Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 81. Mulai cemburu


__ADS_3

Waktu terus berjalan, setelah pembukaan cukup melelahkan dari sore hingga pukul 01:30 malam. Aulia harus tertidur di ruang pribadi Andra. Sedangkan Andra dan 9 karyawan lainnya baru saja siap membereskan kafe.


“Apa kalian lelah?” tanya Andra.


“Lelah sudah pasti Bos, tapi kalau lelahnya terbayar dengan pengunjung membludak. Pasti lelahnya itu hilang,” sahut Joko.


“Apa kalian akan tetap setia bekerja di kafe ku?” tanya Andra untuk meyakinkan diri mengingat pengunjung pembukaan pertama membludak mulai sore sampai malam. Membuat semua bangku baik di dalam hingga di luar.


Willy berjalan dengan santainya mendekati Andra, tangannya juga ramah memegang punggung tangan Andra, “Hei baby, sudah aku katakan aku ke sini karena aku menyukai kamu. Jika kamu mencari Istri kedua, maka aku siap menjadi Istri…”


Ctak!


Jitakan lembut dari Joko.


“Auw,” keluh Willy mengelus puncak kepalanya.


“He bule, sadar diri. Kau itu memiliki bentuk yang sama dengan Bos. Istri kedua…istri kedua. Pindah alam sana lu!” ucap Joko geli saat mendengar ucapan Willy.


Carles merangkul Willy, dan memukul pelan bidang dadanya, “Mulai lah hidup normal, jangan terus melenceng seperti ini. Masih banyak wanita lain yang seksi dan cantik di sini. Apa kamu tidak selera melihat mereka?”


“Benar, kalau kamu mau mari kita pergi ke Bar,” sambung karyawan lainnya mengelilingi Willy.


“Bos mau ikut?” tanya Joko.


Andra menggeleng, “Tidak, Aulia lebih cantik dan seksi dari wanita di luar sana. Apalagi kalau dia memakai baju tidur,” sahut Andra tanpa malu.


“Uuu…sedapnya yang sudah memiliki Istri. Aku jadi mau cari teman tidur atau sama istri lah,” sambung Didin.


“Kalau gitu mari kita bersenang-senang sejenak sambil melihat calon Istri,” ajak Daniel dan Jack.


“Tunggu dulu,” ucap Andra menahan 9 karyawannya hendak pergi dari toko.


“Ada apa Bos?” tanya 9 karyawan serentak.


Andra mengulurkan amplop berwarna coklat, “Di dalam ini ada upah lembur untuk hari ini buat kalian semua. Pakai dan simpanlah uang ini. Satu lagi, boleh pergi ke Bar tapi jangan sampai memakai barang haram. Dan jangan lupa kembali sebelum pagi ke Mes. Apa kalian paham?!”

__ADS_1


“Siap, kami paham. Kalau gitu kami terima uangnya,” ucap Joko mengambil amplop tersebut.


Andra dan 9 karyawannya keluar kafe, 9 karyawannya mulai melangkahkan kedua kakinya, tangan melambai ke arahnya sembari mengulas senyum tipis di bibir mereka.


“Hati-hati,” sahut Andra melambaikan tangannya kepada 9 karyawan sudah beranjak pergi dari kafe.


“Mereka semua sudah pulang?” tanya Aulia baru saja keluar dari kafe.


Andra segera berbalik badan, “Kenapa kamu keluar tidak memakai jaket?” tanya Andra segera melepaskan jaket dan memberikan kepada Aulia.


“ ‘Kan ada kamu yang menghangatkan aku di sini,” sahut Aulia santai.


Andra menarik hidung mancung Aulia, “Kamu memang gadis yang nakal,” ucap Andra gemas.


Aulia merangkul lengan Andra, “Kita pulang yuk,” ajak Aulia manja.


“Kamu apa tidak mau jalan-jalan sebentar sama aku?” tanya Andra memberi penawaran sebelum kembali pulang.


Aulia menggeleng manja.


Karena malam semakin larut, dan udara semakin dingin. Aulia mengusap-usap kedua tangannya dan mengelusnya ke lengan, “Dingin sekali. Kalau gitu aku tunggu di samping mobil saja,” gumam Aulia segera membawa kedua kakinya melangkah mendekati mobil.


Sesampainya di dekat mobil, Aulia menyandarkan tubuhnya di badan mobil, kepala menengadah ke atas, dua bola mata menatap indah langit gelap bertabur bintang, “Aku baru tahu kalau langit malam bisa seindah ini,” gumam Aulia sendiri.


“Iya, sungguh indah,” sambung seorang pria berdiri sangat dekat di hadapan Aulia.


Aulia langsung menurunkan pandangannya kebawah, betapa terkejutnya dirinya mengetahui jika Azzuri sedang berdiri sangat dekat padanya. Membuat tubuh Aulia mendadak kaku, dan hanya bisa menempel ke badan mobil agar tidak tersentuh badan Azzuri.


Aulia membuang wajah paniknya ke sisi kanan, “Menjauhlah dariku, sebelum Andra salah paham dengan kita,” pinta Aulia.


Bukannya menjauh, Azzuri malah semakin mendekatkan diri ke Aulia membuat Aulia tidak bisa ke mana-mana karena tubuhnya sudah mentok ke badan mobil. Azzuri juga mendekatkan wajahnya ke wajah Aulia, membuat hembusan nafas mereka saling bersaut.


Andra baru saja keluar kafe langsung disuguhkan pemandangan tak menyenangkan. Kedekatan tubuh Azzuri dan wajahnya membuat Andra marah. Kedua kaki Andra langsung berjalan menuju Aulia dan Azzuri. Dengan cepat tangan Andra melayangkan bogem mentah.


Bam!

__ADS_1


“Berani sekali kamu berdiri sangat dekat dengan Aulia,” ucap Andra meninggikan nada suaranya.


“Ketahuan deh, sama pemiliknya,” ucap Azzuri tanpa bersalah.


Andra langsung menggenggam tangan Aulia, “Mari masuk,” ajak Andra membuka pintu mobil dan membawa Aulia masuk.


“Kalau kamu ingin becerai gara-gara hal ini bilang ya? biar aku yang akan melanjutkan status suami Aulia,” ucap Azzuri kembali secara terang-terangan.


“Gila!” gumam Andra.


Andra pun masuk ke dalam mobil, dan melajukannya mobil tersebut dengan kencang sembari menahan amarah sedang membludak di dalam hatinya.


Aulia ketakutan menggenggam erat punggung tangan Andra, “Aku takut kalau kamu membawa mobil seperti ini,” ucap Aulia lembut.


Andra melirik, “Kenapa saat dia mendekati kamu, kamu tidak berteriak atau mendorong tubuhnya. Apa kamu beneran ada rasa padanya?” tanya Andra dingin, kaki kanan menekan gas.


“Ka-kamu salah paham. Aku tadi sedang menengadah ke atas, tiba-tiba dia sudah ada di depanku. Bagaimana mungkin aku bisa mendorongnya, bukannya tenaga laki-laki itu lebih kuat dari tenaga wanita,” sahut Aulia mulai menahan tangis di dadanya.


“Aku ada di dekat kamu Aulia. Kenapa kamu tidak berteriak meminta tolong kepadaku? Jika pria itu sempat berbuat hal lain dengan kamu, gimana?” tanya Andra mulai mengontrol emosinya. Kecepatanya pun mulai ia kurangi saat melihat Aulia tertunduk dengan air mata mulai menetes di roknya.


Andra segera menepi, ia berulang kali menarik nafas panjang untuk menetralkan pikiran dan hatinya. Setelah cukup tenang untuk dirinya sendiri, Andra mulai mendekatkan dir. Tangan kanan memegang dagu Aulia, “Aulia, aku tidak marah sama kamu. Aku hanya…”


“Tapi tadi kamu tadi sudah memarahi aku. Aku ‘kan nggak tahu apa-apa, dan kamu juga tidak tahu apa-apa soal tadi. Jadi bagaimana bisa kamu berkata seperti sedang menyalahi aku!” sela Aulia dengan suara serak karena menahan sesak di dalam dada.


Merasa bersalah karena sudah meninggikan ada suara kepada Aulia. Andra mulai melayangkan ciuman sebagai penawaran kesedihan Aulia. Melihat Aulia sudah cukup tenang, Andra melepaskan ciuman tersebut.


“Apa kamu sudah merasa tenang?” tanya Andra kepada Aulia sedang tertunduk malu.


Aulia menggeleng, “Kamu jahat. Sudah memarahiku, kamu malah membujukku dengan ciuman,” sahut Aulia polos.


“Itu karena aku sangat mengkuatir kan kamu. Aku ingin kamu bersikap tegas dan pemberani Aulia,” ucap Andra serius.


“Iya, maafkan aku. Lain kali aku tidak seperti itu,” sahut Aulia.


Andra memegang dagu Aulia, dan kembali melayangkan kecupan manis.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2