
Setelah mendengarkan kejujuran Pak satpam. Tuan Agung, dan Venus segera melepaskan Pak satpam dengan satu syarat, tidak boleh takut dengan ancaman apa pun jika masih ingin bekerja, dan tidak di tahan oleh pihak berwajib.
“Venus, apa jangan-jangan tangan kamu terluka adalah ulah dari wanita tersebut?” tanya tuan Agung teringat dengan perban penutup luka masih menempel di telapak tangan kanan Venus.
“Maafkan saya, tuan. Saya rasa seperti itu. Tapi, kenapa wanita itu ingin mengetahui jika saya adalah suami nona muda atau bukan. Ketika saya katakana ‘Iya’ wanita itu langsung ingin menusuk saya. Tapi saya langsung menangkisnya. Melihat saya mengeluarkan banyak darah, wanita misterius itu langsung kabur bersama seorang pengendara sepeda motor sport,” jelas Venus jujur.
“Kenapa kamu memberitahukan ini semua sekarang? Kenapa tidak waktu pertama kali kamu di serang seperti itu?!” tanya tuan Agung sedikit menekan nada suaranya saat mengetahui Venus menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya.
“Maafkan saya tuan,” Venus membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Sudah..sudah. Kamu cepatlah berdiri tegak, aku tak ingin Aulia melihat jika kamu membungkuk seperti ini. Jika dia adalah wanita kelas atas seperti Aulia, kemungkinan besar besok pasti dia akan datang ke acara pertunangan tuan muda Alexdian. Kalau gitu, kita harus susun rencana malam ini juga. Malam ini kamu harus datang ke ruang kerja, kita akan membahas bagaimana cara menangkap wanita jahat tersebut,” ucap tuan Agung berniat membuat rencana untuk menangkap wanita peneror Aulia.
“ Pa…Venus!” teriak Aulia memanggil tuan Agung dan Venus dari teras belakang rumah.
Tuan Agung, dan Venus spontan berbalik, “Iya!” sahut Venus, dan tuan Agung bersamaan.
“Waktunya makan,” panggil Aulia menyuruh tuan Agung, dan Venus untuk masuk dan segera makan karena Marsya sudah selesai masak makan malam.
“Iya, kami akan segera masuk. Kamu masuk duluan saja, Nak.” Teriak tuan Agung.
Aulia berbalik, ia pun kembali masuk ke dalam rumah setelah selesai menyampaikan pesan kepada tuan Agung, dan Venus.
“Venus, kamu harus ingat ya. Kamu tidak boleh membicarakan ini kepada Aulia. Walaupun aku sangat yakin jika Aulia sekarang pasti bertanya-tanya siapa wanita pengantar paket itu, dan kenapa banyak kotak yang di kirimkan ke rumah,” ucap tuan Agung mengingatkan Venus.
“Siap, saya janji tidak akan memberitahu nona muda kecuali, nona muda sendiri yang mengetahuinya, dan bertanya sendiri tentang semua kejadiannya,” sahut Venus berjanji.
“Kalau gitu mari kita masuk,” ajak tuan Agung masuk ke dalam rumah.
Tuan Agung, dan Venus sudah sampai di meja makan, dan duduk di kursi mereka masing-masing.
__ADS_1
“Pa..kenapa lama sekali?” tanya Aulia.
“Oh..Papa dan Venus sedang membicarakan sesuatu yang penting tadi,” sahut tuan Agung berbohong.
“Pa..malam ini kita keliling yuk,” ajak Aulia merasa bosan di rumah.
“Jangan malam ini ya, Nak. Papa dan Venus ada pekerjaan sedikit nanti. Besok malam saja, setelah kita pulang dari kediaman rumah tuan muda Alexdian,” bujuk tuan Agung.
“Sudah-sudah. Sebaiknya kita makan dulu, lalu membahas tentang rencana jalan-jalan,” putus Marsya menyudahi percakapan karena sudah waktunya untuk makan.
“Kalau gitu mari kita berdoa,” ucap tuan Agung, kedua tangannya menyatu di depan dada. Setelah selesai membaca doa makan, tuan Agung, Aulia, Venus, dan Marsya menikmati santap makan malam mereka.
Selesai makan malam Aulia membantu mengeringkan piring, dan meletakkannya ke rak. Sedangkan tuan Agung, dan Venus menuju ruang kerja sesuai dengan pesan tuan Agung. Setelah Kini Aulia, dan Marsya sudah selesai mencuci piring, dan merapihkan meja dapur. Karena tuan Agung masih ada pekerjaan dengan Venus. Marsya jadinya menemani Aulia tidur di kamar.
“Nak, perut kamu sudah kelihatan jelas sekarang,” ucap Marsya melihat perut buncit Aulia sangat menonjol saat memakai baju piyama.
“Eh…jangan sampai kamu melakukan itu, ya. Jika sampai Mama lihat kamu melakukan itu kepada calon cucu kembar Mama. Kamu nanti akan Mama jadikan rempeyek,” ancam Marsya menakut-takuti Aulia.
Aulia tidur dengan merubah posisi tidurnya miring menghadap Marsya.
“Ma,” panggil Aulia.
“Ada apa, sayang?” sahut Marsya, tangannya membelai lembut puncak kepala Aulia.
“Apakah melahirkan itu sakit?” tanya Marsya.
“Sakit-sakit enak. Kenapa sayang?” tanya Marsya ikut merubah posisi tidurnya menghadap Aulia.
Aulia membenamkan wajahnya ke dua gunung kembar Marsya, dan memeluk Marsya sangat erat, “Ma..aku takut. Aku sebenarnya takut saat aku mengetahui menjadi Ibu. Aku takut melahirkan, aku takut tidak sanggup membesarkan kedua anakku dengan baik dengan melakukan peran ganda,” curhat Aulia.
__ADS_1
“Nak, kamu tidak sendiri. Dan jangan katakan jika kamu akan menjadi orang tua tunggal. Kamu masih punya Azzuri, Mama, Papa, dan Venus. Jadi, kamu jangan merasa kamu akan membeserkan kedua anak mu hanya seorang diri,” sahut Marsya untuk menenangkan kegundahan Aulia.
“Kenapa Mama menyebut nama Azzuri! Dia itu bukan pria yang baik. Aku tidak ingin mendengar nama Azzuri lagi!” tegas Aulia seperti tak suka.
“Aulia, bagaimanapun ceritanya. Anak-anak kamu butuh sosok Ayah biologisnya, dan Ayah biologis mereka juga masih hidup. Apa kamu tega jika anak kamu suatu saat di hujat habis-habisan karena tidak memiliki Ayah?” jelas Marsya lembut, dan harus menyakinkan Aulia untuk segera menerima Azzuri sebagai Ayah dari cucu-cucunya.
Aulia memutar badannya membelakangi Marsya, menarik selimut, dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Jika Azzuri itu adalah Andra, maka aku akan menerima Azzuri sebagai Ayah biologis anak-anakku. Selain itu, aku tidak menerima pria manapun selain Andra!” tegas Aulia.
“Nak, Mama harap kamu tidak menyesali keputusan kamu. Sekarang mari kita tidur,” ajak Marsya, tangannya menekan tombol lampu tidur. Membuat kamar Aulia berubah menjadi redup.
“Selamat tidur Ma,” salam Aulia sebelum tidur.
“Selamat tidur sayang, jangan lupa untuk membaca doa. Mama mau turun sebentar karena jendela kamu sepertinya belum tertutup rapat,” sahut Marsya saat melihat jendela kamar Aulia belum tertutup rapat.
Marsya turun dari ranjang, kakinya melangkah mendekati jendela kamar. Baru saja Marsya hendak menutup jendela kamar, kedua mata Marsya di kejutkan dengan sosok pria mirip Azzuri sedang berkelahi dengan seorang wanita beserta 2 anak buahnya.
“Sepertinya itu Azzuri. Dan kenapa wanita itu diam saja saat Azzuri dipukuli. Aku harus segera memberitahu tuan Agung,” gumam Marsya cemas.
Marsya pun dengan cepat melangkah keluar dari kamar Aulia.
“Apa tadi Mama menyebut nama Azzuri sedang di pukuli,” gumam Aulia ternyata belum tidur, dan mendengar perkataan Marsya.
Aulia penasaran turun dari ranjang, kakinya melangkah mendekati jendela kamar.
“Tidak akan kubiarkan!” tegas Aulia, kakinya refleks melangkah keluar dari kamarnya.
...Bersambung...
__ADS_1