
"Maaf bapak-bapak. Kebetulan yang punya mobil ini saya. Mobil ini tadi pagi melintas di jalan Ini menuju sebuah Hotel. Tapi menurut orang yang menunggu di hotel, penumpang dan sopir mobil tak kunjung sampai. Jadi kami inisiatif untuk lewat jalan ini. Dan ternyata memang sopir dan penumpang nya lewat sini tapi tidak ada di sini. Kira-kira bapak-bapak ada yang melihat kejadian?" Hendrawan bertanya setelah panjang lebar menceritakan kronologi nya.
"Wah mohon maaf Bapak. Kami nggak liat." jawab salah satu pria di situ.
"Atau kita cari saja. Bapak masih mujur. Mobil ini masih ada di sini, dalam keadaan terbuka pula. Biasanya sudah di ambil maling pak," ujar pria berbadan tambun. Hendrawan mengangguk membenarkan.
"Kalau gitu kita tolong aja bapak mencari sopir dan penumpangnya." ajak seorang pria agak tua berbaju kemeja.
"Terima kasih pertolongan. Ya sebaiknya memang gitu. Penumpang itu putri saya." sahut Hendrawan menyambut baik ajakan bapak-bapak itu.
"Ayo, kita mulai pencarian," ajak seorang pria. Mereka semuanya ada enam orang.
Setelah ngobrol panjang dengan bapak-bapak itu, Ternyata mereka penduduk di sekitar jalan alternatif ini.
Sekitar lima belas menit mereka berkeliling mencari pak Nanang dan Melati. Lalu mereka melihat dari jauh sesuatu yang diikat di sebuah pohon besar. Tapi menghadap ke arah hutan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melihat nya.Setelah di teliti dan di lihat dengan dekat ternyata yang diikat seorang pria.
Yang pertama melihat adalah pria berbaju kemeja rapi.Pria itu langsung berteriak pada rombongan yang sedang memencari mencari sosok pak Nanang dan Melati di segala arah.
"Apa bapak menemukan sesuatu?" tanya Reyhan pada bapak berkemeja. Pria itu mengangguk .
"Coba kita liat di sana. Sepertinya ada orang berdiri di bawah pohon," ajak pria itu pada semua orang dalam rombongan.
"Ya..ayo kita liat," teriak Reyhan pada semua orang.
"Rey, tunggu dulu apa kamu sudah menelpon Randy kalau kita sedang di sini jadi agak telat sampai di hotel." suara Hendrawan memanggil Reyhan, membuat langkah pria itu terhenti. Hendrawan berjalan ke arah Reyhan.
"Sebaiknya kamu telpon sekarang. Biar dia nggak lama nunggu!" perintah Hendrawan lagi. Reyhan mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. Tak lama kemudian dia menelpon Randy.
__ADS_1
Sementara Hendrawan berjalan cepat ke arah pohon yang di maksud orang-orang yang membantunya mencari keberadaan Melati dan Pak Nanang.
"Astaga...sudah berapa lama bapak tua ini di ikat di bawah pohon besar ini?" tanya pria berkemeja sambil menatap wajah pria tua yang terikat di bawah pohon.
"Astaqfirullah..Kasihan sekali. Kalau dari jam enam, sudah 2 jam dia terikat di sini. Mana hari mulai panas," ujar pria bertubuh tambun.
"Iya. Ini kayaknya si Bapak pingsan. Ayo kita buka ikatannya," ucap seorang lagi. Ketiganya kemudian membantu membuka ikatan.
"Wah susah ini. Harus pake pisau. Apa ada yang punya pisau?" tanya pria bertubuh tambun pada dua pria di sebelahnya. Mereka menggeleng.
"Ada pak. Tapi di rumah."
"Oh Kalau gitu suruh Pak Heru saja, mengambil pisau di rumahnya. Kan Di antara kita hanya pak Heru yang rumahnya lebih dekat dari sini," ujar pria bertubuh tambun itu. Temannya mengangguk.
"Pak Heru, kita butuh pisau untuk membuka talinya. Talinya besar sekali. Gak bisa di lepas begitu saja," kata pria tua berkemeja. Pria yang bernama Pak Heru langsung putar balik badannya menuju ke arah sebuah rumah yang tak jauh dari tempat pria tua di ikat.
"Ya nanti kita cari cara yang terbaik. Yang penting kalau sudah ketemu Pak Nanang, Kan kita bisa tau cerita yang sebenarnya," ujar Hendrawan. Kini keduanya semakin dekat dengan pohon besar itu. Akhirnya Hendrawan dan Reyhan dapat mengenali pria yang di ikat di pohon.
"Pak Nanang.." seru Hendrawan kaget.
"Pak..pria tua ini sepertinya pingsan.Sebaiknya nanti di bawa saja ke rumah sakit." saran dari pria berkemeja.
"Ya pak.Ini sopir saya.Tapi kemana putri saya?"
"Pi, Pak Nanang pingsan," kata Reyhan sambil menatap wajah Papinya dan Pak Nanang bergantian.
"Nanti kita bawa ke rumah sakit saja. Pak Nanang bisa jadi saksi kemana hilang nya Melati," ucap Hendrawan di ikuti anggukan setuju dari putra sulungnya.
"Ini pisaunya," pria bernama Heru memberikan pisau ke tangan pria bertubuh tambun. Pria itu mengambil nya. Lalu mulai memutuskan tali pengikat yang mengikat kuat Tubuh Pak Nanang. Membutuhkan waktu sepuluh menit. Karena tali itu sangat tebal dan kuat. Akhirnya seluruh ikatan yang mengikat Tubuh Pak Nanang terbuka. Pak Hardi langsung menangkap tubuh Pak Nanang dengan sigap agar tak jatuh.
__ADS_1
"Bawa ke mobil aja Dy..Nanti kita bawa ke klinik terdekat!" perintah Hendrawan pada Hardi. Pria itu lalu menggendong tubuh Pak Nanang menuju ke mobil. Dan meletakkannya di kursi sebelah kursi sopir.
"Bapak-bapak. Saya ucapkan terima kasih banyak. Ini ada tanda terima kasih saya. Maaf saya tidak bisa lama-lama karena harus membawa sopir saya ke Rumah sakit terdekat," kata Hendrawan sambil memberikan uang berwarna merah dua puluh lembar pada salah seorang dari ke enam bapak-bapak itu.
"Wah Pak..kami menolong dengan ikhlas. Tidak usah pak. Sudah menjadi kewajiban kami menolong sesama,"tolak pria tua berkemeja.
"Jangan pak. Saya tidak akan sempat kesini untuk memberikan tanda terima kasih. Untuk itu saya berikan sekarang saja. Tolong terima. Saya juga ikhlas." kata Hendrawan lalu memberikan uang itu pada salah satu pria di sana. Pria itu tak dapat menolak lalu menerimanya seraya berucap terima kasih.
"Saya pamit bapak-bapak. teri.a kasih atas bantuannya," ucap Hendrawan lagi.
"Sama-sama Pak.." sahut mereka berbarengan.
Reyhan dan Hendrawan pergi dari tempat itu. Lalu masuk ke dalam mobil.
"Tuan. Siapa hang akan membawa mobil ke rumah?" tanya Hardi setelah kedua nya masuk ke dalam mobil.
"Kan kuncinya nggak ada Di. Gimana mau bawanya. Apa di tarik saja?" tanya Hendrawan bingung.
"Ini tadi saya menemukan kunci di bawah kursi sopir."
"Alhamdulillah ," ucap Hendrawan dan Reyhan serempak.
"Biar aku aja yang bawa Pak Hardi. Bapak antar Pak Nanang aja ke rumah sakit sama Papi.Nanti Langsung ke hotel. Setelah itu baru antar Pak Nanang ke rumah. Dia perlu istirahat, " usul Reyhan.
"Apa harus ikut ke hotel Rey," ucap Hendrawan mengingatkan.
"Ya..Papi bisa nyusul Nanti di antar Pak Nanang. Syukur - syukur Pak Nanang sudah siuman," Hendrawan mengangguk setuju.Pria itu kemudian masuk lagi ke dalam mobil setelah tadi sempat keluar karena mendengarkan usulan dari putra sulungnya.
Reyhan berjalan ke arah mobil yang terparkir di tengah jalan. Lalu menghidupkan mesin mobil itu. Tak lama mobil bergerak meninggalkan lokasi tempat Melati di culik. Ya dugaan sementara Reyhan dan Hendrawan Melati di culik. Tapi mereka tidak tau pasti siapa yang. menculik Melati.
__ADS_1