Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Kesan pertama


__ADS_3

Hendrawan pagi ini sudah duduk di kursi kebesarannya. Sebagai Direktur utama tugasnya begitu banyak. Walaupun sudah ada Reyhan yang membantu tugasnya. Tapi bagi Hendrawan masih ada tugas lain, yang tidak bisa di serahkan sepenuhnya pada Reyhan putra sulungnya.


Pikirannya masih kalut. Dia ingin mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi. Dan sahabatnya ketika sekolah di bangku SMA itu sudah setuju untuk mendukung bisnisnya. Asal salah satu putri Hendrawan menikah dengan putra tunggalnya, Randy.


Hendrawan memutar otak. Rencana demi rencana sudah tersusun. Langkah apa yang akan di lakukan untuk kelangsungan perusahaannya.


Tapi rencananya nyaris diambang kegagalan, karena Meli putri kembarnya tak mau di jodohkan dengan Randy.


"Apa coba kurangnya Randy. Sudah lah tampan, seorang dokter. Perusahaan ayahnya sangat maju saat ini. Bingung jadinya," pikir Hendrawan.


Timbul ide di kepala Hendrawan untuk membujuk Randy agar mau mendekati Melati. Segera pria setengah baya itu mengambil benda pipih yang terletak di meja kerjanya.


Mencari sebuah nomor. Lalu memencet logo berwarna biru. Sambungan berdering. Tak lama sebuah suara menyapa diseberang.


"Ya..Halo. Waalaikum salam. Apa kabar Randy. Ini Om Hendrawan."


"Ya Om..Randy belum lupa kok Om."


"Syukurlah. Oya..hari ini Melati kuliah jam sepuluh. Apa kamu bisa mengantar nya ke kampus? Kebetulan, Pak Heru sedang pergi ke Bandung dengan tante Anita. Meninjau Hotel disana. Jadi Om minta tolong. Bisa?" Randy tersenyum mendengar permintaan sahabat Papanya. Sekaligus calon mertua.



"Insya Allah bisa Om..nanti sebelum jam sepuluh Randy ke rumah Om untuk menjemput Melati." di seberang sana Hendrawan tersenyum senang.


"Baiklah. Terima kasih banyak. O,ya. apa tidak menganggu jadwal kerja kamu?"


"Nggak Om. Saya sekarang ada di Rumah Sakit. Jam sepuluh biasanya visit pasien. Tapi bisa di gantikan oleh kepala perawat di rumah sakit. Om tenang aja. Saya pasti akan menjemput Melati dan mengantarkannya ke kampus.!"


" Baiklah.Terima kasih."


"Sama-sama Om."


Hendrawan langsung mematikan sambungan telponnya. Hatinya lega, karena Randy bersedia menjemput Melati di rumah lalu mengantarkannya ke Kampus. Anita ,istrinya memang sedang ke Bandung bersama sopirnya pak Heru. Sebenarnya, Hendrawan bisa saja menyuruh bawahannya untuk menjemput dan mengantarkannya Melati ke kampus. Tapi Hendrawan ingin agar Melati dekat dengan Randy.


Hendrawan merasa putri bungsunya itu cocok dengan Randy.


***

__ADS_1


Matahari pagi bersinar terang. Jam di kamar Melati sudah menunjukkan ke pukul sembilan pas. Sinar Matahari menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Gadis cantik itu menggeliatkan tubuhnya. Rasanya kantuknya masih bertahan di pelupuk mata. Akibat menelpon sampai dini hari. Melati jadi bangun kesiangan. Untungnya saat azan Subuh bergema, alarm di ponselnya ikutan berbunyi. Jadilah Ia melaksanakan Shalat subuh dulu. Setelah itu kembali tidur. Membayar rasa kantuk karena selesai ngobrol dengan kembarannya hingga jam dua malam.


Melati membangkitkan tubuhnya, lalu berjalan ke kamar mandi masih dengan muka bantal.


Selesai mandi, dan berpakaian Ia menyusun buku pelajarannya ke dalam tas ranselnya. Setelah selesai Melati langsung turun ke lantai satu. Baru saja akan ke ruang makan. Wati art di rumah mewah ini menyapanya.


"Mel...ada tamu. Katanya mau ngantar kamu ke kampus." Melati menatap Wati dengan wajah penuh tanya.


"Siapa mbak?" Wati mengedikkan bahunya.


Melati urung masuk ke ruang makan. Dia berjalan cepat ke arah ruang tamu. Sampai di ruang tamu ternyata tidak ada siapapun. Eit...nanti dulu. Pintu depan terbuka. Melati memanjangkan lehernya. Mengintip dari dalam lalu melihat seorang pria sedang duduk di kursi teras .


"Mas Randy?" gadis itu langsung menemui tamu yang di katakan Wati tadi.


"Assalamualaikum. Mas Randy.Lama menunggu? Mau ketemu siapa?"


Randy yang asyik berselancar di dumay dari ponselnya mendongkakkan kepalanya. Menatap ke arah suara yang menyapanya.


"Mau ketemu kamu," sambungnya, Randy melempar senyum manisnya pada Melati. gadis itu terpana sesaat. Beberapa detik kemudian tersenyum simpul.


"Kok, ketemu saya? Ada apa?" Melati berjalan mendekati kursi yang di duduki Randy.


"Om Hendrawan tadi telpon. Minta tolong antar kamu ke kampus. Karena tante Anita lagi ke Bandung." Melati menatap Randy. Lalu..


"Kok bisa? bukannya Papi bisa minta tolong asistennya atau apalah yang ada di kantor,"


"Kamu keberatan saya antar?" Randy menatap lekat mata indah Melati. Jantung nya jadi berdebar menatap kecantikan wajah putri sahabat papanya.


"Bukan begitu, tapi saya nggak mau merepotkan Mas Randy aja," elaknya menyamarkan keterkejutannya. Randy mengangguk paham.


"Ok..apa kita bisa langsung pergi?"


"Ehm bisa, tapi saya belum sarapan Mas..Apa saya boleh sarapan dulu? Mas Randy sudah sarapan?. Kalau belum ayo kita sarapan bareng," ajak Melati sembari tersenyum ramah.


"Tadi saya sudah sarapan di rumah sakit. Kamu saja! Saya tunggu disini," tolaknya sambil kembali mengalihkan tatapannya pada layar ponselnya.

__ADS_1


Melati langsung masuk ke dalam rumah. Saat di lihatnya, Randy sudah sibuk dengan ponselnya kembali.


Sarapan di nikmati Melati dengan kilat. Tak enak rasanya merepotkan orang dan membiarkan orang itu menunggu lama.


Gegas Ia menyambar tas yang tergeletak di sofa. Lalu berjalan setengah berlari ke arah teras.


Randy mengangkat kepalanya, saat Melati sudah berdiri di dekat Ia duduk.


"Sudah selesai sarapannya?" di jawab dengan sebuah anggukan dari Melati.


Randy memencet remot mobilnya, mereka berjalan kearah mobil Randy yang terparkir di depan halaman rumah.


Setelah pintu mobil di bukakan Randy, Melati langsung masuk ke dalam mobil. Randy kemudian menutupnya kembali. Berjalan di depan mobilnya lalu membuka pintu dan masuk ke dalam, duduk di belakang stir kemudi.


Dengan konsentrasi penuh, Randy mengemudikan mobilnya, meninggalkan halaman rumah mewah Hendrawan .


Selama di jalan. Keduanya hanya diam. Belum ada yang memulai percakapan diantara mereka.


"Masuk jam berapa Mel?" pertanyaan pertama Randy di dalam mobil, memecah keheningan diantara keduanya.


"Jam sepuluh Mas," Melati menjawab tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya. Randy menatap sekilas gadis itu. Lalu kembali memandang lalu lintas di depannya.


Menempuh waktu kurang dari empat puluh lima menit, mobil Randy sudah memasuki halaman parkir di Kampus Abdi Bangsa. Randy menghentikan mobilnya.


"Jam berapa pulang kuliah Mel?" Melati menoleh ke arah dokter muda itu.


"Jam empat Mas."


"Ok..nanti tunggu aja. Mas akan jemput kamu," sahut Randy sambil membantu Melati membuka safety belt di kursi gadis itu.


Tanpa di sengaja, wajah keduanya begitu dekat. Randy dapat mencium harum nafas Melati. Membuat Randy enggan menjauh dari gadis itu.


Namun Melati kemudian menarik wajahnya menjauh dari Randy. Lalu membuka pintu mobil dan turun . Randy mengawasi gadis itu tanpa berkedip. Setelah Melati menjauh dari mobilnya, Randy menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkir kampus. Dengan kecepatan sedang sembari menikmati lagu barat dari radio di mobilnya. Mobilnya mengarah ke Rumah Sakit tempat Ia bekerja.


Masih terasa di penciuman Randy, wangi mulut Melati. Membuat dirinya candu untuk semakin dekat dengan gadis berjilbab itu.


Ah..apakah ini yang namanya jatuh cinta? Randy tak bisa menjawabnya. Biarlah waktu yang akan menjawabnya nanti. Namun kesan pertama begitu luar biasa bagi Randy.

__ADS_1


__ADS_2