
Sesampainya di dalam restauran, tuan Agung, Marsya, dan Aulia, di kejutkan oleh tuan muda Alexdian sedang makan malam bersama dengan wanita muda.
Aulia mempercepat langkah kakinya mendekati meja tuan muda Alexdian, “Tuan muda, apakah wanita ini adalah kekasih Anda?” tanya Aulia polos, tatapan mengarah pada wanita muda berparas cantik, dengan bola mata biru.
Wajah tuan muda Alexdian berubah menjadi panik, ia segera mendekati Marsya, dan memegang lengan kanan Marsya, “A-aku bisa jelaskan,” ucap tuan muda Alexdian gugup.
“Kenapa Anda harus menjelaskan semua ini kepada Istri ku. Mau Anda memiliki banyak wanita, istri, dan yang lainnya di kehidupan Anda. Itu bukan urusan Marsya!” sahut tuan Agung, tangannya mencoba melepaskan tangan tuan muda Alexdian dari tangan Marsya.
“Benar, kenapa Anda harus sesegan ini. Sebaiknya Anda santai saja,” Marsya melirik ke wanita sedang mengobrol dengan Aulia, “Sepertinya wanita itu sangat pantas bersanding dengan kamu. Jadi apa lagi, sikat terus. Jangan biarkan milik kamu berkarat karena tak terawat oleh sentuhan tangan halus,” goda Marsya.
“Apaan sih, tentang elus-mengelus aku bisa melakukannya sendiri….” ucapan tuan muda Alexdian terputus saat Aulia, dan wanita cantik mendekati Marsya, dan tuan Agung.
“Pa…Ma, perkenalkan wanita ini ternyata adalah wanita tidak sedarah milik tuan muda Alexdian. Dan ternyata wanita ini masih adikkan aku!” Aulia memperkenalkan wanita cantik tersebut ke tuan Agung, dan Marsya.
“Wa-wanita nya, tuan muda Alexdian?” tanya tuan Agung bingung.
Tuan muda Alexdian menggaruk kepala tak gatal, “Maaf, aku tidak bisa menjelaskan sekarang, karena kami mau pergi dulu,” ucap tuan muda Alexdian mengakhiri perjumpaannya. Tuan muda Alexdian mengulurkan tangannya, “Mari kita pergi,” ajak tuan muda Alexdian.
Wanita cantik tersebut membungkukkan sedikit tubuhnya, “Kami permisi tuan, dan nona,” pamit wanita tersebut sopan ke tuan Agung, dan Marsya.
Aulia melambaikan tangannya, “Hati-hati ya, Vanesha.”
“Iya, kapan-kapan aku main ke rumah kamu boleh?” tanya Vanesha.
Aulia mengangguk.
“Kalau gitu aku pamit pergi dulu. Daa….” Pamit Vanesha melambaikan tangannya ke Aulia.
Tuan muda Alexdian, dan Vanesha pergi meninggalkan restauran.
__ADS_1
“Wanitanya yang tidak sedarah?” gumam Marsya bingung, bola mata menatap kepergian tuan muda Alexdian, dan Vanesha.
“Iya Ma," sahut Aulia.
“Kamu kenapa bisa tahu?” tanya Marsya.
“Tadi Vanesha sendiri yang mengatakannya, jika dirinya adalah teman dari kawan orang tua, tuan muda Alexdian,” tangan Aulia mengarah ke meja nomor 03, “Sebaiknya kita duduk, dan pesan makanan dulu Pa…Ma.”
Tuan Agung, Marsya, dan Aulia pun berjalan ke meja nomor 03. Mereka bertiga juga memesan banyak menu makanan, dan minuman sesuai dengan permintaan Aulia. Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka datang. Masih penasaran dengan perkataan Aulia. Sambil menikmati makanannya, Marsya kembali bertanya.
“Tadi kamu kenapa bisa tahu, Nak?” tanya Marsya penasaran.
“Tadi Vanesha yang mengatakan hal itu kepada ku. Katanya dia sebenarnya adalah wanita yang ingin dijodohkan oleh kedua orang tua, tuan muda Alexdian. Tapi, sepertinya tuan muda Alexdian menolaknya karena hatinya hanya untuk milik satu wanita…” ucapan Aulia terhenti saat melihat tuan Agung tersedak makanan di mulutnya.
“Uhuukk!!” tuan Agung menepuk dadanya, cepat-cepat ia mengambil segelas air putih di dalam gelas dan meminumnya.
“Sudah, makan dulu. Jangan membahas yang tidak penting dulu,” putus tuan Agung mengakhiri percakapan dengan nada sedikit cemburu. Karena tuan Agung tahu jika cinta pertama tuan muda Alexdian adalah Istrinya sendiri, Marsya.
“Iya, mari cepat makan sayang. Keburu dingin makanannya,” sahut Marsya.
Aulia, Marsya, dan tuan Agung pun kembali makan, dan mengakhiri percakapan mereka. Baru saja selesai makan, Aulia mendadak mual. Aulia segera berdiri, kedua kakinya berlari menuju toilet. Namun, tanpa Aulia sadari Aulia berlari masuk ke dalam toilet wanita. Ada seorang pria misterius memandang Aulia di koridor toilet.
“Uwek!!!” Aulia memuntahkan semua makanan ke kloset.
Setelah memuntahkan semua makanannya, Aulia perlahan bangkit dengan lemas. Kepalanya juga sedikit pusing. Namun, dia harus segera membasuh sekitar bibirnya. Aulia berjalan mendekati wastafel, mencuci wajahnya.
“Kenapa hamil ini sangat merepotkan. Mana anak yang aku kandung adalah anak dari pria yang paling aku benci,” gerutu Aulia, ia berdiri tegak menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tangannya mengelus perutnya mulai sedikit membesar, “Nak, jika kalian berdua sudah terlahir di dunia ini. Mami akan katakana kalau Papi kalian sudah meninggal dunia akibat kecelakaan saat melakukan penerbangan ke Belanda. Mami yakin, Mami mampu membesarkan kalian berdua, dan menjadi seorang Papi dan Mami yang kuat untuk melindungi ka….” Ucapan Aulia terjeda saat pintu toilet terbuka, dan masuk 2 orang wanita ke dalamnya.
“Baby, are you okay?” tanya wanita berpakaian seperti laki-laki.
__ADS_1
Aulia mengalihkan perhatiannya memandang 2 orang wanita sedang masuk ke dalam toilet.
“Wih..apaan tuh! Baby, dan gayanya kenapa seperti laki-laki,” gumam Aulia.
“Baby…ohh..no..aahh!!!..Baby,” teriak salah satu wanita tersebut.
Aulia menutup mulutnya, “Ya Allah, ampunilah dosa kedua telinga ku karena sudah melihat dan mendengar suara aneh itu,” ucap Aulia, kedua kakinya terus melangkah melewati pintu kamar mandi nomor satu.
Sesampainya di depan pintu toilet wanita, Aulia mengelus perutnya, “Nak, jangan kamu dengarkan aneh tadi. Mereka adalah orang-orang yang mudah tergoyahkan hatinya. Mami harap ketika kalian sudah besar, jangan seperti itu,” sambung Aulia memberitahu pada bayi kembar dalam perutnya.
Sementara itu, pria misterius masih terus memantau Aulia dari lorong gelap. Terlihat bibirnya tersenyum manis saat melihat Aulia mengusap lembut perut buncitnya. Melihat Marsya berjalan di koridor, pria misterius tersebut berbalik. Pria tersebut memakai topi, masker, lalu berjalan melewati Aulia. Namun, pria misterius tersebut melirik dari ujung ekor matanya kepada Aulia. Bibirnya terus tersenyum manis.
“Aulia…kamu nggak apa-apa, Nak?” tanya Marsya cemas, kedua tangan ikut mengelus perut Aulia.
Aulia mengangguk, “Aku baik-baik saja Ma. Cuman makanannya sayang, semuanya sudah aku muntah kan,” keluh Aulia merasa perutnya kembali lapar.
Marsya merangkul Aulia, “Kalau gitu mari kita cari makanan buat kamu, dan bayi kembar kamu.,” ajak Marsya memberi saran.
“Iya, Ma. Mari,” sahut Aulia.
Aulia dan Marsya pun melangkah pergi meninggalkan toilet wanita. Sesampainya di depan meja, mereka tidak melihat tuan Agung.
“Papa mana Ma?” tanya Aulia tak melihat tuan Agung di kursinya.
“Tuh, sepertinya Papa sedang bertemu dengan temannya di luar,” tunjuk Marsya melihat tuan Agung sedang menatap kepergian pria misterius.
Siapakah pria misterius itu?
...Bersambung...
__ADS_1