
Steven sedang duduk menunggu seseorang di sebuah Cafe. Di depannya telah terhidang secangkir kopi Robusta dan sepotong cheese cake kesukaannya.
Tak lama menunggu seorang pria berjalan ke arah meja nya.
"Selamat pagi Tuan Steve, maaf saya datang terlambat," sapa Pria itu. Steve mempersilahkan pria itu untuk duduk di depannya.
" Tidak apa Mike . Ok aku tidak bisa berlama-lama. Ini berkas aku. Aku minta tolong kau mengurus semua berkas pernikahan aku dengan Meli." Steven menyodorkan map berwarna coklat itu pada pria tadi yang bernama Michael. Pria itu mengangguk paham.
"Yang aku tahu semua beres ya Mike!" tegasnya. Michael tersenyum.
Kemaren sebelum pulang dari rumah Meli. Steve meminta berkas Meli sebagai pendukung untuk pernikahan antar negara mereka. Sehingga hari Ini Steve bisa mengurus pernikahannya dengan Meli.
" Baik Tuan. Nanti jika ada berkas yang kurang, Tuan Steve akan saya kabari," kata pria itu. Steve mengangguk setuju.
"Ini ada uang, sebagai biaya oprasional. Nanti kalau kurang bisa kau minta lagi padaku. Upah untuk mu akan aku transper kalau semua urusan pernikahan ku selesai. Paham!" di jawab anggukan oleh Michael. Steven tersenyum. Seperti nya rencananya berjalan mulus. Setelah ini Ia akan menghubungi Imam masjid komunitas Muslim di Melbourne. Untuk membaca Syahadat. Selepas itu baru ke rumah sakit untuk melaksanakan khitan.
"Saya pamit," ucap Michael sambil berdiri. Kemudian berlalu dari pandangan Steven.
Siang ini rencananya Steven akan menjemput Meli untuk menemaninya bertemu Imam Masjid itu.
Steven sudah siap lahir batin. Akhirnya setelah menghabiskan minuman dan makanannya. Steven keluar Cafe. Dengan mengendarai mobilnya pergi ke rumah Meli.
Tiba di rumah Meli, Steven langsung mengetuk pintu rumah gadis itu.
Tak menunggu lama, pintu terbuka. Wajah cantik Meli muncul di depan pintu yang telah terbuka. Senyum manis mengembang di bibir nya. Meli tampak sudah rapi. Dengan kaos tunik dan jaket tebal musim dingin yang panjangnya melebihi baju yang di kenakan nya. Tak lupa topi berbahan wol yang menutupi seluruh kepalanya.
Siang ini udara mulai dingin walau kota Melbourne tidak di penuh salju. Hanya saja semalam terjadi hujan badai. Meli terpaksa tinggal di rumah. Menyalakan pemanas di ruang tengah. Untung saja bahan makanan masih tersedia di pantry. Hingga dia tak akan kesulitan melewati musim dingin kali ini.
"Sudah siap?" tanya Steven yang masih berdiri di muka pintu rumah.
Meli mengangguk.
__ADS_1
"Ayo ..kita berangkat," ajaknya. Meli lalu keluar rumah nya, mengunci pintu lalu berjalan beriringan dengan Steve sambil berpegangan tangan. Steve tersenyum menatap gadis itu.
"Apa kau sudah siap Steve?" tanya Meli saat mereka sudah berapa di dalam mobil.
"Siap. Aku hangat gembira karena akan memeluk agama baru ku," sahut nya mantap dengan wajah riang.
Meli tersenyum menatap nya. Steve Kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Suasana lalu lintas tak begitu ramai. Saat musim dingin , para Penduduk banyak yang memilih berapa di rumah. Walaupun tak ada salju di sini. Di Australia, tempat-tempat yang mengalami salju hanya beberapa kota saja. Sementara Melbourne hanya mengalami musim dingin saja, sekitar 8 derajat celcius. Tapi jika di bandingkan dengan Indonesia tentu sangat dingin. Karena rata-rata suhu di Indonesia berkisar 29- 32 derajat celcius. Jika musim hujan baru akan terasa dingin.
Meli menatap jalanan dengan riang. Bagaimana tidak riang, sebentar lagi Steven kekasihnya akan memeluk agama yang sama dengannya. Berarti tak ada halangan apa pun baginya untuk di nikahi Steven.
Tiba-tiba ingatan Meli beralih ada seseorang yang pernah mengisi hati nya. Sebenarnya Meli merasa tak percaya, jika kini hatinya telah terbuka untuk Steven.
Setelah sosok Steven hadir dalam hidupnya, perlahan perasaan cinta pada Resnu Wijayanto pergi begitu saja.
Mungkin rasa cinta itu semakin hilang, karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Penghuni hatinya telah di isi oleh seorang pria bule tampan yang kini berada di sisinya.
"Apa kau sudah memberi kan kabar pada Imam Muslim di Melbourne , Mel?" Steven bertanya membuyarkan lamunannya.
Eh..ya..sudah. Tadi mereka mengabari kalau jemaah perkumpulan Mahasiswa Muslim disini sudah menunggu kita,"
"Good, " jawab Steven lega. Meli tersenyum mendengar perkataan Steven.
Tak memakan waktu terlalu lama, mobil Steven memasuki lapangan parkir di depan sebuah rumah sederhana yang di jadikan markas mahasiswa Muslim di Melbourne.
Keduanya keluar dari mobil. Berjalan berpegangan tangan menuju rumah itu. Pintu rumah itu terbuka. Seseorang menyambut mereka dengan ramah.
" Assalamualaikum," sapa Meli sambil menarik tangan Steven untuk masuk ke dalam rumah itu.
" Waalaikum salam, Alhamdulillah. Akhirnya kalian datang," sahut sebuah suara milik seorang pria memakai kopyah di kepalanya.
__ADS_1
Pria itu bernama Salman. Menyalami Steven dengan ramah, diikuti beberapa orang pria yang ada di rumah itu. Sementara pada Meli, pria-pria di sana hanya menangkupkan tangan di dada sebagai tanda bersalaman pada yang bukan muhrim.
"Silahkan duduk Steve." ujar Salman menyuruh Steven untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan. Steven mengangguk, lalu duduk di depan sebuah meja kecil sementara Salman duduk di depannya.
Setelah bertanya kepada Steven tentang kesiapannya untuk memeluk agama Islam. Dan di jawab iya oleh Steven. Maka acara dimulai, dengan kata pembukaan oleh Salman, lalu beberapa nasihat dan berikut tata cara membaca Dua kalimat Syahadat.
Acara pengucapan Syahadat pun mulai di lakukan.
Steven mengikuti Ikrar Syahadat yang di ucap kan oleh Salman.
Dengan mata berkaca-kaca, Steven mengucapkan Syahadat nya.
"Asyhadualla ilaha ilallah, Wa Asyhadu anna Muhammadar rasulullah
yang artinya, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah.
Setelah Steven mengucapkan Syahadat. Salman menyuruh Steven untuk mandi besar.
Selesai mandi besar, Steven di ajarkan Sholat oleh Salman. Saat melakukan gerakan sholat, Steven tak mengalami kesulitan, karena Ia sering melihat Meli melaksanakan sholat saat sedang berdua dengannya. Hanya saja Steven mengalami kesulitan untuk melafalkan bacaan sholatnya.
Salman kemudian memberikan hadiah sebuah buku tata cara shalat pada Steven. Setelah selesai acara itu. Mereka ngobrol bersama dengan Mahasiswa Muslim yang ada di sana. Berbagi ilmu agama. Steven mendengar kan dengan serius. Hatinya sangat lega sekaligus bahagia.
Satu tahap urusannya telah selesai. Tinggal berkhitan dan di lanjutkan dengan urusan surat menyurat pernikahannya pada Kedutaan besar Indonesia di Melbourne.
Selesai berbincang dengan para mahasiswa Muslim di rumah yang sekaligus sebagai Masjid untuk menampung para mahasiswa Muslim untuk beribadah. Steven dan Meli kemudian pamit pulang.
Di perjalanan menuju ke rumah Meli, Steven tak henti- hentinya berucap syukur. Meli begitu bahagia melihatnya.
Karena hari beranjak sore, Steven memutuskan untuk langsung pulang setelah mengantarkan Meli sampai di depan pintu rumahnya.
Meli baru masuk ke dalam rumah, saat bayangan mobil Steven sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
****