
Andra dan Aulia sedang berdiri di depan kafe kecil. Kafe kecil bertulisan A&A untuk nama kafe. Kafe kecil ini akan di buat menjadi tempat usaha nongkrong minuman kopi kekinian buat semua kalangan.
Andra juga sudah meminta tolong tuan Agung untuk merekrut beberapa orang ahli di bidang menyajikan dan memasak makanan tradisi di Negara ini. Bukan itu saja, Andra juga sudah mendatangkan 2 koki terbaiknya untuk menyajikan masakan ala Negeri sendiri di kota ini.
“Kafe minimalis yang cukup lumayan bagus bagiku,” puji Aulia melihat dekorasi kafe baru Andra dari luar.
“Terimakasih,” ucap Andra.
“Jadi kapan tempat nongkrong ini akan di buka?” tanya Aulia penasaran.
“Karena semua barang dan bahan sudah terisi penuh, kalau bisa kita mulai nanti sore saja. Untuk pembukaan awal kafe aku akan memberikan kopi dan beberapa cemilan dari dua Negara berbeda secara gratis kepada semua pejalan kaki yang melewati kafe. Bagaimana menurut kamu?”
“Bagus, kalau gitu mari kita mulai sekarang,” ucap Aulia menggenggam tangan Andra dan membawanya masuk ke dalam kafe.
Melihat Aulia dan Andra masuk ke dalam kafe, 2 orang koki di datangkan dari dalam Negeri, dan 2 orang koki dari kota asal ini menundukkan pandangannya.
"Selamat datang tuan dan nona," sambut mereka serentak.
Andra melambai, “Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku Andra. Aku ini sama seperti kalian kok,” ucap Andra merasa risih dengan panggilan formal.
“Benar, jangan panggil aku nona. Aku sudah bosan mendengar ucapan itu. Jadi panggil saja aku Aulia,” sambung Aulia.
“Tapi…kami…”
“Sudahlah santai saja,” bola mata Andra melirik ke ruang kafe, “Kira-kira di mana 5 orang pelayan yang akan membantu kalian?” sela Andra mencari 5 orang karyawannya tidak terlihat di dalam kafe.
“Mereka lagi ada di gudang, membereskan semua makanan dan minuman,” ucap karyawan Indo.
“Kalau gitu panggil semua karyawan untuk berkumpul di sini. Karena aku ingin menyapa dan mengetahui lebih jelas nama-nama karyawan ku yang akan bekerja keras buat ku di sini,” ucap Andra memberi perintah.
“Baik, saya akan memanggilkan mereka,” ucap salah satu karyawan.
Kini karyawan berkumpul sesuai dengan keinginan Andra. mereka berdiri dengan tegap kedua mata memandang lurus ke Andra dan juga Aulia.
“Kenapa semua karyawannya cakep-cakep. Hatiku kan jadi deg-degan,” ucap Aulia polos saat melihat semua karyawan pilihan Andra bertubuh kekar, dan wajah putih mulus tanpa noda.
“Ehem, apa suami kamu tidak cakep dan tidak membuat kamu deg-degan?” tanya Andra sedikit cemburu.
__ADS_1
“Tidak, tentu saja kamu paling utama di hatiku,” sahut Aulia sembari memeluk Andra.
Aulia melepaskan pelukannya, “Kalau gitu mari kita lanjut perkenalannya,” ucap Aulia tidak sabar mendengar nama-nama karyawan Andra.
“Silahkan perkenalkan diri,” ucap Andra memberi perintah karyawan orang Indo.
Karyawan orang Indo di sisi kiri segera membusungkan dadanya, “Perkenalkan nama saya, Joko, umur saya 20 tahun. Pekerjaan saya koki. Tujuan saya mau bekerja dan ikut tuan Andra ke sini ada dua. Satu, ingin mengumpulkan uang untuk melamar kekasih saya yang ada di kampung. Dan tujuan kedua saya untuk membuat semua orang di Negera ini bisa merasakan gimana kelezatan masakan Indonesia.”
Aulia memberi tepuk tangan, “Prok!prok!” lalu memberikan dua jempol, “Tujuan hidup pertama aku suka. Semoga usaha kamu mengumpulkan uang untuk melamar kekasih kamu tidak sia-sia. Kalau dia selingkuh kamu bisa mencari wanita di sini, wanita di sini lebih…”
Andra langsung membungkam mulut Aulia, “Aulia, kamu tidak boleh mematahkan semangat orang lain. Kamu harus berfikir positif,” bisik Andra menyadarkan kejujuran Aulia.
“Maaf, bagiku tidak masalah dia berselingkuh di luar sana. Asal, asal jangan dia hamil dengan orang lain nikahnya sama saya!” tegas Joko menjawab ucapan Aulia.
“Wah! Kamu memang luar biasa. Tipe pria idaman banget,” ucap Aulia polos.
“Aulia,” panggil Andra menekan nada suaranya.
“Iya,” sahut Aulia semangat.
“Kalau gitu selanjutnya,” tegas Andra kepada pria muda di sebelah Joko.
“Jadi kamu ceritanya patah hati?” tanya Aulia penasaran.
Didin mengangguk.
“Berarti kamu cocok menjadi penyaji minuman kopi ala Negeri kita. Biasanya orang yang masih menaruh rasa sakit hati dan dendam, dia akan pandai menyajikan kopi pahit seperti kehidupan cintanya,” ucap Aulia dengan pikirannya sendiri.
“Aulia,” panggil Andra menghentikan omongan Aulia.
“Iya,” sahut Aulia polos.
“Kalau gitu lanjut yang kamu,” ucap Andra kepada pemuda berwajah asing.
Pria berwajah asing membusungkan dadanya, “Nama saya Carlos, umur 27 tahun. Pekerjaan saya koki. Saya melamar di sini karena saya bertemu dengan tuan Agung dan meminta pekerjaan kepadanya untuk membantu saya membiayai Ibu saya sedang sakit.”
“Semoga Ibu kamu cepat sembuh ya,” sambung Aulia.
__ADS_1
“Aulia,” panggil Andra lembut.
“Iya,” sahut Aulia.
“Kalau kamu,” tunjuk Andra ke pria di sebelah Carlos.
Pria berdarah asing itu berdiri dengan tubuh tidak sempurna, senyum genit sesekali terlempar saat melihat wajah Andra, “Saya adalah Willy, umur saya 23 tahun. Pekerjaan saya koki. Tujuan saya bekerja di sini karena saat saya melihat ada pendaftaran untuk koki dan melihat pemiliknya cukup tampan. Saya langsung tertarik, dan saya juga akan berusaha keras untuk memajukan kafe ini dengan cita rasa cinta yang saya limpahkan ke semua masakan yang akan tersaji di kafe kekinian ini. Inti dari semua tujuan saya adalah, untuk memikat hati Andra,” ucap Willy tidak malu.
Aulia terdiam, sejenak bola mata indahnya melihat Willy. Dan berakhir pada Andra, “A-apa maksud dari pria itu?” tanya Aulia panik saat ada seorang pria tampan menggoda suaminya.
Dengan santai Andra menjawab, “Maksud dia adalah karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Dan ingin meluapkan rasa cintanya ke dalam menu makanan ringan lainnya untuk menarik pelanggan,” ucap Andra menjelaskan dengan kebohongan sedikit.
“Oh” ucap Aulia mengangguk polos.
“Kalau gitu biarkan mereka memperkenalkan diri biar kita cepat selesai ya?!” bujuk Andra untuk menghentikan pertanyaan Aulia.
“Hem” sahut Aulia patuh.
Lima pelayan lainnya mulai memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Dodo, umur 19 tahun. Saya hanya pelayan biasa di sini.”
“Nama saya Danies, umur 29 tahun. Karena saya suka hal yang bersih, maka saya suka menjadi OB.”
“Nama saya Bimo, umur 25 tahun. Karena saya suka melayani orang dengan baik, maka saya akan berusaha memberikan pelayan terbaik yang ada di kota ini.”
“Nama saya Daniel, umur 21 tahun. Karena saya hobinya memaksa orang lain untuk singgah ke pelabuhan hati saya. Maka saya akan memaksa semua orang yang lewat untuk masuk ke kafe ini.”
“Nama saya Jack, umur 26 tahun. Hobi saya adalah tebar pesona. Saya juga akan memaksa semua para wanita untuk singgah dan mampir menikmati semua menu yang akan kita sajikan di kafe ini.”
9 karyawan Andra membungkukkan sedikit tubuhnya dengan serentak sembari berkata, “Mohon bimbingannya. Dan terimakasih sudah mau menerima kami sebagai karyawan Anda.”
Aulia memberi tepuk tangan meriah, “Prok! Prok! Keren. Semua karyawannya sama seperti karyawan milikku. Jadi kita semua harus saling kompak. Dan ingat, bekerja itu tidak perlu saling menjatuhkan satu-sama lain. Kalau di awal kita berhasil menjatuhkan teman kita agar kita bisa naik. Maka kesenangan itu tidak akan berlangsung dengan lama. Kalian harus ingat pesanku, okay?!” ucap Aulia sedikit memberi wejangan buat semua karyawan Andra.
“Siap!” sahut semua karyawan Andra serentak.
“Kalau gitu mari kita mulai membuat masakan agar kita bisa buka sore ini juga. Apa kalian semua semangat?” tanya Andra di kalimat terakhir tegas.
__ADS_1
“Semangat!” sahut serentak 9 karyawan sembari melambungkan tangan mereka.
...Bersambung...