
Aulia menghentikan mobilnya di parkiran khusu mobil Restauran. Aulia langsung membuka seatbelt, ia pun segera turun dan melangkah cepat masuk ke dalam Restauran bebek milik Andra. Langkah kaki Aulia perlahan melambat saat kedua mata Aulia melihat Andra sedang berdiri dengan seorang wanita di depan meja kasir. Aulia menyatukan kedua alisnya, “Tidak akan aku biarkan,” gumam Aulia.
Grep!!
Aulia langsung menggenggam erat rambut bagian belakang wanita tersebut.
“Auw…auw!” keluh wanita berambut panjang.
“Kenapa kamu dekat-dekat dengan Suamiku. Apa kamu tidak tahu kalau Andra itu sudah menikah. Oh…jangan-jangan kamu tipe wanita macam pelakor itu, ha!!” ucap Aulia meluapkan kecemburuannya.
Merasa kasihan dengan wanita tersebut karena Aulia menggenggam rambutnya terlalu kuat. Andra perlahan melepaskan genggaman tangan Aulia, “Kamu tidak boleh seperti ini.”
“Oh! jadi kamu lebih memilih wanita ini daripada aku!”
Cuit!
Andra mencubit manis hidung mancung Aulia, “Kamu pasti cemburu?”
“Ahh…ahh..sakit tahu,” rengek Aulia berusaha melepaskan cubitan Andra.
Andra mendekatkan wajahnya, “Ayo..apa Istri kecilku ini sedang cemburu?” tanya Andra kembali.
Aulia menundukkan pandangannya, “Habisnya kamu dekat sekali. Siapa saja yang melihatnya pasti cemburu,” sahut Aulia manja.
Tidak ingin membuat kesalahpahaman semakin panjang, wanita berambut panjang mendekati Aulia, “Mohon maaf jika hal ini membuat nona muda cemburu. Saya bukan selingkuhan Bos Andra. Saya ini hanyalah salah satu karyawan kasir, kebetulan print nya tidak bisa hidup jadi Bos Andra membantu saya untuk membenarkannya,” ucap wanita tersebut mengarahkan tangannya ke print berada di atas meja.
“Karena kamu datang dalam keadaan cemburu, kamu pasti tidak bisa melihat ada orang lain di bawah meja kasir?” sambung Andra gemas.
Orang tersebut pun menunjukkan wajahnya, tangan kanan melambai dengan bibir tersenyum manis.
Sekilas kedua bola mata Aulia melirik ke bawah meja. Merasa malu dengan tingkahnya, Aulia memutar bola matanya ke jejeran meja di dalam Restauran. Tangan kanan mengarah ke salah satu meja paling sudut, “A-aku ingin kita duduk di sana. Dan jangan lupa berikan aku minuman segar. Karena aku sangat haus,” ucap Aulia kikuk.
“Baik nona muda,” ucap karyawan kasir.
“Mari kita ke sana,” ajak Andra menuju ke meja pilihan Aulia.
__ADS_1
Dengan rasa malu, Aulia berjalan terlebih dahulu menuju meja tersebut. Andra juga ikut berjalan di belakangnya dengan bibir terus mengulas senyum tipis.
Andra menarik kursi buat Aulia, “Silahkan duduk nona manis.”
Aulia duduk, bola mata penuh tanya terus mengarah ke Andra.
“Kamu kenapa terus menatapku?” tanya Andra mengetahui maksud tatapan Aulia.
Percakapan terhenti saat salah seorang pelayan membawa makanan datang, “Silahkan di minum makanan dan minumannya,” ucap pelayan meletakkan 1 jus dan satu piring makanan ringan.
“Terimakasih,” ucap Andra dan Aulia serentak.
Bola mata Andra kembali menatap Aulia, “Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu?” tanya Andra langsung mengetahui apa isi hati Aulia.
“Aku sudah dapat banyak notif e-mail masuk dari klien dan Investor baru. Tapi aku bingung haruskah aku pergi sekarang sendiri, atau kamu ikut pulang bersamaku?” bola mata Aulia melirik ke semua pengunjung Restauran, “Melihat Restauran kamu rame seperti ini, pastinya kamu menolak ajakan ku, ‘kan?” tanya Aulia sedih.
Andra mendekatkan bibirnya ke daun telinga kiri Aulia, “Tentu saja aku bisa ikut bersama kamu. Kita ‘kan belum bulan madu setelah kamu mendapat haid di hari pertama kita menikah. Apa kamu tidak ingin mengajak Suami kamu ini bulan madu?” tanya Andra berbisik.
“Kok ucapannya seperti Mama dan tante?” tanya Aulia polos.
“Kok gaya bahasa kamu beda sekarang. Dulu waktu kita masih lajang, sepertinya kamu bersikap malu-malu. Tapi kenapa sekarang kamu seperti Papa dan Om Tarjok?” tanya Aulia kembali.
“Karena selama itu aku masih punya imam. Tapi sekarang beda,” ucap Andra penuh maksud.
Aulia menggaruk puncak kepala tak gatal, pikirannya tiba-tiba teringat dengan hal memalukan untuk di bahas, “Aku penasaran sama sesuatu yang ada di tengah-tengah celana piyama kamu. Kenapa setiap bangun pagi aku melihat celana piyama kamu menonjol ke depan. Dan, aku juga sempat tidak sengaja menyenggol benda itu saat tertidur,” Aulia menyatukan kedua telapak tangannya seperti meminta maaf, “Maafkan aku! aku tidak tahu itu benda apaan. Karena penasaran aku sengaja menyenggolnya.”
“Kenapa harus minta maaf, kita ‘kan sudah sah. Jadi wajar-wajar saja jika kamu ingin menyentuhnya,” ucap Andra tanpa malu.
Aulia mendekatkan wajahnya. Kedua bola mata indahnya bergerak bebas melihat wajah tampan Andra, “Mesum!” ucap Aulia datar.
Andra hanya bisa memberi senyum lebar, hingga menunjukkan jejeran gigi putihnya.
Aulia menyeruput jus, “Sruup!!” dan meletakkannya kembali.
Andra menggenggam tangan kanan Aulia, “Aulia,” panggil Andra.
__ADS_1
“Iya!”
“Aku cuman ingin bilang. Karena kita masing-masing memiliki bisnis dan usaha cukup bagus di masing-masing Negara berbeda. Maka aku sebagai seorang Suami tidak akan melarang atau mengekang kamu. Kamu bebas merintis karir, dan kamu juga bebas mau pergi dan pulang ke tanah air kapan saja. Asal kamu tetap menjadi Istri yang jujur, percaya kepada Suami, dan harus selalu kasih kabar kemanapun kamu pergi,” ucap Andra tenang.
“Ka-kamu tidak marah! dan…dan kamu benar-benar tidak mengekang karirku?” Aulia spontan memeluk Andra, “Terimakasih Suamiku. Terimaakasih cintaku, sayangku, dan semua-semuanya yang baik ada pada diri kamu,” ucap Aulia senang.
Di tengah kemesraan Aulia dan Andra. Ada 2 pasang suami-istri mendekati meja mereka. Sepasang Suami-istri itu adalah tuan Agung, Marsya, Tarjok dan Ningrum.
“Ehem”
Andra dan Aulia perlahan menoleh ke belakang. Melihat tuan Agung, Marsya, Tarjok, dan Ningrum berdiri di belakang mereka dengan bibir tersenyum penuh makna. Aulia spontan melepaskan pelukannya.
“Kok di lepas?” tanya Marsya menjahili Marsya.
Aulia panik, “Anu….tadi…”
“Aulia tadi sangat senang karena Andra menginjikannya untuk pulang pergi dari tanah air ke Paris. Tapi untuk kepergian pertama Aku harus menemani Aulia. Aku ingin memastikan keberadaan Aulia baik atau tidak sampai di sana,” ucap Andra berbohong.
“Iya, sekalian bulan madu juga kata Andra,” sambung Aulia polos.
Andra memalingkan wajahnya ke Aulia, “Kenapa di bilang. ‘Kan aku jadi malu sama tuan Agung, dan Papa,” bisik Andra pelan.
“Maaf. Aku pikir boleh dikasih tahu,” sahut Aulia.
Tuan Agung, Marsya, Tarjok dan Ningrum saling menatap penuh makna.
“Oh ya. Apa sudah tahu cara melakukan bulan madu yang benar?” tanya Marsya mulai jahil.
“Kalian tenang saja, agar bulan madu kalian tidak tergangu dan terhambat oleh orang lain. Maka kami semua memutuskan untuk ikut pergi mengantar Aulia ke sana. Kami juga sudah memesan kamar hotel di mulai dari sekarang. Dan..Mama juga sudah tidak sabar untuk cuci mata di sana,” sambung Ningrum semangat.
“Benar. Karena ada beberapa barang bagus terbuat dari sana. Maka kami para wanita tua akan pergi untuk cuci mata ke sana,” ucap Marsya memikirkan tas keluaran terbaru.
Kebahagian Aulia dan Andra melempem saat mendengar jika mereka semua akan ikut bersama dengan mereka. Aulia dan Andra segera tertunduk lesu, dan berpikir jika penghalang terbesar mereka berdua adalah para orang tua kepo.
...Bersambung ...
__ADS_1