Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Penolakan Melati


__ADS_3

Hari beranjak sore. Randy tertidur di sofa kamar pengantin nya. Karena keasyikan main handphone pria itu tertidur. Dan baru terjaga dari tidurnya saat ada ketukan di pintu kamar.


"Tok..tok..tok," Randy bangkit dari tidurnya sambil mengusap wajahnya. Duduk sesaat mengumpulkan nyawa yang masih belum sepenuhnya terkumpul. Matanya mencari sosok Melati yang tadi siang tertidur di ranjang pengantin mereka. Ternyata istrinya itu sudah tak ada disana.


"Kemana Melati?" gumam Randy sambil berjalan pelan ke arah pintu kamar. Membuka daun pintu. Sesaat kemudian seseorang berdiri di depan Randy. Pria itu termangu. Pengetuk pintu tadi adalah Reyhan, kakak iparnya. Tersenyum menggoda Randy dengan mata di kedipkan sebelah padanya.


"Apaan sih kakak ipar. Ganjen amat," protes Randy sambil cemberut. Reyhan menaikan alisnya. Lalu menatap tajam adik iparnya itu.


"Buruan mandi. Itu si Melati sedang di rias untuk acara ntar malam. Selesai mandi langsung ke kamarnya Meli!" perintah Reyhan lalu berlari dari hadapan Randy yang masih melongo menatap Reyhan. Randy hanya geleng kepala. Lalu menutup pintu kamar.


Setelah itu sang dokter muda melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Matanya langsung melotot demi melihat jam di sana. Sudah pukul lima lewat sepuluh menit. Randy berlari ke kamar mandi. Mengambil wudhu dulu karena dia belum melaksanakan sholat Asar. Setelah selesai berwudhu, pria tampan itu langsung membentangkan sajadah di lantai kamar. Lima menit shalat Asarnya selesai.


Randy kembali ke kamar mandi untuk mandi. Kalau tadi dia mandi dulu, alamat shalat Asarnya akan lebih telat lagi.


Selesai mandi, Randy gegas memakai pakaiannya. Lalu berjalan meninggalkan kamarnya. Berjalan tergesa menuju kamar Meli yang di jadikan tempat merias pengantin dan anggota keluarga lainnya.


"Tok..tok.." Randy mengetuk pintu kamar. Tak lama kemudian pintu terbuka. Randy memasang tampang dingin. Pria itu memang dingin, tapi tidak kalau bersama Melati.


"Silahkan masuk. Mas Randy ya..?" dijawab anggukan oleh Randy. Netra pria itu langsung bertemu dengan netra Melati yang sedang dirias.


"Mas mau di rias sekarang?" tanya sang perias satu lagi pada Randy.


"Apa harus?" Randy balik tanya. Sang perias tersenyum manis.


"Tentu saja mas. Biar wajah mas nggak pucat. Kita kasi bedak dan lipstik sedikit. Biar terlihat segar," sang perias menjelaskan agar Randy bersedia di dandani.

__ADS_1


"Baiklah." sahut Randy.



"Mari Mas duduk disini biar saya dandani!" kata sang perias sopan. Randy langsung duduk di kursi yang di sediakan. Kursi itu bersebelahan dengan Melati.


Randy sempat menatap istrinya yang sedang di rias


Tak lebih dari lima belas menit , dandanan Randy sudah selesai. Begitupun dengan Melati. Gadis itu menoleh ke arah Randy yang sudah mengenakan pakaian adat pengantin berwarna gold. Lengkap dengan topinya. Sementara Melati sedang memasang pakaian adat pula senada dengan baju yang di kenakan oleh Randy. Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Sebuah ketukan di pintu membuat keempat netra orang yang ada di ruangan itu menoleh serempak ke arah pintu.


"Biar saya bukakan," ujar wanita yang telah selesai merias wajah Randy. Ketiga orang itu mengangguk setuju. Wanita itu berjalan cepat membukakan pintu. Setelah daun pintu terbuka, wanita itu tersenyum ramah pada pria yang berdiri di depan pintu kamar.


"Silahkan masuk bapak," pria itu mengangguk ramah. Lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


"Ya Pi..kami udah selesai," sahut Melati di ikuti sebuah anggukan oleh Randy.


"Mbak Melati dan Mas Randy. Dandanannya surah rapi. Nanti kami tunggu di ruang tunggu samping Ballroom. Permisi ,"


"Permisi bapak," kedua wanita itu pamit keluar kamar. Di sahut anggukan oleh Randy dan Hendrawan.


"Makasih ya Mbak," ucap Melati sambil tersenyum ramah. Kedua wanita tadi tersenyum pada Melati, membungkukkan tubuhnya sedikit. Lalu berlalu dari ruangan itu.


"Pi..Mel sebenarnya ingin nanya sama Papi. Kata Mas Randy pernikahan kami tetap berjalan walau nggak ada Mel di sana. Dan pernikahan di gantikan oleh Meli.Gimana bisa Pi. Mel merasa nggak afdol banget. Mel ingin pernikahan. kami di ulang!" protes Melati setelah kedua wanita yang bertugas merias dia dan Randy tadi telah pergi dari ruangan itu.


Hendrawan melongo mendengar protes anak gadis nya itu. Begitu juga Dengan Randy.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih ragu sayang. Pernikahan kalian Sah adanya. Sudahlah jangan terlalu di pikirkan," bujuk Hendrawan sambil menatap lekat wajah sang putri. Melati mendengus kesal. Randy yang berdiri di samping Hendrawan mengangguk setuju dengan ucapan Papi mertuanya.


"Mel akan setuju dan menerima kalau Papi membawa seorang ustad yang kaya akan ilmu agama dan mampu memberikan penjelasan sama Mel. Kalau tidak Mel nggak akan sudi duduk di pelaminan sama Mas Randy!" bantah Melati kesal .


Randy dan Hendrawan saling menatap. Tak tahu lagi apa yang harus di katakan. Masalah yang satu selesai, tapi timbul lagi masalah yang lain. Hendrawan hanya mampu mengusap pelan tengkuknya. Otaknya berkeliaran sedang berpikir. Mencari, Ustadz yang mana yang bisa dia mintai penjelasan tentang kasus pernikahan Melati dan Randy.


"Ok..nanti Papi suruh ustad menjelaskan tentang ke Sah han pernikahan kalian," akhirnya Hendrawan mengalah. Randy menatap Hendrawan dengan tatapan penuh tanya.


"Ok, Mel tunggu di sini Pi..!" ucap Melati tegas. Hendrawan mengangguk lalu berjalan keluar kamar.


Sampai di luar, Hendrawan berpikir keras tentang siapa orang yang bisa memberikan penjelasan yang benar beserta dalilnya untuk Putri bungsunya itu. Hendrawan kemudian memutuskan untuk menelpon orang kepercayaannya. Untuk meminta bantuan mencari Ustadz yang dapat menjawab pertanyaan Melati.


"Halo..Bram." sapa Hendrawan saat sambungan telpon diangkat oleh Bram.


Hendrawan kemudian menjelaskan pada Bram apa yang harus di lakukan oleh orang kepercayaannya itu.


"Baik Tuan. Nanti saya bawa orangnya, sebelum acara resepsi putri tuan," ujar Bram menyanggupi. Tak lama kemudian sambungan telpon di tutup Hendrawan. Pikiran pria setengah baya itu agak lapang. Senyum cerah kembali terbit di sudut bibirnya.


Pria itu kemudian pergi ke kamarnya untuk melihat kesiap sang istri yang sedang di dandani oleh perias MUA. Karena bukan hanya Melati dan Randy yang akan bersanding nanti malam, Dia pun akan ikut bersanding bersama istrinya mendampingi sang putri bungsu. Melati Ayudia.


"Ma..sudah selesai?" tanya Hendrawan sat sudah berada di kamar hotelnya. Anita menoleh sesaat padanya. Lalu tetap membiarkan. sang perias mendandani wajahnya.


"Bentar lagi Tuan. Tinggal mengoles Aye Shadow sedikit di kelopak mata Nyonya ," ucap sang perias sambil tersenyum. Hendrawan mengangguk. Lalu duduk di sisi ranjang untuk menunggu sang istri sampai selesai di dandan.


****

__ADS_1


__ADS_2