Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 70. Selesai kisah Wardhani


__ADS_3

Melihat Wardhani hendak melarikan diri. Pihak berwajib satu segera melayangkan tem-bakan.


Dor!!


Blam!


Langkah Wardhani terhenti saat pungg-ung mengeluarkan darah. Tubuh Wardhani pun ambruk jatuh ke depan.


Tarjok mengulurkan tangannya, "Kamu memang anak Papa paling hebat," puji Tarjok membantu Andra untuk berdiri.


Andra menerima jabat tangan Tarjok, "Papa juga sangat hebat. Papa seperti aktor tangguh yang ada di film China. Walaupun sudah berumur, tali tetap terlihat maskulin," ucap Andra membalas pujian Tarjok.


"Tentu saja, kalau tidak seperti itu. Mana mungkin Mama kamu mau sama Papa," sahut Tarjok menyombongkan diri.


Pihak berwajib satu-persatu keluar membawa para pelaku dalam keadaan tidak utuh.


"Aduh! ampun Pak!"


"Aduuh..."


"Ampun, ampun. Gitu sudah di tangkap ampun-ampun. Waktu kalian menakuti orang-orang tidak bersalah di dalam, kalian bisanya ketawa. Di mana pikiran.. kalian!" bentak pihak berwajib lainnya.


"Kenapa cuman kami yang kena Pak. Kenapa wanita itu tidak ditangkap?" tanya pelaku.


"Nggak kalian lihat jasad yang ditandu itu siapa!" ucap pihak berwajib satu.


"Bagaimana bisa seorang Iblis mati dengan begitu mudah?!"


"Banyak kali bicarakan kalian. Sudah cepat masuk. Kami masih banyak pekerjaan lainnya," ucap pihak berwajib mendorong masuk para pelaku masuk ke dalam mobil Kijang.


Tuan Agung, Andra, Venus, dan Tarjok, berjalan mendekati pihak berwajib.


Tuan Agung mengulurkan tangan kanannya, "Terimakasih atas kerja keras Bapak-bapak. Kalau Bapak tidak cepat menangkapnya, mungkin wanita ini pasti akan kabur dan akan terus membuat masalah," ucap tuan Agung terlihat lega karena Wardhani sudah meninggal dunia.


"Kira-kira jasad mantan Istri pertama Anda mau di kuburkan sendiri, atau kami yang menguburkannya?" tanya pihak berwajib satu.


"Semua aku serahkan kepada Bapak-bapak saja," sahut tuan Agung.


"Kalau gitu kami pamit pergi dulu," ucap pihak berwajib.

__ADS_1


"Baik," sahut tuan Agung membungkukkan sedikit tubuhnya.


Mulai sekarang tuan Agung bisa bernafas lega karena Wardhani akhirnya berhasil diamankan untuk selamanya.


"Akhirnya Wardhani mendapatkan balasannya," ucap Tarjok lega.


"Kamu benar. Orang yang paling aku takuti untuk mencelakakan Aulia dan Marsya sebenarnya itu dia. Wanita cantik memiliki sifat seperti Iblis. Tapi aku sekarang sudah bisa bernafas lega karena Wardhani sudah tenang di sisi Allah," sahut tuan Agung.


"Apa kita ingin mengecek para karyawan di dalam?" tanya Tarjok teringat dengan para karyawan.


Tuan Agung berbalik badan, tangan kanan mengulur ke depan, "Tentu saja. Silahkan maju terlebih dahulu sahabatku!" ucap tuan Agung membuat semua orang di sana tercengang.


"Sa-sahabat?" tanya Tarjok bingung.


"Tentu. Kamu sekarang adalah sahabat, sekaligus besan ku yang paling aku kagumi," puji tuan Agung.


"Jangan terlalu menyanjung saya cukup tinggi tuan. Saya tidak ingin jatuh dan terluka atas sanjungan itu suatu saat nanti," ucap Tarjok menolak halus sanjungan dan label baru buatnya dibuat tuan Agung olehnya.


Tuan Agung memukul pelan bahu kiri Tarjok, "Jangan panggil aku, tuan. Kita sekarang adalah sama. Bukannya sekarang Andra menjadi Bos yang memiliki 30 cabang warung bebek cukup terkenal, dan banyak usaha kecil lainnya. Jadi, bisa dikatakan kita ini derajatnya sama," sahut tuan Agung menolak Tarjok untuk memanggilnya dengan sebutan tuan Agung.


"Itu Andra, bukan saya!" sahut Tarjok merendah.


"Benar Om. Kami tidak akan ada apa-apanya tanpa bantuan Om. Aku jadi sangat yakin kenapa Aulia sangat membanggakan Om. Ternyata Om adalah orang tua cukup baik dan bisa menjadi panutan buat anak-anaknya," sambung Andra memuji tuan Agung.


"Sudah-sudah, kenapa kita jadi bercanda seperti ini. Mari kita masuk dan kalau perlu kita buat libur untuk menenangkan hati karyawan selepas mengalami kejadian buruk ini," ucap tuan Agung mengajak Venus, Andra, dan Tarjok masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam perusahaan miliknya. Tuan Agung mengulas senyum tipis melihat para karyawannya tampak tenang seperti sudah melupakan kejadian buruk baru saja menimpa para karyawan.


Tuan Agung berdiri di tengah-tengah meja karyawan. Bola mata melirik ke karyawan sedang berdiri di masing-masing samping meja mereka.


"Apa kalian merasa takut?" tanya tuan Agung.


"Kami tidak takut tuan. Semua ketakutan itu sudah hilang saat kami melihat Anda ikut mengorbankan diri," ucap karyawan pria satu melirik bola matanya ke pelipis tuan Agung masih mengeluarkan darah.


Sangking terharunya melihat sikap karyawan begitu baik dan menghormati nya. Tuan Agung sampai membungkukkan sedikit tubuhnya, "Terimakasih atas segala kerja keras kalian semua. Tanpa kalian semua, perusahaan ku mungkin tidak akan bisa selancar dan sukses sampai di titik sekarang."


Karyawan ikut terharu mendengar ucapan tuan Agung. Para karyawan berhamburan memeluk tubuh tuan Agung, dan berkata, "Kami semua sangat menyayangi tuan Agung."


"Hiks! kok hatiku mendadak berubah jadi dangdut," gimana Venus ikut terharu setelah melihat perjuangan tuan Agung akhirnya bisa sampai di titik sekarang.

__ADS_1


"Berhentilah menangis. Apa kamu tidak malu di lirik para karyawan cantik di sini," bisik Andra.


Venus langsung menghapus jejak air mata nya dan merubah mimik wajahnya menjadi cowok dingin dan sangar.


"Gitu dong. 'Kan cakep," puji Andra.


"Siapa yang cakep?" tanya tuan Agung baru saja tiba.


"Anu...ini Andra cakep, pantes saja Aulia sangat jatuh cinta," sambung Venus mengalihkan pembicaraan.


"Intinya kita semua cakep. Jadi mari kita pulang. Aku sangat yakin kalau para Istri akan sangat mencemaskan kita di rumah," ajak tuan Agung pulang ke rumah.


Venus membuang wajahnya, "Kalau gitu aku harus cepat-cepat cari Istri lah," gumam Venus pelan.


.


.


πŸ’« DI KEDIAMAN RUMAH MARSYA πŸ’«


Marsya dan Aulia berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Sedangkan Ningrum tampak tenang dan anggun duduk di sofa, meski hatinya sebenarnya terus bertanya-tanya apakah keadaan Tarjok dan Andra baik-baik saja di sana.


"Ibu-ibu duduk tenang di sini yuk," ajak Ningrum memukul sofa kosong sebelah kanan dan kirinya.


Aulia dan Marsya langsung duduk di tempat sudah di persilahkan.


Aulia menatap Ningrum, "Tante, apa Andra akan baik-baik saja?" tanya Aulia cemas.


"Apa suami aku juga baik-baik saja?" tanya Marsya juga cemas.


Melihat Ibu dan anak sama-sama gelisah dan cemas, Ningrum hanya bisa tersenyum.


"Lah, kok tersenyum. Apa tante tidak sayang sama Andra?" tanya Aulia penasaran.


"Tentu sayang dong. Mana ada orang tua yang tidak sayang sama anaknya," sahut Ningrum.


"Lantas kenapa kamu bisa tertawa dengan tenang?" tanya Marsya polos.


Di tengah-tengah ketegangan dan kecemasan Marsya dan Aulia. Terlihat lah bayangan empat orang pria masuk ke dalam pintu rumah.

__ADS_1


Ningrum mengalihkan perhatian Marsya dan Aulia ke arah pintu, "Coba lihat siapa yang datang!"


...Bersambung...


__ADS_2