
Pagi ini semua anggota keluarga Hendrawan berkumpul di meja makan. Seperti biasa mereka sarapan pagi dengan akrab. Saling bertukar cerita. Melati merasa nyaman dengan keluarga barunya. Walaupun kembarannya memiliki sifat acuh dan jutek. Melati maklum karena Meli sudah lama berpisah dengannya. Namun Melati berusaha untuk bersikap care pada saudara kembarnya itu. Seperti pagi ini, Hendrawan selalu bertanya tentang aktifitas anak-anaknya. Terutama si kembar .
"Jadi..jam berapa pak Herman akan operasi kateterisasi hari ini Mel?"
"Siang ini Pi...nanti pulang dari kampus, Mel mau lihat Bapak."
"Emang lu pulang kuliah jam berapa? gue tau Fakultas Kedokteran itu sibuk banget. Apalagi kan lu mulai praktek- praktek gitu. Mendingan lu ke rumah sakit pagi ini deh...Jadwal lu hari ini jam berapa kuliah mata pelajaran pertamanya?" sambar Meli ketus.
Papi Hendrawan dan Mami Anita cuma bisa diam sambil menatap kedua kembar itu. Meli memang gaya ngomongnya seperti itu. Terkesan cuek dan tajam. Kadang kalau tidak masuk akal maka ia akan protes. Dan Mami papinya sangat tahu dengan tabiat gadis itu. Hampir 20 tahun mereka satu sama lain terpisah. Mungkin hanya hati yang paling dalam saja yang menyayangi satu sama lain. Walaupun tak sempat untuk saling sayang secara fisik. Kedua orang tuanya, Pak Hendrawan dan Ibu Anita sangat paham. Melati memiliki sifat, polos , lembut dan penuh kasih sayang. Lembut dalam bertutur kata maupun dalam sikap. Berbeda hal nya dengan Meli. Gadis itu lebih terlihat acuh, cuek, ketus dan arogan. Tapi keduanya sama-sama pintar. Dimata Pak Hendrawan dan istri keduanya memiliki masing-masing memiliki nilai lebih.
"Jam sembilan," sahutnya sambil menyendok kan nasi goreng ke mulutnya.
"Tuh kan bisa , pagi ini mending lu pergi ke Rumah Sakit dulu. Menemani sebentar bu Ratih. Abis itu lu pamit aja mau kuliah. Kan beres." ujar Meli menjelaskan dengan semangat gaya dia. Papi dan Mami tersenyum menatap Meli. Mungkin karena Meli sudah lama kuliah di luar Negeri menyebabkan daya pikir gadis itu lebih lempeng, simpel. Karena dari lahir, Meli tidak pernah mencicipi susahnya hidup. Keluarga Hendrawan terkenal dengan kekayaannya yang nggak bakalan habis tujuh turunan. Apalagi dengan hadirnya pelimpahan kepemimpinan yang baru, diambil alih oleh Reyhan si sulung yang tak kalah cerdasnya dari kedua saudara kembarnya. Reyhan tercatat memiliki IQ yang tinggi, karena semasa SMP dan SMA ,cowok itu selalu masuk excel alias lompat -lompat kelas. Baru satu tahun di kelas satu, lalu mengikuti ujian untuk kelas dua, dan tiga. Dan semuanya dilalui dengan baik. Begitu juga saat SMA. Reyhan mulai kuliah saat berumur 16 tahun. Dan menyelesaikan kuliah S1 nya saat umur 20 Tahun. Begitu juga dengan Meli. Gadis itu tak kalah pintarnya dari abangnya. Selain otak yang encer tentu di dukung dengan fasilitas yang serba modern dan mahal. Melati sendiri walaupun cuma tinggal di kampung tapi sejak dari Sekolah Dasar sampai Menengah Atas selalu mengondol juara satu. Dan saat ujian akhir, nilainya nomor satu umum. Pak Herman dan Bu Ratih sangat bangga. Walau ternyata Melati bukan anak kandungnya.
"Bagaimana perusahaan yang di Cibitung, Rey...Papi dengar kemaren mengalami kekurangan pasokan tinta untuk pencetakan kain?" tanya Hendrawan pada putra sulungnya.
"Alhamdulillah udah selesai Pi. Pabrik kita yang di Sukabumi sudah menambahkan produksi tinta. Dan langsung dikirim ke Pabrik tekstil Cibitung."
"Alhamdulillah.. senang Papi mendengarnya. Lain kali kamu suruh Bayu dan Resnu untuk mengecek produksi tinta kain di Pabrik. Jangan sampai lengah. Karena kalau tinta kehabisan, otomatis kegiatan produksi kain berhenti,"
"Ok Pi..makasih nasihatnya. Insyaallah gak bakalan lupa lagi Pi." sahut Reyhan sambil tersenyum.
"Mel kamu mau bareng sama Mas?sekalian Mas mau ke perusahan yang kemaren. Kan melewati kampus kamu." ujar Reyhan sambil menyelesaikan sarapannya. Melati mengangguk lalu meneguk habis minumannya.
"Mami ..Papi Mel..berangkat dulu, ya. " pamitnya sambil mencium punggung tangan Maminya. Kedua orang tuanya tersenyum. Mengusap kepala anaknya dengan sayang.
"Ya sudah hati- hati ya..Rey... antar adikmu sampai ke kampusnya!"
"Siap Mi.." sahut Reyhan sambil meletakkan tangannya ke atas kening. Tanda hormat orang militer. Mami dan Papi juga dua saudara kembarnya tertawa melihat tingkah Reyhan. Reyhan tersenyum melihat semua tertawa.
"Papi juga mau berangkat Mi, Meli..kamu tidak ada acara hari ini? Kalau tidak ada mending ikut Papi. Biar nanti saat kamu tamat S2 kamu sudah bisa memulai pekerjaan di Kantor Papi." kata Hendrawan sambil melangkah ke d
__ADS_1
luar ruang makan diikuti dengan yang lain.
"Iya Li..kamu harus belajar dari sekarang. Nantinya Magister Bisnis kamu itu akan segera di pakai sepulang dari Australia." Mami Anita ikut memberi wejangan pada putrinya. Meli yang biasa di panggil Lili mengangguk.
"Nanti jam sepuluh Lili udah sampai di kantor Papi. Jangan khawatir," sahutnya sambil memberi kode dengan jempol dan telunjuk ditautkan. Pak Hendrawan dan Anita, istrinya tersenyum bahagia.
Sementara Melati dan Reyhan sudah masuk ke dalam mobil Fortuner nya.
"Kamu jadi Mel ke rumah sakit dulu, sebelum ke kampus?" tanya Reyhan sambil tetap fokus ke depan menjalankan mobilnya.
"Jadi Mas. Mel ke Rumah Sakit nengok Bapak dan Ibu dulu, setelahnya baru ke Kampus. Kan Kampus Mel nggak jauh dari Rumah Sakit. " Reyhan mengangguk menanggapi ucapan adiknya.
"Mel ke dalam dulu Mas." pamitnya pada Reyhan. Saat mobil telah berhenti di depan Rumah Sakit Sejahtera.
"Eh..Mel...bareng aja. Mas Reyhan pengen ketemu sama Bu Ratih dan Pak Herman." panggil Reyhan menghentikan langkah Melati yang berjalan ke ruang tunggu Rumah Sakit Sejahtera.
"Apa Pak Herman sudah masuk ruang rawat inap Mel?" tanya Reyhan sambil mensejajarkan langkahnya dengan Melati. Melati menjawab dengan anggukan. Mereka berdua kemudian masuk ke ruang tunggu, melintasi ruang itu lalu berbelok ke kanan. Ruang rawat inap pak Herman tak jauh dari pengkolan itu. Ruang Penyakit Dalam. Mereka masuk ke dalam ruangan. Ada resepsionis yang menunggu di sana.
" Maaf mbak, pasien belum bisa di tengok. Jam besuk pukul 10. Mohon maaf ya mbak," jawab pegawai resepsionis pada Melati. Reyhan berjalan ke arah Melati.
"Ada apa Mel?" tanya Reyhan sambil menatap pegawai resepsionis itu.
"Hei..Mas Reyhan..apa kabar? Mas mau jenguk siapa?" tanya perawat di sebelah resepsionis itu.
"Alhamdulillah. Baik Mita.Ini adik saya, Melati. Calon dokter juga. Kita mau jenguk Pak Herman Suratdimojo. Kemaren sesuai perintah Papi saya, Pak Hendrawan. Pak Herman di pindahkan ke ruang VVIP. Apa sudah dilaksanakan?" tanya Reyhan membuat Melati terkejut. Sungguh dia tak menyangka jika papi dan mas Reyhan bergerak secepat itu.
"Tentu saja sudah Mas Reyhan. Masak permintaan pemilik rumah sakit tidak di turuti. Bisa-bisa kami semua di pecat.." jawab suster Mita sambil tersenyum manis.
"Ok..terima kasih banyak. Saya ke ruang rawat Pak Herman dulu," ujar Reyhan sambil menarik lengan adiknya. Sang adik, Melati sedikit gelagapan. Namun langkah Reyhan pun akhirnya diikutinya. Melati tidak tau dimana ruang VVIP itu. Ternyata Reyhan tau, tiap sudut Rumah Sakit itu. Dan satu lagi Melati tidak tau jika orang tua kandungnya sekaya itu. Keluarga Hendrawan memang memiliki Rumah Sakit , bernama Rumah Sakit Sejahtera.Rumah Sakit itu sudah memiliki 2 cabang di Jakarta , 3 di daerah Jawa dan 3 di Sumatera. Belum lagi perusahaan Tekstil yang di miliki sejak dari kakek buyut Tuan Hendrawan. Ibu Anita pun tak kalah kaya raya. Kedua orang tua nya memiliki perusahaan pemasok makanan snack dan minuman botol. Selain itu perusahaan tambang batu bara dan nikel di daerah Papua dan Sumatera. Dan saat dua keluarga itu bergabung, bisa dibayangkan berapa banyak asetnya.
Melati merasa seperti bermimpi memiliki orang tua yang kaya raya. Tak pernah terbayangkan jikalau dia terlahir dari keluarga seperti ini. Berbanding terbalik dengan kehidupannya di desa bersama dengan kedua orang tua angkatnya. Yang setiap hari nanya bisa makan dengan tahu dan tempe. Makan ikan pun menunggu hasil pancing Pak Herman. Belum lagi di kejar hutang oleh rentenir, tempat Pak Herman meminjam biaya untuk pengobatan ibu Pak Herman. Jadi bisa di pastikan Melati sama sekali belum mencicipi hidup seenak ini selama hidupnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." Reyhan mengetuk dan pintu di salah satu ruangan VVIP . Pintu nomor 2 terkuak. Dari dalam sosok ibu Ratih nongol dari balik pintu. Wanita itu agak terkejut. Akan tetapi saat melihat ada Melati di samping pemuda tampan itu, Bu Ratih menyambut dengan ramah.
"Alhamdulillah, kamu sudah datang Mel..itu Bapakmu.!" Bu Ratih mempersilahkan Melati dan Reyhan menengok Pak Herman yang terbaring di brankar rumah sakit itu.
"Ini siapa Mel..Ibu belum pernah ketemu. Apa....?" Bu Ratih bertanya sambil menebak-nebak pemuda tampan di sebelah Melati. Melati tersenyum.
"Ini Mas Reyhan ,Bu. Mas kenalkan ini Bu Ratih,"
"Si..siapa Mel..?" sahut Bu Ratih menoleh kearah Melati.
"Saya Reyhan, putra Bapak Hendrawan. Kakak sulung Melati," sapa nya mengenalkan diri pada Bu Ratih.
"Masyaallah...Saya Bu Ratih, Den Rey..itu suami saya. Sudah 2 Hari disini. Terima kasih sudah datang menjenguk,"
Reyhan mengangguk, menyambut tangan bu Ratih dan menyalaminya.
'Pantas saja Melati menjadi pribadi yang sopan, lemah lembut. Karena di didik dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang besar' batin Reyhan.
Setelah bercerita keadaan Pak Herman dan bertukar cerita tentang kegiatan Melati dan Reyhan, hari ini. Melati dan Reyhan pamit. Jam di pergelangan tangan Melati sudah menunjukkan ke pukul delapan lewat tiga puluh menit.
"Mas antar kamu sampai Kampus ya..Jangan khawatir."
Melati tersenyum. Lega rasanya. Apalagi sebentar lagi Dia harus masuk kelas. Mereka berdua berjalanan beriringan masuk ke dalam mobil. Lebih kurang 15 menit mereka sudah tiba di halaman parkir kampus. Melati lekas turun dari mobil yang sebelum nya berpamitan pada Reyhan.
Reyhan menjalankan mobilnya ke luar area parkir Kampus Abdi Bangsa. Lalu melaju dengan kecepatan sedang ke arah Kantor nya. Sebetulnya pagi ini dia ada Meeting dengan para pimpinan divisi di perusahaan yang dia pegang.
Setelah tiba di depan gedung kantornya, Reyhan langsung keluar mobil dan melangkah ke dalam gedung. Kunci mobil sudah di serahkan pada satpam yang bertugas parkir mobil.
"Ya..Halo..ya Baik. Saya segera ke sana," Reyhan menerima telpon dari Resnu. Lalu gegas berjalan masuk ke lift khusus pemimpin perusahaan.
...****************...
__ADS_1