
Marsya dan Ningrum sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan kejutan buat Aulia. Sedangkan tuan Agung, Tarjok, dan Venus sedang keluar untuk mencari hadiah kecil sebagai permintaan maaf karena sudah melupakan tanggal lahir putri kesayangan mereka berdua.
Di sisi lain Andra membujuk Aulia sedang merajuk tak karuan di dalam kamar.
“Apa kamu lupa hari ini hari apa?” tanya Aulia dingin.
“Te-tentu saja ini hari Selasa,” sahut Andra gugup karena dirinya takut salah menjawab.
Aulia langsung memasang wajah kecut, kedua tangan dilipat di depan dada.
“A-apa aku salah menjawab?” tanya Andra bingung.
“Tentu saja salah. Sudah berapa tahu kamu mengenalku?” tanya Aulia sinis.
Andra menggaruk kepala tak gatal, “Dari kamu di dalam perut aku sudah mengenal kamu,” sahut Andra mulai bingung.
Aulia bertambah kesal saat tak ada satu orang pun mengingat tanggal ulang tahunnya termasuk Andra. Aulia membelakangi Andra, “Sudahlah, pergi sana. Aku tidak butuh kalian semua!” ucap Aulia mengusir Andra.
Andra menundukkan kepalanya, senyum tipis tersirat jelas di raut wajah tampannya. Andra sebenarnya mengetahui jika hari ini adalah hari ulang tahun Aulia. Tapi dirinya memang sengaja melupakan tanggal tersebut agar Andra dapat melihat raut wajah masam dari sang Istri tercinta. Andra juga sebenarnya sudah memberikan hadiah buat Aulia. Hadiah tersebut adalah satu buat kafe kecil terletak di kota Paris. Andra juga berniat untuk pindah bersama dengan Aulia di sini, karena Andra tidak ingin terjadi hal buruk menimpa Istri kecilnya.
Andra memutar tubuh Aulia, “Jangan ditekuk seperti ini dong wajahnya,” ucap Andra menaikkan sedikit dagu Aulia.
“Hem” Aulia membuang wajahnya.
Cup!
Satu kecupan manis mendarat di dahi Aulia.
“Kenapa kamu mencium ku?” tanya Aulia sinis.
“Agar membujuk kamu untuk tidak merajuk lagi,” sahut Andra tenang.
“Aku sebel sama kamu!”
“Kalau aku semakin cinta sama kamu!”
Aulia memutar tubuhnya kembali, “Aaah…bohong kamu!”
Andra kembali memutar tubuh Aulia, kedua tangan memegang kedua lengan Aulia, “Aku tidak berbohong. Aku tahu kamu merajuk karena aku tidak mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ ke kamu ‘kan?” tanya Andra mulai menjahili Aulia.
“Nggak ah!” ucap Aulia panik karena Andra mulai ingat dengan hari ulang tahunnya.
__ADS_1
“Sebenarnya aku hanya ingin menggoda kamu. Aku ingin melihat bagaimana reaksi kamu saat aku melupakan hari ulang tahun kamu.”
“Kamu nakal. Aku benci kamu!” ucap Aulia malu-malu, kedua tangan memukul manja bidang dada Andra.
“Eh…eh! Kalau kamu seperti ini akan aku terkam nanti. Mau?”
Aulia langsung menundukkan wajah malunya.
“Aulia,” panggil Andra menatap wajah merona Istrinya.
Aulia mengangkat wajahnya, “Iya.”
“Aku ingin memberitahu kamu kalau aku akan terus tinggal di sini bersama dengan kamu,” ucap Andra memberitahu Aulia tentang keputusannya.
“Benarkah! Kamu beneran akan tinggal di sini bersama ku?” tanya Aulia histeris.
Andra mengangguk.
“Apa kamu tidak mencemaskan semua usaha kamu di sana?” tanya Aulia penasaran.
Andra menggeleng, “Tidak. Aku lebih mencemaskan kamu daripada usaha dan bisnis ku,” ucap Andra serius.
“Kalau kamu tinggal di sini, siapa yang akan mengurus semua bisnis kamu?” tanya Aulia masih penasaran.
“Maya?”
“Iya, kamu pasti berpikir kenapa harus Maya ‘kan?”
Aulia mengangguk.
“Ayahnya jatuh sakit, usaha ternak bebeknya hancur. Jadi Maya memohon kepada ku untuk meminjamkan ia uang untuk membangkitkan usaha milik Ayahnya kembali dan menambah biaya pengobatan Ayahnya, sebanyak 200 juta rupiah. Jadi aku bilang tidak perlu dikembalikan, tapi dengan satu syarat, harus bekerja dan jujur di usaha ternak ku.”
“Kasihan juga ya,” sambung Aulia merasa iba setelah mendengar penderitaan Maya.
“Dan aku di sini juga tidak akan menganggur, dan mengikuti kamu saja. Aku di sini sudah membuka bisnis baru. Yaitu sebuah kedai kecil,” ucap Andra semangat.
“Benarkah! Kenapa kamu bisa membuka bisnis di sini?” tanya Aulia penasaran.
Andra menunduk malu, “Karena aku minta tolong sama Om, Papa. Mereka ‘kan banyak kenalan di sini. Dan aku memanfaatkan hal itu demi….”
“Demi apa?” sela Aulia semakin penasaran.
__ADS_1
“Ya demi kamulah!” sahut Andra menubruk tubuh Aulia hingga jatuh ke ranjang.
Setelah melihat Aulia sudah tidak merajuk lagi. Andra menindih tubuh Aulia, memulai main bercanda-candaan di dalam kamar, kedua tangan Andra terus menggelitik perut Aulia. Namun, candaan mereka di salah artikan saat kedua orang tua mereka membuka pintu tanpa mengetuk.
Aulia dan Andra seketika menjadi patung dengan kedua mata tertuju ke pintu. Sedangkan tuan Agung, Tarjok, Marsya, dan Ningrum tercengang dengan sudut bibir, dan alis menaik.
Merasa salah masuk tanpa mengetuk pintu kamar, Marsya, tuan Agung, Tarjok, dan Ningrum langsung berbalik badan. Kue ulang tahun dengan lilin sudah menyala di bawa kembali ke luar kamar.
“Maaf karena sudah mengganggu ketenangan kalian berdua,” ucap Marsya menarik handle pintu.
“Iya, sepertinya tadi kami lupa kalau di bawah masak nasi belum di cetek ke bawah,” sambung Ningrum.
Di saat Ningrum dan Marsya berbicara untuk mencairkan suasana. Di saat itu pula tuan Agung dan Tarjok hanya memberi lambaian tangan dengan senyum menampilkan jejeran gigi putih mereka.
“Kami tunggu di bawah ya,” ucap Marsya menutup pintu penuh.
Melihat kedua orang tua mereka bersikap aneh. Aulia dan Andra saling menatap, kedua bola mata mereka juga saling melihat ke posisi mereka. Satu tangan Andra memegang salah satu gunung kembar, dan satu kaki ternyata terselip di bagian kaki.
Andra langsung melompat, “Pantes saja mereka bersikap aneh. Ternyata posisiku salah,” ucap Andra malu.
Aulia langsung duduk, dan membenarkan kancing bajunya, “Kamu benar, rupanya kancing bajuku ada yang terbuka juga,” sahut Aulia ikutan malu.
“Karena Mama dan Papa kita dan bolu ulang tahun juga sudah ada. Mari kita rayakan ulang tahun kamu!” ucap Andra semangat. Andra juga spontan menggendong tubuh Aulia dan membawanya turun ke bawah.
Melihat Aulia dan Andra sudah datang, Marsya langsung menari kursi makan, dan Ningrum menghidupkan kembali lilin di atas bolu ulang tahun.
“Selamat ulang tahun putri kesayangan kami!” ucap serentak tuan Agung, Tarjok, Ningrum, dan Marsya sembari memeluk tubuh putri kesayangan mereka.
Mendengar ucapan selamat cukup lengkap dari kedua belah pihak orang tua. Dan ulang tahun kali ini terlihat sangat begitu spesial dibanding tahun-tahun lalu. Air mata kebahagian perlahan menetes dari bola mata indah Aulia.
“Kamu kok menangis sayang?” tanya Marsya menghapus jejak air mata di pipi.
“Benar, kenapa kamu harus menangis Aulia. Apa kamu masih marah sama kami?” tanya Ningrum masih merasa bersalah.
Bola mata Aulia perlahan melirik ke tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok. Aulia menarik nafas dalam, kemudian memberi senyum manis kepada mereka semua.
“Ayo sayang, beri permintaan di umur kamu yang bertambah tua ini,” ucap Marsya.
Aulia menatap lurus ke lilin bertulisan angka 20, “Ya Allah, aku hanya meminta kepada kamu untuk selalu menyatukan aku dan Andra. Tolong jangan pisahkan kamu, karena aku sangat mencintainya. Tapi, kalau kamu ingin membuat kami pisah. Buatlah perpisahan itu dengan cara kematian agar kami bisa berjumpa di akhirat kelak. Dan satu lagi, sehatkan kedua orang tua ku dan sehatkan kedua orang tua Andra. Amin.”
“Amin!” ucap tuan Agung, Marsya, Ningrum, Tarjok, Andra dan Venus serentak.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...