Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
Bab 02. Siapa pria itu?


__ADS_3

“Jika kamu wanita yang baik. Tolong lepaskan aku dan aku akan memberi kamu imbalan yang pantas.” ucap Aulia dengan nada suara gemetar.


“Ha ha ha. Kamu pikir kamu siapa berani memerintah saya," sahut wanita yang memakai masker.


“A-aku berjanji akan memberikan apa pun yang kamu inginkan, asal kamu melepaskan aku, nona. A-aku memohon dengan kerendahan hati kamu, karena kita sesama wanita agar kamu bisa membantu 'ku untuk terlepas dari penjahat-penjahat ini.”


Aulia terus meminta pertolongan kepada wanita yang tidak tahu siapa wanita tersebut. Aulia juga tak dapat melihat muka para pria yang menculik dirinya dan wanita yang berada di belakangnya karena kain penutup yang hitam pekat masih melekat menutupi wajahnya.


Wanita tersebut tertawa renyah, “Ha ha ha" dari balik kain hitam yang menutup wajah Aulia, menempel bibir yang ketutup masker, "Jika aku ingin meminta Papa kamu menjadi milikku dan Mama kamu berpisah dengan Papa kamu! apa kamu rela memberikan semua itu termasuk harta dan yang lainnya yang kini kamu miliki?"


Wanita tersebut memandang satu-persatu pria bertubuh kekar yang ada di hadapannya, “Kalian jangan hiraukan celotehan gadis manja ini. Kalian harus menyelesaikan tugas yang sudah aku berikan dan kalian jangan takut. Aku akan membayar kalian penuh jika kalian menyelesaikan tugas yang aku berikan dengan benar.”


“Baik.”


“Kenapa tidak dari tadi kamu memberikan tugas ini. Aku sudah tak sabar untuk mencicipi makanan lezat yang sedang ketakutan.”


"Benar."


Terdengar suara sahut-menyahut dari pria bertubuh kekar yang terdiri dari 5 orang yang kini sedang berdiri menghadap Aulia yang sedang duduk di kursi dengan kedua tangan terikat. Salah satu pria berjalan mendekati Aulia, menekan kedua bahunya dengan kuat kemudian membuka penutup kain hitam yang menutupi wajah Aulia.


“Saatnya kita bermain," ucap pria yang menekan kedua bahu Aulia agar tidak bisa memberontak.


Mendengar ucapan dan melihat tatapan dari keempat pria yang ada di depan Aulia, membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya di depan mereka. Tapi Aulia berusaha tenang, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk bernegosiasi kembali kepada empat pria.


“A-aku akan memberikan kalian uang yang cukup banyak, asal kalian melepaskan aku. Dan…dan aku tidak akan melapor kepada pihak yang berwajib atau kepada kedua orang tua ku jika kalian yang telah menculik 'ku.”


Aulia terus memohon berharap belas kasih agar mereka mau melepaskannya dan berharap agar mereka tidak berbuat buruk kepadanya. Tapi perkataan Aulia tidak di dengar. Salah satu pria yang bertubuh sangat besar dari yang lain berjalan mendekati kursi Aulia, senyum penuh makna dan kedua mata penuh hasrat menatap Aulia dari atas sampai bawah.


Aulia yang tidak bisa berbuat apa pun hanya bisa memejamkan kedua matanya, terus memanjatkan doa kepada Allah di dalam hatinya agar Allah segera mengirimkan seseorang untuk membantunya.

__ADS_1


“Aku akan membuat Anak berharga yang di miliki Agung Laksmana dan Marsya Aulia akan merasakan apa yang aku rasakan dulu. Buat mereka menyesali perbuatan mereka!” ucap wanita memakai masker sambil tertawa keji di belakang kursi Aulia.


Aulia mengedarkan kedua matanya, melihat 1 pria yang sudah hampir sampai mendekati kursinya. Kemudian Aulia melihat 3 pria yang tertawa puas di belakang pria yang sedang berjalan ke arahnya. Aulia juga mengedarkan kedua matanya ke belakang, menatap wanita memakai masker hitam dan pria yang menekan kedua bahunya.


Pria yang bertubuh besar dan kekar kini sudah berdiri di depan Aulia. Pria tersebut menundukkan sedikit tubuhnya, kedua tangannya diletakkan di kedua paha mulus dengan bibir yang tertawa keji.


“Awalnya mungkin sedikit sakit. Tapi kamu akan menikmatinya, asal kamu tidak memberontak,” ucap pria tersebut menaikkan perlahan kedua tangannya.


Aulia menggeliat ketakutan, menangis dengan kedua mata terpejam. Kini Aulia pasrah dengan nasib buruk akan kehilangan kesucian dengan mereka orang jahat yang ingin membalaskan dendamnya kepada kedua orang tuanya melalui Aulia.


Wanita yang memakai masker hitam mengeluarkan ponsel miliknya, kemudian memulai rekaman vidio dengan bibir yang tertawa keji.


Aulia membuka kedua matanya saat area sensitif miliknya tersentuh, memang tak tersentuh secara langsung. Pria tersebut menyentuh dari balik kain segitiga. Saat Aulia merasakan tangannya mulai menjalar masuk terdengar suara dentuman kuat.


Braakkk..


Aulia yang sangat ketakutan merasa tenang dan nyaman saat kedua matanya sayup-sayup melihat seorang pria yang tinggi dan kekar menolong dirinya.


Sebelum pingsan, Aulia sempat mendengar suara pria itu berkata di telinga kanannya, “Tenanglah. Saat kamu tumbuh di dalam rahim dan lahir ke dunia ini aku sudah berjanji akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Aku akan membuat mereka semua membayar perbuatan mereka karena telah berani menyentuh kamu.”


Setelah mendengar ucapan yang membuat hatinya tenang, Aulia yang ketakutan langsung pingsan. Saat Aulia sadar, dirinya sudah berada di rumah. Tangan kanan di infus, dan masih terasa lemah.


Kedua mata Aulia menatap wajah Mama yang sedang terbaring di sisi kanannya. Aulia melihat Mama yang sedang tertidur lelap dengan wajah pucat tapi tangan kanan terus menggenggam erat tangan kirinya.


Aulia memalingkan wajahnya, menatap Papa yang sedang berdiri di samping ranjang. Aulia tersenyum manis seolah tak ingin melihat Papa berwajah sedih dan cemas.


Aulia juga melempar senyum manis kepada Tarjok dan Ningrum yang sedang berpelukan dengan wajah yang terlihat cemas. Tapi, di mana…dimana cinta masa kecil Aulia. Dimana pria yang selama ini ia rindukan saat dirinya berada di Paris.


Hatinya sedikit kecewa saat tidak bisa melihat pria yang selama ini diam-diam Aulia cintai tidak datang melihatnya yang sedang terbaring lemah dan masih syok karena mendapat perbuatan yang tidak baik dari orang yang sama sekali Aulia tidak kenal.

__ADS_1


Perlahan Aulia duduk, pergerakan Aulia ternyata membuat Mama ikut bangun.


Mama langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat. Suara serak pun aku dengar dari mulut Mama yang berkata, “Maafkan Mama.”


Aulia segera membalas pelukan Mama, mengelus pelan punggung Mama yang terasa dingin. Aulia melepaskan kembali pelukan Mama, menyeka lembut air mata Mama yang kini membasahi kedua pipi mulusnya. Aulia hanya bisa melepaskan senyuman manis saat menatap Mama yang terlihat cemas, “Ma..Aku ini putri kamu. Mama tenang saja, tidak terjadi hal buruk denganku. Buktinya aku baik-baik saja dan kini aku sudah tertawa di depan Mama.”


Papa duduk di tepian ranjang, tangan kanan menarik kepala Aulia dan membenamkan wajahnya di dada kekar milik Papa. Tangan kanannya membelai lembut rambut bagian belakang, mendongakkan wajahnya ke atas dengan kedua mata tertutup, “Kamu itu sangat keras kepala seperti Mama kamu. Papa sudah bilang, kamu itu harus di temani dan kamu juga harus mengabari Papa, Mama, Om Tarjok dan tante Ningrum atau bisa yang lainnya untuk menjemput kamu.”


“Tapi Pa…aku ingin memberi kejutan buat Papa dan Mama jika aku pulang ke tanah air. Aku juga tak ingin memberatkan Papa, Mama dan yang lainnya yang sedang sibuk.”


Papa melepaskan pelukannya kini kedua tangan kekarnya memegang kedua lengan Aulia, kedua mata menatap sangat serius dengan dahi mengerut, “Kamu bukan beban bagi kami semua. Kamu adalah kesayangan kami semua dan harta kami. Jika kamu terluka maka kami akan lebih terluka lagi.”


Aulia segera duduk, menyipitkan mata kanan dengan tangan kanan membuat lambang ‘OK’. Kemudian mengedarkan kedua matanya kembali menatap pintu kamar yang terbuka tapi tak melihat pria itu. Pria yang Aulia cintai.


Papa, Mama, Tarjok dan Ningrum menyadari hal itu. Mereka langsung berkata dengan serentak.


“Cari siapa Neng?"


“Ha ha ha.”


Kemudian tertawa bersama membuat Aulia malu, Aulia pun memalingkan wajahnya yang merona karena menahan malu.


“Aku tidak mencari siapa-siapa kok!" ucap Aulia malu-malu.


“Yakin!”


Terdengar suara pria dari pintu kamar Aulia. Aulia pun membulatkan penuh kedua matanya menatap pria tersebut yang sedang berjalan dengan wajah yang mendapat sedikit luka dan tangan telapak tangan kanan di balut perban.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2