Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Kegelisahan Melati


__ADS_3

Melati dan keluarganya sedang berlibur ke Semarang. Gadis itu merasa bahagia bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya. Hari ini mereka ke Yogyakarta. Mengunjungi tempat- tempat rekreasi yang terkenal di daerah itu. Sembari wisata kuliner , makanan terlezat yang mereka sukai. Akan tetapi Melati merasa ada yang kurang. Entah apa. Hanya saja , keinginannya untuk menelpon Bapak dan Ibu di kampung belum juga jadi. Merasa ada yang mengganjal, Melati segera mengeluarkan benda pipih di tasnya. Lalu menekan nomor telpon Pak Herman. Beberapa saat panggilan tak di angkat. Melati mengulang pangan lagi, tam betapa lama suara lembut terdengar di ponselnya.


"Assalamualaikum..Melati kah ini?" tanya suara yang begitu dirindukan. Mata gadis itu berkaca-kaca.


"Waalaikumsalam.. Ibu..?" jawab Melati dengan suara bergetar.


"Apa kabar kamu induk? Ibu kangen sekali sama kamu Nduk,"


"Alhamdulillah sehat Bu..Bapak apa kabar Bu..sehat saja kan?"


"Alhamdulillah, Bapakmu sehat Nduk..Kamu ndak usah ke kampung ya Nduk. Ibu takut nanti kamu malah di culik Pak Harjo dan anak buahnya."


"Ya Bu..Melati aman saja kok, Ibu jangan kuatir. Bapak mana Bu..?"


"Ada nih...eh..Pak..ini Melati mau ngomong," ujar Ibu Ratih sambil menyerahkan ponsel jadul itu pada Pak Herman.Pak Herman mengambil benda pipih itu lalu meletakkannya di telinganya.


"Assalamualaikum, Melati..apa kabar kamu nak..,Masha Allah..Bapak senang sekali bisa mendengar suaramu."


"Waalaikumsalam Pak Alhamdulillah Mel baik Pak..Bapak gimana?" tanya Melati girang mendengar suara Bapak nya.


"Bapak dan Ibu baik saja Nak, Bapak senang bisa mendengar suaramu lagi." ujarnya dengan senyum mengembang. Tak dirasakannya lagi sakit sehabis di pukul oleh anak buah Pak Harjo.


"Oh ya Mel..menurut Bapak apa yang di katakan ibumu benar juga. Untuk saat ini, jangan dulu pulang ke kampung. Bahaya..Anak buah Pak Harjo pasti selalu mengintai keberadaan kamu Nak. Jadi nanti saja kita bertemu ya," Melati mengangguk mengerti. Gadis itu langsung menoleh ke arah Papi Hendrawan. Pria setengah baya itu menoleh ke arah anaknya.


"Ada apa Mel..?" tanya Pak Hendrawan lalu mendekati Melati. Melati memberikan ponselnya pada Pak Hendrawan.

__ADS_1


" Halo..ini Pak Herman? "


" Iya Pak Hendrawan..saya Herman. "


" Kalau Bapak dan Ibu ingin bertemu dengan Melati tentu saja saya izinkan. Tapi sebaiknya Bapak dan Ibu ke Jakarta saja. Naik Bus..setelah itu nanti ada yang akan menjemput di terminal. Bagaimana..setuju?"ujar Pak Hendrawan. Yang di jawab setuju oleh Pak Herman di seberang sana. Pak Herman dan Bu Ratih sangat bahagia bisa bertemu dengan Melati lagi. Setelah itu Pak Hendrawan mematikan Telpon dan memberikannya pada Melati.


" Pi...boleh nggak Melati minta tolong sama Papi untuk membayar semua utang Bapak. Kasihan Pi..kalau tidak di lunasi..nanti Bapak kena hajar para preman bayaran Pak Harjo," pinta Melati memelas. Pak Hendrawan hanya tersenyum.


"Tentu saja Nak..kita harus membalas semua kebaikan Pak Herman dan Bu Ratih, karena dari bayi kamu sudah di urus dengan baik. Sudah sepantasnya kita melakukan itu," sahut Pak Hendrawan membuat hati Melati lega. Dan dia bisa menikmati jalan- jalannya di kota Gudeg ini.


Pak Hendrawan menelpon stafnya yang biasa melakukan tugas apapun untuk keluarganya.


"Halo Arya..kamu dimana? masih di Bandung? Oh Cirebon..Ok ada tugas buat kamu......" kata Pak Hendrawan pada asistennya. Arya sudah lama bekerja dengannya. Sudah tahu pula apa keperluan dan tugasnya. Sehingga Tuan Hendrawan dengan mudah memberi tahu apa saja yang perlu di kerjakan Arya.


"Sudah Mel..kamu jangan gusar lagi ya nak? ayo kita susul Mami dan saudara mu yang lain," ajak Hendrawan sambil menarik lengan anak gadisnya ke arah istri dan anak-anaknya.


"Alhamdulillah.. ya Bu..Melati baik-baik saja..lega rasanya bapak mendengarnya, " ujar Pak Herman sambil menatap istrinya yang duduk di sebelahnya. Wanita itu mengangguk . Wajahnya tak lagi mendung.


"Pak..Ibu pengen sekali ketemu Melati. Apa dia masih seperti dulu ya pak?"


"Ya masih lah bu..masa enggak..ibu ada -ada aja."


"Ibu masih terkenang saat bapak bawa Melati ke rumah kita. Waktu itu kayaknya umurnya baru 8 bulan ya Pak..ada kalung emas dengan nama Melati. Ah..rasanya bahagia sekali saat itu. Bisa memandikannya, memakaikannya baju. Menyuapinya makan dan minum susu..." kenang Ibu Ratih dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf kan Bapak ya Bu. Karena kecelakaan itu, ****** Bapak tidak bagus lagi. Sampai sekarang, Ibu tak kunjung hamil. Padahal menurut dokter di kota, rahim ibu bagus, subur." kata Pak Herman sedih. Matanya berkaca-kaca, sambil menatap wajah cantik itu.

__ADS_1


"Huss..gak usah ngomong ngaco gitu Pak..Ibu ikhlas kok. Bapak sudah menjadi suami dan Bapak terbaik buat Ibu dan Melati. Sudah nggak usah sedih. Memiliki Melati waktu itu sudah membuat ibu bahagia, Pak. Begitu saja sudah cukup buat Ibu," ujar Ibu Ratih sambil mengelus tangan suaminya.


"Makasih ya Bu..sudah ada di samping Bapak. Walaupun jujur saja Bapak merasa belum bisa membahagiakan ibu. Apalagi memberikan kehidupan yang layak. Terima kasih juga, karena Ibu sudah mau mengurus Ibu saya..mertua ibu. Karena itulah, kita jadi terpaksa berhutang ke rentenir itu."


"Sudah Pak..gak usah di bahas lagi. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana bisa selalu bahagia walau dalam kekurangan," tegas Bu Ratih. Suaminya mengangguk paham.


"Tok..tok..tok." sebuah ketukan membuat kaget dua orang separuh baya itu. Mereka berdua saling menatap. Ada keraguan dalam hati untuk membuka pintu. Kedua suami istri itu berjalan kearah pintu utama di rumah itu. Perlahan membuka pintu dengan tangan bergetar dan jantung berdebar.


" Pak Ha..Harjo?" tanya Pak Herman gugup. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Pak Herman benar-benar takut, jika Pak Harjo kembali menyuruh anak buahnya untuk menyiksanya. Rasa sakit di perutnya akibat di pukul oleh anak buah pria tua ini belum sepenuhnya hilang. Hanya saja dia berusaha menahan rasa sakitnya. Agar istrinya tidak kuatir. Mata Pak Herman menatap takut kearah dua anak buah pria itu.


"Kenapa, kamu takut Man?" tanya Pak Harjo sambil tersenyum mengerikan pada Pak Herman.


"Ti..tidak Pak..Saya mohon maaf karena saya belum bisa membayar hutang saya..saya mohon maaf Pak Harjo," ujar Pak Herman gugup.


" Apa saya boleh masuk?" tanya Pak Harjo sambil melirik ke dalam rumah. Pak Herman menatap ke dalam rumah lalu menatap pria tua itu.


" Maaf Pak..saya lupa menawarkan, mari masuk Pak Harjo," ajak Pak Herman yang diikuti oleh Pak Harjo. Ibu Ratih berjalan duluan masuk ke dalam rumah. disusul Pak Herman dan Pak Harjo. Kedua anak buah Pak Harjo menunggu di luar.


" Begini Man..kemaren ada seseorang yang datang ke rumahku. Katanya dia saudaramu. Dan maksud kedatanganya untuk membayar semua hutangmu..Ehm.Aku mau tanya, apa kau punya saudara yang kaya raya. Bagaimana bisa dia membayar semua hutangmu berikut bunganya?" tanya Pak Harjo sambil gelang kepala. Pria itu mengeluarkan sebuah buku berwarna hijau.


"Ini sertifikat mu. Karena saudaramu sudah membayar semua hutangmu. Maka aku kembalikan sertifikat ini." pria itu memberikan buku berwarna hijau, yang ternyata adalah sertifikat tanah. Pak Herman menerimanya. Ucapan syukur terdengar dari bibirnya dan istrinya. Pak Harjo menatap kedua suami istri itu bergantian.


" Mana Melati. Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Pak Harjo lagi sambil menatap ke penjuru ruangan di rumah sederhana itu.


" Maaf Pak Harjo, Melati sudah pergi..saya tidak tau kemana dia pergi." jawabnya berbohong. Dia masih saat takut jika pria tua ini masih berminat untuk menikahi putrinya.

__ADS_1


"Kamu tidak bohong kan Man. Jawab saja dengan jujur. Kalau Melati pergi kamu yang mengantarkannya. Karena anak buah ku pernah melihat saat subuh, kau mengantarkan putrimu ke ujung desa, untuk pergi ke kota. Benar begitu Man?" tanyanya memastikan.


"


__ADS_2