
Melati melangkahkan kakinya masuk ke dalam Restoran mewah itu. Di Kota ini Restoran Sari Laut sangat terkenal. Makanan yang di hidangkan bermacam-macam, mulai dari Udang, Cumi, Kepiting, dan Kerang-kerangan. Tentu saja Ikan Laut yang masih segar dan gurih rasanya.
"Ada yang bisa di bantu Mbak?" tanya seorang wanita cantik. Di depannya ada tulisan resepsionis.
Melati melihat papan nama yang terpampang di dada wanita itu. Seorang Pria di sebelahnya tampak sibuk menerima telpon. Melati kemudian menjelaskan kalau dia di undang Tuan Hendrawan di Restoran ini.
Resepsionis itu pun kemudian memanggil temannya untuk mengantarkan Melati ke ruang Privat Room. Pelayan itu membukakan pintu kamar itu untuknya. Sambil menyapa seseorang yang ada di dalam ruangan. Lalu menyilakan Melati masuk. Saat masuk Melati melihat Tuan Hendrawan dan Nyonya Anita sudah ada di meja makan. Mereka berdua melambaikan tangan pada Melati.
"Hai..sayang..akhirnya sampai juga ya di sini," sapa Nyonya Anita pada Melati.
Wanita itu menyuruh Melati mengambil kursi di sampingnya. Sebelumnya gadis itu menyalami Tuan Hendrawan lalu berjalan ke arah Nyonya Anita. Wanita itu berdiri lalu memeluk Melati dan mencium pipi gadis cantik itu. Melati agak gugup, tetapi ketulusan Nyonya Anita membuat Melati merasa nyaman.
"Kamu mau minum apa nak?" tanya Anita lembut. Tuan Hendrawan tersenyum melihat kebahagian di wajah istrinya.
"Apa aja Mami. Oya, apa Melati telat Mi,"
"Tentu saja tidak sayang, ayo duduk. Mas Reyhan mu sedang menjemput Meli di bandara. Meli kan kuliah di Australia...kebetulan lagi liburan kuliah. Kamu nanti bertemu dengannya,"
"Oh, pantas Melati nggak melihat Mas Reyhan," ujarnya baru mengerti kenapa tak melihat cowok tampan itu.
Tuan Hendrawan memencet bel yang berada di pinggiran meja makan yang berbentuk oval itu. Tak lama seorang pelayan datang dengan membawa kertas menu.
"Ada yang mau di pesan lagi,Tuan?" tanya pelayan itu sopan.
"Iya..saya pesan jus Alpukat dan Jus Mangga dua," ujar Nyonya Anita menatap pelayan Wanita itu. Pelayan itu mengangguk lalu mencatat semua pesanan.
"Baiklah sebentar lagi akan kami antar, apa ada yang lain Nyonya?"
"Tidak ada, hanya saja nanti kalau putra dan putri saya datang, tolong makanannya langsung di hidangkan!"
"Baik Nyonya. Saya permisi,"
"Iya..terima kasih," ujar Nyonya Anita.
__ADS_1
Pelayan itu kemudian keluar ruangan. Nyonya Anita mengalihkan pandangannya pada gadis cantik disampingnya.
"Mami belum dengar, bagaimana kegiatan kamu hari ini?"
"Alhamdulillah lancar Mi."
"Jadi ambil Fakultas apa Mel?" tanya Tuan Hendrawan .
"Melati ambil Fakultas Kedokteran Pi..Mi..maafkan Melati ya. Jadi merepotkan Papi dan Mami. Menguras uang Papi dan Mami. Karena kuliah di Fakultas Kedokteran bukan cuma UKT nya saja yang mahal, tapi buku-bukunya juga," kata Melati tak enak hati. Papi Hendrawan dan Mami Anita tersenyum mendengar kata-kata Melati.
"Sayang..kamu nggak perlu ngomong seperti itu. Itu sudah tanggung jawab kami. Lagian melihat kamu sehat dan cerdas seperti ini sudah membuat Papi dan Mami bahagia," sahut Mami Anita.
Melati menatap bingung pasangan suami istri itu. Kenapa kedua suami istri ini bicara seperti itu?
Ketika sedang asyik bercerita. Pintu Private Room itu terbuka. Mula -mula seorang pelayan wanita masuk sambil membawa baki berisi minuman yang tadi di pesan.
Lalu menyusul seorang pemuda tampan berkulit putih dengan pakaian kemeja bermotif garis-garis vertikal warna biru dan celana panjang berbahan kain berwarna hitam . Sangat serasi membuat pemuda itu makin tampan. Dan...di belakang pria tampan tadi nampak seorang gadis berkulit putih kemerahan, rambut sebahu bergelombang. sangat cantik. Tapi...tunggu dulu, kenapa Melati merasa gadis yang berjalan ke arah mereka di belakang pria muda tadi begitu mirip dengannya. Melati menoleh ke arah Ponsel yang ada dalam genggamannya. Menatap lama wajahnya yang terpantul di ponsel nya. Lalu menatap lagi gadis itu lalu melihat lagi ke arah ponsel dimana wajahnya terpantul di sana. Melati menatap heran pada Papi Hendrawan dan Mami Anita. Keduanya tahu arti tatapan gadis itu. Lalu tersenyum. Gadis cantik yang datang bersama Reyhan berjalan mendekat Nyonya Anita, mencium tangan Nyonya Anita dan mencium pipinya.
"Alhamdullah kamu sudah sampai sayang, jam berapa lending tadi?"
"Hey...kamu berubah sekali Nak..semakin cantik dan dewasa.." sapa Tuan Hendrawan pada gadis itu. Melati menatap gadis itu canggung.
"Baik kok Pi..makasih untuk pujiannya," sahut gadis itu sambil berjalan kearah Tuan Hendrawan. Pria itu langsung berdiri dan memeluknya.
"Ah..kami sangat merindukanmu." ujar Tuan Hendrawan.
"Oh ya Meli...ini Melati..." dari belakang Meli, Nyonya Anita mengenalkannya pada gadis yang sama cantiknya dengan dia. Hanya saja gadis itu mengenakan Khimar. Nampak cantik dan meneduhkan siapa saja yang memandangnya.
Meli menoleh ke arah Mami Anita lalu menatap gadis yang berdiri di sebelah Maminya. Menatap dengan tatapan menyelidik. Lalu mendekati Melati yang menatapnya lekat. Mata mereka bertemu. Dua wajah yang sama. Hampir tak ada perbedaan.
"Meli.." Meli menyodorkan tangannya pada Melati. Melati menyambut tangan itu dan menggenggamnya.
"Melati,"
__ADS_1
Semua menatap dengan lekat kedua nya. Ada air yang mulai membasahi kedua mata Tuan Hendrawan dan Nyonya Anita. Saat yang amat di tunggu-tunggu.Melati dan Meli menatap lekat wanita setengah baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu. Dengan tatapan penuh tanya.
" Ehmn..kok bisa ...?" tanya Meli.
"Ya bisa saja, karena kalian saudara kembar. Kalian putri kami. Putri Kandung kami. " potong Nyonya Anita.
Kedua gadis itu terperangah. Sama sekali tak menyangka.
Pantas saja, sewaktu aku membuka album lama yang ada di lemari Mami, ada foto seorang gadis yang wajahnya sangat mirip denganku. Tapi kemana dia selama ini, dan tiba-tiba saja ada di sini, batin Meli.
'Duduk lah..biar Papi jelaskan!" perintah Tuan Hendrawan kemudian. Diikuti semua yang ada di ruangan itu.
"Dulu, kami memiliki bayi kembar yang sangat cantik. Kami beri nama Melati dan Meli. Suatu hari Mami dan Pengasuh yaitu Mbok Sri membawa kedua anak kami itu bermain di taman komplek tempat tinggal kami. Rumah yang sekarang Papi maksud.. Saat sibuk mengurus Meli yang menangis tak berhenti. Mami dan Mbok Sri sibuk mendiamkan Meli. Sampai akhirnya Meli berhenti menangis. Lalu karena sudah berhenti menangis Mami dan Mbok Sri memutuskan untuk pulang ke rumah. Pada saat akan pulang, Mami dan Mbok Sri baru sadar kalau tidak melihat Melati di taman. Entah kemana perginya. Akhirnya di kerahkan lah semua orang untuk mencari Melati. Tapi tidak juga ketemu. Sampai akhirnya Mami agak depresi karena merasa bersalah teledor mengurus anaknya.
Tapi akhirnya Mami bisa di obati. Dan sehat sampai sekarang. " cerita Tuan Hendrawan membuat dua gadis yang mirip wajahnya itu , Melati dan Meli tercenung . Sama sekali tak menyangka akan terjadi kisah seperti ini. Mereka kemudian saling menatap.
"Bagaimana Mami dan Papi bisa tau keberadaan Melati?" tanya Meli penasaran.
"Dua bulan yang lalu tepatnya. Seseorang kepercayaan Papi bertemu dengan Melati. Pak Sandy, kamu ingat kan Meli dengan Pak Sandy, kebetulan membeli sapi di desa tempat Melati tinggal. Pak Handoko pemilik ternak Sapi itu. Secara kebetulan Melati datang mengantarkan sayur pesanan Pak Handoko untuk para pekerjanya. Pak Sandy bertanya pada pak Handoko, siapa gadis itu. Dijelaskan bahwa Melati anak angkat Pak Herman dan Ibu Ratih. Pak Sandy lalu mengajak pak Handoko ke rumah Pak Herman. Di sana Pak Sandy bertemu dengan Pak Herman dan istrinya. Pak Sandy bertanya bagaimana ceritanya Pak Herman bisa mendapatkan Melati. Singkat cerita, Pak Sandy menghubungi Papi dan memberikan alamat Papi di Jakarta pada Pak Herman.
Papi berharap kamu bisa datang kesini. Alhamdulillah sekarang kita bisa ketemu. nak..bertahun-tahun kami menunggu saat-saat seperti ini...Allah Maha Kuasa..DIA mampu mempertemukan kita lagi. Suatu keajaiban." Cerita Tuan Hendrawan. Semua mendengarkan dengan serius.Dan tentunya sangat bahagia. Bertemu dengan anggota Keluarga yang selama ini hilang.
Meli menatap wajah kembarannya dengan hampa. Bagaimana bisa dia punya saudara kembar.
'Kenapa Mami dan Papi tak pernah mengatakan rahasia ini padaku dan kak Reyhan' bisik Meli galau.
Dia sungguh tak menyangka acara makan malam ini untuk mempertemukan dia dengan saudara kembarnya.
'Mengapa juga wajahnya pakai mirip sama gue, 'gumam Meli pelan. Reyhan yang duduk. di sebelah gadis itu langsung menoleh kearah adiknya.
"Ngomong apa kamu Meli?" tanya Reyhan menolehkan kepalanya kearah Meli. Gadis itu terkejut. Ah..Hampir saja di dengar oleh mas Reyhan, bisik hatinya.
"Ya sudah..sekarang nikmati makan malam spesial ini. Papi sengaja mengajak kalian makan malam di Restoran Sari Laut agar kalian bertiga bisa saling mengenal dan dekat dengan Melati." imbuhnya sambil menatap ketiga anak dan istrinya. Semua tersenyum, kecuali Meli. Tersenyum malas. Hanya senyum miring. Entah apa yang ada di kepala gadis cantik itu.
__ADS_1
*****