
Udara dingin pagi ini membuat Melati menggeliat dari tidurnya. Matanya perlahan terbuka. Saat merasakan dia bukan tidur di atas sofa, Melati terlonjak kaget. Merasai dirinya yang tertidur di atas ranjang. Di sebelahnya seorang pria tertidur dengan pulas.
Melati mencoba mengingat potongan kejadian tadi malam. Ia merasa tidur di sofa tadi malam. Bagaimana bisa sekarang terbangun di atas tempat tidur.
Gadis cantik itu membangunkan tubuhnya dari atas ranjang. Mengambil ponsel yang terletak di atas nakas sebelah ranjang. Melihat jam yang terpampang di ponsel. Sudah menunjukkan ke pukul lima subuh. Melati beranjak dari atas tempat tidur. Lalu melangkah ke kamar mandi. Mandi pagi adalah ide yang tepat untuk pagi ini. Mandi pagi menurut beberapa ahli bisa membuat tubuh bukan hanya segar tapi juga kuat dan sehat. Sebagaimana Rasullulah mengajarkan pada umatnya untuk mandi sebelum subuh.
Setelah selesai mandi. Melati langsung melakukan ibadah sholat subuh.
Selesai shalat subuh, Melati melihat Randy masih tertidur nyenyak di ranjang. Melati bangkit dari atas sajadah. Selesai melipatnya Melati meletakkannya di atas sofa. Gadis itu kemudian duduk termenung di atas sofa. Matanya menatap Randy yang masih tidur nyenyak.
Tak berapa lama Melati merasa kantin menyerangnya. Akhirnya tanpa bisa di ajak kompromi. Matanya kembali terpejam.
****
Sebuah ketukan di pintu membuat Melati membuka matanya. Bangkit dari tidurnya lalu duduk tenang di kursi sofa. Ketukan di pintu kamar masih terdengar. Sambil mengenakan jilbabnya Melati bergegas berjalan membuka pintu. Di depannya berdiri sang kakak memandangnya dengan wajah menggoda.
Wajar saja. Karena malam tadi adalah malam pertamanya. Akan tetapi dimalam pertama itu tak terjadi apapun pada Randy dan Melati. Melati mengerucutkan bibirnya menatap sang kakak yang tersenyum menggodanya.
"Selamat siang..Nyonya Randy Prasetya Wiryawan. Bagaimana dengan malam indahnya? Aman?" goda Reyhan. Melati langsung mencubit perut sang kakak.
"Ad-aduh ..sakit Mel. Kok kamu gitu sih. Kan bener. Kamu Nyonya Randy Prasetya Wiryawan ? Apa ada yang salah sama kata-kata Mas tadi?" Reyhan mendelik kan matanya. Melati mengembangkan pipinya. Tanda dia kesal setengah mati mendengar pembelaan sang kakak.
"Mana Randy." tangan Randy sambil memanjangkan Lehernya untuk melihat ke dalam kamar.
"Ish mas Reyhan ini. Ya sudah sana. Mas Randy masih tidur. Shalat aja belum. Masih ngorok!" ucap Melati kesal. Reyhan terkekeh mendengar omelan adik bungsunya.
"Udah sekarang kamu bangunin Randy. Suruh cepetan shalat subuh. Bentar lagi waktunya habis. Setelah itu kalian berdua turun untuk sarapan. Abis itu sekitar jam delapan kita ke kantor polisi tempat dimana rombongan penculik kamu itu di penjara. Ok..buruan!" kata Reyhan panjang lebar. Melati mengangguk.
"Ya Mas..nanti kami langsung ke ruang makan," sahutnya cepat.
__ADS_1
"Ok. kami tunggu di sana," Reyhan kemudian membalikkan badannya menuju ke kamarnya yang terletak di ujung lantai enam itu.
Melati menutup pintu kamar saat Reyhan sudah pergi dari depan pintu kamarnya. Gadis itu kemudian mendekati Randy yang masih tertidur lelap. Netranya menatap lekat wajah tampan Randy.
"Mas..mas Randy..bangun mas. Shalat subuh dulu." Melati yang tadinya enggan membangunkan Randy. Jadi terpaksa karena mereka pagi ini akan ke kantor polisi memberikan keterangan tentang penculikan Melati kemarin pagi.
Randy tampak menggeliat dari tidurnya.Menatap Melati yang berdiri di sisi ranjang.
"Jam berapa sekarang?" Randy menatap Melati sambil mengusap wajahnya.
"Udah setengah enam." gadis itu langsung menjauh dari ranjang. Berjalan menuju sofa. Sementara Randy kini telah duduk di sisi ranjang. Menatap sekilas Melati yang asyik dengan ponselnya.
Randy membangkitkan tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi pria itu langsung mengambil air wudhu untuk shalat subuh. Setelah selesai pria itu langsung keluar kamar mandi dan berjalan menuju sajadah yang masih terbentang di sudut ruangan. Randy mengenakan kain sarung yang terletak di pinggiran sofa. Lalu mulai melaksanakan shalat subuh. Tak lama kemudian pria itu bangkit dari duduknya di sajadah. Menatap sang istri yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Kamu udah siap Mel?" tanya Randy sambil berjalan ke lemari yang terletak di tengah ruangan itu. Melati mendongakkan kepalanya menatap ke arah Randy.
"Udah Mas. Tinggal banti baju aja. Tadi sebelum subuh Mel udah mandi," Randy mengangguk. Lalu berjalan ke arah kamar mandi. Tak lama terdengar gemercik air yang jatuh ke lantai.
Randy berjalan menuju kaca besar yang ada di sebelah ranjang. Pria itu menyisir surai hitamnya yang di potong pendek dan rapi. Lalu menatap Melati yang masih terlihat asyik dengan ponselnya.
"Sudah siap Mel? Apa kita bisa ke bawah sekarang?" Melati mendongakkan kepalanya menatap kearah Randy yang sudah siap. Matanya menatap sang suami dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas lagi.
Randy menatap istrinya dengan tatapan penuh tanya.
"Apa ada yang salah sama penampilan mas?"
Melati menggeleng. Lalu tertunduk malu.
"Yuk kita berangkat sekarang! Nanti Papi dan Mas Rey kelamaan nunggu kita," ajak Randy langsung berjalan ke arah pintu menunggu Melati sejenak yang mengambil tas sandang nya lalu memasukkan ponsel ke dalamnya. Gadis itu kemudian mengikuti sang suami yang berjalan lebih dulu keluar kamar. Di depan kamar Randy menunggu Melati dengan sabar. Kemudian keduanya berjalan ke arah lift yang terletak di ujung karidor lantai enam ini. Keduanya masuk ke dalam lift. Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift pagi ini. Mungkin beberapa orang yang menginap di sini masih pada tidur. Randy menekan tombol tiga. Ruang makan ada di lantai tiga. Keduanya menunggu beberapa saat.
__ADS_1
"Tring.." pintu lift berbunyi . Tak lama kemudian pintu terbuka. Keduanya berjalan beriringan keluar lift lalu berjalan ke arah ruang makan yang tidak terlalu ramai.
Saat tiba di ruang makan. Keduanya melihat sudah ada Reyhan dan Hendrawan duduk di kursi makan berbentuk segi empat itu. Keduanya kemudian mendekati Reyhan dan Hendrawan yang sedang menikmati sarapannya.
"Pagi Pi..Mas." sapa Randy sopan. Keduanya tersenyum dan menjawab bareng.
"Pagi Randy..Mel..Ayo duduk!" ajak Hendrawan sambil mempersilahkan keduanya untuk duduk di satu meja dengan mereka.
"Ayo ambil makanannya. Kita harus cepat. Jam delapan Om Fahmi menunggu kita di sana,"
Melati dan Randy langsung berdiri dan berjalan mencari makanan apa untuk sarapan. Makanan terhidang rapi di meja panjang itu. Melati mengambil nasi goreng lengkap dengan sayur dan lauknya. Sementara Randy memilih roti, dan menambahkan omelet di piring berbeda untuk sarapannya. Secangkir kopi dan teh hangat sudah terhidang di meja. Ternyata Melati yang mengambilkan untuknya.
Keduanya memulai sarapan dalam diam. Sementara Hendrawan dan Reyhan asyik bertukar pikiran tentang Perusahaan milik mereka.
Setelah ke empat orang itu selesai sarapan , mereka kemudian berjalan keluar ruang makan itu dan masuk ke lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.
Saat tiba di parkiran, ternyata Pak Hardi sudah menunggu mereka di dekat mobil yang terparkir di halaman depan hotel.
"Pagi Pak Hardi. Kita langsung berangkat ya!" sapa Reyhan sambil masuk ke dalam mobil yang pintunya telah terbuka. Begitu pun dengan Hendrawan, Randy dan Melati. Setelah semua masuk, Pak Hardi men jalankan mobilnya keluar parkiran Hotel. Memasuki jalan raya yang mulai padat karena hari ini senin. Dimana orang sudah memulai hari untuk bekerja setelah libur kemaren.
Mobil memasuki halaman kantor polisi. Jam di pergelangan tangan Randy sudah menunjukkan ke pukul delapan kurang lima belas menit. Ke empat orang itu keluar dari mobil dan berjalan kearah pintu masuk kantor polisi.
"Pagi pak. Ada keperluan apa disini?" tanya Polisi yang sedang piket menjaga di depan pintu masuk kantor polisi itu.
"Pagi. Kami maj menghadap Pak Fahmi. Apa ada?" tanya Hendrawan.
"Komandan Fahmi katanya sedang otw menuju ke sini Pak. Bapak dan yang lainnya bisa menunggu di dalam. Silahkan," ujar Polisi itu. Lalu membukakan pintu untuk mereka. Setelah masuk, mereka menanti Fahmi di ruang tunggu itu.
bersambung
__ADS_1
"