
"Aku bukan pria berpengalaman. Tapi aku pastikan, aku akan memberikan kelembutan itu.”
“Mari kita lakukan sekarang,” ucap Aulia merebahkan tubuhnya.
Andra memutar posisi tidurnya membelakangi Aulia, “Kamu jangan bercanda. Aku masih bisa menunggu kamu, jadi jangan paksakan hal itu untuk dilakukan,” sahut Andra menolak permintaan Aulia.
“Aku serius,” ucap Aulia.
Andra berbalik badan, dan memeluk Aulia, “Kamu jangan terus berkata seperti itu. Jika aku nekad bagaimana?” tanya Andra.
Dengan entengnya Aulia menjawab, “Aku sudah siap kok!” Aulia melepaskan diri dari kungkungan Andra.
Cup!
Satu ciuman manis mendarat di bibir Andra.
Andra membulatkan kedua bola matanya, “Apa kamu baru saja mencium ku?” tanya Andra panik.
Aulia mengangguk, “Tentu. Karena aku penasaran mari kita coba untuk melakukan hal ini!” tegas Aulia.
“Kenapa kamu berubah menjadi genit?” tanya Andra bingung. Tampak tangan kanan ia tempelkan di dahi Aulia, “Tidak dingin dan tidak panas juga nya,” sambung Andra masih bingung kenapa Aulia bisa berubah menjadi nakal.
“Aku mendadak genit sama Suami sendiri karena aku penasaran benda apa yang tersembunyi di balik celana piyama kamu. Dan aku juga penasaran tentan kedua orang tua kita yang selalu berkata ‘sudah bulan madu’, ‘gimana rasanya?’, ‘kan aku semakin penasaran. Ayo..”
Ucapan Aulia terhenti saat Andra memberi kecupan manis. Andra melepaskan ciumannya, jari jempol mengelus lembut bibir bagian bawah, “Aku adalah lelaki normal Aulia. Jika kamu terus memaksa aku seperti ini nanti kamu akan menyesal. Dan aku juga tidak akan menjamin kali ini aku bisa menahannya atau tidak,” ucap Andra.
Aulia memegang bibir bagian bawahnya, “Aku baru tahu kalau bibir ciuman bisa semanis ini. Aku jadi mau lagi,” sahut Aulia mengalihkan ucapan Andra.
Andra langsung berbalik badan, “Kamu kenapa membuat aku takut. Aulia yang ini kenapa tidak seperti Aulia masih gadis dulu?!”
Aulia langsung memutar tubuh Andra, dan duduk di atasnya, “Memang seperti itu jalan ceritanya. Ketika gadis lugu, polos, tidak pernah pacaran dan lainnya sedang penasaran tingkat dewa. Maka semua rasa penasarannya akan ia jawab dengan mempraktekkannya langsung,” sahut Aulia membalas ciuman manis.
“Apa kamu serius?” tanya Andra melepaskan ciuman.
Aulia mengangguk.
“Baiklah, aku akan melakukannya,” ucap Andra perlahan merebahkan tubuh Aulia.
Andra memulai pemanasan nya. Serangan lembut terus Andra luncurkan hingga membuat tubuh mereka merasa siap untuk melakukannya. Melihat wajah Aulia tampak menginginkannya, Andra pun memulai inti serangannya.
__ADS_1
“Apa kamu yakin?” tanya Andra sebelum melakukan perbuatan halal tersebut.
Aulia mengangguk.
Andra pun perlahan menembus pertahanan Aulia. Hingga rudal itu berhasil mendarat di tempatnya. Andra pun mulai menggoyangkan pinggulnya secara perlahan, melihat Aulia sudah tampak nyaman. Andra memulai gerakan lainnya. Setelah satu jam berlalu Andra menyemprotkan butir-butir cinta ke dalam, membuat nada halus melambung ke udara.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Andra dengan nafas terputus-putus.
Bibir Aulia mendadak manyun, air mata perlahan menetes sembari berkata, “Sakit, tapi kok enak. Mau lagi rasanya,” rengek Aulia.
Andra memiringkan posisi tidurnya, membawa Aulia tidur dalam pelukannya, “Terimakasih sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Maaf sudah membuat kamu sedikit sakit, tapi aku janji rasa sakit itu hanya untuk hari ini. Dan yang terkahir saat kamu hamil dan melahirkan anak kita nantinya,” ucap Andra sedikit merasa bersalah karena dirinya tadi hampir tidak bisa mengontrol gejolak terpendam tersebut.
“Aku sudah siap untuk dua hal itu,” sahut Aulia tulus.
Andra memeluk Aulia, tangan kanan mengelus puncak kepala, “Kamu pasti lelah. Jadi mari kita tidur,” ajak Andra lembut.
“Iya,” sahut Aulia patuh.
.
.
Pukul 07:30 pagi. Seperti biasa, mereka melakukan makan pagi dan malam secara bergantian. Kadang di rumah tuan Agung, kadang di rumah Tarjok. Semua itu dilakukan karena mereka hanya memiliki satu anak. Tidak ingin menghilangkan momen makan bersama dengan masin-masing anak.
Pagi ini para orang tahu sudah berkumpul di meja makan. Marsya, dan Ningrum, apakah Aulia dan Andra akan datang. Sudah hampir 10 menit mereka menunggu tapi Aulia dan Andra tak kunjung turun. Ningrum dan Marsya bersama-sama menarik nafas, dan berdiri.
“Kalian berdua kenapa gelisah?” tanya tuan Agung penasaran.
“Aulia kenapa belum turun juga Pa?” tanya Marsya balik.
“Masih bantuin Andra untuk bersiap kali,” sahut tuan Agung santai.
“Tapi ini tidak seperti biasanya. Apa Aulia sedang sakit? Soalnya tadi malam aku melihat Aulia pulang digendong oleh Andra,” sambung Ningrum menambah kecemasan.
Di tengah-tengah kepanikan terdengar suara Aulia, “Tante…Mama..coba lihat ini. Lihatlah!” ucap Aulia polos menunjukkan seprai putih bernoda.
Sejenak Marsya dan Ningrum saling menatap senang. Sedangkan para pria menunduk malu melihat tingkah polos Aulia.
Tidak lama kemudian Andra datang sembari berkata, “Aulia…Aulia! kamu…” ucapan Andra terhenti saat melihat empat pasang mata penuh tanya sedang menatapnya. Andra menundukkan pandangannya, ‘Malunya aku. Kenapa aku lupa kalau Aulia ini tipe wanita polos. Jika mereka semua menertawakan aku. Aku harus pasangan wajah apa di depan para orang tua ini.’
__ADS_1
Ningrum mengambil seprai kotor, “Kamu pasti lelah…”
“Mari duduk di sebelah Mama,” sambung Marsya menarik kursi buat Aulia duduki.
“Jangan banyak-banyak berdiri Andra. Saya tahu kedua lutut kamu sedang lemah, dan kamu juga pasti sudah banyak kehilangan energi. Jadi..silahkan duduk,” ucap tuan Agung mengarahkan kursinya ke nomor 3.
“Baik,” sahut Andra patuh.
“Apa tadi malam tidur kalian nyenyak?” tanya Marsya sekilas melirik ke Andra, dan berkahir ke Aulia.
“Nyenyak kok Ma,” sahut Aulia senang.
Andra menghela nafas lega saat Aulia bisa mengontrol ucapannya.
“Apa kalian butuh minum jamu?” tanya Ningrum.
“Dikit saja tante,” sahut Aulia.
“Andra mau juga Ma,” sambung Andra.
"Baiklah Mama akan buatkan buat Andra dan juga Aulia," ucap Ningrum mendekati meja masak.
"Aku juga akan membantu kamu," sambung Marsya ikut membantu Ningrum.
Marsya dan Ningrum kini berdiri di depan meja masak, kedua tangan bekerja, dan mulut juga ikut bekerja.
"Aku pikir Andra tidak mau melakukan hal itu. Ternyata diam-diam mereka melakukan," ucap Marsya sedikit berisik.
"Aku juga tidak menyangka. Tapi syukurlah. Lebih cepat lebih baik. Biar kita bisa cepat-cepat momong cucu," sahut Ningrum semangat.
"Kamu mau buat jamu apa?" tanya Marsya penasaran.
"Kamu untuk menambah energi," sahut Ningrum mulai memasukkan rempah-rempah ke dalam blender.
"Aku juga mau. Soalnya belakangan ini Agung sering kali mengajak aku lembur. Padahal sudah tua," ucap Marsya meminta dibuatin jamu.
"Justru yang tua itu dia lebih gesit. Aku saja sekarang sering minum jamu agar tidak kewalahan. Mengingat sekarang banyak gadis cantik lebih memilih menjadi PELAKOR. Aku jadi seram. Makanya aku lebih sering minum jamu dan merawat itu," sahut Ningrum serius.
"Iya, kamu benar. Sudah cepat kita buat jamu, agar kita juga bisa cepat ikutan makan," ucap Marsya memutus percakapan.
__ADS_1
...Bersambung...