
Pesawat sudah mendarat dengan sempurna. Aulia, Venus, dan Azzuri juga sudah berada di tempat parkiran. Aulia, dan Azzuri sedang menunggu jemputan. Meski berdiri bersamaan, tapi Aulia dan Azzuri tidak saling menyapa.
10 menit menunggu, datang mobil mewah.
Tin!tin
Jemputan Azzuri sudah tiba.
“Aulia, apakah kamu mau pergi bersamaku?” tanya Azzuri sopan.
“Tidak!” ketus Aulia.
“Baiklah, kalau gitu aku pergi duluan,” ucap Azzuri.
Azzuri mengambil koper miliknya, dan berjalan mendekati mobil sudah siap jalan.
Melihat Azzuri hampir sampai ke mobilnya, Venus mendekati Aulia.
“Nona muda, sepertinya Joko tidak bisa menjemput kita. Dan taksi online dari tadi tidak tersedia di dekat sini. Bagaimana jika kita menerima tawaran tuan muda Azzuri,” ucap Venus.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Mana Azzuri sudah mau sampai," sahut Aulia.
"He He, baru buka data saya. Jadi pesannya baru masuk nona," ucap Venus.
"Kalau gitu kita numpang saja."
Merasa ada barang bawaan kurang. Aulia terus berpikir. Lalu ia teringat dengan kucing kesayangan Andra. Yaitu Grey.
Aulia menepuk jidatnya, “Oh iya. Grey! Aku lupa membawa Grey pulang. Bagaimana ini!” ucap Aulia panik.
Ucapan Aulia terdengar sampai ke mobil Azzuri. Azzuri langsung mengerutkan dahinya saat mengingat jika kucing pemberiannya ke tinggalan di tanah air. Kedua bola matanya langsung menatap suram Aulia dari dalam mobil.
“Apa kita sudah bisa berangkat tuan?” tanya Jack memecah pikiran Azzuri.
“Iya, segera berangkat karena aku masih ada rapat untuk membahas peresmian butik yang akan di buka akhir tahun ini,” sahut Azzuri.
Jack mengalihkan bola matanya menatap Aulia, dan Venus, “Sepertinya mereka sedang kesulitan. Apa tuan muda yakin meninggalkan nona muda sendirian di sini?” tanya Jack.
“Tidak. Jika wanita itu ingin memohon kepadaku, maka aku akan memberikan tumpangan kepadanya,” sahut Azzuri datar.
“Baik, kalau gitu kita akan berangkat sekarang,” ucap Jack.
“Hem!"
Jack menghidupkan mesin mobilnya. Sedangkan Azzuri mengganti bajunya dengan baju resmi. Baru saja hendak membuka celananya, Aulia tiba-tiba menggedor kaca jendela mobil milik Azzuri.
Tok!tok!
“Azzuri, aku boleh numpang?” tanya Aulia lembut.
Azzuri langsung cepat-cepat mengancing resletingnya.
__ADS_1
“Kenapa dia seperti hantu. Untung saja kaca mobil ku tidak tembus pandang dari luar. Kalau tidak, dia pasti akan melihat milikku yang hebat dan tangguh ini!”
“Bukannya tuan muda sudah terbiasa menunjukkannya dengan wanita lain,” sambung Jack.
“Diam kamu! Kalau sama Aulia beda cerita!” ketus Azzuri.
“Jadi, apa tuan ingin memberikan tumpangan kepada nona muda Aulia?” tanya Jack.
“Iya,” sahut Azzuri datar.
Jack mematikan kembali mesin mobilnya. Membuka seatbelt, lalu keluar dari mobil menghampiri Aulia.
“Kalau saya boleh tahu, kenapa nona muda mengetuk pintu jendela tuan muda?” tanya Jack pura-pura tidak mengerti maksud Aulia.
“Karena karyawan ku tidak jadi datang menjemput ku, boleh tidak aku menumpang bersama dengan kalian?” tanya Aulia sopan.
Jack berjalan sedikit mendekati pintu mobil penumpang bagian belakang, “Tentu saja boleh,” Jack membuka pintu mobil, “Silahkan masuk,” tawar Jack sopan.
“Kalau duduk di depan bersama dengan kamu, boleh?” tanya Aulia.
“Sudah numpang jangan banyak permintaan,” sambung Azzuri dari dalam.
“Maaf, saya tidak bisa membantah. Jika nona muda ingin naik, silahkan duduk di kursi penumpang bagian belakang,” ucap Jack.
Aulia mengalihkan tatapannya ke Venus, “Kamu tidak masalah duduk bersama dengan Jack di depan?” tanya Aulia.
“Nona muda tenang saja, saya tidak masalah duduk dimana pun asal bersama dengan nona muda,” sahut Venus.
Aulia pun masuk ke bangku penumpang belakang, dan duduk bersebelahan dengan Azzuri. Sedangkan Venus duduk bersama Jack di depan. Setelah Aulia masuk, dan Venus ikutan masuk. Jack melirik ke belakang.
“Apakah kita sudah bisa berangkat?” tanya Jack.
“Iya, tapi sebelum mengantar Aulia kembali ke Apartemen miliknya. Kamu hantarkan aku terlebih dahulu, karena 1 jam lagi rapat akan segera di mulai,” tegas Azzuri.
“Eh…aku sudah tidak tinggal di Apartemen. Aku sudah pindah ke rumah biasa,” sambung Aulia.
“Baik,” sahut Jack patuh.
Jack akhirnya menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan nya meninggalkan parkiran bandara. Mobil pun terus melaju hingga kini memasuki jalur tol. Sejenak suasana di dalam mobil terasa sepi. Aulia dan Azzuri sedang duduk di belakang tiba-tiba terasa kaku dan canggung.
Tidak ingin membuat mobil terasa canggung dan sepi. Jack akhirnya memulai percakapan kepada Aulia.
“Nona muda, saya turut berduka cita atas meninggalnya Suami Anda,” ucap Jack basa-basi.
“Terimakasih atas ucapan belasungkawa dari kamu, Jack,” sahut Aulia sopan.
“Sama-sama,” ucap Jack.
Tidak ingin membuat suasana kembali canggung, Azzuri memulai percakapan baru. Sambil memegang tab miliknya, Azzuri mulai pembicaraannya.
“Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu tidak tinggal di Apartemen lagi?” tanya Azzuri penasaran.
__ADS_1
“Biar bulan madunya terasa lebih enak. Jadi Papa membelikan rumah buat ku. Kalau di Apartemen kami berdua ‘kan tidak bisa sebebas di rumah sendiri,” sahut Aulia datar.
Mendengar Aulia sudah melakukan hal itu kepada mendiang Andra. Azzuri ingin menjahili Aulia. Azzuri mendekatkan wajahnya.
“Sepertinya kamu sangat menikmati hal itu. Kalau kamu merasa kesepian, dan kamu membutuhkan sentuhan, aku siap melakukannya buat kamu!” ucap Azzuri pelan.
Melihat tatapan Azzuri penuh maksud, Aulia langsung menjauh dari Azzuri, dan duduk menyudut.
“Mengerikan. Kedua mata kamu seperti predator siap menerkam mangsanya,” celetuk Aulia.
Azzuri pun kembali ke tempat duduknya, kedua tangan merapihkan jas dan dasi miliknya. Karena 20 menit lagi mobil mereka akan sampai.
“Aku dengar kamu akan membuka butik baru?” tanya Aulia.
Mendengar Aulia bertanya tentang dirinya. Azzuri langsung mendekatkan kembali wajahnya, “Kok tahu! Kamu sekarang berubah menjadi seorang penguntit?!”
Tak!
Aulia jitak puncak kepala Azzuri.
“Bisa tidak kalau ngomong jangan terlalu dekat samaku. Apa kamu pikir kamu itu sangat wangi!” ketus Aulia.
“Kamu kenapa kasar sekali jadi wanita. Apa kamu tidak tahu jika aku sebentar lagi akan mengadakan rapat,” ucap Azzuri kesal.
“Aku tidak perduli,” sahut Aulia membuang mukanya.
Baru saja memulai perkelahian, mobil milik Azzuri sudah sampai di depan gedung putih.
Jack melirik ke belakang, “Tuan muda, kita sudah sampai,” ucap Jack.
Azzuri membuka seatbelt miliknya, lalu membuka seatbelt milik Aulia.
“Eh, kenapa seatbelt milikku di buka?” tanya Aulia bingung.
“Daripada kamu menjadi seorang penguntit yang diam-diam menyelidiki aku. Lebih bagus kamu ikut bersamaku rapat untuk pembukaan butik milikku!” sahut Azzuri.
Azzuri membuka pintu mobil dari dalam, ia juga menggenggam erat pergelangan tangan Aulia. Dan mendorongnya agar Aulia keluar dari dalam.
“Cepat turun!” tegas Azzuri.
Melihat Aulia diperlakukan kasar oleh Azzuri. Venus segera membuka seatbelt miliknya. Saat tangan hendak membuka pintu. Jack langsung menahan tangan Venus.
“Jika kamu ingin nona muda baik-baik saja bersama dengan tuan muda, maka kamu biarkan saja tuan muda mengajak nona muda ikut rapat,” ucap Jack.
“Tapi tidak ini terlihat sangat kasar,” sahut Venus.
“Ini tidak kasar, tuan muda sangat lembut memperlakukan nona muda Aulia,” ucap Jack.
Venus mengerutkan dahi, ‘Lembutnya saja seperti ini. gimana dengan sikap kasar aslinya. Pasti nona muda ku yang rapuh itu bisa remuk seperti peyek. Tidak-tidak, aku harus menuruti ucapan Jack agar nona muda bisa selamat di tangan tuan muda Azzuri,’ batin Venus.
...Bersambung...
__ADS_1