
Tok!tok
“Ma, apa Mama berada di dalam?” panggil tuan Agung, tangannya mendorong handle pintu.
Tuan Agung menutup pintu kamar kembali setelah melihat jika Istrinya tidak berada di dalam kamar. Tuan Agung melangkahkan kakinya kembali menuju lantai 2, kamar Aulia. Saat tuan Agung menaiki anak tangga menuju lantai 2, langkah tuan Agung dihentikan oleh suara Venus.
“Tuan, sepertinya nona muda, dan nona besar tidak bisa berangkat sore ini,” ucap Venus memberitahu setelah mendapat pesan singkat dari tuan muda Alexdian.
“Kenapa?” tanya tuan Agung, ia berbalik, lalu kembali melangkah turun menghampiri Venus.
“Karena tuan muda Alexdian besok malam akan bertunangan dengan Vanesha. Dan nona muda, dan tuan di undang untuk menghadiri acara pertunangannya di gedung pribadi milik tuan muda Alexdian,” jelas Venus, tangannya menunjukkan bukti pesan singkat dari tuan muda Alexdian, tak lupa emot imut disertakan dalam setiap kalimat.
“Aku tidak mau…”
“Apa! Tuan muda Alexdian akhirnya mau bertunangan dengan Vanesha?!” sela Aulia memutus pembicaraan tuan Agung. Aulia pun segera menuruni anak tangga, dan berdiri menghadap Venus.
“Benar nona muda, saya baru saja mendapat pesan singkat dari tuan muda Alexdian,” sahut Venus menunjukkan isi pesan dari tuan muda Alexdian kepada Aulia.
“Siapakah gadis yang akan ia nikahi?” tanya Marsya ikut gembira mendengar kabar tuan muda Alexdian akan bertunangan.
“Vanesha, Ma. Wanita cantik yang kita temui waktu itu di restauran. Mama ingat ‘kan?”
“Oh…gadis cantik itu. Wah…pasangan yang serasi, yang satu tampan, dan yang satu cantik. Jika mereka menikah nanti, pasti anaknya akan sangat cantik seperti boneka,” sahut Marsya sedikit mengkhayal memikirkan anak tuan muda Alexdian, dan Vanesha.
“Ehem…” tuan Agung dehem cemburu karena Marsya terlalu bersemangat mengatakan tuan muda Alexdian sangat tampan.
Marsya menghentikan pujiannya saat mendengar, dan melihat raut wajah tuan Agung berubah menjadi merah padam karena menahan cemburu.
“Pa..berarti Aulia dan Mama harus menunda keberangkatan kami?” tanya Aulia.
“Kamu sangat ingin menghadiri acara pertunangan tuan muda Alexdian?” tanya tuan Agung.
Aulia mengangguk, “Iya. Aku sangat-sangat ingin menghadiri acara pertunangan tuan muda Alexdian,” Aulia menatap tuan Agung sangat dekat, lalu menyambung perkataannya, “Apa Papa tidak ingin memberi selamat kepada pria yang terus ingin merebut Mama dari genggaman, Papa?” goda Aulia.
“Oh…ka-kalau Papa malah tidak memikirkan tuan muda Alexdian adalah lelaki yang ingin merebut Mama kamu dari Papa,” tuan Agung menggaruk rambut tak gatal karena gugup, “Ah..ka-kamu kenapa bisa berkata seperti itu. Sudah sana beres-beres barang kamu untuk berangkat besok lusa,” sambung tuan Agung mengalihkan pembicaraan.
“Semua barang kami sudah beres, Pa,” sahut Aulia.
__ADS_1
“Kalau gitu kamu istirahat saja,” usir tuan Agung agar Aulia tidak membuat pertanyaan membuat dirinya bertambah malu dan gugup.
Saat tuan Agung, Marsya, Aulia, dan Venus asik berbincang tentang hal lain. Grey, kucing kesayangan mendiang Andra di gendong oleh Satpam di depan pintu rumah.
“Kenapa dengan Grey, Pak?” tanya Aulia, ia melangkah mendekati Satpam sedang berdiri di depan pintu rumah dengan kepala tertunduk.
“Nona muda, maafkan saya. Kucing kesayangan mendiang tuan Andra sepertinya di beri racun oleh seseorang. Terlihat dari mulutnya yang mengeluarkan busa. Saya juga mendapat pesan…”
“Sini aku baca,” tidak ingin membuat putrinya bertambah panik. Tuan Agung, Marsya, dan Venus langsung mendekat. Tangan tuan Agung mengambil kertas dari tangan Satpam. Sedangkan Venus menggendong Grey.
......................
...ISI PESAN :...
...MATI. HA HA HA...
......................
“Siapa yang berani meracuni Grey seperti ini, dan kenapa Grey bisa diracuni oleh orang lain,” gumam Aulia, kedua mata dipenuhi cairan bening menatap tubuh Grey yang mulai kaku.
“Anda tidak salah Pak,” tuan Agung membantu Pak Satpam berdiri, kedua tangannya mengelus lengan Satpam, “Sudah Pak, Bapak tidak bersalah yang salah itu kami karena tidak ada memberi pesan apa pun kepada Bapak untuk tidak menerima sembarangan paket,” sambung tuan Agung untuk menenangkan Satpam rumah Aulia.
Aulia menyeka kasar air mata di pipinya, lalu menarik nafas panjang untuk meredakan amarah di dalam dadanya. Merasa sudah cukup tenang, Aulia mendekati Satpam, dan berdiri di hadapannya.
“Pak, aku tidak marah sama Bapak. Hanya saja, aku minta mulai dari sekarang Bapak dan Bapak yang satu laginya harus waspada. Jangan kasih sembarangan orang masuk, dan jika ada paket datang letakkan saja paket itu di tengah-tengah halaman. Untuk mengantisipasi apakah paket itu dalamnya adalah isinya benda penting, atau bom,” pesan Aulia kepada Satpam rumah.
Pak Satpam berlutut, “Terimakasih nona muda. Terimakasih, saya tidak menyangka jika saya masih diberi kesempatan untuk bekerja,” ucap Pak Satpam berterimakasih pada Aulia.
“Pak, kenapa Bapak terus bersujud seperti ini. Kami bukanlah orang yang patut Bapak sujud loh,” tuan Agung membantu Pak Satpam untuk berdiri.
“Sebaiknya Bapak kubur Grey saja. Kuburkan tubuh Grey ku yang sayang di taman belakang. Hiasi tanah kuburannya dengan bunga-bunga yang indah agar dia merasa nyaman di alam sana,” pesan Aulia kepada Pak Satpam.
“Kalau gitu saya temani,” tawar Venus.
“Papa juga ikut membantu proses pemakaman Grey,” sambung tuan Agung mau ikut menguburkan kucing kesayangan Aulia.
“Ya sudah. Kalau gitu, kamu temani Mama memasak di dapur ya, Nak,” ajak Marsya.
__ADS_1
“Hem…” angguk Aulia.
Marsya dan Aulia pun melangkah menuju dapur. Sedangkan Venus, dan tuan Agung menemani Pak Satpam untuk mengubur tubuh Grey di taman belakang. Sesampainya di taman belakang dan setelah Pak Satpam selesai menguburkan tubuh kucing kesayangan Aulia. Tuan Agung, dan Venus menarik Pak Satpam untuk duduk di kursi taman belakang berada sedikit jauh dari rumah Aulia.
“Ke-kenapa tuan besar membawa saya ke sini?” tanya Pak Satpam dengan wajah panik menatap wajah suram tuan Agung, dan Venus.
“Katakan, gimana ciri-ciri wanita yang menyuruh kamu untuk memberikan Grey makanan kucing dari wanita itu?” tanya tuan Agung dingin. Wajah tenang nya berubah drastis menjadi suram.
“A-aku tidak terlalu jelas melihat wajahnya tuan. Karena wajah wanita itu ke tutupan masker, dan di tangan kiri atau kanannya terdapat beberapa bekas luka,” sahut Pak Satpam mengingat sedikit ciri-ciri wanita pengantar paket.
“Lalu, kenapa kamu berani sekali memberikan makanan kepada kucing kesayangan putriku?!” tanya tuan Agung kembali dengan wajah suram.
“Ka-karena katanya makanan itu harus langsung di konsumsi sebelum waktu 20 menit. Itu pesan wanita tadi,” sahut Pak Satpam semakin panik, dan gugup.
“Kamu ‘kan tahu itu kucing kesayangan mendiang menantu ku, dan juga putri ku. Yang wajib memberi makanan itu hanya Venus, tapi kenapa kamu pandai-pandaian memberi makan ke Grey?” tanya tuan Agung kembali menekan nada suaranya.
“Jujur saja Pak. Jika Anda ingin selamat di sini,” sambung Venus menakut-nakuti Pak Satpam.
Glek!
Satpam menelan saliva dengan susah payah saat mendengar gertakan dari Venus.
“Ba-baik, saya akan jujur. Wa-wanita itu mengancam keselamatan saya. Wanita menodongkan pis-tol ke saya kalau saya tidak langsung memberikan Grey susu yang diberikan wanita tersebut,” sahut Pak Satpam jujur. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya saat menatap wajah suram tuan Agung.
“Tadi makanan kucing. Ini malah minuman susu, yang benar yang mana?!” bentak Venus meninggikan nada suaranya.
“Mi-minuman su..su,” sahut Pak Satpam panik, dan kembali jujur karena ketakutan melihat raut wajah tuan Agung dan Venus seperti hendak menerkam mangsanya.
“Apa kamu tahu berapa nomor plat mobilnya?” tanya Venus kembali.
“Ta-tahu,” sahut Pak Satpam ketakutan.
“Berapa?” tanya tuan Agung.
Pak satpam pun mengatakan plat nomor mobil wanita tersebut. Membuat mata tuan Agung, dan Venus membulat sempurna.
...Bersambung...
__ADS_1