginkan hati di luar, Aulia kembali pulang ke rumah. Namun, ruang tamu sudah kosong. Aulia tidak melihat ada Azzuri, Tarjok, dan Ningrum. Kedua bola mata Aulia memandang ke sekeliling ruang tamu, mencoba mencari apakah masih ada Azzuri di dalam rumahnya.


“Kamu baru pulang sayang,” sapa Marsya keluar dari ruang dapur, kedua tangan bertepung.


“Mama masak apa?” tanya Aulia melihat kedua tangan Marsya dipenuhi tepung.


“Oh, ini Mama sedang masak bola tahu bayam. Sambil duduk di teras belakang, dan mengobrol ditemani cemilan sehat kayaknya enak. Apa kamu mau ikut…”


Ucapan Marsya terhenti saat mendengar sapaan dari Ningrum.


“ Hei, anak gadisku sudah pulang. Apa hati kamu sudah mendingan sayang?” tanya Ningrum baru saja tiba, kedua tangan memegang rantang.


Aulia menoleh ke belakang, “Tante, bawa apa itu?” tanya Aulia menatap rantang di tangan Ningrum.


Ningrum berjalan ke arah Aulia, tangan kanan menunjukkan rantang, “Oh ini ada iga bakso. Sepertinya enak kalau kita makan rame-rame di temani gorengan buat Mama kamu. Apa kamu mau menemani kami makan?” tanya Ningrum.


Aulia mengangguk, “Mau,” sahut Aulia.


Melihat Aulia sudah tampak tenang, bibir Marsya mengulas senyum lega, ‘Akhirnya amarah Aulia sudah mereda. Karena mood nya sudah kembali, aku akan bertanya-tanya sedikit nantinya kepada Aulia,’ batin Marsya.


“Ma, kok sepertinya ada bau tahu gosong,” ucap Aulia mengendus aroma gosong dari dapur.


Marsya langsung berbalik badan, “Aduuhh!! Tahuku…..bayam segar ku. Aduhh!!” gerutu Marsya melangkahkan kedua kakinya menuju dapur.


Aulia, dan Ningrum ikut berjalan ke dapur. Melihat wajan di penuhi asap, Aulia dan Ningrum saling melempar tawa, “Ha ha ha ha.”


Marsya segera meletakkan bola tahunya di atas piring di lapisan tisu, “Ya, habis deh semua bola tahu yang lezat ini tidak bisa di makan lagi,” keluh Marsya.


“Masak yang lain saja. Biar aku bantu,” tawar Ningrum.


“Sudah tidak ada bahan makanan lagi. Belum belanja mingguan soalnya,” jelas Marsya.

__ADS_1


“Tidak masalah Ma, cemilan kita yang lain ‘kan masih ada. Sebaiknya kita makan itu sambil menikmati iga bakso buatan tante Ningrum,” ucap Aulia, tidak ingin membuat hati Marsya kecewa.


“Benar, mari kita susun beberapa mangkuk dan piring. Jangan lupa bawa sambal pedas kamu ke taman,” sambung Ningrum.


“Tante, biar aku saja yang membawakan mangkuknya, kalian tunggu aku di belakang,” ucap Aulia.


“Tidak usah, sebaiknya kita bawa bersama-sama agar lebih ringan dan cepat,” sambung Marsya.


Marsya dan Ningrum mengambil 3 mangkuk, dan 3 pasang sendok-garpu. Sedangkan Aulia, ia mengambil teko berisi air putih, dan 3 gelas. Setelah semua peralatan makan dan minum lengkap, Marsya, Aulia, dan Ningrum berjalan ke teras belakang.


Ningrum membagi bakso iga sapi, sedangkan Marsya menuangkan air di dalam gelas.


“Ma, Azzuri sudah pulang?” tanya Aulia penasaran.


“Karena hari ini hari minggu, dan tiket pesawat untuk penerbangan hari ini sudah habis. Azzuri memutuskan untuk bermalam di Hotel. Papa dan Tarjok sedang pergi mengantar Azzuri untuk mencari hotel terdekat,” sahut Marsya menjelaskan sedikit.


“Oh!” ucap Aulia mengangguk.


Aulia memutar bola matanya melihat Ningrum, mengingat perbuatannya dengan Azzuri. Hati Aulia tiba-tiba merasa bersalah dengan Ningrum. Aulia merasa dirinya telah mengkhianati cinta mendiang Andra. Aulia mengambil kedua tangan Ningrum, dan mencium punggung tangan.


“Tante. Maafkan aku. Aku bukan menantu yang baik, maafkan aku tante,” lirih Aulia, derai air mata pun perlahan menetes di punggung tangan Ningrum.


Ningrum mengelus puncak kepala Aulia, “Kenapa kamu harus minta maaf. Semuanya sudah terjadi, lagian ini bukan salah kamu sepenuhnya. Yang salah adalah penjahat-penjahat itu. Melihat kamu sudah terlepas, dan tidak sempat diperlakukan buruk oleh penjahat itu saja tante sudah sangat-sangat bersyukur. Dan satu lagi, kamu bukan menantu tante lagi. Kamu sekarang sudah tante anggap sebagai anak perempuan tante,” jelas Ningrum.


Aulia mengangkat wajah cantik di penuhi air mata, “Apa tante benar-benar memaafkan aku? Bukankah aku sudah tidur dengan Azzuri, di saat tanah kuburan Andra belum kering,” tanya Aulia polos.


Ningrum membalas tatapan Aulia, tangannya mengelus puncak kepala Aulia, “Ini adalah naas. Kalau kamu tidak diberi obat pil tersebut oleh penjahat-penjahat itu, mungkin kamu tidak akan melakukan hal tersebut kepada Azzuri. Putriku, aku tahu gimana rasanya tersiksa saat meminum obat seperti itu. Jadi, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang yang terpenting itu adalah tante dan Mama kamu sangat bersyukur Azzuri bisa menyelamatkan kamu dari mereka semua. Karena tante sudah mendengar dari Papa kamu, jika mereka adalah geng paling gila saat sudah mendapatkan targetnya. Kamu juga tidak boleh marah dengan Azzuri, niat Azzuri itu bagus. Ingin menikahi kamu setelah melakukan hal tersebut. Jika kamu menikah dengannya, tante juga akan sangat senang,” jelas Ningrum.


“Tidak akan. Sampai kapan pun, aku tidak akan menikah dengan Azzuri!” tegas Aulia.


“Kalau gitu kita lihat sebulan ini saja, jika kamu tidak datang bulan. Mau tidak mau kamu harus menikah dengan Azzuri, karena Mama tidak ingin melihat cucu Mama lahir di luar nikah. Atau di sebut anak haram!” sambung Marsya.

__ADS_1


Deg!


Kalimat anak haram langsung menusuk jantung Aulia. Aulia langsung menoleh ke Marsya.


“Anak haram, Ma?” tanya Aulia bingung.


“Benar, jangan jadikan keegoisan kamu menjadi nasib buruk buat anak kamu nantinya. Apa kamu mau jika suatu saat anak itu lahir akan menjadi ocehan banyak orang. Bahkan anak itu akan menjadi bahan ejekan teman-temannya di sekolah,” sambung Ningrum.


Aulia menundukkan pandangannya, tatapan bingung mengarah ke kuah iga bakso, “Tidak akan. Aku tidak akan merebut kebahagiaan anak-anakku karena keegoisanku sendiri,” gumam Aulia.


“Jadi gimana? Jika kamu hamil, kamu harus mau menikah dengan Azzuri ya?” bujuk Marsya.


“Aku berharap aku tidak hamil, Ma,” sahut Aulia.


Melihat suasana hati Aulia sepertinya sedang buruk, Ningrum langsung bergegas mengambil mangkuk berisi bakso, “Sudah jangan di pikirkan dulu. Anak tante di dalam perut dari tadi sudah menendang-nendang. Jadi mari kita makan,” ucap Ningrum memecahkan suasana.


Bola mata Aulia melirik ke perut buncit Ningrum, “Apakah hamil itu sakit tante?” tanya Aulia penasaran


.


Ningrum menggeleng, “Sakit-sakit enak. Kenapa sayang?” tanya Ningrum.


“Tapi aku lihat perut tante membesar. Aku pikir jika perut itu semakin lama semakin besar, maka perut tante bisa meletus,” ucap Aulia.


“Tidak dong sayang. Perut wanita itu seperti karet, dan anak yang tante kandung tidak sebesar itu di dalam. Sudah…sudah…kamu jangan malah memikirkan hal lainnya. Sebaiknya kita makan dulu sebelum kuah baksonya dingin,” putus Ningrum.


“Tante sepertinya enak,” puji Aulia.


“Iya, cepat makan dan habisi sayang,” sambung Marsya.


Marsya, Ningrum, dan Aulia pun menikmati iga bakso buatan Ningrum.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2