Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Rencana Tommy Wiryawan


__ADS_3

Matahari pagi sudah bersinar terang, menyusup ke balik tirai kamar Randy. Dokter muda itu masih terlelap. Dan terjaga hanya saat azan subuh berkumandang. Selesai sholat subuh, pria itu melanjutkan kembali tidurnya. Terlelap begitu nyenyak. Dan bari terjaga saat sinar mentari menyelusup masuk ke dalam kamarnya. Randy membalikkan tubuhnya.


Membuang selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.Lalu beranjak ke kamar mandi.


Di Walk in closet, pria itu membasuh wajahnya nan tampan sambil bermenung sesaat. Setelah itu masuk ke kamar mandi, menghidupkan shower. Lalu melepas semua pakaian yang melekat di tubuh tinggi tegapnya.


Sengaja pagi ini hanya mandi air dingin. Agar pikiran dan hatinya menjadi segar.


Selesai mandi, Randy keluar kamar mandi dengan selembar handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Pria itu membuka lemari pakaian besar, yang terletak di walk in closet. Matanya mencari pakaian yang akan di kenakan siang ini.


Mengingat hari minggu ini Ia harus visit ke rumah sakit, karena ada pasien yang mesti di periksa pasca operasi pagi kemaren.


Dengan menggenakan kemeja berwarna putin dan celana blue jeans , pria itu kemudian menghampiri meja panjang berbahan marmer dengan kaca besar yang terletak di ruangan itu.


Mengusapkan pome ke rambut hitamnya lalu menggunakan pelembab di wajahnya, sebagai pelindung dari sinar Matahari. Lalu mengenakan sepatu kets hitam. Selesai dengan ritual paginya. Randy langsung keluar ruangan itu, berjalan ke kamar. Mengambil beberapa barangnya, dompet, jam, handphone dan sebuah tas kecil . Memasukkan semua barang tadi ke dalam tas nya. menyandangkan tas itu ke bahu lalu berjalan ke arah lift yang ada di lantai 2.


Sampai di lantai satu, pria itu berjalan ke arah ruang makan. Ternyata tak ada satupun manusia di sana. Namun makanan tetap terhidang dalam mangkok keramik mewah di atas meja.


Saat mengambil piring dan memasukkan makanan ke piringnya seorang pelayan menyapanya ramah.Lalu mendekati Randy.


"Den...Randy siang den , Ternyata disini. Tadi saya di suruh Nyonya kalo ketemu Den Randy, diminta ke taman belakang." Inah pembantu yang paling senior di rumah itu menyampaikan pesan sang Nyonya pada putranya. Randy menatap sekilas lalu menyuap makanannya.


"Ya nanti saya ke taman. Makasih," sahutnya sambil menyuap bubur ayam di depannya. Selesai makan, Randy minum air putih hangat yang tersedia di meja makan itu. Mengelap mulutnya dengan selembar tissue lalu berjalan ke arah taman belakang rumah yang sangat luas.


Matanya menatap sekeliling taman. Mencari sosok Mamanya. Ternyata Hera ada di bawah pohon leci dan sedang duduk berdua dengan suaminya Tommy. Tampaknya mereka asyik. bercerita.


Randy berjalan mendekati kedua orang tuanya. Taman belakang rumah ini sangat luas. Beberapa jenis tamanan sayur dan buah di taman di sana.


Mereka memiliki 3 tukang kebun. Satu membersihkan taman di depannya rumah, dua lagi membersihkan taman dan kebun yang terletak sampai dekat pagar tinggi pembatas antara rumah Tommy dan rumah tetangga.


"Pagi Ma..Pa.." sapa Randy Setelah berada di dekat kedua orang tuanya. Keduanya menoleh pada sang putra semata wayang.


"Siang...hehehe..."sapa Hera sambil terkekeh.


Randy ikut terkekeh lalu duduk di kursi depan Hera dan Tommy.


"Pulang larut semalam, bagaimana acara jalan sama Melati?"tanya Tommy sambil menatap lekat wajahnya tampan putranya.


Randy tertunduk. Lalu mengangkat kepalanya, menatap Tommy dengan lekat.


"Biasa aja. Nonton habis itu makan malam."


"Bagaimana Melati , maksud Mama sikapnya sama kamu? Karena yang pernah Mama dengar , dia sempat akan bertunangan dengan pacarnya," Randy menyahuti dengan anggukan.

__ADS_1


"Apa mereka masih memiliki hubungan serius?" tanya Tommy lagi.


"Nggak tahu pasti sih Pa. Tapi kalau Randy liat Mel sepertinya masih cinta sama cowok itu,"


Hera mendesah saat melihat kekecewaan di wajah Randy.


Saat berkunjung ke rumah Mas Hendra, Mama bisa liat kamu lebih menyukai Melati dari pada Meli. Benar gitu?" kali ini Hera yang bertanya. Randy mengangguk pelan. Hera menarik nafas dalam.


"Ya sudah..jangan terlalu di risau kan. Kalau jodoh nggak akan kemana, ya toh Ma..kan kita seperti itu dulu," kata Tommy sambil menetralkan suasana dengan tawanya.Hera ikut tertawa. Randy tersenyum lalu menatap kedua orang tuanya.


"Aku pergi ke rumah sakit dulu Ma Pa..visit pasien yang kemaren pagi aku operasi," pamit Randy sambil bangun dari duduknya.


"Ya..hati-hati. Sudah sarapan belum?" Hera menatap sang putra dengan senyum tulus.


"Sudah. tadi saat Bik Inah menyampaikan pesan Mama untuk ke sini,"


"Ok..hati-hati," kata Tommy . Randy kemudian berjalan menuju rumah. Masuk ke dalam lalu mengambil tas yang masih terletak di meja makan. Setelahnya berjalan keluar rumah melalui pintu utama rumah mewah itu.


Mobilnya telah terparkir di depan halaman rumah.


Pak Tarjo, satpam rumah besar itu membungkuk hormat pada Randy.


"Mobilnya sudah siap Den.." lapornya. Randy mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di buka pintunya oleh Pak Tarjo.


"Makasih Pak.." ucap Randy, lalu mengemudikan mobilnya ke luar halaman rumah itu. Pak Tarjo mengangguk lalu melambaikan tangannya pada tuan mudanya. Setelah mobil Randy keluar halaman, pria tua itu langsung menutupi pintu gerbang dengan remote. Pintu tertutup dengan sendirinya.


Randy berjalan langsung ke ruangan nya. Di dalam Ternyata ada suster Ami. Asisten Randy. Gadis itu masih single. Wajahnya cantik dan berkulit putih.


Ami suka sekali sama Randy. Tapi pria itu menanggapi biasa saja tiap tatapan penuh cinta dari beberapa perawat dan Dokter di sini.


"Siang Dokter Randy." sapa Ami lembut sambil menatap wajah tampan Randy.


"Siang suster," sahutnya dengan nada datar.Pria itu langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ami mengikuti Randy dari belakang.


"Dokter, ini laporan kesehatan Pasien yang Dokter operasi kemaren pagi." Ami memberikan sebuah map berisi rekam medik pasiennya. Randy mengambilnya, lalu membacanya dengan teliti.


"Ok. sebaiknya saya visit dulu. Jangan lupa bawa berkas rekam medisnya." ujar Randy sambil bangkit dari kursinya. Pria itu berjalan keluar ruangannya menuju ruang rawat Inap.


Diikuti Ami yang berjalan di sisi pria tampan itu.


Ami membuka kan pintu ruang rawat inap untuk Randy, pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan .


Pasien yang di operasi pagi kemaren nampak sedang tertidur. Seorang ibu setengah baya nampak menunggui pasien.

__ADS_1


"Siang ibu. Bagaimana keadaan Bapak?"


"Dokter Randy. Alhamdulillah sore kemarin sudah bangun dokter. Setelah kentut baru saya beri minum. Sesuai yang di katakan suster kemarin.


Randy mengangguk. Pria itu kemudian mendekati pasiennya. Lalu memeriksa tubuh pasien dengan stetoskop dan memeriksa luka bekas operasi.


"Sister, nanti tambahkan lagi obat untuk mempercepat pengeringan luka operasi. Dan penghilang rasa sakit," kata Randy sambil memperhatikan pasiennya. Ami yang berada di belakang sang dokter mengangguk paham. Setelah menulis resep sesuai perintah Randy.


" Ibu..saya liat perkembangan kesehatan bapak berjalan baik. Saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa bisa hubungi suster Ami saja. Saya permisi bu." pamit Randy


lalu mereka berdua berjalan beriringan keluar ruang rawat inap itu.


"Dokter langsung mau pulang?" tanya Ami berusaha berjalan di samping Randy. Karena pria itu berjalan dengan cepat.


" Ya..langsung pulang." jawabnya singkat sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


"Kamu jaga hari ini?"


"Ya dokter,"


Randy mengangguk paham.


"Saya langsung ya Suster. Hubungi saya kalau terjadi sesuatu pada pasien," ucap Randy. Mereka berpisah di perempatan sebuah karidor.


Ami mengangguk.


Randy langsung berjalan ke arah parkiran mobil. Memencet tombol remot nya, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Selama di perjalanan Randy ragu, entah mau kemana. Kalau ke rumah Melati rasanya tak enak. Karena mereka semalam sudah bertemu. Akhirnya Randy memutuskan untuk kembali ke rumah saja. Ia ingin membayar rasa kantuknya semalam karena susah tidur. Baru sebelum subuh tertidur. Itu pun harus bangun lagi karena sudah berkumandang azan subuh.


Di rumah Tommy Wiryawan.


Kedua suami istri itu duduk di sofa kamar mereka. Sambil berpikir apa solusi untuk mendekatkan Melati dan Randy.


"Pa...apa nggak bisa Papa menekan Mas Hendra, agar segera menikahkan Randy dengan Melati.Mama kasian liat Randy, Pa..selalu jadi nomor dua untuk urusan cinta," Hera berkata dengan mata berkaca-kaca.


Tommy menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Iya Ma..nanti Papa telpon Mas Hen. semoga dia setuju,"


"Ya harus setuju loh Pa..wong dia kan butuh dana segar untuk proyeknya yang di Lombok. Papa gimana sih. Lupa ya sama komitmen mereka sama kita," Tommy mengangguk.


"Ya..Papa ingat kok, hanya saja Papa ini orang nya bukan orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Walau Papa tahu Mas Hen sudah setuju dengan permintaan kita. Dapat dana lalu anak gadisnya menikah dengan putra kita." Anita mengangguk paham. Tommy memang pria yang baik. Sikap tak tega an itu kadang membuat dia di bohongi orang-orang yang selalu mengambil keuntungan darinya.

__ADS_1


"Kalau gitu telpon dong Mas Hen nya.Lebih cepat lebih baik. Dari pada perasaan Melati berubah. Yang Mama takutkan Melati bisa saja kembali kepada calon tunangannya," Tommy mengiyakan ucapan Istrinya.


Akhirnya pria itu mengambil ponselnya, lalu mencari nama Hendrawan di kontak telponnya. Setelah menekan tombol berwarna hijau, sambungan terhubung ke handphone Hendrawan.


__ADS_2