Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 133. Membela calon Papi anak-anakku


__ADS_3

Kedua kaki Aulia terus berlari keluar kamar, meski mulutnya seperti menolak kehadiran Azzuri. Tapi, saat melihat Azzuri di perlakukan seperti itu, tubuh dan hatinya langsung bergerak untuk segera menolong Azzuri. Aulia terus berlari, tak memperdulikan kedua bayi dalam kandungannya, dan teriakan tuan Agung memanggil namanya dari belakang.


‘Kenapa? Kenapa hatiku merasa ikut sakit saat melihat Azzuri di keroyok seperti itu. Apa karena kalian berdua Nak. Apa kalian tidak suka melihat Papi kalian berdua dilakukan seperti itu. Baik…Mami akan segera menolong Papi kalian,’ batin Aulia.


“Aulia..tunggu Nak. Jangan berlari sendirian seperti itu. Biar Papa dan Venus saja yang…” ucapan tuan Agung terhenti saat Aulia kini sudah berlari keluar rumah.


“Gawat, nona muda bisa dalam bahaya kalau dia ikut campur dalam hal ini,” gumam Venus.


Venus mempercepat larinya untuk mengejar Aulia, begitu juga Marsya, dan tuan Agung. Namun, mereka kalah cepat dengan Aulia. Kini Aulia sudah sampai di depan gerbang, melihat Azzuri terduduk lemah dengan tubuh penuh luka, tangannya sudah mengambil balok kayu dari Pos Satpam.


“Berani sekali kalian main keroyok seperti itu!” teriak Aulia.


Bam!!


Bug!


Bug!


“Akh!!duh..duh,” keluh kedua anak buah serentak saat menerima serangan dari Aulia.


“Tidak akan aku biarkan kalian melakukan hal itu kepada Papi dari anak-anak yang aku kandung. Dan tidak akan kubiarkan calon anak-anak ku kehilangan Papinya saat mereka masih dalam kandungan!” teriak Aulia mengayun kayu balok.


Sejenak Azzuri, tuan Agung, Marsya, dan Venus tercengang mendengar ucapan Aulia. Namun, mereka kembali tersadar setelah melihat perut buncit Aulia.


“Aulia, kenapa kamu ke sini. Segeralah masuk, dan biarkan aku yang membereskannya,” teriak Azzuri.


“Diam kau! Dasar laki-laki lemah,” sahut Aulia berteriak. Kedua tangan Aulia terus mengayun hingga 2 pria tersebut terbaring dengan wajah babak belur. Bola mata Aulia beralih pada wanita terlihat ketakutan berdiri di luar gerbang, “Oh…jadi kamu wanita itu!”


“Bu-bukan, ka-kamu salah orang Aulia,” sahut wanita itu ketakutan.


Takut melihat Aulia akan menyakiti dirinya, wanita tersebut berbalik badan, kakinya hendak melangkah. Namun, dari belakang di tahan oleh Aulia.


“Mau kemana kamu, Shasvita Anggraini?” tanya Aulia dingin.


Shasvita berbalik dengan wajah pucat, dan paniknya. Kedua tangan Shasvita melambai, “Hai..Aulia. Sudah lama kita…”

__ADS_1


“Sudah salah, tapi masih bisa menyapa dengan ramah. Kamu benar-benar manusia bermuka dua,” sela Aulia. Genggaman tangan di bahu Shasvita ia eratkan, membuat wajah Shasvita nyengir kesakitan.


“Ah…sa-sakit Aulia. To-tolong lepaskan genggaman tangan kamu,” pinta Shasvita, tangannya berusaha melepas tangan Aulia. Namun, Aulia semakin mengeratkan genggaman tangannya sehingga jari kuku Aulia seperti menembus kulitnya.


“Nak,” panggil Marsya dari belakang.


“Mama sebaiknya menjauh dariku, karena aku sekarang sangat marah,” usir Aulia datar.


“Aulia, kamu harus segera merendam amarah mu. Ingat kamu sedang mengandung,” ucap Marsya untuk menghentikan aksi Aulia, dan mengingatkan jika saat ini dia sedang mengandung.


Bug!


Aulia memang melepaskan cengkraman tangannya dari bahu Shasvita. Tapi tidak dengan kakinya. Aulia menunjang tulang kering Shasvita. Membuat Shasvita berjongkok sambil mengelus kedua tulang keringnya. Setelah puas, Aulia berbalik badan.


“Duh..duh, sakit juga ternyata,” gumam Shasvita mengelus tulang keringnya. Shasvita menengadah, menatap punggung Aulia, “Hei, kamu bilang tadi itu adalah anak Azzuri? berarti kamu adalah nona muda yang tak punya harga diri. Suami baru meninggal dunia, kamu sudah bermain gila sampai menghasilkan anak. Katanya cinta mati dengan cinta masa kecilnya, tahu-tahu sudah punya anak saja dengan pria lain,” ucap Shasvita dengan segaris senyum di bibirnya.


“Kalau masih sayang sama nyawa, hentikan omong kosong kamu,” sekak Aulia, tatapan suram melirik ke sisi kanan.


“Kamu pikir aku takut,” sahut Shasvita seperti menantang. Shasvita perlahan berdiri dan berjalan mendekati Aulia.


“Baik Ma,” sahut Aulia patuh.


Untuk menghindari hal tidak dinginkan Marsya dan Aulia berjalan masuk ke dalam gerbang dengan cepat meninggalkan Shasvita.


“Aulia jangan lari kamu!” teriak Shasvita, kedua kakinya berlari cepat mengejar Aulia.


Melihat Shasvista berlari dengan tangan memegang pisau lipat. Azzuri segera berlari mendekati Aulia.


“Aulia awas!” teriak Azzuri, kedua kakinya berlari memeluk Aulia dari belakang.


Jlub!


“Akh!”


“Azzuri…!!” teriak Venus, tuan Agung, dan Marsya.

__ADS_1


Aulia berbalik badan, kedua tangannya refleks memeluk tubuh Azzuri hampir ambruk ke tanah.


“Sebaiknya kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu ke pihak yang berwajib,” tegas Venus langsung menangkap Shasvita, agar tidak melakukan perbuatan buruk kepada Aulia.


“Lepaskan…aku tidak bersalah,” elak Shasvita merasa tidak bersalah setelah melukai Azzuri.


“Diam!” bentak Venus. Venus membawa Shasvita, dan 2 anak buahnya masuk ke dalam mobil. Setelah memborgol tangan Shasvita, dan 2 anak buahnya. Venus melajukan mobilnya meninggalkan kediaman rumah Aulia menuju ke kantor pihak berwajib untuk menyerahkan Shasvita, dan 2 anak buahnya. Sedangkan tuan Agung sudah menyiapkan mobil untuk membawa Azzuri ke rumah sakit.


“Aulia, mari kita hantarkan Azzuri ke rumah sakit,” ajak tuan Agung.


“Pa..apakah Azzuri akan meninggal?” tanya Aulia, tatapannya berubah menjadi tatapan kosong saat menatap tuan Agung sedang berdiri di hadapannya, air matanya perlahan menetes membasahi kedua pipinya.


“Nak, Azzuri akan baik-baik saja. Kamu tenang saja. sekarang izinkan Papa membawa Azzuri ke rumah sakit,” tuan Agung menggendong Azzuri, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


“Pa, aku ikut boleh?” tanya Aulia datar.


“Tidak. Sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Biar Azzuri, Papa yang mengurusnya,” tolak tuan Agung.


“Pa, aku mohon!” pinta Aulia menahan tangan tuan Agung menutup pintu mobil.


“Nak, sebaiknya biar kita serahkan saja urusan ini kepada Papa. Kita masuk saja, ya,” ajak Marsya. Tangannya berusaha melepaskan tangan Aulia menahan pintu mobil.


“Ma..biarkan saja. Mama dan Aulia, kalian masuk lah ke dalam. Jangan biarkan Azzuri terlalu banyak mengeluarkan darah,” desak tuan Agung sedikit kuatir, tangan kanannya menekan perut Azzuri.


“Baik,” sahut Aulia, dan Marsya patuh. Marsya dan Aulia masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi penumpang.


Mobil dikendarai tuan Agung, Marsya, Azzuri, dan Aulia kini melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Karena Azzuri luka tusuk di dapat Azzuri cukup dalam, Azzuri terus mengigau menyebut nama Aulia.


“Aulia, apa pun yang terjadi aku akan melindungi kamu. Meski kamu tidak menerima ku sebagai Suami kamu, tapi kamu sekarang adalah Istri sah ku. Aulia, terimalah aku sebagai Suami kamu demi anak-anak kita. Aku tahu kamu sangat mencintai mendiang Andra karena mendiang Andra adalah cinta masa kecil kamu, dan cinta pertama kamu. Tapi sekarang aku..aku…”


“Azzuri berhentilah berbicara, jika kamu terus berbicara maka darah akan semakin banyak keluar,” tahan tuan Agung membungkam mulut Azzuri agar tidak mengigau.


“Suami, Istri sah? Apa maksudnya yang Azzuri katakana Ma?” tanya Aulia bingung.


Mobil kini sudah memasuki parkiran rumah sakit. Tuan Agung segera turun, dan menggendong masuk Azzuri.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2