
"Jack, segera hentikan semua program kita. Kembalikan semua uang mereka dan jangan lupa, ancam setiap musuh yang ingin mengusik ketengan tuan Agung dan juga Aulia," Azzuri melirik tajam, "Lakukan dengan baik, atau kamu akan tahu akibatnya."
"Baik tuan," sahut Jack patuh. Kedua kaki segera melangkah menuju ruang tersembunyi terletak di bawah tanah.
Azzuri mengelus dagu licin nya, "Anda tenang saja tuan Agung. Aku akan sedikit merubah cara bermainku, asal. Asal Aulia bisa menjadi milikku!" gumam Azzuri pelan.
.
✨ Di sisi lain ✨
APARTEMEN AULIA
Andra sedang membantu Marsya menyusun makanan di atas meja. Terlihat wajah Andra tampak gelisah, seperti ada hal sedang di sembunyikannya.
Marsya memegang bahu bagian belakang Andra, "Jangan dipendam. Bicarakan saja sama tante."
Sejenak senyum tipis melintas di bibir Andra. Helaan nafas terdengar terasa sedikit berat.
"Apa terlalu berat untuk diluapkan?" tanya Marsya menarik kursi dan duduk.
"Kisah cintaku dengan Aulia seperti ada di sebuah cerita berjudul, 'Cinta Masa Kecil Presdir Cantik'. Terlalu banyak rintangan yang kami lalui-" Andra menggantung ucapannya, tangan kanan mengepal erat, "Apakah perjuangan ku akan sia-sia?"
"Jika kisah cinta, rumah tangga dan yang lainnya terdengar cukup indah dan tidak memiliki rintangan. Buat apa sebuah kata 'Semangat' dan 'Sabar' harus di ciptakan. Buat apa juga Allah memberikan air mata dengan rasa asin? jika air mata terasa manis, kita tidak akan pernah merasakan di balik tangisan pasti ada sebuah kalimat 'Kebahagiaan'!" tangan kanan mengelus punggung Andra, "Atas nama Aulia, tante minta maaf dengan segala kerendahan hati. Maafkan Aulia sudah berjanji ingin menikah dan menunggu kamu, tapi malah berpacaran dengan pria lain di sini," sambung Marsya penuh penyesalan karena sudah membuat Andra sedikit kecewa.
"Aku sudah memaafkan Aulia kok tante. Dan Aulia juga sudah katakan jika dirinya sudah berpisah dengan pria itu. Tapi Azzuri saja yang tidak mau berpisah dengan Aulia! " tangan kanan menggaruk kepala tak gatal, "Cinta ini memang rumit, ya!"
"Lebih rumit lagi kisah tante dan juga tuan Agung. Seorang gadis menjadi istri kedua, yang satu suami orang. Gimana coba? awalnya tidak saling cinta. Namun karena seteguk kopi penambah stamina pemberian seseorang. Jadi lahirnya Aulia," ucap Marsya mengingat waktu dulu.
"He He! rumit juga ya tan!"
"Jadi apa kamu masih ingin menyerah untuk merebut Aulia kembali?" tanya Marsya sedikit menggoda.
Saat Andra dan Marsya bersenda-gurau, Aulia perlahan meraba keluar dari kamar. Berbekal pendengaran dan juga kedua tangan Aulia terus berjalan tak tentu arah, "Ma...apa Mama ada di situ?" tanya Aulia terus berjalan, hingga kedua kakinya hampir mendekati anak tangga.
"Bukannya itu suara Aulia?" tanya Andra mengarahkan tangan kanannya ke lantai dua.
"Kamu benar!"
"Gawat, bisa-bisa Aulia nanti jatuh!" Andra segera berlari menuju anak tangga. Dan benar saja, kaki kanan Aulia kini hendak menginjak ke anak tangga. Namun dengan cepat Andra berkata, "STOP!"
__ADS_1
Aulia langsung menghentikan langkah kakinya. Kedua mata kosong memandang ke sekeliling, "Andra, kamu di sini?" tanya Aulia senang.
"Iya. Aku selalu ada untuk kamu," ucap Andra sambil melangkah cepat menaiki anak tangga.
"Mama di mana?" tanya Aulia.
"Tante ada di bawah, sedang memasak makanan buat kamu," Andra merangkul Aulia, "Mari kita turun. Aku sangat yakin pasti kamu sangat-sangat lapar!"
"Iya," tangan kanan mengelus perut langsingnya, "Saat aku mencium aroma masakan Mama perut ini mendadak demo. Pasti Mama masak yang enak buatku?" sambung Aulia melirik ke sisi kiri.
"Lebih dari enak. Mari kita turun, biar aku tuntun kamu ke bawah," ajak Andra mulai melangkahkan kaki kanannya.
Aulia melirik ke sisi kiri, "Aku merasa seperti beban bagi kamu!"
"Bukannya dari kecil aku sudah menjaga dan melindungi kamu. Jadi bagaimana hal sekecil ini bisa di bilang beban," sahut Andra sambil melangkah.
"Aku jadi merasa bersalah pada kamu. Sudah berselingkuh. Eh...langsung dapat karma. Mana yang selalu mengurus aku adalah orang yang aku khianati. Sepertinya aku tidak pantas untukmu. Bagaimana kalau kamu mencari wanita yang lebih baik dariku!"
Seerrrr!!!!
Kalimat terakhir membuat darah berjalan cepat ke seluruh tubuh Andra. Kedua kaki mereka juga terhenti di bawah tangga.
"Kesalahan yang tidak disengaja dan demi menyelesaikan suatu masalah masih bisa dimaafkan. Bagaimana bisa seorang kekasih berkata dengan sangat tenang kepada kekasihnya untuk mencari penggantinya setelah membuat sebuah janji. Di Dunia ini manusia tidak ada yang baik. Jika ada seseorang yang baik, pasti dia juga memiliki sikap yang tak baik. Dan manusia tidak ada yang sempurna. Yang sempurna itu hanya satu, yaitu Allah!" ucap Andra menahan sesak di dada, dan berusaha tenang.
Andra memegang dagu Aulia, "Aku sangat mencintai kamu. Jadi jangan suruh aku untuk mencari wanita lain untuk menggantikan posisi kamu di hatiku!" perlahan wajah mereka semaki dekat.
"Ehem" dehem Marsya tersenyum manis berdiri di depan Aulia dan Andra.
"Tante!"
"Mama!"
Ucap Andra dan Aulia terkejut. Kedua tangan saling melepas, masing-masing wajah di buang ke lain sisi.
"Apa Mama mengganggu?" Marsya berbalik badan, lirikan manis tertuju ke Andra, "Kalau gitu lanjut dulu, biar Mama pergi," sambung Marsya melangkah pergi.
"Tante salah paham!" ucap Andra sedikit meninggikan nada suaranya.
Andra meraup wajahnya, 'Suasana ini sangat mengerikan. Kenapa di saat selesai marah pada seorang kekasih, rasanya hati ingin berbuat mesra dan lainnya.'
__ADS_1
"Kamu pasti malu?" tanya Aulia polos.
"Ma...mari kita ke ruang makan," ajak Andra mengalihkan pembicaraan. Andra segera merangkul Aulia dan membawanya menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan. Marsya masih senyum-senyum sendiri mengingat Andra terkenal kalem dan sedikit kaku ingin mencium Aulia. Sebenarnya Marsya tidak ingin mengganggu, tapi kalau dibiarkan takutnya bisa merambat ke jalur lain. Jadi Marsya segera menghentikannya, apalagi Andra dan Aulia sedang berjuang demi mencapai masa depan indah buat mereka berdua.
"Sudah siap?" tanya Marsya dengan seribu makna.
"Mama!" ucap Aulia malu-malu.
Ding dong!!!!
"Nah, waktu yang pas. Sepertinya Papa sudah pulang. Kalian tunggu di sini, biar Mama yang buka pintu," ucap Marsya melangkahkan kedua kakinya menuju pintu.
Ding dong!!!!
Bel sekali lagi berbunyi.
"Iya, tunggu!" teriak Marsya mempercepat langkah kakinya. Marsya membuka pintu. Kedua bola mata Marsya membulat sempurna saat melihat banyak kotak hadiah dan 5 orang pengantar paket berdiri di depan pintu Apartemen. Jari telunjuk mengarah secara berganti ke pengantar paket, "KA...kalian sepertinya salah mengantar hadiah ini semua!"
"Tidak. Ini semua bingkisan dari beberapa pengusaha buat nona muda Laksmana Aulia. Semua hadiah ini dikirim sebagai tanda permintaan maaf, dan juga bingkisan obat dan vitamin lainnya buat nona muda Laksmana Aulia agar cepat sembuh!" tegas salah satu pengantar paket.
"Ada apa ini?" tanya tuan Agung baru saja sampai.
"Sebuah paket dari beberapa pengusaha buat nona muda Laksmana Aulia," sahut pengantar paket lainnya.
"Letakkan saja di dalam," ucap tuan Agung dingin.
"Loh Pa. Kita tidak mengenal mereka semua, jadi bagaimana bisa Papa menerima paket hadiah ini!" ucap Marsya bingung.
"Tapi Papa tahu. Ini semua ulah Azzuri Mahendra. Pemuda satu ini benar-benar tidak ingin melepas Aulia," tuan Agung memijat dahinya, "Haaaa ..cinta yang sulit!"
"Papa kok tahu?" tanya Marsya penasaran.
"Tadi ke rumahnya," tuan Agung mendekati Marsya, tangan kanan memegang dagu, "Intinya kamu tidak boleh pusing memikirkan ini. Biar Aulia yang menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa menasehatinya saja," tuan Agung mendekatkan wajahnya, "Kenapa kamu semakin cantik. Rasanya aku ingin...."
"Tuan..ada anak kecil di sini!" sela Venus menunjuk dirinya.
"Ha ha" tuan Agung menggaruk kepala tak gatal, "Hampir saja aku melahap Istriku di depan kamu!"
__ADS_1
"Iih...Papa genit deh!" cubit Marsya malu-malu.
...Bersambung ...