
"Kenapa kamu gak mau jawab Man..Apa kamu takut untuk menceritakan yang sebenarnya? Kamu bohong kan kalau Melati kabur! Mana alamatnya!" desak Pak Harjo.
'Ah, kenapa dia begitu ingin tahu? ' bisik Pak Herman dalam hati.
" Maaf Pak Harjo, saya nggak tau..Tapi Melati memang kabur dari rumah saya. Dan saya nggak tau kemana Pak. Saya tidak punya alamatnya,"
" Ah..sudahlah..kamu pasti berbohong. Sudah..saya permisi. Tapi kamu harus tahu, kalau saya masih berminat untuk menjadikan Melati istri saya hahahahaha," kata Pak Harjo sambil tertawa .
Pak Herman dan Bu Ratih mengerutkan keningnya. Sama sekali tak mengerti pikiran pria tua itu. Sudah tua, tapi masih mau saja menikah sama gadis muda belia. Dan akhirnya mereka saling bertatapan. Mencari tahu maksud Pak Harjo.
"Astaga Pak..apa dia masih mau menikahi Melati? Padahal hutang kita sudah di bayar oleh seseorang?"
"Iya Bu..aku juga tidak habis pikir kenapa Pak Harjo masih menginginkan Melati.." ujar Pak Herman sambil memijit pelan keningnya. Tiba-tiba saja sekarang kepalanya jadi berat. Sakit tiba-tiba di puncak kepalanya. Lalu tubuhnya oleng.
" Pak..bapak...! kenapa Pak..?" ujar Bu Ratih sambil memeluk cepat suaminya, agar tidak jatuh. Perlahan wanita itu membimbing suaminya ke kursi tamu, menidurkan suaminya. Setelah itu berlari kearah kamar mengambil minyak angin. Lalu mengusapkan minyak angin itu ke hidung suaminya. Sudah dua kali Pak Herman pingsan seperti ini. Dan itu membuat cemas Bu Ratih. Wanita itu memijit kaki suaminya. Rasa cemas menyelubungi hatinya. Setelah memijit kepala dan kaki pak Herman, Bu Ratih pergi keluar rumah. Mencari tetangga tersekat untuk menolongnya.
" Pak Hardi... Tolong.. tolong !"teriaknya sambil berjalan hilir mudik di halaman rumah tetangganya. Pikirannya kacau. Suaminya tak kunjung siuman. Dari dalam rumah seorang pria paruh baya keluar dengan ter gopoh -gopoh.
"Ada apa Yu..?"
__ADS_1
"Tolong aku Hardi..Mas Herman pingsan." setelah berkata begitu, Pak Hardi langsung berlari ke rumah Bu Rayon. Di belakangnya Bu Ratih berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Pak Hardi. Mereka berdua tiba di rumah Bu Ratih. Bu Ratih dan Pak Hardi mendekati Pak Herman yang terlentang tak sadarkan diri.
" Sepertinya Mas Herman belum sadar juga Yu..apa sebaiknya kita bawa ke Puskesmas saja?" tanya Pak Hardi sambil menatap Bu Ratih yang berdiri mematung di sebelahnya. Bu Ratih menoleh kearah Pak Hardi.
"Iya Harus Di..rasanya tidak apa kalau kita bawa ke Puskesmas, tapi terus terang saya nggak ngerti Di.." ujar Bu Ratih sambil menyusut air matanya.
"Ya sudah kalau begitu, mbak siap-siap saja. Nanti saya telpon orang Puskesmas. Biar nanti jemput kita. Gak mungkin kan kalau kita bawa Mas Herman pakai motor," kata Hardi tegas. Lalu berjalan meninggalkan Bu Ratih dan Pak Herman. Tak berapa lama pria itu kembali ke rumah Bu Ratih. Dengan pakaian rapi. Sepertinya sudah siap mengantarkan Pak Herman ke Puskesmas.
" Ayo Yu..siap -siap. Sebentar lagi mobil Puskesman datang!"
"Ya. makasih Di.untung ada kamu kalau tidak. Sama siapa Mbak akan minta tolong," kata Bu Ratih, kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa perlengkapan yang dibutuhkan. Tak lupa dia berganti pakaian. Lalu berjalan tergesa mendekati Pak Hardi.
"Bawa masuk Pak Herman, Pak Wawan. Ibu Ratih tunggu disini saja ya. Biar saya periksa dulu Pak Herman," Dokter Hanifa menoleh menatap kearah Bu Ratih. Wanita separuh baya itu mengangguk.
Perawat tadi beserta dokter Hanifa masuk ke dalam ruang periksa. Cukup lama Bu Ratih dan Pak Hardi menunggu. Derit pintu ruang periksa berbunyi. Wajah tenang Dokter Hanifa muncul dari balik pintu bercat putih itu.
"Bagaimana suami saya dokter, apa dia sudah siuman?" Dokter Hanifa mendekati Bu Ratih.
" Bu Ratih, sepertinya Bapak Herman terkena stroke. Jadi kami sarankan untuk membawa Bapak ke Rumah Sakit di Kota. Karena alat disini tidak memadai. Nanti akan saya buatkan surat rujukannya ya Bu..saya permisi dulu.". Dokter Hanifa meninggalkan Bu Ratih dan Pak Hardi yang masih terpana mendengar penjelasan dokter Hanifa.
__ADS_1
"Bagaimana ini Dek..saya sama sekali nggak ada biaya untuk membawa Mas Herman ke rumah sakit. Apa saya harus tolak saja ya Dek..?" Bu Ratih memandang sayu pada tetangganya itu.
" Menurut saya, lebih baik Mas Herman di bawa aja Yu..takutnya nanti tidak tertolong lagi. Kalau soal biaya, Yu jangan kuatir. Nanti saya pinjamkan. Yang penting Mas Herman kita bawa ke rumah sakit dulu."
" Aduh dek..bagaimana mbak membayar hutang sama kamu, kamu sudah sangat baik sama kami. Semoga Allah memberikan rezeki tak terhingga buatmu ya dek,"
"Aamiin..Yu..sudah kita ajak sopir dan perawat tadi saja untuk mengangkat Mas Herman ke mobil Ambulance," ajaknya sambil berjalan kearah ruang periksa. Dimana ada perawat pria tadi yang sedang mengatur infus. Bu Ratih mendekati perawat pria itu.
"Bagaimana dek, sama suami saya?"
" Ibu tak perlu kuatir. Bapak pasti sembuh. Nanti di Rumah Sakit di Kota, bapak akan mendapatkan pelayanan dan pengobatan yang baik.". sahutnya menenangkan hati Bu Ratih. Bu Ratih mengangguk.Tak berapa lama, dokter Hanifa masuk ke ruang rawat, dan memberikan surat rujukan pada Pak Hardi.
"Sekarang Pak Herman boleh di antar ke Rumah sakit Sehat Sejahtera Pak. Semoga lekas sembuh ya."
"Oh ya..pak Joko tolong antar Pak Herman dan keluarganya ya ke Rumah Sakit, Pak Wawan bisa menemani keluarga pasien. Tolong di cek tekanan darah dan infusnya ya Pak Wawan!" Dokter Hanifa menatap kedua pegawainya. Diikuti anggukan oleh keduanya. Dengan sigap kedua pria itu meletakkan Pak Herman ke dalam tandu lalu membawanya ke dalam mobil Ambulance.
"Dokter, terima kasih. Untuk biaya Ambulance akan saya urus setelah Pak Herman di rawat di rumah sakit. " ujar Pria tampan. Dokter Hanifa tersenyum.
"Tidak masalah Pak Hardi. Setelah selesai urusan di rumah sakit Sehat Sejahtera, Bapak bisa membayar biaya transport . mari..saya kedalam dulu. Masih ada pasien," ujarnya sambil pamit masuk ke dalam Puskesmas. Karena beberapa pasien sudah menunggu.
__ADS_1