Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 75. Uring-uringan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Setelah meminta izin kepada Andra dan kedua orang tua Aulia 3 hari lalu untuk kembali pulang ke Paris, karena Aulia masih banyak pekerjaan. Kini Aulia, Andra, Venus, Marsya, Tarjok, tuan Agung, dan Ningrum. Mereka semua akhirnya sudah sampai di Landasan jet pribadi milik tuan Agung. Sebuah mobil mewah jenis Limousine dengan satu orang supir sudah berdiri di depan samping mobil.


Mereka semua pun melangkah kedua kaki serentak menuju mobil.


Sepanjang kaki melangkah Aulia terus bertanya-tanya ini mobil siapa dan kenapa terlihat masih sangat baru. Bola mata Aulia juga tertuju pada Plat memiliki Insial "A2". Aulia melirik ke tuan Agung, “Mobil baru Pa?” tanya Aulia.


“Iya. Habisnya Papa ada menang tender ratusan triliun. Papa bingung mau meletakkan uangnya ke mana. Karena Papa mengingat kamu sudah menikah dan kita semua menjadi saudara. Jadi, Papa beli saja mobil ini buat kamu pakai. Dan Papa juga sudah membelikan rumah layak untuk kamu tempati di sini bersama dengan Andra dan anak-anak kalian nantinya,” sahut tuan Agung sedikit berbisik karena ucapannya tidak ingin menyinggung Andra.


Aulia menghentikan langkah kakinya, “Maaf Pa. Bukannya Aulia menolak, tapi Aulia ingin bilang lain kali Papa jangan seperti ini. Umur ku ‘kan sudah bertambah, dan aku juga sudah menikah jadi biarkan kami menjalani hidup kami dengan uang kami sendiri,” ucap Aulia menolak secara halus.


“Aulia, kamu adalah anak Papa dan Mama satu-satunya. Papa mencari uang juga buat kamu, dan sekarang Andra juga Papa anggap sebagai anak Papa sendiri. Apa Papa salah ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak Papa?”


“Pa, maksud aku….”


“Maaf kalau aku ikut campur dengan urusan Om dan Aulia. Apa yang dikatakan Aulia itu benar Om. Dan apa yang Om katakan juga itu benar,” Andra membelai puncak kepala Aulia, “Intinya kamu tidak boleh menolak pemberian Papa kamu.”


“Baiklah,” sahut Aulia patuh.


Tuan Agung membungkukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih Andra…terimakasih menantu terhebatku. Kalau kamu tidak ada aku rasa Aulia pasti akan memulangkan kembali semua barang-barang tersebut,” ucap tuan Agung bernafas lega.


“Sama-sama Om, tapi tetap saja Om harus memberitahu kami terlebih dahulu sebelum membeli.”


“Iya, Papa ini menyebalkan. Dan satu lagi, apa Papa tidak ingat ini hari apa? kalau tidak ingat mari kita masuk ke dalam mobil,” ajak Aulia menggandeng tangan Andra.


“Aulia….Andra! kok kalian jadinya musuhi aku. Apa salah ku, aku hanya bingung mau meletakkan uang di mana lagi,” ucap tuan Agung sedikit meninggikan nada suaranya karena Aulia dan Andra sudah berada jauh di depan.


Aulia dan Andra tidak menggubris ucapan tuan Agung. Mereka terus berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang sampai masuk ke dalam mobil. Merasa ingin di tinggal sendirian di landasan jet pribadi miliknya. Tuan Agung mempercepat langkah kakinya menuju mobil.


Setelah tuan Agung masuk di dalam mobil. Suasana tampak berbeda, Aulia terus membuang wajahnya ke sisi lain membuat tuan Agung bertmbah bingung melihat putri kesayangannya merajuk seperti ini.

__ADS_1


Karena semuanya sudah masuk, dan mobil sudah menyala. Supir melirik ke kaca spion tengah, “Apa semuanya sudah siap?” tanya supir tersebut.


“Sudah, jalankan mobil menuju rumah yang sudah aku berikan Alamatnya ke kamu!” tegas tuan Agung memberi perintah.


“Baik,” sahut supir melajukan mobilnya perlahan.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi ke Alamat tersebut. Sepanjang perjalanan Aulia, dan tuan Agung tampka hening, sedangkan yang lain sibuk membahas hal lain. Dan hal itu tidak diketahui mereka semua kecuali, Andra. 30 menit kemudian mobil sampai di depan gerbang putih menjulang tinggi ke atas.


3 pria bertubuh tegap, berbaju serba hitam membuka gerbang. Terlihat rumah bergaya klasik modern dengan halaman cukup luas, ada pepohanan apel, Mangga. Ada juga setumpuk taman bunga dengan berbagai warna, kolam ikan kecil, dan garasi mobil cukup luas dengan beberapa mobil lama Aulia sudah mengisi dalam garasi mobil.


Marsya, Ningurm dan lainnya tercengang. Bola mata mereka langsung tertuju ke tuan Agung.


“I-ini rumah siapa?” tanya Marsya panik.


Tuan Agung menyatukan kedua telapak tangannya menghadap Aulia, “Ma..mohon maafkan Papa. Maafkan Papa tidak memberitahu Mama membeli rumah di sini untuk Aulia dan Andra. Dan..dan anggap saja ini adalah kado pernikahan Papa dan Mama buat Aulia!” tuan Agung menarik tangan Marsya dan meletakkannya di dahinya, “Papa mohon jangan marahi Papa. Cukup Aulia dan Andra saja yang marah sama Papa. Mama jangan ya, Ma!” sambung tuan Agung cemas akan amukan Marsya.


Melihat tuan Agung terus berbicara dan meminta maaf seperti anak kecil, hati Marsya luluh. Tangan kanannya mengelus punggung tuan Agung, “Papa ini kenapa harus meminta maaf segala. Rumahnya bagus kok, berapa Papa membelinya?” tanya Marsya penasaran dengan harga rumah sebagus ini.


Mereka semua pun turun dari mobil, saat kedua kaki sama-sama berdiri di samping mobil terlihat 5 pelayan bejejer di mulai dari depan pintu rumah sampai ke dalam menyambut kedatangan Aulia dan lainnya.


Aulia menoleh ke tuan Agung, “Kenapa ada pelayan dan penjaga di rumah ini. Dan sjeak kapan Papa memindahkan mobil aku ke sini?” tanya Aulia kesal.


“Sudah 1 minggu yang lalu. Semua Papa lakukan hanya untuk kenyamanan kamu. Papa tidak ingin terjadi hal buruk menimpa kamu saat kami tidak bisa menemani kamu sendirian di rumah ini,” sahut tuan Agung mengingat 1 minggu sebelum pernikahan Aulia dan Andra berlangsung, tuan Agung sudah memilih rumah buat hadiah pernikahan mereka. Dan di saat Aulia masih di Indonesia, tuan Agung dengan cepat menyuruh petugas untuk memindahkan semua barang Aulia ke rumah baru.


Aulia semakin kesal saat mendengar kejujuran tuan Agung. Kedua kaki Aulia dihentakan, “Aku kesal sama Papa,” rengek Aulia. Kedua kaki ia bawa berlari masuk ke dalam rumah.


“Aulia!” teriak mereka serentak.


“Biar aku saja yang membujuk Aulia,” sambung Andra bergegas menyusul Aulia masuk ke dalam.

__ADS_1


Tuan Agung melirik ke Marsya, “Aulia kenapa mendadak berubah dewasa?” tanya tuan Agung bingung.


“Mama juga heran kenapa Aulia mendadak aneh,” sahut Marsya ikutan heran.


“Mungkin karena umurnya akan beranjak memasuki 20 tahun,” sambung Tarjok.


“Oh iya!” ucap Ningrum dan Marsya serentak.


“Oh iya kenapa?” tanya tuan Agung dan Marsya serentak.


“Bukannya hari ini adalah hari ulang tahun Aulia. Kenapa kita bisa lupa! Pantes saja sikapnya jadi uring-uringan seperti itu, ternyata hari ini kita semua melupakan tanggal lahirnya!” ucap Ningrum.


“Mama apa aku ini? masa anak ulang tahun saja aku bisa lupa,” sambung Marsya sedikit kecewa pada dirinya sendiri.


Ningrum mengelus kedua lengan Marsya, “Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita semua di sini juga bersalah kok. Daripada merenungi kesalahan sendiri, lebih baik kita masuk ke dalam,” ucap Ningrum memberi saran.


Marsya menoleh ke tuan Agung, “Pa, di dalam lengkap bahan makanan dan yang lainnya?”


“Lengkap. Papa sudah memenuhi semuanya 3 hari sebelum kita berangkat ke sini,” sahut tuan Agung.


“Oh iya, aku baru ingat tentang kamar hotel yang sudah kita pesan. Itu gimana jadinya ya?” tanya Ningrum panik.


Dengan santainya Tarjok berkata, “Sudah dibatalkan dari jauh hari.”


Ningrum mengelus dada, “Syukurlah,” ucap Ningrum lega.


“Kalau gitu mari kita masuk dan kasih kejutan ulang tahun buat Aulia,” sambung Marsya menarik tangan Ningrum masuk ke dalam.


Venus melirik ke tuan Agung, “Tuan. Apa benar ini hari ulang tahun nona muda?” tanya Venus ikut melupakan tanggal hari lahir Aulia.

__ADS_1


“Aku juga lupa,” sahut tuan Agung datar.


__ADS_2