
"Saya cuma mau ketemu Pak Harjo. Itu aja mas. Jangan marah dong," ucap Fahmi sambil tersenyum genit pada Baron. Mata Baron melotot. Lalu mendengus menatap tajam pada Fahmi. Pria itu menoleh ke dalam rumah. Semua mata orang-orang yang ada di dalam rumah menatap ke luar. Tak terkecuali Pak Harjo.
Pria itu lalu bangkit dari duduknya. Padahal posisi pria itu sedang bersiap untuk melaksanakan ijab kabul.
Sementara Melati yang duduk di samping Pak Harjo dan di jaga ketat oleh pria botak hanya dapat menunduk. Rasanya ingin lari. Tapi yang menjaga di depan rumah pasti banyak. Tapi Melati akhirnya berdiri juga. Melongok ke luar rumah. Di lihatnya ada seorang pria bertubuh tinggi tegap berbicara dengan pria bertato. Tapi saat akan berjalan tangannya di tarik cepat oleh Tony. Si pria botak. Melati hampir tersungkur.
"Jangan keluar. Tetap disini!" bentaknya.
"Aku nggak mau nikah sama pria tua itu. Kalian sudah menculik aku. Kalian bisa di penjara karena menculik aku!" teriak Melati histeris. Air matanya tak dapat di bendung lagi. Tangan kekar Toni menarik kuat tubuhnya hingga Melati terduduk kembali di depan penghulu. Mata penghulu menatap tajam Melati. Gadis itu melengos.
Sementara itu Pak Harjo sudah menemui Fahmi di depan pintu. Tak di hiraukan nya teriakan Melati yang menolak untuk menikah dengannya.
"Ada apa?" tanya Pak Harjo sambil menatap bergantian Fahmi dan Baron.
" Saya mau bicara Pak Harjo. Saya ada perlu sama Bapak. Apa bisa keluar sebentar. Saya malu kalau ngomong di sini," ujar Fahmi dengan wajah malu-malu. Pak Harjo berpikir sejenak. Menatap ke arah dalam. Di lihatnya sepertinya Melati sudah kembali duduk. Suasana tak lagi gaduh. Pria itu kemudian menatap Fahmi. Lalu mengangguk. Fahmi berjalan ke arah halaman. Pak Harjo pun mengikuti langkah Fahmi.
"Kamu jaga calon istriku Ron.Jangan sampai lari!" ujar Pak Harjo menoleh sesaat ke arah Baron lalu meneruskan langkahnya mengikuti Fahmi. Fahmi tersenyum mendengar perkataan Pak Harjo.
"Wah maaf sekali pak..Saya tidak tahu kalau Bapak mau nikah," Fahmi berkata setelah Pak Harjo mendekat padanya.
"Ya saya memang mau nikah. Siapa yang menyuruh kamu ke sini. Tidak ada yang tahu tempat ini selain anak buah saya!" tegas Pak Harjo. Fahmi mengangguk.
"Tapi anehnya saya bisa tahu ya Pak Harjo.." jawab Fahmi sambil terkekeh. Memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1
"Hah..tidak udah bertele tele. Cepat katakan apa maksud kamu ke sini?" bentaknya kesal.
"Saya cuma mau bilang. Kembalikan gadis yang bapak culik. Saya bisa memenjarakan bapak beserta anak buah bapak karena bapak sudah menculik keponakan saya!" bisik Fahmi ke telinga pria tua itu. Lalu Fahmi menunjukkan empat orang anak buahnya yang di ikat di empat bush pohon besar di samping rumah tua itu.
Mata Pak Harjo mendelik. Pria itu terkejut.
"Apa bapak.ingin saya buat seperti itu?" bisik Fahmi lagi.
"Berani kau mempermainkan aku? Kau tak tahu siapa aku?" bentak Pak Harjo berang. Fahmi terkekeh.
"Emang bapak siapa? Saya nggak tahu!" sahut Fahmi cuek. Pak Harjo makin meradang melihat sikap angkuh Fahmi.
"Kau meremehkan aku? aku bisa membeli dirimu dan keluargamu! Camkan itu!" wajah Pak Harjo nampak memerah.
"Kurang aja!" teriaknya marah.Mendengar suara ribut-ribut kedua anak buahnya Pak Harjo langsung keluar. dua pasang mata anak buahnya pria tua itu langsung melotot melihat bos mereka terduduk di tanah.Baron dan Toni saling menatap lalu berlari cepat untuk menolong bos mereka.
Melati yang melihat Toni dan Baron berlari keluar Langsung bangkit dari duduknya. Namun saat akan melangkah keluar seseorang menarik tangannya kuat. Melati menatap orang yang menarik tangannya. Ternyata seorang pria yang didaulat untuk menjadi saksi yang menarik tangannya.
"Duduk. Tak udah ikut campur dengan urusan diluar!"bentak pria itu. Melati mencoba melongok keluar. Pria itu makin menarik kuat tangannya sehingga tubuhnya oleng. Pria itu kemudian menarik lagi tangan Melati. Lalu mendudukkan gadis itu di depan meja ijab qabul. Melati menyentakkan tangannya dengan wajah memerah marah.
"Kau tak punya urusan apapun disini. Pergi dari hadapanku!" bentak Melati marah dengan muka memerah. Nafasnya tersengal menahan amarah yang sedari tadi di simpannya.
Gadis itu kemudian bangkit lagi lalu dengan langkah tergesa berlari cepat keluar dari rumah. Sementara di luar rumah pertarungan seru terjadi disana. Melati menatap keempat pria yang sedang baku hantam. Sedang melihat keseruan pertarungan di depan matanya, seseorang menarik tangannya sebelah kanan. Melati menoleh, ternyata Randy. Pria yang akan di nikahkan dengannya pagi tadi. Tapi dia tak tahu apakah acara ijab kabul di hotel tetap terlaksana atau batal dengan sendirinya. Karena dirinya tak berada disana.
__ADS_1
"Ayo Mel..kita menjauh dari sini. Biarkan Om Fahmi dan anak buahnya membereskan semuanya." ucap Randy sambil menarik tangan Melati erat dan kuat. Namun belum sampai dia melangkah mengikuti Randy. Tangannya yang sebelah kiri di tarik oleh seseorang. Sewaktu menoleh ke kiri Melati melihat pria yang menarik tangannya saat di dalam tadi berada di sampingnya.
"Lepaskan! dia calon istri Pak Harjo. Anda tak berhak melarikan calon istri Bos saya," Randy terkekeh mendengar ucapan pria tadi. Pria itu mendengus kesal. Lalu keduanya melepaskan pegangan tangannya pada Melati. Tanpa di beri aba-aba keduanya mulai saling memukul, menendang. Melati menyaksikan semuanya dengan tubuh bergetar. Ketakutan memenuhi rongga dadanya. Melati takut terjadi apa-apa dengan Randy.
Randy mengeluarkan ilmu bela dirinya. Ban hitam yang pernah diraih saat memasuki bangku kuliah di kedokteran membuat Ia mempraktekkan kembali ilmu bela dirinya itu. Melati takjub sekaligus takut melihat Randy yang sedang baku hantam dengan pria itu. Tak jauh dari sana Hendrawan, Reyhan dan Pak Hardi melihat kejadian itu.
"Rey..ku bantu Randy! Papi nggak mau dia terluka. Nanti malam dia akan bersanding di pelaminan dengan adikmu." perintah Hendrawan. Reyhan mengangguk. Putra sulung Hendrawan itu lalu memasuki arena pertarungan sengit antara Randy dan anak buah Pak Harjo.
Sebelum masuk ke gelanggang. Reyhan sempat menarik tangan Melati agar menjauh dari gelanggang pertarungan. Hendrawan dengan cepat menarik lengan Melati lalu membawa putrinya itu ke dalam mobil. Di ikuti oleh Pak Hardi yang berjalan di belakang mereka berdua. Hendrawan merangkul bahu sang putri.
"Pi..Melati takut. ." Hendrawan langsung memeluk tubuh sang putri tercinta.
"Maafkan Papi karena telat mencari kamu Mel." Melati mengangguk . Hendrawan kemudian mengurai pelukannya. Di tatapnya wajah sang putri dengan lekat.
"Apa pria tua itu sudah menyentuh tubuhmu?" tanya Hendrawan sambil mengusap lembut pipi Melati yang basah oleh air matanya.
"Nggak Pi. Alhamdulillah dia belum sempat menyentuh Mel. Tapi kalau telat sedikit saja. Pak Harjo menghalalkan segala cara agar bisa menikahi Mel. Padahal pernikahan itu jelas-jelas tidak Sah. Karena orang tua Mel nggak ada di sana," ucap Melati. Rahang Hendrawan mengeras. Pria itu sangat marah.
"Hardi..kamu awasi Reyhan dan Randy. jangan sampai mereka berdua terluka.Bila mereka terdesak. Kamu bantu!" perintah Hendrawan sambil membalikkan tubuhnya menghadap pada Hardi. Pria itu mengangguk.Lalu.berjalan setengah berlari menuju tempat Reyhan dan Randy bertarung dengan anak buah Pak Harjo.
"Ayo kita masuk ke mobil Mel. Kamu nggak perlu melihat pertarungan itu." Hendrawan membuka pintu mobil. Dan menyuruh putrinya masuk ke dalam mobil. Melati lalu masuk ke dalam mobil. Duduk di belakang kursi pengemudi. Air matanya tak berhenti menetes.Perasaan cemas tak kunjung pergi dari hatinya. Melati memejamkan matanya.
"Mel..kamu jangan cemas ya! semua akan baik-baik saja," bujuk Hendrawan. Melati membuka matanya.Lalu mengangguk.
__ADS_1
bersambung