
Tuan Agung, Marsya, dan Venus kini sedang duduk di dalam ruang rawat inap Aulia. Mereka bertiga menunggu Aulia siuman.
“Pa, kenapa putri kecil kita belum sadar juga. Apa putri kita baik-baik saja?” tanya Marsya cemas.
“Tenang saja, Aulia pasti akan segera sadar. Putri kita adalah anak yang aktif, jadi dia mana mungkin betah berlama-lama tidur seperti itu,” sahut tuan Agung sedikit meninggikan nada suaranya agar Aulia segera sadar.
“Apa tuan dan nona besar butuh sesuatu?” tanya Venus.
“Tidak. Oh ya, sebaiknya kamu pergi ke acara Aulia saja. Jika para tamu tidak melihat kamu, aku, Marsya, dan Aulia di sana. Maka semua para tamu, dan beberapa wartawan gelap akan mencurigai kita. Kalau ada yang mencari Aulia, katakan saja jika Aulia sedang mengantar ku yang tiba-tiba sakit!” tegas tuan Agung.
Venus mengangguk, “Paham. Saya permisi pergi dulu tuan, dan nona besar,” pamit Venus kepada tuan Agung, dan Marsya.
“Hati-hati ya,” ucap Marsya.
“Terimakasih nona besar,” sahut Venus. Kedua kaki Venus kini melangkah pergi meninggalkan ruang rawat inap Aulia.
“Venus, aku di mana?” tanya Aulia perlahan bangkit, dan duduk. Kedua bola mata Aulia membulat sempurna saat melihat tuan Agung, dan Marsya menatap ke arahnya dengan senyum manis Marsya berikan untuk Aulia.
Marsya berdiri, “Apakah kamu sudah enakan, sayang?” tanya Marsya lembut, kedua kaki berjalan mendekati ranjang rawat inap.
Aulia mengangguk, “Sudah Ma. Mungkin aku pingsan karena aku sudah beberapa hari telat makan,” ucap Aulia.
Marsya duduk di pinggir ranjang. Marsya menarik nafas panjang, lalu menatap serius wajah pucat Aulia, “Sayang. Apa kamu tidak tahu jika kamu sedang mengandung?” tanya Marsya lembut agar Aulia tidak syok mendengar kenyataan jika putri kesayangannya itu hamil.
Aulia menggeleng, senyum paksa ia tampilkan, “He he…pasti Mama sedang bercanda. Iya ‘kan!”
“Tidak. Kamu sedang mengandung Aulia. Usia kandungan kamu kini memasuki minggu keempat. Apa kamu tidak menyadari hal itu?” sambung tuan Agung.
Aulia menundukkan sedikit kepalanya, kedua tangan gemetar perlahan memegang perut langsing sedikit membuncit, “A-aku tidak mungkin hamil. Perut aku sedikit membuncit karena aku sering ngemil di malam hari, jadi perut bagian bawah tertimbun lemak,” pangkas Aulia.
“Tidak sayang, kamu beneran sedang mengandung. Tapi kamu jangan kuatir, mulai dari trimester pertama, sampai terakhir. Mama akan selalu menemani kamu,” ucap Marsya berusaha menenangkan hati Aulia.
“Ja-jadi ini adalah anak Azzuri?!” tanya Aulia tidak percaya.
__ADS_1
Marsya mengangguk, “Benar.”
Tidak ingin mengandung anak dari Azzuri, Aulia mengepal kedua tangannya, dan ingin melayangkan ke perut. Namun, tuan Agung dengan cepat mencekal kedua tangan Aulia.
“Apa-apaan kamu, Aulia?!”
Air mata kesedihan terus menetes di kedua pipih mulus Aulia, bola mata basah memandang lekat wajah kharisma tuan Agung.
“A-aku tidak menginginkan bayi ini Pa. A-aku ingin membuatnya tiada saja!” sahut Aulia sedikit memberontak.
Plak!!
Marsya memberikan tamparan buat menyadarkan Aulia.
Aulia pun berhenti memberontak, tatapan heran kini Aulia berikan kepada Marsya.
“Kenapa Mama menampar ku?” tanya Aulia datar.
Marsya menatap telapak tangan kanan sedang gemetar, merasa bersalah karena sudah menampar putri kesayangannya.
Aulia menggeleng, “Tidak Ma,” sahut Aulia datar.
“Aulia, mau tidak mau kamu harus melahirkan dan membesarkan bayi yang berada di dalam kandungan kamu. Jangan sekali-kali Papa melihat kamu melakukan perbuatan tercela itu lagi!”
Di tengah ketegangan tuan Agung dan Marsya. Ada seseorang sedang mengetuk pintu ruangan Aulia.
Tok!tok!
Marsya, dan Aulia segera menghapus jejak air mata di kedua mata sembab mereka. Lalu memandang ke arah pintu.
“Masuk!” ucap tuan Agung mempersilahkan masuk.
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan, tangan kanan memegang papa ujian, terselip beberapa lembar kertas putih berisikan hasil pemeriksaan oleh Dokter.
__ADS_1
“Apa benar ini kamar nona muda Aulia Laksmana?” tanya perawat berjalan ke arah ranjang.
“Benar, itu aku,” sahut Aulia.
Perawat berdiri di samping tuan Agung. Senyum manis terukir indah di bibir tipis, lalu menatap Aulia senang, “Nona muda, selamat ya. Ternyata nona muda sedang mengandung dua bayi sekaligus. Dari hasil pemeriksaan Dokter mengatakan bayi kembar Anda sangat sehat, detak jantung dan letaknya juga sangat bagus,” ucap perawat. Perawat memberikan amplop berwarna putih kepada Aulia, “Hasil USG nya sudah keluar, Anda bisa melihatnya. Dan saya permisi dulu,” sambung perawat memberikan hasil USG.
“Terimakasih,” ucap Aulia dan Marsya serentak.
“Sama-sama,” sahut perawat. Setelah memberikan hasil USG kepada Aulia, perawat melangkah pergi meninggalkan ruang rawat inap Aulia.
Aulia memberikan amplop berisikan foto USG, “Mama saja yang lihat,” ucap Aulia.
Dengan senang hati Marsya mengambil, tangannya dengan cepat membuka amplop putih, dan mengeluarkan hasil USG. Air mata kebahagian dan kesedihan kini berhasil lolos dari kedua mata Marsya.
“Cucu ku. Kalian berdua sangat imut, seperti kacang mente,” ucap Marsya.
Penasaran sebesar apa bayi kembar dalam kandungannya. Kedua bola mata Aulia melirik ke ujung ekor mata. Melihat sepasang bayi kembar hanya sebesar kacang mente, kedua bola mata Aulia langsung membulat sempurna. Tangannya dengan cepat merampas hasil USG dari tangan Marsya.
“Apa ini bayi kembar ku, Ma?” tanya Aulia penasaran.
“Tentu saja. Mama juga dulu punya hasil USG tumbuh kembang kamu di setiap bulannya. Semua hasil USG milik kamu masih di dalam bayi masih Mama simpan. Jadi, sekarang Mama tanya ke kamu! Apa kamu tetap berniat untuk merenggut masa depan bayi kembar kamu yang belum sempat melihat Ibu nya?”
Aulia menggeleng, “Tidak. Hal itu lebih berdosa daripada perbuatan zina. Aku akan memutuskan untuk merawat bayi ku sendiri, dan membesarkan mereka dengan penuh cinta,” ucap Aulia senang.
“Papa boleh pinjam hasil USG kamu?” tanya tuan Agung.
“Kenapa pinjam sih Pa! kalau mau lihat, lihat saja. Mereka berdua sangat lucu,” sahut Aulia. tangan kanan memberikan foto USG kepada tuan Agung.
“Papa bawa keluar sebentar ya,” ucap tuan Agung. Kedua kaki tuan Agung melangkah pergi meninggalkan ruangan rawat inap.
Begitu sampai di depan pintu ruangan, air mata kebahagian tuan Agung menetes melihat foto USG cucu kembarnya. Tuan Agung langsung mengambil benda pipih nya, lalu memotret foto USG.
“Cucu kembar ku!” gumam tuan Agung senang saat menatap foto USG bayi kembar Aulia. di tengah kesenangan tuan Agung, tiba-tiba dia teringat dengan seseorang. Tuan Agung mencari nomor kontak asing, lalu mengirimkan hasil foto USG tersebut.
__ADS_1
...Bersambung...