
"Kapan dia ingin mengajak kita bertemu untuk membahas Investasi?” tanya Aulia.
“Tidak tahu nona muda. Perusahaannya hanya mengirimkan e-mail seperti itu,” sahut Venus.
“Kalau gitu kamu boleh pergi,” perintah Aulia, karena sudah tidak ada pembahasan lagi.
“Baik, nona muda,” sahut Venus patuh. Venus berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Aulia. Di susul Aulia pergi berjalan di belakangnya.
“Nak,” panggil Marsya berdiri di hadapan Aulia.
“Eh, Ma-Mama,” sahut Aulia sedikit terkejut.
“Nak, kita jalan-jalan yuk. Mama dengar ada diskon tas dan barang lainnya di sini,” ajak Marsya.
Namun, wajahnya terlihat sendu. Apakah Marsya mendengarkan cerita mereka? tapi tidak mungkin, karena ruang kerja Aulia kedap suara. Mungkin ada hal aneh sedang mengusik hati Marsya.
Aulia menyelipkan tangannya ke lengan Marsya, “Ayuk Ma, kebetulan sekali aku rasanya ingin menghambur-hambur kan uang. Pokoknya satu hari ini aku ingin pergi jalan-jalan bersama Mama, dan menghabiskan waktu bersama selama Mama ada di sini,” ucap Aulia semangat.
“Iya putri ku,” sahut Marsya, tangannya membelai lembut pipi tembem Aulia.
“Kalau itu aku bersiap dulu,” Aulia melepaskan tangannya dari lengan Marsya. Aulia memutar bola matanya seperti mencari sesuatu di sepanjang koridor ruang kerja terhubung dengan ruang tamu.
“Kamu cari siapa nak?” tanya Marsya.
“Venus mana Ma?” tanya Aulia tak bisa melihat Venus, padahal Aulia tahu jika Venus baru saja keluar dari ruang kerjanya.
“Oh, dia katanya sedang mengurus Grey di belakang,” sahut Marsya mengingat pesan Venus.
“Oh..aku pikir keman. Kalau gitu aku ke atas untuk mengganti pakaian,” pamit Aulia.
“Iya, Mama juga akan berganti pakaian dulu,” sahut Marsya juga ingin mengganti pakaiannya.
Marsya dan Aulia pun berjalan berpisah, Aulia naik kelantai dua. Sedangkan Marsya menuju kamar milik mereka berada di lantai satu. Kamar tak jauh dari ruang Tv keluarga.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Marsya berdiri di depan cermin. Ia mendekatkan wajahnya, mengusap segaris halus terlihat di bawah matanya, “Ternyata aku sudah tua. Pantes saja tuan Agung mulai diam-diam bertingkah aneh. Meski tingkahnya sangat mencurigakan sekarang, tapi hatiku berkata jika Suami yang sudah menemaniku selama 20 tahun tidak mungkin berselingkuh. Aku sangat yakin jika tuan Agung bukan tipe pria seperti itu,” gumam Marsya meyakinkan dirinya jika tuan Agung bukan lelaki mata keranjang.
Marsya menghentikan pikiran buruknya, kedua kakinya perlahan mendekati lemari pakaian. Marsya pun membuka bajunya, dan mengganti dengan baju bagus. Baru saja memasukkan baju dress ke tubuhnya, ada tangan pria memeluk Marsya dari belakang.
“Jangan katakan jika aku telah menyelingkuhi kamu. Percayalah padaku, Marsya. Di dunia ini hanya kamu satu-satunya wanita sekaligus Istri yang aku cintai,” ucap tuan Agung jujur.
Tuan Agung memutar perlahan tubuh Marsya, kedua tangannya membantu Marsya mengancing resleting jepang bajunya, kedua bola mata menatap lekat bola mata indah Marsya.
“Jika kamu ingin selingkuh, katakan. Aku siap menerima madu kamu,” ucap Marsya dengan nada suara serak menahan sesak di dada.
Tuan Agung memegang dagu Marsya, “Sayangku, kenapa baru sekarang kamu terlihat cemburu kepadaku. Kenapa tidak dari dulu?” tanya tuan Agung.
Marsya memalingkan wajah merah karena menahan malu, “A-aku tidak cemburu. Habisnya Papa belakangan ini sangat lain. Semua mata yang memandang tingkah aneh Papa juga bisa merasakannya,” jelas Marsya mengingat saat tuan Agung segera menghapus panggilan telpon, dan chat dari panggilan luar.
Tanpa banyak bicara, tuan Agung mencium bibir Marsya, lalu melepaskannya, “Maafkan Papa. Papa berani bersumpah jika Papa tidak berselingkuh. Suatu saat Mama juga akan mengerti kenapa Papa menghapus panggilan dan pesan dari nomor asing tersebut,” jelas tuan Agung mengerti maksud Marsya.
Marsya mengangguk, “Iya.”
Pintu kamar terbuka, terlihat Aulia berdiri di depan pintu.
“Mau shopping dong Pa,” sahut Aulia mewakili jawaban Marsya.
“Papa ikut ya,” pinta tuan Agung.
“Nggak ah, Papa sebaiknya di rumah saja. soalnya aku dan Mama ingin berkeliling sampai malam,” tolak Aulia sopan.
“Benar, Papa dan Venus makan malam di luar saja ya. Soalnya Mama ingin menjadi anak gadis walaupun sebentar,” sambung Marsya ingin merasakan jalan berduaan bersama putri kesayangannya. Karena Marsya sudah lama tidak jalan-jalan berdua dengan Aulia.
“Tidak, Papa ikut!” ucap manja tuan Agung.
“Kalau gitu kita sekalian saja bawa Venus. Kasihan dia kalau di tinggal sendirian di rumah,” sahut Aulia memberi saran untuk mengajak Venus.
“Baru saja Venus pamit pergi ke kantor karena ada berkas yang tertinggal, habis itu dia mau singgah ke Kafe,” ucap tuan Agung mengingat pesan Venus.
__ADS_1
“Kalau gitu kita saja yang pergi,” Aulia menggandeng kedua tangan tuan Agung dan Marsya, membuat dirinya berdiri di tengah-tengah mereka berdua seperti anak kecil.
Tuan Agung, dan Marsya melirik ke Aulia. Senyum manis dari tuan Agung, dan Marsya saat melihat putri kecilnya tampak manja menggandeng masing-masing tangan mereka. Tuan Agung, dan Marsya kini melangkahkan kedua kakinya keluar dari rumah.
Baru saja hendak menghidupkan mesin mobilnya, Aulia mendadak mual.
“Uwek!!!” Aulia segera membuka seatbelt, dan segera berlari ke luar. Aulia berjongkok di samping mobil, dan memuntahkan air kosong.
“Nak, sebaiknya kita nggak usah jadi pergi,” ucap Marsya mengkuatirkan Aulia.
Tuan Agung mengulurkan tisu dan botol minuman air mineral, “Nak, basuh bibir kamu dengan air ini. Lalu bersihkan dengan tisu,” ucap tuan Agung.
Aulia mengambil botol air mineral, bukannya membasuh mulutnya. Aulia mata berkumur-kumur, dan menelan bekas kumuran tersebut.
Tuan Agung, dan Marsya saling memandang. Mereka heran melihat tingkah putri kesayangan mereka saat hamil sangat jauh berbeda. Kadang terlihat sangat feminim, kadang terlihat kucel, dan tomboi. Masa-masa menjadi Ibu hamil, dan mengidam memang sangat aneh.
Aulia berdiri, “Kita naik taksi saja ya, Ma…Pa!” pinta Aulia tetap ingin pergi dengan kondisi sedang ngidam.
“Di rumah ada dua mobil loh, sayang. Kenapa kita harus naik taksi?” tanya Marsya heran.
“Entah kenapa aku sangat jijik melihat bangku di dalam mobil itu. Jadi kita naik taksi saja ya Ma…Pa?!” pinta Aulia kembali.
“Nak, kursi mobil taksi itu sakit jika di duduki. Lebih nyaman duduk di mobil sendiri. Apalagi kamu sedang hamil muda seperti ini, Papa takut nanti bayi kamu terguncang-guncang di dalam,” sahut tuan Agung cemas.
“Kalau gitu aku pergi sendiri saja,” rengek Aulia. Kedua kaki hendak melangkah. Namun, tuan Agung dengan cepat menahan lengan Aulia.
“Iya-ia, Papa pesan dulu ya,” ucap tuan Agung. Tuan Agung mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku kemeja miliknya, lalu memesan taksi.
“Nak, apa kamu yakin naik taksi?” tanya Marsya cemas.
“Yakin Ma,” sahut Aulia semangat.
...Bersambung...
__ADS_1