Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 21. HIDUP KEMBALI?


__ADS_3

Karena merasa kesal, Andra menurunkan Aulia di depan gerbang, “Turun!”


Aulia segera turun dari sepeda motor milik Andra, kepala tertunduk, “Terimakasih.”


Tanpa menjawab ucapan Aulia, Andra melajukan sepeda motornya dengan kencang menuju rumah.


Brumm!!


“Nona muda tidak kenapa-kenapa?” tanya Venus berlari keluar dari dalam gerbang.


“Venus!” sahut Aulia membulatkan kedua bola mata indahnya. Kaki melangkah cepat mendekati Venus, “Kamu kapan sampai?” tanya Aulia penasaran.


Venus mengeliling tubuh Aulia, “Di mana yang luka! Apa seluruh organ tubuh nona muda masih baik-baik saja?” Venus berdiri di depan Aulia, kedua mata menatap lekat wajah pucat Aulia, “Tadi pagi ada yang mengabari saya jika nona muda sedang di culik!”


“Siapa yang bilang seperti itu?”


Venus melambai, “Sudahlah itu tidak penting,” Venus berdiri di sisi kanan Aulia, jari telunjuk tangan kiri mengarah ke rumah, “Siapa wanita genit itu?”


“Wanita genit!”


“Iya!” Venus meletakkan kedua tangannya di kedua pipinya, “Wanita ma-buk itu tadi hendak mencium 'ku!”


“Alah! Tidur sama Maya mau,” Aulia melangkah pergi.


“Nona muda salah paham. Aku dan dia…” sahut Venus sedikit meninggikan nada suaranya mengikuti langkah kaki Aulia berjalan lebih cepat di depannya.


“Aku tidak ingin mendengar omong kosong kamu!” sambung Aulia sedikit melirik tajam ke sisi kanan. Aulia semakin mempercepat langkah kakinya menuju rumah.


.


.


✨✨Rumah Andra✨✨


Andra berjalan ke sana kemari, tangan kanan memegang benda pipih menempel di telinga kiri.


[“Assalamualaikum, Pa!”]


[“Wa’alaikumsalam. Ada apa nak?”]


[“Papa kapan pulang?”]


[“Emang kenapa?”]


[“Maafkan Andra. Andra tidak becus menjaga Aulia sehingga dirinya hampir kehilangan mahkotanya.”]


[“Tapi tidak sempat hilang ‘kan?”]


[“Papa, Andra serius loh!”]


[“Papa juga serius! Kamu tenang saja, entar pukul 03:00 sore kamu segera datang ke rumah Aulia. Karena Papa ada kejutan buat kamu!”]

__ADS_1


[“30 menit lagi berarti Pa?”]


[“Iya, kamu bersiap dulu. Jangan lupa bawa Istriku tercinta. Kalau begitu Papa tutup teleponnya dulu.”]


[“Baik Pa, assalamualaikum.”]


Andra mengakhiri panggilan teleponnya. Tangan kanan memijat lembut dahinya, “Kenapa perasanku tidak enak!”


“Kenapa nak?” tanya Ningrum berjalan kecil, kedua tangan membawa nampan berisi teh hangat. Ningrum meletakkan nampan kecil di atas meja, kedua tangan memijat lembut lengan kiri Andra, “Kamu pasti pusing?”


“Kata Papa 30 menit lagi kita di suruh ke rumah Aulia. Katanya ada surprise buat Mama,” ucap Andra melebihkan pesan Tarjok.


“Kalau begitu mari kita bersiap-siap,” Ningrum langsung berdiri, “Mama juga sudah merindukan putri kecil Mama!” Ningrum melangkah pergi menuju kamarnya.


.


.


💫💫30 menit kemudian💫💫


Kediaman rumah Aulia


Terlihat Aulia berdiri di depan sofa ruang tamu, tatapan suram menatap seorang wanita paruh baya yaitu Dhani. Di sisi kiri Aulia sudah berdiri tegak koper berwarna biru tua.


Aulia mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke pintu, “Aku bilang keluar dari rumahku!”


Dhani hanya diam, menyandarkan tubuhnya di badan sofa, mulut berulang kali menghembuskan asap rokok ke udara. Dhani berdiri, “Berani sekali kamu mengusirku!” kedua kakinya mengelilingi Aulia, dan terhenti di belakang Aulia. Dhani mengulurkan jenjang lehernya, bibirnya berbisik lembut di daun telinga kiri Aulia, “Ingat kamu hanya anak…..”


Prok! Prok!


“Ti-tidak mungkin!” ucap Dhani menutup mulutnya.


“Pa-papa…Ma-mama!” Aulia mengucek kedua bola matanya, memperjelas penglihatannya menatap wajah tuan Agung dan Marsya.


“Iya, ini Mama nak,” sahut Marsya. Derai air mata perlahan menetes, rasa rindu kepada anak semata wayang sudah tidak terbendung lagi. Marsya melangkahkan kedua kakinya mendekati Aulia.


“Brengs*ek!” Dhani menyergap tubuh Aulia dari belakang, tangan kanan mengarahkan ba-ra rokok ke wajah Aulia, “Berani kalian mendekat, aku akan membuat ca-cat wajah anak kesayangan kalian.”


Marsya menghentikan langkah kakinya, wajah cemas menatap tuan Agung berdiri di depan pintu.


“Kamu pikir bisa mengancam 'ku!” sikut tangan kanan mendarat di perut Dhani.


Bug!


“Auw!” keluh Dhani, kedua tangan memegang perut langsingnya.


“Aulia!” teriak Andra, Marsya, dan Ningrum bersamaan.


Andra segera berlari menuju Aulia. Melihat Dhani hendak menyerang Aulia dengan asbak yang terbuang dari marmer, langkah kaki Andra semakin di percepat. Andra segera memeluk tubuh Aulia, memutar tubuhnya hingga kepala bagian belakang mendapat hantam kuat dari Dhani.


Bug!

__ADS_1


“Akh!”


“Andra!” teriak Ningrum dan Marsya serentak. Ningrum dan Marsya mempercepat langkah kaki mereka mendekati Dhani.


“Berani sekali kamu membuat anak kami terluka,” ucap Marsya dan Ningrum serentak.


“Wah! Pemandangan yang bagus. Kedua Ibu saling bersatu,” ucap Dhani tersenyum manis menatap kedatangan Marsya dan Ningrum. Tangan kanan Dhani masih menggenggam asbak, tangan kirinya memegang kawat rambut. Dari tatapan dan ancang-ancang sepertinya Dhani hendak menyerang Marsya dan Ningrum.


Dari depan pintu, tuan Agung dan Tarjok hanya bisa diam menatap istri mereka kembali bersama seperti seorang preman di pasar.


Tarjok melirik ke sisi kiri, “Bagaimana ini tuan?”


“Tenang saja, sebentar lagi pihak yang berwajib akan datang,” sahut tuan Agung santai.


Marsya dan Ningrum terus berjalan cepat, kedua mata saling memberi kode. Ningrum kini berdiri di belakang, sedangkan Marsya berdiri di hadapan Dhani.


“Rasakan ini!” teriak Marsya, dengan cepat melayangkan tangan kanannya menyentuh wajah Dhani. Membuat topeng kulit melekat sempurna terlepas dari wajah Dhani. Marsya menjinjing topeng kulit di tangan kanannya, “Apa kamu sudah puas bermain, W A R D H A N I ?” tanya Marsya membaca nama Wardhani satu persatu.


“Brengsek!” Wardhani hendak melayangkan asbak ke arah Marsya, “Rasakan ini!”


“Mama!” teriak Aulia melepaskan pelukan Andra, berlari menuju Marsya dan memeluknya.


Bam!


“AAA!” Aulia memegang dahinya.


“Aulia!” teriak tuan Agung, Tarjok, Ningrum, Marsya, dan Andra serentak.


Melihat para Istri bergelut tuan Agung dan Tarjok tidak masalah. Tapi jika putri kesayangan di sentuh, harimau sekalipun bakalan disikat habis oleh tuan Agung. Andra segera menggendong Aulia menuju kamar.


Dor!


Tuan Agung melayangkan anak pelu-ru ke lengan kiri Wardhani. Langkah kaki tuan Agung terhenti tepat di depan Wardhani. Senjata a-pi berada di tangan kanan kini menempel di dahi Wardhani, “Seharusnya aku membuat kamu membu-suk di sana!”


“Benarkah!” Wardhani ikut memegang senjata api milik tuan Agung, “Maka buat aku berakhir sekarang, agar kamu tidak bisa melihat masa depan anak kamu!”


“Jangan lakukan itu tuan Agung,” ucap beberapa polisi masuk ke dalam rumah. Memenuhi ruang tamu dengan masing-masing senjata mengarah pada Wardhani.


“Serahkan saja wanita Iblis ini ke pihak yang berwajib Pa,” sambung Marsya.


“Kini perangkap sudah berada di….”


Bam!


“Rasakan itu wanita Iblis!” ucap Ningrum perlahan menyelinap berdiri di belakang Wardhani, memukul titik tumpu agar Wardhani tidak bisa berkutik.


“Kamu memang hebat Istriku,” Tarjok bangga hingga memberikan dua jempol setinggi langit kepada Ningrum.


Ningrum juga membalas dengan jempol tangan kanan dan salah satu mata menyipit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sedikit info mengenai Wardhani. Wardhani sebenarnya mantan istri pertama tuan Agung Laksmana. Tuan Agung menceraikan Wardhani karena dirinya berulang kali selingkuh hingga tidak termaafkan lagi. Untuk lebih lengkapnya segera kunjungi ke cerita berjudul “GARIS DUA BUAT PRESDIR”, walau penulisannya masih acak-acakan saya harap pembaca memakluminya.


...Bersambung...


__ADS_2