
Tuan Agung, Marsya, Aulia, dan Venus ke rumah Tarjok. Mereka semua sedang duduk di sofa ruang tamu dengan wajah cukup serius. Andra dan Aulia saling menatap heran kenapa dirinya di bawa ke rumah Tarjok, padahal tuan Agung dan Marsya sangat melarangnya sampai mereka menikah.
"Maaf, ini kenapa ya?" tanya Andra penasaran.
"Begini Andra, Om baru saja mendapatkan kabar dari pihak yang berwajib jika Wardhani (mantan istri pertama) pura-pura melakukan bunuh diri. Sewaktu di bawah ke rumah sakit, Wardhani malah kabur dari rumah sakit dengan alasan yang sama," ucap tuan Agung sedikit menjelaskan perihal Wardhani berpura-pura bunuh diri di dalam sel. Setelah di bawa ke rumah sakit Wardhani malah kabur, kejadian itu sama seperti kejadian sebelumnya di season 1 dengan judul "GARIS DUA BUAT PRESDIR".
Bola mata Andra melirik ke Aulia, "Apa wanita itu, wanita yang sama sewaktu dirinya berpura-pura menjadi Dani. Dan ...apa wanita itu akan mencelakai Aulia kembali demi membalaskan dendam kepada Om?" tanya Andra menyelidik.
Tuan Agung mengangguk, "Dugaan kamu benar. Wanita itu sepertinya masih belum merelakan perpisahan kami," tuan Agung melambai, "Akh, lupakan saja. Itu sudah lampau. Lagian Wardhani juga yang memulainya. Andai saja waktu itu dia tidak terus berselingkuh dan menjadikan Marsya sebagai kambing hitamnya."
.
.
✨ POV PENULIS ✨
Jika ada pertanyaan dan bingung tentang percakapan di atas mohon berkunjung ke season 1 dengan judul GARIS DUA BUAT PRESDIR.
Buat semua pembaca, terimakasih atas dukungannya. Karya ini tidak akan maju tanpa kalian. Kalau gitu kita lanjut lagi ya?! ☺️
.
✨ POV END ✨
.
.
"Jadi kenapa kita semua harus berkumpul di sini?" tanya Aulia penasaran.
"Kalau soal itu, Papa ingin kamu tidur di kamar Andra. Kamu juga harus tinggal bersama dengan Tarjok dan Ningrum di sini," ucap tuan Agung membuat semua orang terkejut.
"Papa jangan bercanda!"
"Benar, Om jangan bercanda. Apa Om tidak merasa bahaya jika Aulia dan aku tinggal satu kamar sebelum menikah?" tanya Andra sedikit kikuk.
__ADS_1
"Mama pikir tadi Papa bercanda. Ternyata beneran," sambung Marsya ikut heran.
"Iya, kok aku jadi was-was kalau Aulia tinggal bersama dengan Andra. Apa jadinya kalau selama 4 hari mereka tinggal bersama?" Ningrum menggeleng saat pikiran khayalan kotor mulai merasuki pikirannya. Kedua tangan Ningrum spontan menutup mulutnya, "Ya Allah...ampunilah pikiran kotor hamba. Bisa-bisa bakal ada orang ketiga yang tumbuh di dalam perut Aulia jika mereka harus tidur bersama," sambung Ningrum kuatir.
Merasa bingung dengan perkataan terkahir Ningrum. Aulia melirik ke Marsya, "Ma, kenapa orang ketiga bisa tumbuh di dalam perutku?" tanya Aulia polos.
"Tunggu...tunggu. Ini maksudnya yang benar bagaimana?" sela Andra bertanya serius.
"Karena Om dan Papa kamu takut terjadi sesuatu hal buruk menimpa Aulia sebelum hari H pernikahan kalian. Om dan Papa kamu membuat rencana untuk menitipkan Aulia bersama kamu. Tapi kamu tenang saja, Om sudah memasang CCTV di kamar kamu!" ucap tuan Agung dengan santainya.
"APA!" tangan Andra mengarah ke lantai dua, "Se-sejak kapan Om memasang CCTV di dalam kamarku?" sambung Andra panik.
"Hem" bola mata tuan Agung berputar ke atas. Tangan kanannya melambai, "Sudahlah jangan di bahas. Sebaiknya kita mulai memindahkan beberapa barang milik Aulia ke rumah kamar kamu!" sambung tuan Agung seperti malas membahasnya.
Merasa malu karena harus di paksa tinggal sekamar dengan Andra. Aulia menolak halus ucapan tuan Agung, "Pa. Aku tidak mau akh tidur sekamar dengan Andra. Papa ini ada-ada saja sih. Di sini kan ada Venus. Biar Venus saja yang menjaga ku!"
"Maunya seperti itu, tapi Papa, Venus dan Tarjok bakal banyak pekerjaan beberapa hari ke depan. Terlebih lagi kami harus segera menangkap Wardhani sebelum kekacauan bertambah parah nantinya," ucap tuan Agung. Sebenarnya hal paling ditakutkan tuan Agung adalah dimana Wardhani datang dan merusak pernikahan Aulia dan Andra. Kenapa seperti itu? Karena tuan Agung cukup tahu gimana karakter mantan istri pertama nya itu.
Aulia menunduk, "Baiklah kalau seperti itu. Aku nurut saja," ucap Aulia pasrah.
"Kamu gimana?" tanya tuan Agung melirik ke Andra.
Kedua tangan tuan Agung melambai, "Venus. Letakkan barang-barang milik Aulia di sini!" tegas tuan Agung memberi perintah.
"Sudah beres tuan," ucap Venus menunjukkan kedua jempolnya.
"Ha! sejak kapan?" tanya Aulia histeris.
"Rahasia," ucap Venus menjentitkan jarinya.
Tuan Agung berdiri, "Karena semua sudah selesai di bahas, Aulia dan Andra juga sudah menyetujuinya. Jadi mari kita pulang," tangan kanan mengulur ke Marsya, "Istriku, mari kita pulang," ajak tuan Agung lembut.
Marsya berdiri, bola mata sendu melirik ke Aulia, "Pa, Aulia nggak ikut pulang?"
"Tidak, akan bahaya jika mereka mengetahui Aulia berada di rumah," tegas tuan Agung sedikit melirik ke wajah masam Aulia.
__ADS_1
Aulia melambaikan tangannya, "Pergi..pergilah Papa dan Mama. Lupakanlah saja jika kalian pernah memiliki putri cantik dan imut seperti aku," ucap Aulia sendu.
Ningrum merangkul Aulia, "Kamu kok sedih? 'kan ada tante di sini. Lagian kamu juga sebentar lagi bakalan menjadi putri kesayangan tante," ucap Ningrum tidak ingin melihat membuat Aulia bersedih karena ucapan tuan Agung.
"Kalau gitu jaga aku titipkan Aulia bersama dengan kalian," ucap Marsya kepada Ningrum dan Andra. Bola mata Marsya melirik ke Aulia, tangan kanan melambai, "Daa...sampai jumpa waktu makan malam sayang."
"Masak yang enak ya Ma," Aulia mengelus perut langsingnya, "Karena sepertinya Aulia akan sangat lapar nanti malam."
"Baik gadis kecilku."
Tuan Agung, Marsya dan Venus pun melangkahkan kedua kakinya meninggalkan rumah Tarjok. Hati Marsya dan tuan Agung sebenarnya sedikit sedih karena harus berpisah dengan putri kesayangannya yang baru saja pulang ke rumah mereka. Namun, Marsya dan tuan Agung harus merelakannya demi kebaikan Aulia.
Melihat Aulia terus cemberut dan sedih, Andra menggenggam tangan kanan Aulia, "Mari aku tunjukkan kamar ku," ucap Andra mengajak Aulia untuk melihat kamarnya.
Dimana-mana seorang wanita akan senang bila di ajak melihat kamar kekasihnya, dan itupun memiliki kesempatan untuk berdua. Tapi Aulia berbeda, Aulia menepis tangan Andra, dan berkata, "Nggak mau ah. Masa aku dan kamu melihat kamar berduaan. Apa kata Om dan tante nanti?"
"Kami sudah mengizinkan kamu untuk melihat-lihat berdua dengan Andra. Jadi kamu tidak perlu segan. Kamu tidak perlu kuatir akan kenakalan Andra-" Ningrum menggoyang tab berisi rekaman CCTV di kamar Andra, "Kami bisa memantau kenalkan Andra dari sini!" sambung Ningrum dengan senyum tipis penuh makna.
"Kamu jangan nakal sayang," cubit gemas Tarjok dari samping.
"Hehe, hanya ingin tahu seberapa aktif Andra saat bertemu dengan Aulia," ucap Ningrum sedikit bercanda.
Cuit!!!
Tarjok mencubit gemas hidung mancung Ningrum, "Karena kamu nakal, maka kamu akan aku hukum sebentar sebelum aku kembali bekerja," ucap Tarjok menggendong Ningrum, dan membawanya menuju kamar.
"Anak-anak, jangan di tiru adegan ini ya!" pesan Ningrum kepada Andra dan juga Aulia.
"Itu sudah pasti Ma," sahut Andra seolah dirinya sudah terbiasa melihat Ningrum di gendong.
"Emang apa hukumannya jika tante Ningrum berbuat salah?" tanya Aulia polos ke Andra.
"Tidak tahu!" Andra kembali menggenggam tangan Aulia, "Mari aku tunjukkan kamar ku agar kamu bisa istirahat sejenak di dalam," ajak Andra sekali lagi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, pikiran sama kenyataan Aulia dan Andra sangat jauh berbeda. Dan rekaman CCTV juga sepertinya berbohong. Di depan mata Marsya dan Andra hanya ada dua ranjang berukuran 4 kaki. Sedangkan di CCTV ranjang berukuran 8 kaki.
__ADS_1
"PAPA!" teriak Aulia suntuk melihat ranjang empat kaki, terlihat begitu sempit dan susah untuk bergerak.
...Bersambung ...