Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 49. Sedikit pulih


__ADS_3

Setelah kekacauan terjadi. Andra, Azzuri, tuan Agung, Marsya dan lainnya sedang berdiri di mengelilingi ranjang Aulia. Semua wajah terlihat tegang melihat Aulia pingsan dan belum juga sadarkan diri.


Andra mendekati Azzuri dan berdiri menghadapnya, "Awas saja kalau perbuatan Anda mempengaruhi kedua mata Aulia!" ucap Andra pelan dengan menekan nada suaranya.


"Aku siap menanggung semua perbuatan ku," sahut Azzuri tegas.


"Lihat, Aulia perlahan membuka mengedipkan kelopak matanya!" ucap Venus memecah ketegangan.


"Aulia!"


Azzuri dan Andra segera mendekati ranjang.


"Apakah nona muda bisa mendengar suara saya?" tanya Dokter Robin.


Aulia perlahan duduk. Namun kepalanya terasa sakit, "Akh! sakit sekali," keluh Aulia memegang sebelah kepalanya.


"Sebaiknya nona muda tetap merebahkan tubuhnya. Jangan terlalu memaksa jika tidak bisa," ucap Dokter Robin membantu Aulia untuk kembali tidur.


Aulia kembali tidur.


"Pa...Aulia.." rengek Marsya kuatir melihat putrinya terlihat kesakitan.


Tuan Agung memeluk Marsya, "Mama tenang saja, Papa yakin Aulia akan baik-baik saja," sela tuan Agung menenangkan Istrinya.


Dokter Robin mengeluarkan senter kecil, "Maaf ya nona muda," ucap Dokter Robin perlahan membuka salah satu kelopak mata dan mengarahkan senter ke mata.


"Auw!" keluh Aulia merasa silau, kedua tangan menyilang di depan mata.


Dokter Robin dan lainnya terkejut. Hati mereka bertanya-tanya, apakah Aulia bisa kembali melihat. Tapi bagaimana mungkin bisa secepat ini?


Dokter Robin meletakkan kembali senter miliknya ke dalam jas kerjanya. Dengan semangat Dokter Robin berkata, "Coba nona muda perlahan membuka kedua mata."


Aulia perlahan membuka kedua bola matanya, kedua tangannya kembali menghalau wajahnya saat melihat cahaya untuk pertama kalinya, "Silau Dok."


"Alhamdulillah!" ucap syukur Marsya memeluk tuan Agung.


"Alhamdulillah ya Allah," gumam Andra merasa bersyukur melihat Aulia bisa kembali melihat walau itu hanya sebuah cahaya.


Sedangkan Azzuri hanya menghela nafas lega, 'Syukurlah.'


Dokter Robin menghadap tuan Agung dan Marsya, "Syukurlah efek obat yang saya beri berarti sangat manjur buat kesembuhan nona muda," ucap Dokter Robin memuji obat racikannya sendiri.

__ADS_1


"Tapi tadi Aulia pingsan akibat terkena pukulan. Apa itu tidak berpengaruh kepada penglihatan Aulia, Dokter?" tanya Marsya masih cemas.


"Ooh, pukulan tadi hanya membuat nona muda terkejut saja. Soalnya bekas pukulan juga tidak terlalu masalah. Asal rutin mengoles obat dan meminum obat racikan dari saya. Mudah-mudahan dua atau tiga hari lagi nona muda akan bisa melihat sepenuhnya," ucap Dokter Robin yakin.


"Berikan obat yang terbaik buat Aulia. Semua biaya biar aku yang nanggung," sambung Azzuri merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Maaf, saya menolak kebaikan Anda. Saya bisa merawat dan memberikan yang terbaik buat putriku!" tegas tuan Agung.


"Tapi aku ingin bertanggung jawab," Azzuri meletakkan tangan kanan di depan dada, tubuh sedikit menunduk, "Dengan kerendahan hati izinkan aku memberikan yang terbaik sebagai permintaan maaf," sambung Azzuri terdengar tulus.


"Dengan tegas aku minta tuan Azzuri Mahendra segera keluar dari Apartemen ku. Dan jangan pernah tunjukkan batang hidung Anda, sampai tiba saatnya pesanan Anda selesai!" tegas Aulia mengusir Azzuri dari Apartemen.


"Aulia...aku..."


"Pergi!" bentak Aulia.


Azzuri mengangguk, "Baiklah," Azzuri berbalik badan, kedua kaki melangkah perlahan sesekali kedua bola mata melirik ke belakang. Melihat Aulia merebahkan tubuhnya dengan membelakangi semua orang.


"Apakah tuan baik-baik saja?" tanya Jack kuatir.


"Aku baik-baik saja. Mari kita pergi!" ajak Azzuri melangkah terlebih dahulu.


"Baik," sahut patuh Jack ikut melangkahkan kedua kakinya.


"Baik Ma," sahut Aulia segera duduk.


"Gimana dengan kedua mata kamu?" tanya tuan Agung masih dalam kekuatiran.


"Segarang yang aku lihat hanya cahaya dan sedikit bayangan semua orang," Aulia menundukkan sedikit wajahnya. Senyum manis terpancar jelas di raut wajah indahnya, "Aku jadi tidak sabar untuk kembali melihat dan ingin membawa Andra berkeliling di kota ini!" sambung Aulia penuh semangat.


"Apa kamu sangat ingin berkeliling dengan ku?" tanya Andra mendekati ranjang.


Aulia mengangguk, "Tentu saja. Aku sangat-sangat ingin mengajak kamu berkeliling di sini," kedua tangan merentang luas, "Kota ini sangat indah dan kamu juga tidak akan menyesal jika berkeliling dengan ku!" sambung Aulia semangat.


"Kenapa mesti harus sembuh dulu baru pergi. Bagaimana jika aku yang mengajak kamu berkeliling malam ini?" ajak Andra memberikan penawaran.


"Aku belum sembuh. Aku tidak ingin memberatkan kamu nantinya," sahut Aulia menolak lembut.


"Aku tidak masalah. Lagian untuk ke depannya pasti aku akan menjadi tiang buat sandaran kamu. Dan kamu juga boleh membagi beban yang kamu pikul," ucap Andra lembut.


"Ehem!! uhuk!" dehem tuan Agung memutus kemesraan Andra.

__ADS_1


Prok!! prok!!


Venus memukul angin, "Wuung...Wuung!" ucap Venus sendiri seperti di dalam banyak nyamuk memutari kepalanya.


"Kenapa?" tanya Aulia polos.


"Tiba-tiba nyamuk bertebaran di sekitaran wajahku, nona muda," ucap Venus menyindir tuan Agung dan juga Andra. Karena hanya dirinya di rumah ini sendirian tanpa seorang kekasih.


Marsya mendekati Venus, "Jomblo ya?" tanya Marsya menyikut lengan Venus.


"Siapa bilang saya jomblo. Saya hanya sibuk kerja dan mencari duit saja hingga lupa mencari wanita mana yang cocok buat mengatur keuangan yang sudah saya kumpul begitu banyak nantinya," sahut Venus sedikit kaku.


"Sepertinya Papa harus mencari seorang wanita buat menemani Venus. Kasihan perjaka satu ini belum ada kekasih," ucap Marsya sedikit bercanda kepada tuan Agung.


"Kamu mau memilih wanita macam mana, Venus?" tanya tuan Agung.


"Eh..lupa. Sepertinya aku tadi lupa matikan kran air di dalam kamar mandi," ucap Venus malu, kedua kaki segera ia bawa melangkah pergi keluar kamar Aulia.


"Ha ha ha" tawa renyah keluar dari mulut tuan Agung dan Marsya, saat melihat Venus menjadi malu dan kikuk.


"Mama kenapa jahat banget sama Venus. Kan Venus jadi malu!" ucap Aulia membela Venus.


"Mama cuman kasihan melihatnya. Venus itu selalu mementingkan pekerjaannya, dan menjaga kamu sehingga ia melupakan kebahagiaan batinnya," sahut Marsya mengingat umur Venus semakin bertambah.


"Iya juga ya!" ucap Aulia sedikit mengangguk.


"Ooh ya. Bagaimana jika kita pergi makan malam di restoran. Sekali-kali menikmati makanan luar," bola mata melirik ke Marsya, "Bagaimana Ma! Apa Mama setuju?" sambung tuan Agung meminta izin kepada Marsya.


"Boleh juga itu Pa!" sahut Marsya dan Aulia serentak.


"Kalau gitu mari kita bersiap-siap, dan jangan lupa mengajak Venus bersama kita," ucap tuan Agung serius.


"Baik, biar Mama yang menjumpainya ke kamar," sahut Marsya beranjak pergi.


"Kamu juga bersiap-siap ya!" ucap tuan Agung kepada Aulia.


"Andra temani aku untuk memilih baju ya!"


"Eh!" tuan Agung membulatkan kedua bola matanya menatap Andra, "Tidak boleh. Belum sah menjadi suami/istri."


Andra berbalik badan, tangan kanan mengarah ke pintu, "Se-sebaiknya aku ke kamar Venus saja. Dan ikut bersiap," ucap Andra ketakutan setelah melihat wajah suram tuan Agung.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2