Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 66. Jamu turun-temurun


__ADS_3

Sore ini acara pernikahan Aulia sudah selesai. Semua dekorasi, dan barang-barang lain untuk acara pernikahan sudah di angkat ke dalam bak truk. Selama kediaman rumah tuan Agung dibersihkan. Tuan Agung, Marsya dan Aulia, beristirahat sejenak di kediaman Tarjok. Aulia dan Andra juga sudah mengganti baju mereka dengan baju biasa. Mereka juga sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati teh herbal penghilang capek-capek buatan Ningrum.


"Gimana perasaan kalian setelah menikah?" tanya tuan Agung penasaran.


Tuan Agung untuk memastikan apakah putri kesayangannya bahagia menikah dengan pria idamannya. Dan apakah Andra juga merasakan hal yang sama. Jika ada salah satu tidak merasa bahagia, maka tuan Agung merasa bersalah pada anak-anaknya.


"Seperti mimpi Pa," Aulia menunjukkan jari-jemari dihiasi ukiran cukup indah, dengan beberapa butiran berlian di setiap ujung kukunya, "Pa..apa desain kuku palsu ku terlihat begitu indah?" tanya Aulia menunjukkan karya baru dari Perusahaan miliknya.


"Apa pun yang kamu buat pasti sangat bagus," sambung Marsya dengan senyum manisnya.


"Benarkah Ma! kalau gitu aku akan membuat model kuku yang sama untuk dijual. Tapi, khusus 10 pengantin wanita saja. Agar mereka bisa merasakan kukunya terlihat indah dengan kilauan berlian," ucap Aulia senang.


"Kamu memang sangat kreatif," puji Andra sembari mengelus puncak kepala Aulia.


"Terimakasih suamiku," ucap Aulia memberi senyum tulus hingga menampilkan jejeran gigi putihnya.


"Ma...kok hati Papa merasa sakit ketika melihat Aulia bermesraan dengan pria lain. Dan Papa tiba-tiba tidak ikhlas melihat putri kita menikah, apa lagi sekarang sudah memiliki pria lain selain Papa," sambung tuan Agung sedikit bercanda saat melihat Aulia dan Andra tidak malu-malu menunjukkan kemesraan mereka.


Dengan polosnya Aulia beranjak dari kursinya, dan duduk di pangkuan tuan Agung, dan berkata, "Pa..kok Papa bilang seperti itu. Aku tetap menyayangi Papa kok. Papa adalah pria pertama yang aku cintai, sampai detik ini juga tetap Papa yang aku cintai."


Tuan Agung hanya diam, membuang wajahnya ke sisi lain.


Aulia memeluk tubuh tuan Agung, dan menggoyangkannya, "Pa... Papa jawab dong!" rengek Aulia cemas.


"Ha ha ha" tawa renyah seketika pecah begitu saja saat melihat wajah Aulia semakin panik melihat tuan Agung tidak membalas ucapan Aulia.


"Lah kok tertawa. Apa ada yang lucu?" tanya Aulia perlahan melepaskan pelukannya.


Cuit!!


Tuan Agung menarik hidung mancung Aulia.


"Aduh, sakit Pa," rengek Aulia mengelus hidung mancung memerah.


"Kamu sekarang bukan anak kecil lagi. Dan tubuh kamu juga tidak seringan dulu. Jadi turunlah dari pangkuan Papa. Ayo cepat! tegas tuan Agung di kalimat terakhir menyuruh Aulia turun.


"Tapi Papa janji tidak akan merajuk lagi karena Aulia sudah menikah dengan Andra?" tanya Aulia menyelidik.


Taun Agung mengangguk, "Tentu saja."


"Yakin?" tanya Aulia memastikan apakah tuan Agung beneran tidak marah.

__ADS_1


"Sungguh sangat-sangat yakin," sahut tuan Agung kembali tegas.


Aulia pun turun dari pangkuan tuan Agung. Kedua kakinya kembali mendekati Andra.


"Karena hari mulai gelap, gimana kalau makan malamnya di sini saja sambil menunggu rumah tuan Agung selesai di bereskan," ucap Ningrum menawarkan makan malam di rumahnya.


Marsya segera berdiri, "Baiklah. Mari kita masak sekarang."


"Aku ikut Ma," sambung Aulia ikutan berdiri.


"STOP!" cegah Marsya mengulurkan tangan kirinya.


"Kenapa Ma?" tanya Aulia bingung.


"Jika kamu ke dapur, maka akan ada pertumpahan bumbu di sana. Sudah kamu duduk diam di sana."


"Tapi, aku 'kan..."


"Sudah kamu duduk saja sayang, soal masak memasak biar tante dan Mama kamu saja yang melakukannya," sela Ningrum lembut.


Tuan Agung, dan Tarjok berdiri, "Kalau gitu Papa pergi melihat keadaaan rumah dulu," ucap tuan Agung dan Tarjok serentak kepada masing-masing anaknya.


"Kami kok di tinggal berdua?" tanya Aulia bingung.


"Tapi Pa..."


"Kami pergi dulu ya!" tuan Agung dan Tarjok beranjak pergi meninggalkan Andra dan Marsya di ruang tamu.


Ruang tamu tadinya ramai kini mendadak sunyi dan hening. Andra dan Aulia mendadak canggung.


"Aulia"


"Andra"


Sangking canggungnya mereka sampai memanggil nama secara serentak. Aulia dan Andra juga sama-sama tertunduk malu.


"Aulia," panggil Andra sedikit melirik.


"Iya," sahut Aulia juga ikut melirik.


Degser!!!

__ADS_1


Saat kedua bola mata itu saling menatap dekat, masing-masing aliran darah mereka mengalir begitu deras ke seluruh syaraf. Aulia dan Andra kembali menundukkan wajahnya, masing-masing tangan memegang debaran jantung.


Deg!!deg!


'Kenapa baru ini aku menyadari jika kedua bola mata Aulia sangat indah. Aku juga melihat ada butiran bintang bertabur di dalam bola mata indahnya. Kulitnya, serta bibir merah mudanya kenapa terlihat begitu sangat indah. Membuat jantungku ingin berpacu dalam melodi.'


'Tadi kalau aku tidak salah di kedua bola mata Andra ada beribu macam bunga mekar. Wajahnya terlihat begitu bercahaya, dan bibirnya ibarat gula kapas. Ingin rasanya aku memakannya.'


Andra menarik nafas diam-diam, dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Setelah merasa cukup tenang, Andra menggenggam tangan kiri Aulia, "Daripada bosan menunggu di sini. Gimana jika kita berkeliling di taman rumahku," ucap Andra mengajak Sulit berkeliling di taman belakang rumahnya.


"Baik," sahut Aulia patuh.


Aulia dan Andra pun berjalan bersama, tak lupa kedua tangan masih saling bergandeng tangan. Seolah Aulia akan hilang.


.


.


✨ DI DAPUR ✨


Sambil memotong sayuran, Ningrum dan Marsya saling membahas tentang anak mereka. Tidak lupa senyum dan tawa renyah terus menemani setiap potong sayuran.


"Apa kamu tadi sudah memberikan jamu di minuman mereka?" tanya Marsya genit.


"Tentu saja, jamu itu adalah minuman herbal dari turun-temurun Kakek moyang ku," ucap Ningrum semangat.


"Kalau gitu nanti malam akan ada pertempuran sengit di dalam kamar," sahut Marsya memikirkan hal lain.


"Lebih dari sengit," ucap Ningrum bersemangat.


"Tunggu dulu. Aku baru ingat jika Aulia sekitaran Minggu ini bakalan datang bulan. Bagaimana jika ramuan cinta kita gagal?" tanya Marsya sedikit kecewa.


"Yah, kok kamu nggak bilang. Bakalan ada satu pihak sendirian yang bertempur dong," ucap Ningrum ikutan kecewa.


"Yah...gagal deh kita. Niatnya cepat-cepat ingin membuat Aulia hamil. Malah kita sendiri yang terjebak," rengek Marsya memanyunkan bibirnya.


"Kamu tenang saja, aku akan membuat jamu pelancar datang bulan. Agar semua bebas hambatan dan berjalan dengan lancar," ucap Ningrum bersemangat.


Baru saja membicarakan Aulia kapan haid. Tiba-tiba Andra memasuk dapur dengan wajah pucat, "Ma...Mama Ningrum...Aulia...ada darah di baju piyama nya. Gi-gimana itu?" tanya Andra panik saat melihat bercak darah menempel di baju piyama belakang.


Aulia masuk dengan wajah lesu, "Ma...perut nya sakit," rengek Aulia merasakan perutnya berputar-putar.

__ADS_1


Marsya dan Ningrum saling menatap, "Beneran gagal," gumam mereka serentak.


...Bersambung ...


__ADS_2