Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 130. Keputusan


__ADS_3

"Pa, kenapa banyak sekali kotak datang?” tanya Aulia, ia berdiri di hadapan tuan Agung, kepalanya sedikit mengulur ke dalam. Mencoba mencari tahu kotak itu berisikan barang-barang apa. Namun, Aulia tidak melihat ada kotak satupun di ruang tamu.


Tuan Agung melirik ke Venus sedang membawa 3 tumpukan kotak. Bibir tuan Agung bergerak seolah membuat isyarat untuk mengajak Aulia masuk.


“Nona muda, kenapa nona muda tidak masuk saja,” Venus perlahan menurunkan tumpukan kotak. Venus mengambil kotak berukuran sedang dengan isi tidak terlalu berat dari dua kotak lainnya. Venus berdiri, “Nona muda, kenapa nona muda tidak menyusun perlengkapan bayi ini di kamar?” sambung Venus memberikan kotak berukuran sedang ke Aulia.


“Kamu benar, sebaiknya aku susun dulu,” sahut Aulia, tangannya menerima kotak pemberian Venus. Aulia menatap tuan Agung, “Papa, ada seseorang yang mengirimkan aku paket perlengkapan bayi, untuk bayi kembar ku. Jadi, aku izin pamit ke atas dulu, untuk menyusunnya,” izin Aulia kepada tuan Agung.


“Hati-hati ya, sayang. Kamu bisa kan membawa kotaknya naik ke atas?” tanya tuan Agung cemas.


“Kotak ini nggak berat kok, Pa. Papa tenang saja, Aulia pamit ke atas dulu,” pamit Aulia sekali lagi. Aulia melangkah pergi masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak berukuran sedang, berisi perlengkapan bayi.


Melihat Aulia sudah berjalan hampir mendekati anak tangga. Tuan Agung mendekati Venus, “Kotak apaan itu?” tanya tuan Agung sedikit berbisik, jarinya menunjuk kotak di dalam genggaman Venus.


“Sepertinya ada orang yang sedang meneror nona muda. Dan bu…”


“Stop!” tuan Agung menutup mulut Venus, bola matanya melirik ke dalam rumah, untuk memastikan apakah Aulia tidak ada di ruang tamu, atau di balik pintu. Sudah cukup aman untuk melanjutkan obrolan, tuan Agung melepaskan tangannya dari mulut Venus, “Sebaiknya kita ke gudang. Di sana juga sudah ada Marsya yang sedang memeriksa semua kotak-kotak dari pengirim rahasia,” jelas tuan Agung sedikit berbisik.


“Kalau gitu mari kita ke sana!” ajak Venus semangat, kedua kakinya melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Lalu di susul tuan Agung menutup pintu rumah.


.


.


Dari depan gerbang kediaman rumah Aulia terlihat mobil warna putih berhenti. Perlahan jendela kaca mobil turun sampai separuh, terlihat wanita cantik, dan muda sedang memakai kaca mata hitam memandang lurus ke rumah Aulia.


“Sudah menerima pesanan yang aku berikan. Pasti sangat menyenangkan bukan. Ha ha ha ha,” tawa renyah terukir di bibir seksi berwarna merah muda. Tangan kanan terdapat bekas luka, dan memar menurunkan kaca matanya. Terlihat wanita itu adalah wanita yang pernah menyuruh seseorang untuk memukul Aulia. Gara-gara ulah wanita itu juga, Aulia sempat mengalami kebutaan sementara.

__ADS_1


Kenapa wanita itu kembali lagi? Bukannya wanita itu sudah dibereskan oleh Venus, dan Jack waktu itu?


Wanita itu menaikkan kaca mobil, lalu mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan lingkungan kediaman rumah Aulia.


.


.


💫Di Gudang💫


Tuan Agung, Marsya, dan Venus bediri mengelilingi tumpukan kotak sudah mereka buka. Dahi mereka menyerngit saat melihat semua isi kotak tidaklah penting. Ada berisi boneka usang, wajah di coret-coret dengan spidol. Ada foto Aulia saat keluar dari rumah sakit, dan di balik foto terdapat sebuah tulisan, ‘Tidak tahu malu, aku harap kamu dan bayi kamu segera menyusul mendiang suami kamu’.


Ada juga sebuah kotak perhiasan berisi beling, dan barang-barang teror seperti ingin merusak mental Aulia.


“Kira-kira ini pelakunya siapa?” tanya tuan Agung menatap Venus.


“Jadi kita harus bagaimana, Pa?” tanya Marsya cemas, mengingat Aulia tengah mengandung. Dan takut terjadi hal buruk dengan bayinya dan kandungannya.


“Sebaiknya Mama, dan Aulia segera pergi meninggalkan Negara ini. Biar sisanya Papa, dan Venus yang mengurusnya,” tuan Agung berdiri menghadap Marsya, “Perpisahan ini tidak akan lama. Papa ingin Mama tetap selamat bersama putri dan calon cucu kita. Jadi kembali lah ke rumah kita di tanah air,” sambung tuan Agung lembut, menyuruh Marsya membawa Aulia kembali pulang ke tanah air.


“Tapi Pa…”


“Mama jangan terlalu kuatir, ini semua demi kesehatan bayi dalam kandungan Aulia. Jika Aulia masih terus di sini, teror dari orang ini akan terus menghantui Aulia. Sampai tujuannya tercapai,” tuan Agung mencium dahi Marsya, “Hati-hati ya, Ma. Papa sayang kalian berdua,” sambung tuan Agung, tangannya mengelus puncak kepala Marsya.


“Jadi Mama dan Aulia saja yang akan kembali ke tanah air?” tanya Marsya menyakinkan pertanyaan tuan Agung.


“Iya, Papa sudah menelepon pilot pribadi kita untuk menjemput Mama, dan Aulia nanti sore. Jadi Mama, dan Aulia harus segera mengemas semua barang-barang Mama,” pesan tuan Agung memberi perintah.

__ADS_1


Ucapan tuan Agung membuat hati Marsya teriris. Entah kenapa perkataan tuan Agung mengisyaratkan seperti mereka akan berpisah untuk selamanya. Marsya memeluk erat suaminya, baru kali ini mereka akan berpisah untuk waktu yang tidak di tentukan.


Saat rasa kesedihan menyelimuti hati tuan Agung, Marsya, dan Venus. Terdengar suara ketukan pintu gudang.


Tok!tok


“Ma..Pa..aku mendengar suara kalian dari dalam sini. Apakah kalian berdua ada di dalam?” panggil Aulia dari luar.


“Iya, kami di sini, Nak!” sahut Marsya, tangannya menyeka kasar butiran air mata di kedua pipinya.


“Sudah, cepat Mama keluar. Temui putri kita dulu, agar dia tidak cemas dengan perilaku kita. Papa, dan Venus akan menyusun kembali, dan membuang semua barang-barang di dalam kotak ini,” perintah tuan Agung menyuruh Marsya untuk menjumpai Aulia.


“Baik, Pa..” Marsya pergi meninggalkan tuan Agung, dan Venus. Lalu Marsya membuka handle pintu, terlihat Aulia sedang berdiri di depan pintu gudang dengan wajah berseri.


“Loh! Ada Venus juga?” tanya Aulia saat melihat Venus berada di dalam gudang.


“I-iya, tadi Mama lihat gudangnya sangat sumpek. Jadi Mama menyuruh Papa kamu untuk membereskannya. Saat Papa membereskan gudang, kamu dan Venus pulang, jadi sekalian saja Mama minta tolong ke Venus untuk bantuin Papa agar cepat selesai,” jelas Marsya berbohong.


“Oh…pantes saja tadi ada kurir yang membawa kotak-kotak masuk ke dalam rumah. Ternyata Papa dan Mama sedang membersihkan gudang,” sahut Aulia percaya.


“Iya,” Marsya merangkul Aulia, “Oh iya. Aulia, gimana kalau kita kembali ke tanah air. Soalnya Mama kangen sama rumah, tante Ningrum, dan yang lainnya,” bujuk Marsya.


“Nggak mau ah. Kalau aku ke sana, siapa yang akan mengurus Perusahaanku. Jika aku tidak bekerja giat di mulai dari sekarang, bagaimana dengan masa depan anak-anakku yang belum lahir. Mereka tidak memiliki sosok Papi di sampingnya. Jadi, akulah yang akan bertanggung jawab atas tumbuh kembang mereka. Kalau Mama mau pulang…ya…” ucapan Aulia terhenti saat melihat kedua mata Marsya di penuhi cairan bening. Aulia langsung menghapus jejak air mata hampir jatuh menetes di pipi Marsya, “Ma, maafkan aku ya! Mama jangan menangis, katanya jika seorang anak membuat Ibunya menangis di dunia. Maka Allah nanti akan sangat murka kepadaku. Jangan menangis ya, Ma. Aku janji, aku akan ikut pulang bersama Mama,” sambung Aulia.


Air mata Marsya menetes sebenarnya bukan karena penolakan Aulia. Marsya hampir menangis karena ia memikirkan betapa menyedihkannya nasib Aulia, selalu dihantui oleh orang-orang syirik, ingin menjatuhkan dirinya, dan ingin mencelakai putri semata wayangnya.


Semua orang-orang syirik, dan ingin menjatuhkan Perusahaan tuan Agung atau pun Aulia, itu berasal dari kesuksesan tuan Agung yang tak pernah memudar dari tahun ke tahun. Membuat semua para Pengusaha ingin ikut merebut kekuasaan tuan Agung ataupun Aulia.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2